Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Lamaran


__ADS_3

sore harinya setelah rangga sekeluarga pulang vani pun berbaring hendak istirahat, sedangkan dika duduk di kursi sambil memeriksa ponselnya.


"mas"


vani menatap dika yang sedang duduk di sampingnya.


"hem" respon dika singkat tanpa menoleh karena sedang asik menatap ponselnya.


"aku mau pipis sebentar ya"


vani bergerak secara perlahan hendak melangkah turun dari tempat tidurnya.


"eh, sayang pelan pelan"


dika melihat vani yang hampir terjatuh.


"sini aku bantuin ya"


ia memegang tangan vani lalu merangkulnya dari belakang hendak membantu gadis itu berjalan.


"enggak usah mas. aku bisa sendiri kok, kamu tunggu disini aja ya"


vani meminta dika untuk menunggu di tempatnya saja.


"aku temenin sampe pintu ya" tawar dika.


"em" vani pun mengangguk.


sesampainya di depan pintu kamar mandi vani meminta dika untuk tetap di sana.


"udah disini aja"


"hati hati ya"


dika pun membiarkan vani masuk sendirian.


entah mengapa vani tidak ingin memberi kabar pada keluarganya di kampung tentang keadaan yang sedang di alaminya. terlebih lagi kasus seperti itu pasti akan membuat keluarganya sangat khawatir pikirnya.


beberapa hari berlalu,


saat ini vani sudah di izinkan oleh dokter untuk pulang dari rumah sakit.


di dalam ruang rawatnya vani dan yuli sedang berkemas, keduanya sudah memutuskan jika mereka tidak akan tinggal di rumah kontrakan yang sebelumnya karena vani sudah tidak mau kembali pulang ke tempat itu lagi.


yuli pun memahami tentang trauma yang di rasakan oleh kakaknya itu saat berada disana. mereka memutuskan akan mencari rumah kontrakan yang lain saja.


"maaf ya yul tapi aku emang enggak mau tinggal disana lagi" vani menunduk.


"iya, enggak papa kak. aku ngerti kok tapi masalahnya sekarang kita mau pulang kemana ya. kan aku enggak sempet buat cari kontrakan baru karena kerja terus"


"pulang kampung aja yul" minta vani.


"kamu yakin?" tanya yuli memastikan.


"hem, enggak sih soalnya aku takut"


saat mendengar dua gadis itu akan pindah kontrakan lagi dika pun menawarkan kepada vani dan yuli untuk kembali menempati rumah yang pernah mereka tinggali sebelumnya.


"vani, gimana kalo kalian tinggal lagi aja di rumah yang pernah kalian tempati sebelumnya" tawar dika.


"maksudnya rumah dinas dari kantor itu mas?" tanya vani


"em" dika pun mengangguk.


"enggak usah deh mas, aku kan udah enggak kerja di kantor kamu lagi" jawab vani.


"enggak papa setelah sembuh kamu bisa kerja lagi di kantor aku kan..."


"aku malu..."


"maksudnya di kantor aku vani bukan di kantor bang rangga jadi kamu jangan khawatir tentang karyawan disana ya" bujuk dika.


"em, tapi..."

__ADS_1


vani masih berpikir, ia tidak mungkin kembali kesana karena itu artinya sama saja dirinya akan kembali masuk ke dalam hidup dika.


"vani, ini demi keselamatan kalian juga. disana kalian pasti aman enggak akan ada yang berani macam macam karena banyak asisten dan satpam yang bakal jagain kalian. tolong kamu jangan nolak ya. pliss....."


dika memegang kedua tangan vani.


awalnya vani memang menolak untuk kembali ke rumah itu lagi namun dika meyakinkan jika tinggal disana mereka akan merasa lebih aman karena ada asisten dan satpam yang menjaga kedua gadis itu saat berada di dalam rumah.


"gimana menurut kamu yul?" vani menatap yuli


"aku sih terserah kamu kak"


"em,,,," vani masih bingung


"jangan nolak ya" dika penuh harap


" iya, aku mau mas"


akhirnya vani setuju namun ia langsung menarik tangannya dari genggaman dika.


"makasih ya" dika tersenyum senang.


"loh harusnya kami yang bilang makasih bang. makasih ya pak dika udah izinin kami buat tinggal di rumah itu lagi"


yuli yang terus saja mengganti panggilannya kepada dika pun tersenyum jahil.


"terserah lo deh yul" kesal dika mendengarnya.


"hehe" nyengir yuli yang sengaja.


vani pun tersenyum sambil menunduk melihat kelakuan dua orang di hadapannya itu.


bukan hanya demi keselamatan mereka, vani menerima bujukan dika untuk tinggal di rumah itu karena ia juga merasa sangat berhutang budi kepada dika.


vani merasa tidak enak jika terus menerus menolak permintaan pria itu.


*


padahal ia ingin menjadi karyawan biasa saja namun dika tidak mengizinkan karena takut vani akan menjauh darinya.


padahal sebenarnya vani memang sengaja ingin menjauh dari bosnya yang aneh itu.


tentu saja aneh, karena vani berpikir pasti sangat banyak wanita muda dan cantik lebih segalanya dari pada dirinya yang akan mau menjadi pendamping pria kaya seperti radika namun mengapa dika justru menempel terus kepada dirinya yang bahkan tidak pantas untuk bersanding dengan bos seperti dirinya itu.


beberapa bulan berlalu, vani masih berusaha untuk menjauh dari dika namun justru kini yang terjadi malah sebaliknya karena mereka terlihat semakin dekat.


setiap hari dika selalu mencari alasan agar vani lebih dekat dengannya dan terus menciptakan momen baru di antara mereka.


tidak semudah waktu pertama kali bertemu, dulu vani tidak pernah menolak dika karena ia menyukai pria itu namun sekarang dika merasa lebih sulit untuk mendapatkan simpati dari gadis yang dicintainya itu.


meskipun sebenarnya vani masih memiliki perasaan kepada dika namun ia semakin tidak percaya diri karena rasa trauma yang pernah dialaminya.


vani selalu mencoba untuk meyakinkan dika bahwa masih banyak gadis baik di luar sana yang pantas untuk dika perjuangkan namun pria itu tidak mau mendengarkannya.


seperti saat ini mereka sedang berada di kantor hendak makan siang. namun vani melarang dika yang terus mengikuti langkahnya.


"bapak ngapain sih, ngikutin saya terus. mending sekarang bapak pergi"


"kamu kenapa sih ngusir saya terus, kan ini kantor saya"


"biasanya juga bapak selalu di kantor yang lain bareng pak rangga dan pak ray"


"sekarang udah beda"


"terserah bapak deh" vani pun terus berjalan.


"vani stop! kamu berhenti ya menjauh dari aku. itu enggak akan ngaruh apapun karena aku bakal tetap sayang sama kamu" ujar dika menatapnya.


"harusnya kamu yang stop, aku udah enggak sayang sama kamu lagi jadi kamu berhenti buat deketin aku terus"


"kamu pikir aku percaya...."


dika merangkul pundak vani lalu mengajaknya makan siang bersama.

__ADS_1


begitulah kini vani dan dika menjalani hari hari mereka, saling berdebat namun tetap bersama.


bulan terus berganti, sudah lama dika menahan diri untuk tidak memaksa vani menerimanya kembali namun hari ini ia membulatkan niat untuk melamar gadis yang dicintainya itu.


meskipun selama ini vani selalu berusaha menghindarinya namun tidak membuat dika menyerah untuk kembali meyakinkan gadis itu jika dirinya benar benar tulus.


malam ini, dika sudah menyiapkan lamaran romantis untuk meminang gadis itu.


diatas sebuah kapal pesiar mewah yang di penuhi dengan lampu lampu indah dan tepat di bawah sinar rembulan malam yang cerah dika melamar gadis cantik pujaan hatinya.


"vani, maukah kamu jadi istri ku?"


dika sedang berlutut di hadapan vani sambil memegang sebuah kotak cincin di tangannya.


melihat dika tiba tiba melamarnya, vani pun tertegun tidak tau harus menjawab apa.


vani terharu melihat sikap romantis dika yang melamar dirinya di tempat seindah itu namun tetap saja ia bukanlah gadis yang pantas untuk bersanding dengan seorang putra bungsu dari keluarga terpandang itu.


vani mengalihkan pandangannya kearah yuli yang juga berada disana untuk meminta pendapat.


keluarga dika juga berada disana karena mereka sedang melakukan liburan keluarga.


ditatap seperti itu oleh kakaknya, yuli pun langsung mengangguk setuju karena ia tau memang dika lah kebahagiaan vani.


melihat adiknya mengangguk vani kembali bimbang.


"em,,, iya aku mau"


setelah berpikir, akhirnya vani mengangguk setuju menerima lamaran dika.


dika tersenyum bahagia mendengar jawaban singkat dari gadis yang dicintainya itu.


ia langsung memakaikan cincin di jari manis vani lalu mengecup punggung tangannya.


setelah itu dika berdiri dan langsung memeluk tubuh gadis yang dicintainya itu dengan erat.


"makasih ya sayang, aku janji bakal selalu bahagiain kamu"


"iya"


vani mengangguk sambil meneteskan air mata bahagianya.


di tengah dinginnya hembusan angin malam laut pelukan itu terasa begitu hangat.


keluarga dan para sahabat yang turut hadir disana pun bertepuk tangan gembira.


mama ratih meneteskan air mata bahagia melihat putra bungsunya yang selama ini selalu bersikap manja itu akan segera menikah.


setelah pulang berlibur keluarga wijaya pun langsung melamar vani secara resmi di rumah keluarganya dengan datang ke kampung halaman calon menantu bungsu itu.


keluarga vani benar benar tidak menyangka jika dika itu adalah seorang putra dari keluarga yang sangat kaya raya.


meskipun merasa canggung dengan keadaan rumah mereka yang sederhana namun keluarga vani berusaha untuk menyambut kedatangan keluarga wijaya dengan baik dan semampunya.


satu bulan berlalu setelah lamaran romantis itu, akhirnya dika dan vani pun melangsungkan ijab kabul yang sakral sekaligus resepsi pernikahan di salah satu hotel berbintang milik keluarga wijaya.


lobby hotel sudah di hias seindah mungkin dengan segala kemewahannya serta pelaminan megah yang di penuhi bunga dengan tema bernuansa serba putih pink.


bagaimana tidak serba mewah itu adalah pernikahan dari putra bungsu keluarga wijaya. mereka menyiapkan segala sesuatunya dengan sempurna.


sungguh sangat beruntung vani seorang gadis biasa yang menjadi nyonya muda keluarga itu.


tidak lupa ikon dalam sebuah pernikahan yaitu kamar pengantin mewah yang juga di hias dengan sangat indah. harum bunga memenuhi seisi ruangan karena banyaknya bunga segar sebagai hiasan serta kelopak bunga yang bertaburan di atas ranjang sampai ke depan pintu untuk menyambut datangnya pengantin.


keluarga dan orang tua vani pun turut hadir, mereka datang ke kota untuk menghadiri pernikahan vani dan dika.


di kamar lain vani sudah di rias sangat cantik benar benar terlihat seperti seorang putri. memakai gaun pengantin panjang berwarna putih dengan di padu kerudung yang terdapat mahkota cantik sebagai riasan di kepalanya.


vani menatap pantulan dirinya di depan sebuah cermin rasanya masih seperti mimpi dirinya akan segera menikah, terlebih lagi ia akan menikah dengan pria yang dicintainya.


vani merasa sangat bahagia namun juga ada perasaan sedih yang masih mengganjal di hatinya.


di dalam kamar yang berbeda dika juga terlihat sangat tampan menggunakan setelan jas dan dasi kupu kupu serba putih. sungguh terlihat sangat gagah karena ia memiliki postur tubuh yang ideal.

__ADS_1


__ADS_2