
tidak terasa hari ini adalah hari dimana acara tujuh bulanan vani berlangsung.
acara berjalan dengan lancar dan meriah semua keluarga dan tamu yang hadir mengucapkan selamat mendoakan vani dan bayinya tetap sehat hingga hari persalinan tiba.
"selamat ya vani"
teman teman dan rekan kerja vani datang untuk mengucapkan selamat kepadanya.
"iya makasih ya udah datang" sambut vani senang.
"emuach, sehat terus ya dek"
kak aida dan seluruh keluarga vani dari kampung halaman pun datang serta memberi selamat.
"iya kak makasih ya" vani memeluk kakaknya.
"calon ponakan aunty, sehat terus ya di dalam sini" yuli ikut menghampiri vani.
"iya aunty yang cantik makasih doanya buat baby ya" vani tersenyum.
"selamat ya vani dika, sebentar lagi mau jadi mama papa"
"amin. makasih ya doa semuanya"
"tante cantik, adek bayi lagi ngapain di dalam?"
rara memeluk adiknya yang masih berada di dalam perut tantenya itu.
"hai sayang! adek lagi bobok deh kayanya" vani membelai rambut rara.
"iya adek enggak banyak gerak nih anak baik budi"
ranty pun mengusap lembut perut adik iparnya.
"amin"
semua orang tersenyum bahagia terutama vani merasa sangat bahagia karena sebentar lagi kebahagiaan yang ia rasakan bersama suaminya akan semakin lengkap dengan kehadiran seorang bayi di antara mereka.
semua tamu dan keluarga yang hadir pun larut dalam suasana acara menikmati hidangan yang sudah tersedia sambil bercanda tawa bersama.
setelah acara itu berlangsung selama beberapa jam terlihat dika melangkah pergi dari tengah acara.
saat ini ia sedang berdiri sambil mengawasi pergerakan arin dari kejauhan.
dika merasa khawatir acara tujuh bulanan bayinya akan berantakan jika arin sampai berulah dengan mengatakan tentang malam itu kepada vani.
sampai sekarang dika masih berusaha untuk menghindar dari arin karena ia tidak ingin jika arin membahas tentang malam itu. malam yang membuat dika merasa bingung dengan dirinya sendiri.
setelah cukup lama dika berdiam di sana, dari arah belakang vani datang menghampirinya.
"mas, kamu ngapain disini?"
vani melihat suaminya sedang sendirian berada di lantai dua rumah itu.
"eh sayang, enggak! aku cuma lagi liatin semua orang dari sini aja jadi kelihatan rame" dika beralasan dengan gugup
"oh, aku cariin kamu dari tadi loh"
"maaf ya sayang ku" dika mengelus pipi istrinya.
"ya udah sekarang kita turun yuk mas di bawah banyak temen sama rekan kerja kamu loh yang lagi nyariin"
vani menggandeng tangan suaminya.
"iya sayang, ayo kita turun"
dika pun tidak bisa menolaknya lalu ikut berjalan sambil menggenggam tangan vani dan memeluk pinggang istrinya itu menuju lantai dasar dimana acara berlangsung.
di lantai dasar terlihat dari kejauhan arin menatap tajam ke arah vani dan dika yang berjalan sambil gandengan mesra dengan senyuman manis menghiasi bibir keduanya.
arin merasa tidak suka ketika melihat dika dekat dengan wanita lain padahal ia sudah tahu jika wanita yang sedang bersama dika itu adalah istri sahnya yaitu vani wanita yang sangat dicintai oleh dika sekaligus akan manjadi ibu dari anak anak dika juga.
tidak menolak fakta jika arin ingin dirinya yang berada di posisi vani saat ini, berdiri di samping dika menjadi satu satunya wanita yang dicintai oleh dika.
arin juga akan siap untuk menjadi ibu dari anak anak dika namun itu hanya menjadi sebuah harapan arin yang tidak pasti karena saat ini dika semakin menghindari dirinya.
terlihat dari sisi luar rumah wijaya raka dan karin datang dengan penampilan yang berbeda, mereka sengaja menyamar untuk bisa masuk ke dalam acara tersebut.
"gimana raka, apa kita putar pertunjukan itu sekarang?"
karin menatap raka sambil tersenyum semirk.
"hem, terserah kamu saja lagian dika lah yang akan di permalukan disini jadi aku tidak peduli"
__ADS_1
raka hanya cuek tidak mau ambil pusing masalah itu.
"aku cuma ingin membalaskan rasa sakit hati ku kepada keluarga wijaya yang dulu sudah mempermalukan dan mencampakkan aku begitu saja"
karin dengan sorot mata penuh kebencian.
"bukannya kamu masih mencintai pria itu dan ingin dia kembali padamu?"
raka tidak mengerti dengan jalan pikiran karin yang licik itu.
"aku tau dika enggak akan pernah kembali lagi padaku dengan alasan apapun, jadi dia harus merasakan rasa malu yang luar biasa di hadapan semua orang sama sepertiku dulu"
karin tersenyum licik sambil memegang sebuah flash disk berisi video dika bersama arin yang berada di dalam kamar hotel dalam keadaan yang tidak sepantasnya itu.
"hhh, kamu benar karin lakukanlah sekarang karena aku juga ingin melihat kehancuran pria itu" gumam raka tersenyum miring.
di dalam rumah mewah itu, keluarga wijaya dan seluruh tamu undangan yang hadir sedang fokus menatap kearah layar besar di hadapan mereka.
saat ini layar itu sedang memutar video dan foto momen kebersamaan vani dan dika selama masa kehamilannya.
terlihat semua orang ikut tersenyum bahagia ketika menyaksikan video romantis pasangan suami istri itu.
"mas liat deh yang itu"
vani menunjuk ke arah video yang sedang terputar.
"iya, kamu ingat gak foto itu sayang?"
dika tersenyum menatap istrinya sambil ikut memperhatikan layar.
"iya ingat dong mas"
senyuman manis menghiasi bibir pasangan suami istri yang sedang berbahagia itu.
ketika semua orang sedang larut dalam kebahagiaan saat itu secara perlahan raka dan karin pun bergerak mendekati sebuah laptop yang tersambung dengan rekaman video pada layar karena mereka akan segera mengubah putaran video di dalamnya.
dewi keberuntungan sedang berpihak kepada raka dan karin karena sepertinya saat ini ray sedang lalai dalam pengamanannya.
"hhh! nikmati pertunjukan ini sayang" gumam karin setelah mengubah putaran video dalam layarnya.
semua orang yang awalnya menatap layar itu dengan senyum bahagia pun kaget seketika raut wajah bahagia mereka berubah menjadi bingung bercampur kesedihan karena layar itu memutar video kebersamaan dika dengan arin di dalam sebuah kamar hotel beberapa hari yang lalu.
video itu di putar dengan durasi yang cukup singkat karena hanya menayangkan potongan video saat dika terlelap di samping arin tanpa memakai busana lalu arin bangun dan tersenyum menatap dika sebelum kembali terlelap.
semua orang yang melihat video itu sangat terkejut dan tidak percaya bahwa seorang radika wijaya telah tega mengkhianati istrinya padahal selama ini dika terlihat sangat mencintai vani.
vani yang pada saat itu sedang memeluk lengan suaminya langsung melepaskan tangannya dari pria yang dicintainya itu karena melihat video di hadapannya.
senyuman manis yang terukir indah di bibir vani seketika hilang dan berubah menjadi air mata kesedihan.
vani tidak menyangka jika suami yang sangat ia cintai selama ini telah tega mengkhianatinya padahal saat ini dirinya sedang mengandung calon anak mereka.
dika yang melihat video itu terputar di hadapan semua orang pun membelalakkan matanya kaget tak percaya. ia menatap arin dari kejauhan dengan tajam sedangkan arin sendiri juga bingung melihatnya.
reaksi dan raut wajah sama di alami oleh semua orang yang hadir di sana.
"ya ampun enggak nyangka ya pak dika selingkuh"
"iya padahal istrinya udah cantik banget loh"
"dasar cowok semua sama aja enggak cukup satu wanita"
bisik bisik semua orang mulai bergumam memenuhi sudut ruangan yang luas itu.
vani menatap dika dengan mata yang sudah berkaca kaca bahkan air mata itu sudah mengalir membasahi pipinya.
"apa ini mas?"
suara vani gemetar menatap suaminya.
"sayang aku bisa jelasin"
dika berusaha meraih tangan istrinya namun vani langsung menepisnya.
"tega kamu mas! kamu selingkuh sama arin di belakang aku di saat aku lagi ngandung anak kamu?" hiks! hiks!
vani tidak bisa menahan air mata yang lolos begitu saja membasahi pipi mulusnya.
"sayang ini enggak kaya yang kamu liat, itu semua enggak bener sayang tolong percaya sama aku"
dika masih berusaha untuk memegang lengan istrinya namun vani tetap menghindarinya.
"jangan sentuh aku!"
__ADS_1
dika belum pernah melihat tatapan kebencian di mata indah istrinya itu.
"ini semua salah faham sayang, kamu dengerin penjelasan aku dulu ya"
dika berusaha meyakinkan vani untuk mempercayainya namun vani menolak.
semua orang yang hadir melihatnya pun masih terus berbisik bisik menceritakan putra bungsu dari keluarga terpandang itu.
ada yang beranggapan kalau selama ini cinta dika kepada vani hanya palsu.
ada juga yang menyalahkan arin karena sudah hadir sebagai orang ketiga dalam hubungan dika dan vani.
semua orang bersimpatik dan kasian kepada vani yang sudah di khianati oleh suaminya padahal ia sedang mengandung calon bayi mereka.
kedua orang tua dika sangat syok melihat kelakuan putra bungsu mereka yang selama ini selalu mereka banggakan namun kini telah menghancurkan nama baik keluarganya tepat di hadapan semua orang yang selama ini sangat menyanjung keluarga terpandang itu.
"pa, apa yang udah anak kita lakuin?"
suara mama ratih terdengar gemetar kepada suaminya.
"papa enggak tau ma, sshh!"
papa hardi menahan rasa sakit sambil memegang bagian dadanya.
rangga dan istrinya pun tidak menyangka hal ini datang dari adik semata wayangnya itu sedangkan ray dan para anak buahnya sedang sibuk membubarkan semua wartawan yang hadir meliput masalah dalam rumah tangga putra bungsu wijaya itu.
"pak dika tolong konfirmasi tentang video itu"
"iya pak, apa benar bapak sudah selingkuh?"
wartawan sibuk memberi pertanyaan di waktu yang tidak tepat.
"saya harap, semuanya tenang! ini masalah keluarga jadi tolong hargai privasi kami"
ray menahan para awak media yang mendekati bosnya.
namun para wartawan tidak mau menyiakan kesempatan untuk mendapat berita hangat dari keluarga terpandang itu
tentu saja berita itu merupakan aib besar yang sangat mencoreng nama baik keluarga wijaya.
keluarga vani yang datang dari kampung halamannya pun ikut merasa kecewa pada dika terutama kakak dan abang iparnya karena dika telah tega mengkhianati adik semata wayang yang sangat mereka sayangi.
rio yang terbakar amarah pun hendak melampiaskan rasa kecewa dan emosinya dengan menghajar dika di tempat itu karena sudah mempermainkan perasaan adiknya namun kak aida langsung menahan langkah rio.
"brengsek!!" rio mengepalkan tangannya.
"jangan emosi dulu, kita belum tau kebenarannya lebih baik biarin dulu mereka menyelesaikan masalahnya"
kak aida mencoba untuk menenangkan rio adiknya.
"tapi dika udah keterlaluan kak, dia mainin perasaan vani"
rio masih tidak mau menahan diri.
"lebih baik kita pulang kalo kamu enggak bisa nahan diri dari emosi sesaat kamu itu" ujar kak aida.
"kak ayo ikut aku ya"
yuli pun mengajak kakak dan abang sepupunya menjauh dari tempat itu untuk menenangkan diri terlebih dahulu.
"sayang aku bisa jelasin"
"cukup mas, apa yang mau kamu jelasin lagi sama aku! apa video itu kurang jelas udah nyakitin perasaan aku. apa kamu mau nambahin lagi luka di hati aku " hiks!! hiks!!!
vani menangis sejadi jadinya meluapkan rasa sesak di dalam dadanya.
"itu enggak bener sayang aku enggak pernah khianatin kamu"
dika menatap vani dengan mata yang juga berkaca kaca rasanya ia tidak sanggup melihat wanita yang dicintainya itu menangis karena perbuatan dirinya sendiri.
"cukup! aku enggak mau dengar lagi"
vani menutup kedua telinganya.
"kamu jahat mas! kamu jahat!! kamu tega lakuin ini sama aku dan anak kamu sendiri" hiks!
vani melangkah pergi keluar dari dalam rumah itu karena tidak sanggup menerima kenyataannya.
"vani! kamu mau kemana?"
rangga hendak menghentikan langkah adik iparnya namun vani tidak mau mendengarkan dan terus berjalan sambil menangis.
vani melangkah dengan cepat keluar dari dalam rumah mewah itu meninggalkan semua orang di sana meskipun dirinya tidak tahu kemana kaki akan membawanya pergi.
__ADS_1