Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Bab 113


__ADS_3

lewat tengah malam tiba tiba saja tubuh dika menggigil di balik selimutnya.


vani yang merasa haus terbangun untuk minum segelas air putih namun saat menatap ke arah sofa tempat suaminya tertidur ia melihat tubuh dika bergetar di balik selimutnya karena menggigil.


"kenapa ya kok selimut mas dika gerak gerak"


vani beranjak dari tempat tidur lalu berjalan mendekati suaminya di sofa.


"mas kamu kenapa?"


vani membuka selimut dika lalu memegang dahi suaminya yang terasa sangat panas itu.


"sshh!"


"ya ampun mas dika, kamu demam?" vani khawatir.


"emh"


"mas kamu tidur di atas ranjang aja ya soalnya kamu lagi demam"


"biarin aku disini aja, aku enggak mau ganggu kamu" dika dengan suara gemetar.


"mas maafin aku ya, kamu enggak ganggu aku kok ayo kita tidur di ranjang aja ya"


vani memegang lengan suaminya agar berdiri namun dika langsung menepisnya hingga tubuh vani terdorong dan jatuh ke lantai.


"lepasin akh"


bruk!


"sshh! aw!"


vani memegangi perutnya yang terasa sakit akibat membentur lantai.


"maafin aku ya, aku enggak sengaja"


dika mencoba untuk berdiri ingin membantu vani yang sedang terjatuh namun ia kembali terduduk di atas sofa karena kepalanya terasa sangat pusing membuatnya sempoyongan.


"sshh! akh kepala aku sakit" ringis dika.


"aku enggak papa kok mas, ayo kamu tidur di ranjang aja ya biar aku ambil handuk buat kompres kening kamu"


vani mengajak dika lalu menggandeng tangan suaminya menuju ranjang.


akhirnya dika setuju mengikuti vani berjalan menuju ranjang secara perlahan lalu berbaring di sana.


"makasih ya"


"aku ambil kompresan sebentar ya mas"


vani pun berjalan mengambil mangkuk berisi air hangat dengan handuk kecil di dalamnya sambil berjalan tertatih karena masih merasakan sakit di bagian perutnya akibat terjatuh di lantai tadi.


"sshh! aduh kok sakit banget ya"


vani menghentikan langkahnya namun karena merasa khawatir dengan kondisi suaminya ia kembali berjalan menuju ranjang dan berusaha mengabaikan rasa sakitnya.


dengan sabar vani mengompres kening dika semalaman ia bahkan rela tidak tidur karena ingin menjaga suaminya sampai suhu tubuh dika kembali normal.


hingga menjelang subuh vani baru tertidur karena suhu tubuh dika sudah kembali normal pada saat itu.


pagi harinya dika terbangun dan meraba handuk kecil yang berada di keningnya.


dika tersenyum karena melihat vani sedang tidur di sampingnya lalu ia mengelus lembut kening istrinya itu.


merasa ada yang sedang menyentuh rambutnya vani pun terbangun dan membuka mata secara perlahan membuat dika langsung menarik tangannya dari kening vani karena takut istrinya itu tidak akan menyukainya.


"mas dika kamu udah bangun, gimana perasaan kamu?"


"iya aku juga udah baikan kok sayang makasih ya kamu udah ngerawat aku tadi malam"


"em, iya mas tapi kamu yakin kan udah enggak sakit lagi atau kita ke dokter aja"


"enggak usah sayang aku udah baikan kok kalo kamu enggak percaya, coba deh kamu rasain nih"


dika meletakkan tangan vani di atas dadanya untuk memeriksa detak jantungnya.


vani hanya diam saat dika menarik tangannya lalu ia pun memegang bagian dada suaminya itu.


"apa detak jantung aku normal?"


dika tersenyum menggoda istrinya.


"aku enggak tau mas, kan enggak kedengeran kalo cuma di pegang" vani pun menarik tangannya dari sana.


"kalo gitu coba kamu dengerin deh sayang"


dika pun menarik wajah istrinya lalu menempelkan bagian telinga vani di atas dadanya.


deg! deg! deg!


vani tersenyum saat mendengarkan suara detak jantung suaminya itu.


"kedengeran gak kalo di setiap detak jantung aku itu selalu nyebut nama kamu"


"ih, apa sih gombal mulu deh kamu mas"


vani mencubit pelan dada suaminya.

__ADS_1


"hehe iya kan beneran sayang, setiap jantung aku berdetak hati aku selalu manggil nama kamu vani, vani, vani gitu"


dika selalu mengucapkan kata manis serta pujian kepada istrinya seperti tidak ada masalah di antara mereka karena memang dika sudah terbiasa mengucapkannya.


"gombal"


"serius tau ay"


vani hendak melangkah turun dari ranjangnya namun tiba tiba saja ia kembali meringis.


"sshh aw! sakit" vani memegangi perutnya.


"sayang kamu kenapa?" dika merasa khawatir.


"em, aku enggak papa kok mas"


"kamu yakin?" dika melihat wajah istrinya yang pucat.


"iya"


vani berdiri dengan perlahan lalu berjalan keluar dari dalam kamar karena akan mengambilkan sarapan.


setelah mengambilkan makanan, vani kembali ke dalam kamar sambil membawa semangkuk bubur untuk dika.


ceklek!


"mas kamu makan dulu ya, ini buburnya"


vani meletakkan bubur dan segelas susu hangat di atas nakas.


"suapin dong sayang"


dika meminta dengan manja kepada istrinya.


"manja banget sih kamu mas"


vani mengambil mangkuk bubur lalu menyuapi suaminya itu dengan sabar.


"hehe enggak papa dong sayang"


vani menyuapi dika dengan telaten hingga bubur di dalam mangkuk itu habis. setelah itu ia juga memberikan obat dan vitamin untuk di minum oleh suaminya.


"makasih ya sayang"


dika tersenyum setelah ia meminum obatnya.


"ya udah sekarang kamu istirahat aja ya mas"


vani menarik selimut untuk dika.


"temenin dong sayang"


"aku mau ke kamar mandi sebentar mas nanti aku temenin kamu" vani melepaskan lengannya dari tangan dika..


"ya udah hati hati jalannya ya sayang"


"hem"


vani mengangguk lalu melangkah menuju kamar mandi.


setelah selesai vani benar benar kembali untuk menemani suaminya yang sedang sakit itu.


"sini sayang"


dika merentangkan tangan agar vani masuk ke dalam pelukannya.


"emuach"


dika mengecup kening vani yang sudah berada di dalam pelukannya itu. ia merasa sangat bersyukur karena istrinya sudah mau menerima pelukan darinya.


malam harinya saat keluarga wijaya sedang makan malam bersama di meja makan seperti biasa arin melihat dika yang sepertinya tidak berselera untuk makan.


terlihat dika hanya mengaduk aduk makanan yang ada di hadapannya saja.


"dika kamu kenapa, kok makanannya cuma di aduk aduk kaya gitu?"


mama ratih yang melihat putranya tidak mau makan.


"enggak papa ma" jawab dika tanpa menoleh.


"mas dika cobain deh ayam gorengnya enak loh"


arin menunjukkan perhatiannya dengan meletakkan satu potong ayam goreng di atas piring dika.


vani yang melihat arin mencari simpati dari suaminya itu pun tidak mau tinggal diam.


"mas, mau aku siapin?"


vani langsung menawarkan diri untuk menyuapi dika agar arin tidak cari perhatian dari suaminya.


dika yang mendapat tawaran menarik dari istrinya itu pun langsung tersenyum.


"em, mau dong sayang" dika tersenyum menatap istrinya.


"ya udah sini aku suapin ya ayo buka mulutnya aaaa"


vani menyuapi dika dengan mesra, sengaja melakukan itu karena tidak ingin memberi arin kesempatan untuk dapat simpati dari suaminya lagi.

__ADS_1


mendapat perhatian dari istrinya dika pun merasa sangat senang ia makan dengan lahap setiap suapan dari tangan vani membuat mama dan papanya geleng geleng kepala melihat kelakuan putra mereka itu.


meskipun dika sudah dewasa dan sudah menikah ia tetap lah seorang putra bungsu yang manja.


arin hanya menatap pasangan suami istri yang sedang suap suapan mesra di hadapannya itu dengan tidak suka.


bagaimana pun juga arin tidak bisa melakukan sesuatu untuk mengungkapkan rasa cemburu di hatinya itu karena vani memang memiliki hak atas suaminya sedangkan dirinya tidak.


setelah selesai makan malam dika dan vani pun kembali masuk ke dalam kamar mereka untuk segera beristirahat.


vani duduk di tepi ranjang karena masih bingung dengan jalan pikirannya sendiri.


di satu sisi vani ya sudah berniat untuk memaafkan suaminya dan melupakan semua masalah yang terjadi sebelumnya namun hati dan pikirannya masih saling bertentangan.


benar memang bukan hal yang mudah untuk memaafkan sebuah pengkhianatan dari orang yang kita cintai namun vani akan berusaha untuk melakukannya.


saat vani masih melamun memikirkan tentang suaminya itu dika datang dari arah belakang memeluk tubuh vani sambil mengusap perut buncit istrinya.


"sayang, papa kangen deh sama kamu"


dika meletakkan dagunya di atas pundak vani sambil terus mengelus perut istrinya.


"mas kamu kan lagi sakit mendingan sekarang kamu istirahat ya"


vani yang mengerti keinginan dan maksud dari ucapan suaminya itu pun masih berusaha untuk menghindarinya.


"aku udah sembuh sayang, kamu enggak percaya ya aku udah kuat kok" dika menciumi pundak istrinya.


vani hanya terdiam namun merasa geli atas perbuatan suaminya.


"tapi mas...."


vani berbalik badan lalu menatap mata suaminya.


"aku sakit karena kangen sama kalian sayang"


dika menatap lekat sorot mata istrinya dengan sendu karena vani selalu menolaknya.


melihat tatapan suaminya yang sangat berharap dirinya akan mengizinkan vani pun tidak tega pikirannya ingin menolak namun hatinya tidak.


vani juga merasa khawatir jika ia terus terusan menolak permintaan dari suaminya itu justru akan membuat dika benar benar mencari pelampiasan hasratnya kepada wanita lain.


sejatinya kebutuhan biologis seorang pria dewasa itu tidak bisa terus menerus ditahan karena bagaimana pun juga mereka akan mencari cara untuk segera menyalurkannya.


"sayang, boleh ya?"


dika terus menatap mata istrinya dengan penuh harapan.


"em"


akhirnya vani pun mengangguk pelan untuk menyetujui permintaan dari suaminya itu.


saat ini vani sedang tidak mau memikirkan hal lain dulu karena bagaimana pun juga ini sudah menjadi kewajiban dirinya sebagai seorang istri.


dika tersenyum karena mendapat jawaban setuju dari istrinya. ia langsung merebahkan tubuh vani dengan perlahan di atas ranjang lalu melahap bibir istrinya yang manis itu.


vani melenguh merasakan setiap kecupan lembut dari bibir suaminya di bagian tubuh yang sensitive membuat hasrat keduanya semakin tidak tertahan.


dengan perlahan dika mulai memasuki tubuh istrinya lalu bergerak secara teratur dari perlahan hingga semakin lama gerakannya semakin cepat.


awalnya vani terbuai dengan kenikmatan yang dika berikan namun entah mengapa tiba tiba saja perutnya terasa sakit.


meski begitu vani tetap berusaha untuk menahannya dan tidak menunjukkan rasa sakitnya kepada dika karena tidak ingin suaminya kembali merasa kecewa jika harus gagal untuk menuntaskan hasratnya malam ini juga.


"sshh!!"


vani meringis bukan karena nikmat melainkan rasa sakit yang sedang ia tahan.


saat ini dika sedang terbuai dengan kenikmatan hingga ia tidak menyadari raut wajah istrinya yang sedang menahan rasa sakit itu.


vani menutup mata dengan wajah yang di penuhi keringat karena menahan rasa sakitnya namun dika mengira jika istrinya itu sedang menikmati permainan yang mereka lakukan seperti biasanya.


vani juga menggigit bibir bagian bawahnya membuat dika semakin bersemangat untuk menghentakkan diri pada istrinya itu karena mengira jika vani sangat menikmatinya.


padahal nyatanya saat ini vani sedang menahan rasa sakit di perutnya akibat hentakan yang di berikan oleh suaminya itu sedang mengguncang guncang tubuhnya.


tidak terlalu lama dika menikmati gerakan yang mereka lakukan itu karena takut akan membuat istrinya merasa sakit seperti sebelumnya.


dika memutuskan untuk menyelesaikannya dengan cepat namun vani tetap tidak dapat menahan rasa sakitnya lagi.


"aakkhh!!!"


lenguhan panjang terdengar dari bibir dika saat mengakhiri permainan mereka namun bersamaan dengan itu juga vani tidak sadarkan diri karena pingsan.


"hhh!"


setelah suhu tubuhnya kembali normal dika pun langsung berbaring di samping tubuh istrinya dan menatap vani yang ternyata sudah tertidur namun dika merasa ada yang aneh karena biasanya vani tidak pernah langsung tidur setelah mereka selesai melakukan itu.


dika juga baru menyadari jika dirinya tidak mendengar suara lenguhan keluar dari mulut istrinya ketika mereka mengakhiri permainan seperti biasa.


lagi pula rasanya tidak mungkin jika vani tidur saat masih melakukannya, dika pun dengan serius menatap wajah istrinya yang terlihat pucat.


"sayang kamu kenapa, sayang bangun!"


dika menggoyang tubuh istrinya dengan khawatir karena vani sama sekali tidak merespon ucapannya dengan gerakan atau suara gumaman apapun.


"sayang! kamu baik baik aja kan? jangan buat aku khawatir dong sayang. sayang,,,!!"

__ADS_1


dika semakin panik karena ternyata vani sedang pingsan bukan tertidur.


dengan cepat dika langsung memakai pakaiannya lengkap dan memakaikan pakaian istrinya juga lalu menggendong tubuh vani hendak segera membawanya ke rumah sakit.


__ADS_2