Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 191


__ADS_3

vani yang sedang kesal itu berjalan dengan cepat keluar dari dalam gedung kantor. ia melangkah sendirian menuju pintu gerbang tanpa memperdulikan mobil yang sudah menunggu di depannya.


melihat langkah vani hendak keluar dari gerbang kantor sendirian, supir pribadi yang sudah menunggu di samping mobilnya sejak tadi pun langsung berlari mengejar dan menghentikan langkah majikannya itu.


"nyonya, silahkan masuk ke dalam mobil saya akan mengantar nyonya pulang" ucap supir pribadi vani yang melihatnya berjalan mengabaikan mobil di hadapannya.


"saya enggak mau, bapak pulang aja duluan nanti saya bisa pulang sendiri" vani menolak dengan tegas tidak selembut biasanya.


"waduh, jangan nyonya nanti bapak bisa marah" supir itu membujuk vani agar mau pulang bersamanya.


"biarin aja pak saya mau pulang sendiri pokoknya"


vani tetap bersi keras menolak dan terus berjalan menuju jalan raya di depan gerbang.


"saya mohon tolong kasihanilah saya nyonya, nanti saya bisa di pecat bapak kalo sampe terjadi sesuatu sama nyonya"


supir pribadi yang bertubuh tinggi dan tegap itu memohon kepada vani dengan memelas.


padahal bisa saja ia mengangkat tubuh wanita itu hanya dengan satu tangan dan langsung memasukkannya ke dalam mobil namun tidak mungkin ia lakukan karena wanita di hadapannya saat ini adalah seorang nyonya muda wijaya.


"dia enggak bakal mecat bapak kok, makanya bapak jangan bilang bilang. saya cuma pengen pulang sendirian aja pak bukan mau kabur" vani tetap kekeh ingin pulang sendirian dari sana.


"tapi nyonya...."


ucapan supir itu hanya di abaikan begitu saja oleh vani yang sedang merasa kesal.


"udahlah pak, bapak pulang aja sekarang"


vani pun menghentikan taksi yang sudah ia pesan dan langsung masuk ke dalamnya, mobil itu melaju meninggalkan supir yang malang.


"nyonya...!!!" panggil supir hanya sia sia.


"aduh, gimana ya. harus lapor bapak atau enggak ya?" supir itu bingung dengan keadaannya.


"kalo lapor pasti aku bakal dimarahin tapi kalo enggak lapor terus sampe terjadi sesuatu sama nyonya, bukan cuma dimarahi sama bapak bisa mati aku di gantung"


supir malang itu pun terus berusaha untuk memilah satu keputusan yang akan diambilnya meski kedua pilihannya sulit untuk dilakukan karena pasti keduanya akan membuat dirinya dimarahi.


saat ini vani sedang berada di sebuah cafe yang cukup jauh dari kantor suaminya, ia terlihat duduk sambil menikmati makanan di hadapannya karena moodnya masih berantakan akhirnya vani pun memutuskan untuk makan siang saja sebelum kembali ke butik.


ketika sedang santai menikmati makan siang vani di sapa oleh seorang pria yang sangat ia kenali. pria itu kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengannya membuat vani tersenyum lalu mereka melanjutkan makan siang bersama


"hai vani, udah lama kita enggak ketemu ya" sapa pria itu.


"hai mas! iya udah beberapa bulan" vani tersenyum.


"kamu sendirian aja?"


"iya nih"


keduanya terlihat saling bercerita dengan sangat akrab karena ternyata pria itu adalah diki.


vani sudah mengetahui jika cafe itu milik sahabatnya diki karena selama ini mereka sudah sering berbalas pesan dan menanyakan kabar satu sama lain melalui ponsel.


sebenarnya bukan suatu kebetulan vani bertemu dengan diki di cafe itu namun karena diki yang meminta vani untuk datang berkunjung.


maka vani menyempatkan waktu untuk datang dan makan di cafe itu. lagi pula saat ini vani sedang merasa bosan makan di rumah sendirian.


"oh ya mas, gimana sama calon istri kamu yang kemarin itu kapan undangannya sampe ke aku nih?" tanya vani kepada diki dengan nada bercanda.


"haha! iya belum tau nih van. belum ada kepastian juga soalnya dia masih sibuk dengan karirnya"


sebenarnya diki sudah merasa jengah dengan pertanyaan banyak orang tentang kapan dirinya akan menikah.


"ingat umur loh, udah kepala tiga masih aja betah sendiri" sindir vani dengan tersenyum.


"hem, iya inget kok sama umur tapi ya gimana? jodohnya mungkin yang belum lahir"


diki terlihat santai sambil meminum jus di dalam gelas yang berada di hadapannya itu.

__ADS_1


"hem masa sih, terus nanti kalo jodoh kamu udah dewasa berarti kamu udah tua dong mas jadi kakek kakek" haha vani meledek sambil terus tertawa.


"em, iya mungkin terus muncul deh judul filmnya seorang gadis muda di nikahi kakek kakek usia 80 tahun" haha sambung diki juga bercanda tentang masa depannya.


"haha! keren sih itu judulnya mas" vani tertawa lepas.


di tempat yang berbeda setelah cukup lama menimbang keputusan apa yang harus di ambil, akhirnya supir pribadi vani pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah dan memastikan apakah majikannya sudah sampai di rumah atau belum.


tin!!!


tin!!!


mobil mewah vani yang di kendarai oleh supir pribadinya itu berhenti tepat di depan pintu gerbang rumahnya.


setelah pintu gerbang di buka supir langsung bertanya kepada security yang berjaga di depan pos tentang kepulangan majikan mereka.


"pak satpam apa liat nyonya udah pulang?" tanya supir kepada scurity.


"loh nyonya belum ada pulang to, bukannya tadi pagi pergi sama kamu ya" jawab scurity.


"aduh! mati aku!!" supir menepuk jidatnya bingung.


"emang kenapa to?"


"enggak papa ya udah makasih ya pak"


"iya sama sama"


"enggak ada pilihan lain aku harus telpon pak dika ini"


supir malang itu akhirnya menelpon dika dengan perasaan yang cemas karena harus siap jika bosnya akan memarahi dirinya.


di dalam ruang kerjanya dika masih sibuk menatap layar komputer sambil mengecek berkas penting di tangannya.


drt!! drt!! drt!!


di atas meja ponsel dika berdering menandakan adanya telpon masuk.


"ya halo" jawab dika dengan suara datar.


"halo pak dika"


"iya ada apa?"


"em itu pak anu, itu,,,, em..." supir itu ragu mengatakannya.


"ada apa, kalo ngomong yang jelas" tegas dika.


"saya mau bilang..., em,,, anu pak...."


"apa ada kabar penting kalo tidak tolong tutup telponnya karena sekarang saya sedang sibuk" dika semakin malas menanggapinya.


"em, ini soal nyonya pak"


"apa!! nyonya kenapa?"


dika kaget dan langsung berdiri dari duduknya karena merasa khawatir mendengar kata nyonya yang berarti istrinya.


"nyonya pak, itu em..."


"cepat ngomong yang jelas toto!!" geram dika tidak sabar ingin mendengarnya.


"nyonya belum pulang pak"


"hah! maksudnya?"


"jadi tadi sepulang dari kantor nyonya menolak untuk saya antar pulang pak. nyonya bilang mau pulang sendirian tapi sampe sekarang nyonya belum sampai di rumah" akhirnya supir menjelaskan meskipun dengan suara sedikit gemetar.


"hem baiklah kalo gitu"

__ADS_1


tutt!!


dika menutup telponnya dan langsung mencari kontak bertuliskan istriku di dalam ponselnya hendak segera menelpon vani.


di seberang sana supir itu merasa bingung kenapa dirinya tidak mendapat kemarahan dari bosnya namun ia bersyukur untuk itu.


"kok aneh ya, bapak enggak marah tapi alhamdulillah deh"


supir merasa lebih tenang karena sudah memberi informasi kepada dika.


tut!!!! tuttt!


tutt!!! tutt!!


"nomor yang anda tuju tidak menjawab, cobalah beberapa saat lagi" kalimat yang terdengar di ponselnya saat dika mencoba menghubungi vani.


"ck! vani dimana sih kok enggak jawab telpon" gerutu dika karena vani tidak menjawab telpon darinya.


tut!! tutt! tut!!


"sayang ayolah plis!"


dika semakin geram karena telponnya tidak di jawab oleh vani padahal panggilannya berdering.


"ck! vani kemana sih, awas aja kamu ya sampe rumah bakal aku hukum sayang"


dika berjalan hendak keluar dari dalam ruangannya.


ceklek! dika keluar dari dalam ruangannya dan langsung meminta ray untuk melacak keberadaan istrinya.


"ray tolong lacak keberadaan vani sekarang dan langsung kirim lokasinya ke handphone gue ya"


dika memerintah tanpa menoleh ke arah ray sambil terus berjalan keluar hendak segera mencari istrinya.


"kenapa lagi nih orang, tadi bininya yang marah marah sekarang lakinya khawatir banget" ray menatap kepergian dika yang sedang terburu buru itu.


"makanya kalo sama istri itu di jaga dika jangan di buat ngambek terus sekarang bingung sendiri kan lo" omel ray namun ia tetap mengerjakan perintah dari bos sekaligus sahabatnya itu.


Dika mengendarai mobilnya tanpa arah yang jelas dengan kecepatan sedang karena ia belum tau harus mencari vani kemana.


"sayang kamu kenapa sih ngambek terus" gumam dika dalam keadaan khawatir.


tringg!!! ponsel dika berbunyi menandakan pesan masuk yang ternyata dari sekretarisnya.


setelah mendapat pesan lokasi keberadaan istrinya yang baru saja di kirim oleh ray, dika langsung mengarahkan laju mobilnya menuju tempat itu dengan menambah kecepatan mobilnya.


di dalam cafe itu vani masih saling bercerita dan bercanda dengan sahabatnya diki. ia terlihat sangat bahagia karena akhir akhir ini vani sudah jarang menghabiskan waktu bersama dengan teman temannya.


mobil dika berhenti tepat di parkiran sebuah cafe setelah ia mengikuti titik lokasi yang di tujunya.


dika keluar dari dalam mobilnya dan langsung berjalan memasuki cafe itu.


setelah berada di dalam dika mengedarkan pandangannya menyapu seluruh barisan meja yang ada disana.


dadanya terasa sesak bergemuruh ketika melihat istrinya sedang tertawa bahagia dengan seorang pria asing yang kini namanya sudah kembali ia ingat.


diki adalah seorang pria yang namanya sudah melekat di dalam pikiran dika sebagai mantan kekasih dari istrinya itu pun mencoba untuk meredam emosinya.


padahal hubungan vani dan diki hanya berteman saja sejak dulu hingga sekarang karena vani tidak pernah menjalin hubungan asmara bersama dengan diki namun bagi dika tidak ada sebuah persahabatan yang sejati diantara sepasang manusia dewasa.


dika melangkahkan kaki panjangnya dengan cepat menuju meja yang berada di sudut ruangan cafe membuat semua mata para pengunjung lain memandang ke arah wajah tampannya yang terlihat sedang menahan emosi.


vani yang melihat kedatangan suaminya dengan wajah tidak bersahabat itu pun langsung berdiri dari duduknya ia takut dika akan membuat keributan di sana karena salah faham kepada dirinya.


"mas dika?" vani sedikit takut untuk menatap sorot mata suaminya yang tak bisa ia artikan.


"sayang, ayo pulang" ujar dika berbicara dengan nada lembut bahkan tersenyum manis kepada istrinya.


"pak dika, kenalkan saya diki temannya vani"

__ADS_1


diki yang juga melihat kedatangan dika langsung berdiri memperkenalkan dirinya namun dika hanya mengabaikan uluran tangan darinya.


__ADS_2