Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Tersulut emosi


__ADS_3

dua minggu berlalu sejak dika mengucapkan selamat tinggal kepada vani waktu itu mereka benar benar tidak pernah bertemu lagi.


entah kenapa justru rindu di hati vani semakin menyiksa dirinya. ia bahkan sering marah marah tidak jelas kepada raka dan pergi begitu saja saat mereka membahas tentang pernikahan yang tinggal menghitung hari.


di malam hari vani kembali curhat kepada yuli mengenai perasaannya yang tidak menentu. di dalam kamarnya kini mereka sedang duduk di tepi ranjang.


melihat yuli yang sedang sibuk menatap ponselnya vani pun memecah keheningan di antara mereka.


"yul, kamu tau kan aku susah banget nerima orang lain kalo aku enggak cinta sama dia"


"terus?" yuli merespon cuek sambil tetap fokus menatap ponselnya.


"aku ada niat buat batalin pernikahan ku sama mas raka" ujar vani pada keputusannya.


"apa! batal nikah? emang kenapa sih kak, kamu tau itu bakal nyakitin hati bang raka nanti. kalo emang enggak cinta kenapa waktu itu kamu terima lamarannya?"


"iya aku tau, tapi aku juga bingung harus gimana lagi. aku udah berusaha banget buat cinta sama mas raka tapi tetap enggak bisa"


"jangan bilang kalo kamu masih mikirin bang dika. sadar dong kak, dia udah nikah sama cewek lain. kalo dia bisa bahagia tanpa kamu harusnya kamu juga bisa dong"


"iya tapi aku enggak bisa yul..."


"jangan bilang enggak bisa. kamu pasti bisa, aku yakin kamu bakal bisa cinta sama bang raka nantinya"


"tapi enggak semudah itu yul"


"emang enggak mudah kak, tapi seiring waktu pasti bisa"


"mungkin lebih baik aku sendiri aja sampe aku bisa yul"


"terserah kamu deh, tapi ingat ya jangan sampe kamu nyesel lagi ninggalin bang raka sama kaya waktu kamu pergi dari hidup bang dika"


vani hanya terdiam mendengar ucapan yuli yang benar adanya itu.


*


beberapa hari kemudian di sore hari menjelang matahari terbenam seperti biasa raka sedang mengantar vani pulang ke rumahnya.


saat ini mereka duduk di ruang tamu sambil mengobrol ringan juga.


"sayang kamu pasti capek kan, kalo gitu aku langsung pulang ya biar kamu bisa istirahat"


raka mengelus lembut pipi chuby vani lalu beranjak.


"em, mas tunggu! aku mau ngomong sesuatu"


vani menghentikan langkah raka dan menahan lengannya agar raka tidak langsung pulang.


"ya, kamu mau ngomong apa sayang?" tanya raka tersenyum.


"maaf mas sebelumnya tapi aku mau jujur sesuatu sama kamu" vani merasa ragu.


"mau ngomong jujur apa sih sayang hem?" gemas raka.


"aku mau bilang kalo aku,,, aku enggak bisa lanjutin rencana pernikahan kita mas"


vani menatap dengan mata berkaca kaca.


"loh kenapa sayang? tanggal pernikahan kita kan udah di tentuin dan semua persiapannya pun udah selesai. kenapa kamu mau batalin gitu aja?" raka tak habis pikir.


"maaf mas, maaf banget tapi aku emang enggak bisa aku mohon kamu ngerti ya"


vani mengatupkan kedua tangannya di hadapan raka untuk memohon.


"iya tapi kenapa tiba tiba kamu bilang kaya gini?" mata raka juga mulai berkaca kaca.


"karena selama ini aku pikir aku pasti bisa jatuh cinta sama kamu tapi ternyata enggak mas"


"tapi aku cinta banget sama kamu sayang"


"iya mas aku tau tapi aku enggak bisa mas. aku enggak bisa maksain diri buat nerima kamu"


saat ini vani memang terlihat sangat egois namun ia juga takut jika suatu saat nanti dirinya akan lebih menyesal lagi jika harus melanjutkan pernikahannya dengan raka.


"enggak sayang! aku enggak bisa nerima keputusan kamu ini. enggak!


raka kesal karena kelembutannya selama ini ternyata tidak bisa membuat vani luluh.


"tolong kamu ngertiin aku mas, aku mohon" vani memohon.


"aku ngerti kok, aku udah ngertiin kamu selama ini. aku juga udah berusaha buat kamu jatuh cinta sama aku dengan semua cara. sekarang tolong kamu yang ngertiin aku ya"


"tapi mas kamu juga enggak bakal hidup bahagia sama aku nantinya kalo aku enggak bisa cinta sama kamu"


"aku bahkan bisa hidup bahagia selama kamu ada di samping ku vani. aku mencintai kamu dan aku janji aku enggak akan nuntut kamu buat jatuh cinta sama aku dalam waktu dekat aku bakal nunggu sampe kamu siap"


"tapi mas..."

__ADS_1


"aku enggak mau ada penolakan apapun vani"


"mas, aku tetap enggak mau nikah sama kamu"


"jangan berdebat lagi sama aku sayang"


"terserah kamu mas tapi aku akan tetep batalin semuanya"


mereka terus saja berdebat hingga membuat raka benar benar kehilangan kesabaran dan akhirnya berbuat nekat.


"aku enggak akan mau batalin pernikahan kita sayang karena aku cinta sama kamu dan kamu harus jadi milik ku. cuma aku yang boleh milikin kamu...."


bruk!


"akhh"


raka mendorong tubuh vani hingga terjatuh di atas sofa lalu menindih gadis itu dengan tubuhnya.


raka sangat terobsesi hingga ia tidak bisa menerima keputusan vani yang ingin membatalkan rencana pernikahan mereka.


saat ini raka berpikir untuk memiliki tubuh vani seutuhnya agar gadis itu tidak berniat lagi pergi darinya.


"mas lepasin aku..."


vani memberontak dan memukul mukul bagian dada raka dengan sekuat tenaga yang ia miliki namun sayang sekuat apa ia memberontak tetap tidak akan bisa melepaskan diri dari raka yang memiliki tenaga lebih kuat darinya.


"enggak sayang, kamu akan jadi milik ku malam ini"


raka memegangi kedua tangan vani lalu dengan penuh hasrat ia mengecup setiap inci wajah gadis itu.


vani menangis merasa takut namun ia tidak bisa menolaknya.


raka melahap bibir mungil yang selama ini selalu menjadi impiannya itu. sejak lama raka sangat ingin merasakan kelembutan dan manisnya bibir itu namun vani selalu saja menghindar darinya dengan berbagai alasan.


karena merasa vani tidak membalas ciumannya raka pun menggigit kecil bibir vani hingga terluka membuat gadis itu berteriak dan membuka mulutnya. saat mulut vani terbuka dengan cepat raka langsung memasukkan lidahnya agar lebih leluasa bermain di dalam sana.


setelah puas mengeksplor bibir raka pun beralih turun dan bermain dileher putih vani yang mulus. raka meninggalkan banyak bekas kecupan di sana bahkan ia juga menggigit beberapa bagian tubuh vani hingga terluka.


raka sengaja bermain kasar agar vani merasa kesakitan di sekujur tubuhnya.


"hiks!! hiks!!


dalam tangisnya vani sudah merasa tidak berdaya namun sebisa mungkin ia ingin memastikan kesadarannya agar tetap terjaga.


di bawah kungkungan tubuh raka vani menyebut nama pria yang dicintainya dan berharap jika pria yang bersamanya saat ini adalah dika saja.


vani memanggil dengan suara lemah dan pelan namun masih dapat di dengar oleh raka yang berada di dekatnya


di kediaman wijaya setelah selesai mandi dika langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang karena baru saja pulang dari kantor dan merasa sangat lelah.


entah mengapa perasaannya tidak nyaman saat ini namun perasaan aneh itu tertuju pada gadis yang dicintainya.


dika merasa seperti ada yang memanggil namanya.


"kenapa dari tadi perasaan ku enggak enak gini ya? aku juga kepikiran sama dia terus lagi" gumam dika.


"enggak mungkinlah, kayanya emang setiap hari deh aku selalu mikirin tentang dia" dika menepis perasaan anehnya.


"tapi kenapa aku ngerasa lagi ada sesuatu yang terjadi sama dia ya?"


dika pun duduk karena merasa tidak tenang sejak tadi.


"apa aku harus telpon dia sekarang terus nanya apa dia lagi baik baik aja disana atau enggak?"


dika berbicara sendiri sambil memegang ponselnya.


"tapi gimana kalo dia malah marah? dia kan enggak mau ketemu lagi sama aku. mungkin aja sekarang dia lagi berduaan sama calon suaminya itu"


dika kembali berbaring dan mengurungkan niatnya untuk menelpon vani.


"ck! terserahlah kalo dia mau marah sama aku tapi aku harus mastiin keadaannya baik baik aja sekarang biar aku bisa tenang"


dika kembali duduk dan mengambil ponselnya ingin segera menghubungi vani.


raka yang mendengar vani menyebut nama pria lain pun semakin tersulut emosi.


"siapa dia hah!!"


dalam emosinya raka menarik paksa baju yang sedang di pakai oleh vani hingga sobek dan memperlihatkan bagian atas dada yang lebih putih dan mulus.


raka membulatkan matanya semakin di penuhi hasrat ketika melihat keindahan tubuh vani.


"wah! cantik sayang"


bisik raka sambil menggigit daun telinga vani.


"lepasin aku!"

__ADS_1


vani kembali mendorong tubuh raka menjauh berusaha untuk berdiri namun sebelum ia berhasil lari raka kembali menariknya dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


"aakkhh" teriak vani.


"oh, jadi itu alasan kamu mau batalin pernikahan kita. karena kamu mencintai pria lain?"


raka sudah kembali menindih tubuh vani dan semakin buas menyakiti tubuh lemah gadis itu


raka bermain lidah di bagian atas dada vani yang sudah terekspose dan tidak sabar ingin melahap dua benda kenyal yang ada disana.


"hhh!!! lepasin aku mas, jangan lakuin itu..."


vani merasa tubuhnya sudah mulai memanas namun ia benar benar tidak ingin hal itu sampai terjadi.


drt! drt! saat ini ponsel vani sedang bergetar di atas meja beruntung raka tidak menyadarinya.


melihat ponselnya bergetar tanda ada panggilan masuk vani pun berusaha untuk meraih ponselnya itu namun tangannya tidak berhasil menjangkau ponsel.


sekali lagi vani kembali mendorong tubuh raka dengan sekuat tenaganya yang tersisa hingga raka terjatuh.


brukk!!!


"aakkhh" raka meringis.


vani berdiri dan langsung menyambar ponselnya yang berada di atas meja itu lalu berlari masuk ke dalam kamar.


dengan cepat vani langsung menekan tombol hijau pada layar ponselnya untuk menjawab telpon saat melihat panggilan itu ternyata dari pria yang ia sebut namanya tadi.


saat panggilan sudah tersambung dengan suara yang sangat ketakutan vani pun berbicara.


Vani: halo mas dika, mas tolongin aku mas aku takut banget...


Dika: halo vani kamu dimana, kamu baik baik aja kan?


dika tidak begitu jelas mendengar suara vani.


Vani: mas dika tolongin aku mas hiks! aku ada di rumah sekarang aku takut banget tolongin aakh...


ucapan vani terputus karena melihat raka yang sudah masuk kedalam kamar lalu mengunci pintunya dari dalam dan langsung membuang kuncinya di tempat sampah.


ternyata vani lupa mengunci pintu kamarnya lebih dulu karena merasa panik dan takut ia pun langsung menjawab telponnya saja.


"mau apa kamu? pergi!" teriak vani yang masih bisa di dengar oleh dika dari seberang sana.


"halo,, halo vani kamu kenapa? kamu baik baik aja kan?" tanya dika yang sudah tidak di dengar oleh vani lagi.


vani bergerak melangkah mundur saat raka melangkah maju untuk mendekatinya.


"kamu mau kemana sayang?"


raka langsung memeluk tubuh vani dan mengambil ponsel yang sedang ia pegang lalu mematikan sambungan telpon itu dan mencampakkan ponselnya ke sembarang arah.


"lepasin aku..."


vani berteriak dan memberontak dari dalam pelukan raka.


"halo, vani kamu kenapa?"


dika panik karena ponsel vani tidak bisa di hubungi lagi.


ia pun mencoba untuk menelpon nomor ponsel yuli yang pernah ia simpan sebelumnya hendak menanyakan alamat baru rumah mereka ada dimana karena dika belum mengetahui alamat gadis itu setelah mereka pindah.


beruntung nomor ponsel yuli masih aktif saat dika menelponnya.


Yuli: halo siapa ya?


Dika: ini saya dika yul,


Yuli: oh, ada apa ya pak dika?


Dika: tolong kamu kirim alamat rumah kalian sekarang ya, ini penting!


Yuli: loh memangnya untuk apa ya pak?


Dika: nanti saya jelaskan, tolong sekarang ya ini darurat.


Yuli: em, tapi...


Dika: ini demi keselamatan vani yuli, cepat!!


Yuli: eh iya iya. emangnya kak vani kenapa pak?


Dika: nanti aja yuli, cepetan!!


tut!!! tut!!! tutt!!!


dika mematikan sambungan telponnya agar yuli tidak bertanya terus dan menghabiskan banyak waktu.

__ADS_1


__ADS_2