
vani terus berjalan mengikuti kemana langkah kaki akan membawanya pergi, yang jelas saat ini ia ingin sekali menjauh dengan luka di dalam hatinya.
"sayang tunggu!"
brukk!
langkah kaki dika harus terhenti ketika melihat mamanya jatuh pingsan.
"mama!"
"mama! maafin dika ma,,,,"
dika menangis memeluk mamanya yang sudah tidak sadarkan diri karena merasa syok atas perbuatannya.
kondisi jantung papa hardi pun kembali drop karena merasa syok.
"mama, papa!!" ranty dan rangga pun mendekati keduanya.
rangga dan dika yang panik langsung membawa kedua orang tuanya masuk ke dalam kamar dan meminta ranty untuk memanggil dokter agar segera memeriksa keadaan mama papa mereka.
saat ini vani masih berjalan sendirian di pinggir jalanan sambil terus menangis mengingat video yang sudah dilihatnya itu.
jangankan melihat suaminya tidur bersama wanita lain bahkan membayangkan dika berdekatan dengan wanita lain saja rasanya vani tidak sanggup namun selama ini ia harus menahan rasa cemburu di hatinya setiap hari.
"kenapa mas, kenapa kamu jahat banget sama aku. kamu tega sama anak kamu sendiri" hiks! hiks! hiks!
hujan turun dengan deras membasahi seluruh tubuh vani hingga air mata di wajahnya tidak terlihat bersamaan dengan air hujan yang mengalir di wajahnya.
hujan semakin deras seakan tahu kesedihan yang sedang vani rasakan saat ini.
kaki vani terus melangkah perlahan menyusuri jalanan panjang di tengah hujan yang turun deras membuat tubuh vani lelah. ia merasakan pusing di kepalanya mengingat sesuatu yang sangat menyakitkan itu.
vani pun menghentikan langkahnya karena merasakan perutnya sangat sakit.
"sshh aw!! sakit!"
vani memegangi perutnya ia juga merasa pusing hingga akhirnya jatuh pingsan di pinggir jalan dengan hujan yang terus mengguyur tubuhnya.
setelah mengantar kedua orang tuanya masuk ke dalam kamar dan memastikan dokter memeriksa keadaan mama ratih dan papa hardi.
dika pun bergegas hendak mencari vani yang pergi dalam keadaan menangis tadi.
"gue harus cari vani bang" dika menatap rangga.
"gue ikut. sayang tolong jagain mama sama papa ya" rangga beralih juga menatap istrinya.
"iya kalian hati hati ya"
ranty juga khawatir karena di luar sedang hujan deras.
keduanya berjalan menuju pintu keluar hendak masuk ke dalam mobil.
ray yang baru saja selesai membubarkan para awak media pun melihat kedua bosnya hendak pergi dan langsung mengikuti langkah keduanya.
saat ini dari dalam mobil dika menatap kearah luar kaca jendela dan mengedarkan pandangannya di sekeliling jalanan yang terlihat sepi karena hujan yang turun.
"kamu dimana sayang?"
dika sangat khawatir dengan keadaan vani.
rangga ikut menatap sekeliling jalanan untuk mencari keberadaan adik iparnya karena mereka yakin vani tidak mungkin pergi jauh dari sekitar jalanan itu sedangkan ray menyetir mobil berjalan dengan pelan sambil juga mencari.
"tenang ya dika gue yakin vani pasti belum jauh apalagi ini lagi hujan" rangga mengusap pundak adiknya.
setelah mengelilingi sekitar jalanan komplek itu akhirnya rangga pun melihat tubuh vani yang sudah tergeletak di pinggir jalan.
"dika, itu vani kan?"
rangga menunjuk ke arah pinggir jalan yang terlihat tubuh seorang wanita dengan perut buncitnya sedang tergeletak di sana.
"iya bener itu vani bang. ray berhenti!"
dika ingin segera turun dari dalam mobil.
"oke"
__ADS_1
setelah mobil berhenti dika pun langsung berlari ke arah istrinya yang sudah jatuh pingsan dan basah kuyup di pinggir jalan itu.
"sayang, ini aku"
dika segera menggendong tubuh vani dan membawanya masuk ke dalam mobil.
setelah dika membawa vani masuk ke dalam mobil, ray pun segera melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.
"sayang bangun, aku bisa jelasin semuanya sama kamu, kamu jangan kaya gini ya"
dika memeluk tubuh vani yang terasa sangat dingin dan terlihat pucat itu.
"maafin aku sayang"
dika sangat khawatir hingga ia menangis sambil memeluk tubuh istrinya.
rangga yang melihat kesedihan di wajah adiknya itu pun tidak tega. apalagi saat ini vani sudah tidak sadarkan diri membuat rangga juga ikut khawatir.
"ray cepetan jalan mobilnya kita harus sampe di rumah sakit secepatnya"
rangga pun tidak sabar karena merasa khawatir.
"baik pak" ray mengangguk agar rangga tenang.
sebenarnya ray sudah melaju dengan cepat namun karena hujan cukup deras membuat jalanan licin dan kaca mobil berembun.
ray tidak dapat menambah kecepatan mobil untuk melaju lebih cepat karena bisa saja mereka yang akan mengalami kecelakaan jika ia tidak dapat mengontrol laju mobilnya.
sesampainya di rumah sakit dika langsung menggendong tubuh vani masuk kedalam dan meletakkannya di salah satu bankar yang menyambut kedatangan mereka.
vani di bawa masuk kedalam ruang ICU untuk di periksa. sedangkan dika harus menunggu di luar dengan perasaan yang tidak tenang, ia merasa sangat khawatir namun tidak tau harus berbuat apa.
"tenang dika vani sama bayi lo pasti bakal baik baik aja"
rangga merangkul pundak dika untuk menenangkan adiknya yang terlihat sangat gelisah itu.
"gue bodoh bang, ini salah gue!" dika langsung memeluk rangga sambil menangis.
dika berubah menjadi pria cengeng di hadapan abangnya hari ini. apalagi jika masalah itu menyangkut tentang vani wanita yang dicintainya dika tidak akan berusaha untuk menjaga image dirinya lagi.
"lo tenang ya, semua pasti baik baik aja dik"
"lo percaya kan bang kalo gue enggak mungkin khianatin vani?" dika menatap mata rangga.
"em, iya iya gue percaya"
rangga mengangguk tidak yakin namun ia lebih merasa tidak percaya jika adiknya tega melakukan hal seperti itu kecuali dika memang tidak sadar sudah melakukannya.
setelah sampai di rumah sakit ray langsung menghubungi ranty yang masih berada di rumah untuk mengabarkan keadaan vani saat ini kepada seluruh keluarga yang masih cemas menunggu.
ray kembali duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruang ICU bersama dengan rangga dan dika setelah selesai menelpon ranty.
acara tujuh bulanan vani yang meriah dan awalnya di sambut suka cita oleh semua keluarga dan rekan bisnis mereka harus terpaksa dibubarkan sama seperti acara syukuran sebelumnya karena akhirnya vani harus kembali masuk rumah sakit saat acara belum selesai.
karin dan raka yang masih berada di acara itu tersenyum senang melihat acara tujuh bulanan vani terpaksa harus dibubarkan meskipun belum selesai sepenuhnya.
"hhh! semua berjalan mulus"
"ya sesuai rencana kita"
karin dan raka juga senang karena dapat melihat secara langsung pertengkaran antara vani dengan dika tepat di hadapan semua orang. apalagi kabar buruk itu membuat mama ratih syok dan jatuh pingsan saat vani pergi meninggalkan rumah.
di tambah lagi ray memberi kabar kepada ranty jika vani sudah di temukan namun ia harus di bawa ke rumah sakit karena jatuh pingsan.
kabar itu sangat membahagiakan sekali untuk karin dan raka karena melihat kehancuran keluarga wijaya secara langsung.
"haha. kita sudah berhasil raka ayo kita pergi dan rayakan kemenangan kita sayang" karin menatap raka.
"ayo kita bersenang senang sekarang"
keduanya pergi meninggalkan rumah wijaya yang sudah sepi itu.
ranty yang mendengar kabar bahwa vani masuk rumah sakit pun langsung memberi tahu keluarga vani yang lainnya juga untuk bergegas menuju rumah sakit.
mama ratih yang baru saja sadar pun memaksakan diri untuk ikut karena ingin melihat keadaan menantunya secara langsung.
__ADS_1
kakak dan abang vani juga ikut menuju rumah sakit karena masih khawatir menunggu kabar dari adik mereka.
di lorong rumah sakit itu rangga dan ray sedang berada di kursi tunggu paling ujung dan jauh dari pintu ruangan vani sedangkan dika menunggu dengan duduk di kursi paling dekat dari pintu ruangan istrinya.
rangga berjalan mendekati ray lalu duduk di sampingnya ia mengatakan sesuatu dengan suara yang sangat pelan agar dika tidak mendengarnya.
"ray menurut lo gimana?"
rangga berusaha untuk terlihat biasa saja.
"hem, kayanya kita harus cari tahu dulu kapan kejadian itu terjadi pak"
ray menatap lurus ke depan tanpa menatap rangga yang sedang berbicara di sampingnya.
"apa menurut lo video itu asli dan bukan sebuah rekayasa?"
rangga menatap ray karena itu adalah salah satu keahlian si otak genius itu pikirnya.
"kayanya video itu memang asli sih pak, tapi sudah cut! jadi kita enggak tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum video itu di rekam"
ray memikirkan kemungkinan kejadian yang sebenarnya.
"kalo gitu cepat lo cari tau lokasi kejadiannya dan lihat rekaman cctv aslinya" rangga memberi saran.
"tapi tidak ada cctv di dalam sebuah kamar hotel pak" ray mengingatkan rangga.
"apa! kamar hotel, masa sih itu kamar hotel?"
rangga merasa bingung namun ray menatap rangga lebih bingung karena bosnya yang seorang CEO itu mendadak bodoh hingga tidak dapat membedakan tempat itu pikirnya.
"menurut bapak?"
"iya sih tapi kok lo udah hafal banget sama ruangan kaya gitu padahal kan tempatnya gelap, hem udah sering ya lo"
rangga menatap ray sambil tersenyum jahil.
"hhh! ya pengalaman pak" ray menahan senyumnya.
"ckckck brengsek lo"
"saya punya apartemen ngapain harus di hotel sih pak"
"hem bener juga"
"hhh!" ray menghembuskan nafas beratnya.
"menurut lo apa ini sengaja buat jatuhin nama baik dika atau tujuannya mau ngerusak hubungan dika sama vani"
rangga kembali fokus pada masalah adiknya.
"mungkin keduanya benar pak tapi kita harus cari bukti yang lebih akurat kalo bos dika enggak bersalah pak"
"kalo gitu lo cek cctv di luar kamar itu" rangga menatap ray.
"saya akan terus berusaha mencari buktinya pak"
"em, ya bagus" rangga mengangguk anggukkan kepalanya.
ray masih terus berpikir namun merasa ragu jika hal itu memang benar adanya karena ia pernah mendengar saat dika sedang berbicara dengan arin di dalam telpon.
"apa menurutmu mungkin ini perbuatan arin?"
rangga merasa tidak yakin karena menurutnya arin adalah seorang gadis yang polos.
"saya tidak tau pasti pak" ray menggeleng.
"tapi lo masih ingat kan, waktu acara syukuran sebelumnya kita juga liat ada arin di dalam cctv itu"
rangga kembali mengingat tentang arin yang terlibat dalam keracunan makanan vani beberapa bulan lalu meskipun ia mengatakan jika dirinya tidak tau tentang botol yang sedang di pegangnya pada saat itu.
entah hanya sebuah alasan atau memang arin begitu polos akhirnya rangga hanya memaafkannya saja.
"iya, tapi gimana kalo emang benar dika selingkuh sama arin pak. soalnya saya pernah dengar mereka telponan dan saling ketemu di luar rumah"
akhirnya ray mengatakan apa yang sedang di pikirkannya.
__ADS_1
"apa! serius lo dika?"
huh! rangga menghembuskan nafasnya dengan kasar mendengar kenyataan tentang adiknya.