
saat vani sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi kepada dirinya.
tiba tiba saja dari arah luar kedua sisi pintu mobil itu ada dua pasang tangan kekar yang menarik tubuh kedua pria jahat keluar dari dalam mobil dan mereka pun langsung menghajar dua pria brengsek itu sampai babak belur.
bughh!! bughh!! bughh!!!
"dasar bajingan!"
bughh! bughh!!!
kedua pria baik menghajar dua pria bajingan hingga wajah mereka berdarah dimana mana.
kedua pria jahat itu pun mencoba untuk melawan namun pukulan mereka selalu dapat di tepis oleh kedua pria baik yang hebat.
"heh brengsek!! jangan sok jadi pahlawan ya lo berdua" tunjuk pria jahat itu mengancam.
bughh!! pukulan pria jahat selalu meleset.
"emangnya kenapa hah!"
bughh!! bughh!!
perkelahian terus terjadi selama beberapa menit.
mereka terus melawan namun kedua pria baik itu lebih kuat hingga akhirnya kedua pria jahat pun kabur karena tidak ingin mati atau sampai di bawa ke kantor polisi.
"ayo cabut!!"
keduanya lari pontang panting menaiki motor bututnya.
"jangan kabur lo!"
"udah dik! enggak usah di kejar"
ray menghentikan langkah dika yang hendak mengejar dan menghabisi kedua pria berandalan itu.
ternyata dua pria baik itu adalah dika dan ray yang sudah datang menjadi penyelamat vani malam ini.
dika segera membuka pintu mobil hendak melihat siapa orang yang akan menjadi korban dari kejahatan dua pria brengsek itu di dalam mobil.
ceklek!!! pintu terbuka.
dika membelalakkan matanya saat melihat siapa gadis yang berada di dalam mobil itu.
"vani, kamu enggak papa kan?"
dika mendekat dan melihat wajah vani yang sudah pucat karena merasa takut di dalam mobil itu. ia memegang kedua sisi wajah vani karena merasa khawatir dengan kondisi gadis yang lemah itu terlebih lagi saat melihat sudut bibirnya berdarah.
"aku takut"
tanpa sadar dengan tubuh yang gemetar vani langsung memeluk pria di dekatnya itu karena merasa disana dirinya akan aman.
"kamu jangan takut lagi ya, sekarang kamu sudah aman"
dika tidak punya pilihan lain karena merasa kasihan melihat keadaan gadis itu. ia mengelus lembut punggung vani untuk menenangkannya.
tak lama tubuh vani berhenti bergetar di dalam pelukan dika namun bukan karena keadaannya yang sudah membaik melainkan ternyata vani sudah pingsan di dalam pelukan bosnya itu.
dika yang merasa tubuh vani sudah berhenti gemetar pun langsung melepaskan gadis itu dari dalam dekapannya lalu melihat ternyata vani sudah pingsan karena merasa syok.
"vani! kamu kenapa?" dika merasa khawatir.
"vani kenapa dika?" ray pun ikut melihatnya.
"dia pingsan"
"hah!! pingsan?"
ray dan dika saling bertatapan dengan bingung.
"ayo bawa ke rumah sakit"
"ayo" ray bergegas membuka pintu mobil.
dika beranjak langsung menggendong tubuh vani masuk ke dalam mobil mereka.
setelah itu ray pun langsung melajukan mobil mereka menuju ke rumah sakit terdekat.
di dalam perjalanan ke rumah sakit dika terlihat sangat khawatir dengan keadaan vani.
entah mengapa dirinya merasa panik seperti seorang suami yang sedang menghawatirkan keadaan istrinya saja.
mungkin itu karena dika memang seorang pria yang penyayang sehingga ia tidak tega melihat orang lain terluka.
"ray tugaskan anak buah lo buat ngurus taksi sama supirnya yang pingsan"
perintah dika karena baru saja mengingat keadaan supir taksi yang malang.
"baik bos" ray mengangguk.
padahal sebelum dika memintanya pun ray sudah menugaskan beberapa anak buahnya untuk membantu supir taksi itu.
sesampainya di klinik terdekat, dika langsung mengangkat tubuh vani dan merebahkannya di atas bankar agar segera di periksa oleh dokter.
__ADS_1
saat ini ray dan dika sedang menunggu dokter keluar dari dalam ruangan pemerikasaan.
ray yang melihat sahabatnya itu sangat gelisah pun bertanya dengan bingung.
"lo ini kenapa sih dik, kok kaya gelisah banget gitu. yang lagi sakit itu kan vani bukan karin. perasaan waktu karin pingsan lo biasa aja tuh"
ray merasa bingung karena dika terlihat begitu khawatir.
"em...???"
sambil berpikir dika pun kembali duduk dengan tenang di kursi tunggunya.
jujur saja ia juga merasa bingung pada dirinya sendiri mengapa harus merasa sekhawatir itu.
setelah selesai memeriksa keadaan gadis itu, dokter pun keluar dari dalam ruangan lalu menemui dika dan ray.
dokter mengatakan jika kondisi vani saat ini sudah stabil. ia pingsan hanya karena merasa syok dengan apa yang sudah terjadi.
sekarang keadaan vani sudah lebih baik dan diperbolehkan langsung pulang oleh dokter setelah vani sadar nanti.
dika dan ray pun segera masuk ke dalam ruang rawat vani untuk melihat keadaannya.
ceklekk!!
setelah mereka masuk tidak lama kemudian vani pun sadar dan membuka matanya secara perlahan.
"sshh!"
vani meringis sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
"vani, apa kamu baik baik saja?"
tanya dika yang melihat vani sudah sadar.
"gimana perasaan kamu sekarang?"
ray juga bertanya sambil mendekat.
"em, saya enggak papa kok pak. terima kasih ya bapak berdua sudah menolong saya"
suara vani terdengar serak dan lemas karena terlalu banyak berteriak sebelumnya.
"ini kamu minum dulu ya"
ray menyodorkan segelas air putih.
vani mengambil gelas dari tangan ray lalu meminumnya.
glek! glek! glek!
"oh ya, apa saya perlu menghubungi keluarga kamu?" tanya ray menatap vani.
"em..."
drt! drt! drt!
belum sempat vani menjawab pertanyaan itu, ponselnya sudah berdering lebih dulu tanda ada telpon masuk yang vani yakini telpon itu pasti dari yuli adiknya karena merasa khawatir pada dirinya yang belum pulang padahal hari sudah larut malam.
"maaf pak sebentar ya, adik saya sudah nelpon"
"em" keduanya mengangguk bersamaan.
vani menekan tombol hijau di layar ponselnya.
"halo?"
masih mengucapkan satu kata, tiba tiba saja vani langsung menjauhkan ponsel dari telinga karena suara cempreng adik kesayangannya itu memekakkan pendengarannya.
pasalnya yuli langsung bertanya tanpa henti bahkan belum satu pun pertanyaan darinya dapat di jawab oleh vani.
"kak vani kamu dimana? lagi ngapain? sama siapa? kamu baik baik aja kan! kok belum pulang sih?"
vani hanya diam sambil menjauhkan ponselnya itu membuat yuli semakin panik karena tidak mendapat jawaban apapun.
"kak vani! jawab dong!!"
yuli jadi kesal karena tidak mendengar jawaban apapun dari kakaknya.
"ih! apaan sih yul, nanyanya satu satu dong"
vani juga kesal karena suara cempreng yuli memekakkan telinganya.
"hehe oke oke, lo dimana sekarang kak? lo baik baik aja kan?"
akhirnya yuli bertanya dengan suara yang lebih perlahan.
"hem, iya aku baik baik aja kok. ini lagi ada di rumah sak..?"
'hem bilang gak ya?' batin vani.
ia tidak mau mengatakan rumah sakit kepada adiknya karena pasti yuli akan semakin panik dan khawatir saat mendengarnya.
"rumah apa kak, rumah duka ya hehe"
__ADS_1
yuli malah bercanda menanggapinya.
"em, aku lagi di rumah temen yul bentar lagi pulang kok"
vani akhirnya terpaksa berbohong agar yuli tidak khawatir kepadanya.
"oh ya udah deh, cepet pulang! hati hati ya, kalo sampe lama lo tidur di luar haha" yuli tertawa.
"ih! iya iya bawel"
tutt!!!
vani memanyunkan bibir sambil mematikan sambungan telponnya.
"huh!! dasar tuyul nyebelin"
vani mengomel karena masih kesal dengan ucapan adiknya yang selalu bercanda.
dika dan ray pun saling bertatapan lalu mereka tersenyum menahan tawa melihat gaya kesal vani yang membuat wajahnya malah terlihat imut dan lucu.
vani baru sadar jika di dalam ruangan itu ada dua pria yang sedang memperhatikan dirinya sejak tadi. ia pun merasa malu karena melihat keduanya tersenyum saat menatap dirinya.
"em, maaf pak"
vani nyengir canggung menatap kedua atasan di kantornya tersebut.
"hhh! lucu banget sih" gumam ray tersenyum sambil mengalihkan pandangannya sedangkan dika hanya tersenyum tipis.
dua puluh menit berlalu, setelah kondisi vani membaik mereka pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah.
"kamu sudah yakin mau pulang sekarang?" tanya ray memastikan keadaan vani.
"yakin pak, saya sudah baik kok" vani mengangguk.
"baiklah, kalo gitu kami akan mengantar kamu pulang lebih dulu"
ucap ray kepada vani sambil menatap ke arah bosnya yang langsung di angguki oleh dika tanda setuju.
"em, terima kasih pak kalo tidak merepotkan" vani merasa tidak enak.
"tidak masalah"
ray tersenyum lalu membantu vani untuk berjalan perlahan.
"hati hati ya"
dengan sangat perhatian ray memegangi tangan gadis itu berjalan.
"iya, makasih ya pak"
dika hanya menatap kedekatan dua sekretaris itu sambil terus berjalan di belakang mereka.
"sebentar ya, saya ambil mobil dulu di sana kamu tunggu di sini aja"
"em iya" vani mengangguk.
ray melangkah pergi menuju mobil di parkiran agar vani tidak perlu berjalan lebih jauh.
saat sedang menunggu mobil datang dari parkiran, dika melihat vani yang sepertinya sudah mulai kedinginan.
terlihat gadis itu sedang memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya.
karena merasa kasihan melihatnya dika pun berinisiatif memberikan jas miliknya untuk di pakai oleh vani .
"pakai ini"
dika memakaikan jasnya di punggung vani.
"eh! enggak usah pak. makasih"
vani hendak kembali melepaskan jas itu dari tubuhnya karena merasa tak enak.
"enggak papa, kamu pake aja soalnya angin malam enggak bagus untuk kesehatan nanti kamu bisa sakit"
ucap dika dengan wajah datar namun penuh perhatian.
sebenarnya dika pria yang sangat lembut dan perhatian namun jika dengan orang yang baru di kenalnya ia akan bersikap sangat jaim.
vani mematung sambil menatap dika dari arah samping karena merasa kagum.
menyadari vani sedang menatap dirinya tanpa berkedip, dika pun mengalihkan pandangannya menatap gadis di sampingnya itu dan membuat pandangan mereka bertemu.
keduanya saling memandang satu sama lain hingga tak sadar mobil sudah datang.
"ehem"
ray berdehem membuyarkan suasana hening yang tercipta di antara keduanya.
"silahkan masuk bos"
ray membukakan pintu mobil bagian belakang agar dika dan vani segera masuk.
"em" dika mengangguk.
__ADS_1
vani masuk lebih dulu lalu di susul oleh dika yang juga masuk ke dalam mobil.
setelah memastikan keduanya duduk, ray pun langsung menutup pintu dan melajukan mobil menuju rumah kontrakan vani.