
keesokan harinya saat hari libur tiba rangga dan dika pun datang mengunjungi rumah orang mereka serta membawa anak dan istri mereka masing masing.
"assalamualaikum" mereka masuk secara bersamaan ke dalam rumah orangtuanya.
"walaikumsalam, eh cucu cucu oma udah datang. sini sayang oma kangen banget...!" mama ratih memeluk dan mengecup pipi rara lalu beralih juga menggendong raffa.
"mama sama papa sehat kan?" vani dan ranty secara bergantian memeluk mama mertua mereka.
"alhamdulilah sehat sayang, kalian juga sehat kan?"
"iya ma"
keluarga wijaya sedang berkumpul di dalam ruang tamu.
saat masih berbincang bincang bersama tiba-tiba saja rangga teringat kepada arin.
"oh ya gimana keadaan arin sekarang ma?" tanya rangga pada mamanya yang sedang asik bermain dengan kedua cucunya itu.
"alhamdulillah arin juga udah sehat, dokter radit selama ini selalu sabar bujuk arin biar tetap semangat" jawab papa.
"oh syukurlah kalo gitu" dika ikut menanggapinya.
"oh ya mas aku sama mbak ranty mau nemuin arin dulu ya di dalam kamarnya" vani bangkit dari duduknya.
"em" dika dan rangga pun mengangguk menyetujuinya.
"ayo mbak" ajak vani kepada ranty kakak iparnya itu.
"iya ayo" ranty dan vani pun melangkah menaiki tangga menuju kamar arin.
sesampainya di depan pintu kamar arin, vani langsung membuka pintu secara perlahan.
ceklek!
mereka melihat arin yang sedang duduk sambil belajar melukis di dekat jendela kamarnya.
dokter radit meminta arin untuk melakukan kegiatan ringan yang arin suka agar ia tidak merasa bosan pasca pemulihan tubuhnya dan akhirnya arin memilih untuk melukis sebagai pengisi waktu kosongnya.
ranty dan vani hanya diam dari belakang mengamati lukisan yang sedang arin buat. mereka masuk tanpa sepengetahuan arin yang masih sibuk memoles warna pada lukisannya.
setelah lukisan matahari terbenam di ujung pantai itu selesai, vani langsung menanggapi hasil lukisan arin.
"wah!!! bagus banget lukisan kamu mbak arin"
vani dan ranty berjalan mendekati arin di dalam kamarnya.
arin yang mendengar suara orang lain di dalam kamarnya pun langsung menoleh kebelakang melihat kedatangan dua menantu wijaya itu di dalam kamarnya.
"em, makasih vani aku juga baru belajar melukis jadi masih banyak yang berantakan" arin tersenyum malu.
"oh ya! wah hebat dong baru belajar melukis aja lukisan kamu udah sebagus ini arin apalagi nanti semakin lama kamu akan semakin pandai melukisnya" ranty ikut memberi tanggapan.
"makasih ya mbak ranty" arin tersenyum juga membalasnya.
"kita boleh liat liat lukisan yang lain juga kan mbak?" vani berjalan menatap beberapa lukisan yang sudah selesai.
"tentu" arin mengangguk.
vani dan ranty pun melihat beberapa hasil lukisan yang sudah arin selesaikan dari beberapa hari terakhir ini.
"em, vani!" panggil arin saat vani masih menatap sebuah lukisan danau yang indah.
vani pun langsung menoleh menatap arin karena mendengar arin memanggilnya.
__ADS_1
"iya mbak arin, ada apa?" vani mendekati arin.
"apa boleh aku bicara sebentar sama kamu?"
"iya boleh dong, emangnya mbak mau ngomong apa?"
"em,,, aku mau minta maaf sama kamu dan mas dika secara langsung. aku sadar selama ini aku salah karena udah ganggu keharmonisan rumah tangga kalian. aku juga nyesel banget atas perbuatan yang aku lakuin itu. kamu mau enggak maafin aku?" arin meminta maaf dengan tulus kepada vani.
"iya mbak arin aku udah maafin kamu kok, anggap aja itu sebuah ujian dalam pernikahan kami. rumah tangga yang harmonis bukan berarti rumah tangga tanpa masalah kan mbak?" vani tersenyum dan memaafkan arin dengan tulus.
"kamu bener vani, enggak ada rumah tangga yang berjalan mulus tanpa ada masalah di dalamnya tergantung bagaimana cara kita menyikapinya karena cinta dan kesetiaan kita sama pasangan sering kali di uji dengan berbagai masalah yang datang silih berganti tapi kalo kita tetap sabar menjalaninya semua pasti akan baik baik aja"
"iya mbak" vani tersenyum pada ranty.
"makasih ya vani sama mbak ranty juga kalian baik banget sama aku" arin memeluk kedua wanita di hadapannya itu.
ranty dan vani pun membalas pelukan arin dengan tulus. mereka saling memaafkan kesalahan yang pernah terjadi.
saat ketiga wanita itu sedang berpelukan tiba tiba saja, rangga dan dika serta kedua orang tua dan anak anaknya pun masuk ke dalam kamar arin ingin menyusul istri mereka yang sepertinya sangat betah berada di dalam sana.
ceklek!
melihat ketiga wanita itu sedang berpelukan di dalam sana rangga pun merasa penasaran apa yang sudah terjadi.
"wah! wah!! ada acara apa ini, kok pake drama peluk pelukan segala sih. boleh ikutan enggak?"
rangga pun berjalan mendekat hendak memeluk ketiga wanita itu.
"eh, mas rangga stop! enggak boleh ikutan tau ini kan acara cewek cewek. emangnya mas mau jadi cewek juga?" vani menahan langkah abang iparnya agar tidak mendekati mereka.
"huh! ya ampun adek ipar pelit banget sih, baru juga pengen peluk" rangga melirik ekspresi wajah istrinya yang hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
"modus" dika hanya tersenyum tipis menanggapi kerandoman abangnya yang sudah biasa terjadi.
"ihh! kamu kepo banget deh mas" ranty tersenyum pada suaminya.
"iya dong sayang" rangga pun mendekat pada istrinya.
"ini loh acara maaf maafan mas"
ranty tersenyum melirik arin dan vani secara bergantian memberi isyarat kepada suaminya.
"loh emangnya udah lebaran ya pake acara maaf maafan lahir dan batin segala?"
rangga masih saja menggoda adik adiknya padahal ia sudah mengerti maksud dari ucapan istrinya itu.
"bukan loh mas, tadi itu arin udah minta maaf sama vani karena kesalahpahaman yang terjadi kemarin"
ranty akhirnya menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sudah di ketahui oleh yang lain. hanya saja jika di katakan secara langsung kepada semua keluarga maka akan lebih afdol pikirnya.
"oh gitu" rangga mengangguk anggukan kepalanya pura pura baru mengerti.
"oh iya tadi katanya kamu mau minta maaf sama mas dika juga kan mbak, ini orangnya bilang aja secara langsung" vani menatap dika lalu beralih pada arin juga.
"em, iya... mas dika aku minta maaf ya tentang masalah yang terjadi karena kesalahan aku kemarin"
arin dengan canggung karena merasa sangat malu di hadapan dika atas perbuatannya sendiri.
"iya" jawaban dika sangat singkat sambil menganggukkan kepalanya.
"sesingkat itu jawaban lo?" bisik rangga mendekati adiknya yang langsung mendapat tatapan tajam dari dika.
"ya maksud gue. enggak ada drama berpelukan lagi gitu antara lo sama arin" rangga kembali menyindir adiknya itu.
__ADS_1
pasalnya selama ini dika dan arin sering terlihat saling berpelukan pikirnya.
"bisa diem gak sih lo" dika geram menatap abangnya dengan kesal.
"ppffttt...!!!" rangga menahan tawa melihat kekesalan di wajah adiknya.
ranty dan vani yang melihat abang beradik itu masih saja saling berdebat seperti biasanya hanya menggelengkan kepala memahami.
"syukurlah kalo semua kesalahpahaman diantara anak anak kita udah selesai. iya kan ma?"
papa hardi tersenyum kepada istrinya melihat perdamaian di antara anak anak mereka.
"iya pa" mama ratih sedang menggendong cucu laki lakinya.
sebenarnya mama ratih dan papa hardi pun sempat merasa kecewa atas kebohongan arin selama ini namun mengingat kebaikan arin pada keluarga wijaya karena pernah menyelamatkan nyawa putra bungsu mereka itu.
mereka sudah menganggap arin sebagai putri mereka jadi dengan ikhlas melupakan semua yang sudah terjadi.
"makasih ya om tante sudah mau maafin arin, arin minta maaf karena udah buat kalian kecewa" arin pun meminta maaf pada mama dan papa hardi.
"iya sayang, kami udah maafin kamu dengan ikhlas" mama ratih pun memeluk arin.
sore harinya, setelah selesai berenang bersama rara di kolam renang belakang rumah rangga dan dika pun membersihkan diri lalu mengganti pakaian dengan baju rumahan yang simpel. terlihat mereka hanya memakai baju kaos dan celana pendek selutut.
dika dan rangga sedang duduk santai berbincang ditepi kolam renang sambil menikmati secangkir teh di hari senja menunggu matahari terbenam sedangkan para wanita masih sibuk di dapur memasak makan malam bersama yang akan mereka adakan malam ini.
"huh! dimana ray, kenapa dia belum datang. padahal tadi gue udah minta dia buat datang lebih awal biar kita bisa santai bareng disini sebelum makan malam" rangga melihat jam di tangannya.
"mungkin dia masih sibuk" ujar dika yang mendengar ocehan abangnya.
"iya sih tapi kan ini hari libur, oh ya ngomong ngomong lo kenapa sih dik. perasaan gue perhatiin dari tadi elo itu diam mulu. lagi sariawan ya lo? atau mungkin karena enggak di kasih jatah sama vani ppfftt..." rangga menahan tawa saat meledek adiknya.
"ck!" dika hanya tersenyum miring menanggapinya.
"em tapi bukannya raffa udah mau tiga bulan ya, harusnya sih bukan masalah itu yakan. em,,,"
rangga terus berpikir hendak menggoda adiknya yang hanya diam saja padahal dirinya sudah banyak mengatakan sesuatu sejak tadi.
"tapi iya mungkin aja sih, lo harus puasa setahun sampe kondisi vani normal lagi" ckckck rangga semakin terkikik.
hah! segitunya otak random rangga itu memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak penting.
"bang lo bisa diem gak?" ucapan dika membuat rangga kembali bersikap serius.
"hem oke, jadi apa masalah lo sekarang?" akhirnya rangga berusaha serius.
"enggak papa gue cuma mau bilang sesuatu sih sama lo. please elo aja ya yang pergi ke london minggu depan soalnya gue enggak bisa masih banyak kerjaan di kantor gue lagian raffa juga masih bayi. gue enggak mau ninggalin mereka selama itu" dika mengeluhkan sesuatu yang sejak kemarin mengganjal di pikirannya.
"hah! jadi dari tadi lo diam itu cuma karena mikirin tentang keberangkatan ke london minggu depan?" kesal rangga.
"ya iya sih"
"haish dika..!!! iya deh gue ngerti kok, lagian waktu rara masih kecil kan elo yang pergi tugas jadi sekarang gantian gue yang bakal pergi kesana" rangga setuju.
"nah gitu dong makasih ya bang" dika akhirnya tersenyum setelah sejak tadi hanya diam dan murung.
"eh, buset nih anak! jadi dari tadi masalah lo cuma karena pergi ke london doang?" rangga kembali dengan mode on randomnya.
"hem, iya sih. soalnya gue enggak kepikiran gimana bisa jauh dari vani selama itu. lo kan tau gue selalu barengan terus sama dia. entar kalo gue pergi sendirian tiap malam gue harus meluk siapa dong. masa gue harus meluk guling sih" dika sedang mengutarakan keluhan yang sebenarnya.
"eh rese!!! jadi karena itu lo tega biarin gue yang tiap malam meluk guling disana"
"yah, enggak usah drama deh lo bang kan lo udah biasa"
__ADS_1
dika berdiri dari duduknya lalu berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan rangga disana karena hari sudah mulai gelap.