
hingga malam hari ketika sedang makan malam bersama di meja makan. tidak seperti biasanya malam ini yuli dan hana tidak melihat adanya adegan romantis yang mesra di antara sepasang suami istri di hadapan mereka itu.
malam ini dika dan vani hanya makan dalam diam dengan suasana yang tenang namun terasa sangat dingin dan hambar bagi kedua adiknya itu.
meskipun biasanya yuli dan hana merasa jengah melihat adegan mesra secara langsung di hadapan mereka yang kerap kali membuat jiwa jomblo dua gadis itu meronta ronta setiap harinya namun hana dan yuli akan merasa lebih bahagia ketika melihat keromantisan dari pasutri di hadapan mereka itu di bandingkan harus melihat suasana dingin dan mencekam seperti saat ini pikir dua dara itu.
setelah menyelesaikan makannya, dika pun langsung beranjak dari meja makan dan berjalan menuju kamarnya tanpa menyapa satu orang pun yang berada disana. dika berjalan dengan ekspresi datar tidak ada niat untuk berbicara sepatah kata pun.
yuli dan hana yang melihat sikap dingin dika itu langsung mengusap tengkuk secara bersamaan dengan canggung pasalnya baru pertama kali ini mereka melihat raut wajah dingin yang tidak bersahabat dari abang iparnya itu.
vani pun hanya menatap sendu tubuh suaminya yang berjalan dan menghilang di balik pintu kamar itu. dika benar benar marah kepada dirinya begitu pikirnya.
setelah melihat dika masuk ke dalam kamarnya yuli pun langsung bertanya kepada vani tentang perubahan sikap abang iparnya itu.
"em kak vani, kamu sama bang dika lagi berantem ya?"
"enggak kok yul" jawab vani singkat ia mencoba untuk menutupi masalah rumah tangganya dari kedua adiknya itu agar mereka tidak khawatir.
"emang bener ya, pernikahan itu enggak seindah yang di bayangkan makin lama usia pernikahannya bakal makin banyak juga masalah yang datang" yuli melihat kesedihan di raut wajah kakaknya.
"iya kak, kayanya enggak seromantis waktu awal nikah"
hana menyanggah dagu di atas meja sambil memikirkan bagaimana kelak nasib rumah tangganya bila dirinya akan menikah. sebab kini ia merasa kecewa melihat sebuah pernikahan yang tidak seindah khayalannya selama ini.
"ck! kalian ini kenapa sih, hubungan kami baik baik aja kok. mungkin mas dika lagi capek karena banyak kerjaan di kantor makanya tadi dia tuh cuma diam aja" ujar vani.
"iya makanya kamu jujur aja sama kita kak, siapa tau kami berdua ini bisa bantu atau ngasih solusi buat kamu"
yuli masih yakin pada apa yang dilihatnya jika sebenarnya hubungan vani dan dika sedang tidak baik baik saja.
"iya kak, walaupun kita belum berpengalaman sih"
hana ikut menanggapinya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena merasa bingung sendiri dengan ucapannya.
hana berpikir bagaimana mungkin ia bisa memberi saran kepada kakaknya yang jauh lebih berpengalaman tentang pernikahan atau masalah dalam rumah tangga dari pada dirinya.
"hem, iya juga sih" ujar vani berpikir.
"nah gitu dong kak. kita kan bisa saling bagi kebahagiaan atau masalah juga" hana dan yuli tersenyum senang karena vani akan bercerita.
"tapi untuk masalah kali ini kalian enggak boleh tau ya, soalnya ini tuh urusan orang dewasa" ujar vani keceplosan membuat yuli melotot padanya.
"hei, enak aja lo bilang urusan orang dewasa jadi lo anggap gue ini anak kecil" protes yuli memanyunkan bibir karena berpikir mereka memiliki usia yang sama meskipun jalan hidup yang berbeda.
"hehe maaf ya yul, maksud aku bukan gitu. aku tau kamu udah dewasa dan ngerti tapi ini tuh masalah tentang suami istri"
vani beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju dapur hendak mencuci tangan dengan sabun seperti biasanya di wastafel.
"maksud kamu bang dika selingkuh lagi kak?"
yuli pun beranjak dari duduknya lalu mengikuti langkah vani hingga ke dapur.
"bukan yuli, emangnya kapan mas dika pernah selingkuh sih. bukannya kamu udah tau kalo masalah yang kemaren itu cuma salah faham aja" vani fokus mencuci tangannya hingga bersih.
"iya siapa tau kak, bang dika kan ganteng tuh jadi banyak yang naksir" yuli bersandar di dinding wastafel tepat di samping vani yang sedang mencuci tangan.
setelah selesai mencuci tangannya, vani berbalik badan lalu menatap lekat mata adiknya yang masih merasa penasaran itu.
__ADS_1
"hem, masalah suami istri yang aku maksud itu bukan tentang orang ketiga yuli tapi tentang masalah ranjang"
vani tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda yuli yang menjadi kikuk karena terlalu merasa penasaran pada masalah pribadi kakaknya itu.
setelah mengatakan hal itu vani pun berjalan menuju kamarnya meninggalkan yuli yang masih mematung dan membisu di dekat wastafel.
melihat yuli sudah kembali duduk di sampingnya hana pun tidak sabar untuk bertanya.
"eh gimana kak, udah dapat jawabannya?" hana tersenyum melihat ekspresi wajah yuli.
"ck, emang dasar ya tuh kak vani buat otak gue traveling aja malam malam gini" protes yuli setelah tersadar.
"emangnya masalah apa kak?" tanya hana yang juga masih penasaran.
"udah deh lupain aja. anak kecil enggak boleh tau" yuli akhirnya beranjak dan berjalan menuju kamarnya.
"ck! kenapa sih?" hana yang masih bingung pun mengikuti langkah yuli masuk ke dalam kamar.
-
sesampainya di depan pintu kamar vani sedikit ragu untuk membukanya.
"huh! aku pasti bisa"
secara perlahan vani masuk ke dalam kamarnya dan melihat dika sedang duduk di atas sofa sambil fokus menatap laptop di hadapannya itu.
vani berjalan mendekati box bayinya dan melihat raffa yang masih tertidur pulas.
"apa yang harus aku lakuin ya biar mas dika enggak marah lagi sama aku" gumam vani menggigit bibir bagian bawah karena merasa bingung dan canggung dengan keadaan yang tercipta.
vani pun berjalan masuk kedalam ruang ganti dan melihat isi lemarinya. terdapat beberapa koleksi baju tidur yang seksi di sana (lingerie).
selama menikah vani memang tidak pernah berusaha untuk menggoda suaminya itu karena biasanya dika akan selalu tergoda dengan sendirinya tanpa ia harus bersusah payah menggoda suami lebih dulu.
hanya sesekali ia akan meminta haknya lebih dulu kepada suaminya saat vani benar benar menginginkannya.
selebihnya dika yang selalu meminta hak dan kewajiban istrinya itu lebih dulu sebelum vani meminta karena dika memang akan selalu tergoda ketika melihat tubuh indah istrinya.
namun kali ini rasanya berbeda, vani merasa takut karena saat ini keadaannya dika sedang marah kepada dirinya.
vani sadar memang bukanlah sebuah kesalahan jika dirinya harus meminta hak lebih dulu kepada suaminya itu bahkan akan semakin besar pahalanya jika seorang istri yang meminta lebih dulu kepada suaminya namun vani merasa canggung karena tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya.
vani memang sudah sering memakai gaun tidur yang seksi seperti ini di hadapan suaminya namun biasanya bukanlah dengan niat untuk menggoda dika melainkan hanya untuk membuat suaminya itu merasa senang karena biasanya sedikit saja vani bersikap manja kepada suaminya maka dika akan langsung mengerti apa yang diinginkannya.
"kayanya emang harus deh" vani segera mengganti piyama tidurnya dengan gaun tidur yang seksi itu.
"aduh kok aku makin deg degan sih. kaya pengantin baru yang mau malam pertama aja deh" vani meremas gaun dengan tangannya dan perasaan yang tidak menentu.
'gimana kalo mas dika makin marah ya karena aku ganggu dia lagi kerja' batin vani takut kalau dika akan memarahi dirinya karena sudah berani mengganggu suami yang sedang bekerja di tambah lagi suasana hati dika sedang tidak menentu.
"huh!!! okay tenang vani. hal itu enggak mungkin terjadi karena mas dika sayang banget sama kamu jadi dia enggak mungkin bakal marahin istri kesayangannya ini dan ingat! dia itu suami kamu bukan suami orang lain jadi kenapa kamu harus takut kamu pasti bisa vani, kamu pasti bisa!" vani menyemangati dirinya sendiri.
setelah menghembuskan nafas beratnya vani pun berjalan secara perlahan menuju meja tempat dimana suaminya sedang bekerja. ia mendekati suaminya yang masih duduk di atas sofa sambil menatap layar laptop di hadapannya.
sesampainya disamping meja vani langsung duduk di atas pangkuan dika dan bersandar manja di dada suaminya itu.
"sayang maaf ya aku salah" vani mengecup bagian leher suaminya namun dika hanya diam saja.
__ADS_1
karena tidak mendapat respon apapun dari suaminya, vani pun mengangkat wajah dan memberanikan diri untuk menatap mata dika. ia benar benar takut jika suaminya akan semakin marah atas tindakan yang dilakukannya itu.
dika hanya diam menatap mata istrinya yang sudah mulai berkaca kaca. vani merasa sedih karena dika hanya diam saja tidak memberi respon apapun kepadanya.
setelah cukup lama saling bertatapan, kalimat pertama yang diucapkan oleh dika itu membuat air mata vani yang sejak tadi sudah ia tahan langsung jatuh membasahi pipi.
"turun!!! aku lagi sibuk" ujar dika dengan ekspresi wajah yang datar meminta vani untuk turun dari atas pangkuannya.
"mas dika, kamu kenapa sih?"
dengan suara gemetar vani berusaha untuk menahan isak tangisnya namun dika tidak menjawab dan hanya diam.
"mas aku minta maaf, kamu marah ya?"
"enggak!"
"terus kenapa diem aja?"
"enggak papa"
"mas aku mohon kalo aku ada salah, kamu marahin aku aja atau kamu juga boleh pukul aku tapi kamu jangan diemin aku kaya gini. hiks.!! hiks..!! hiks...!!" tangis vani semakin pecah hingga sesegukan menahannya namun dika tetap hanya diam saja menatapnya.
dika menunggu dan membiarkan saja vani menangis di dalam pelukannya hingga tangis istrinya itu reda dengan sendirinya.
"hiks! hiks! hiks! kamu jangan kaya gini dong. maafin aku ya kalo aku salah" ujar vani dalam tangisnya.
setelah menumpahkan segala rasa sedihnya melalui air mata, vani pun menghapus sendiri air matanya yang terus mengalir itu karena ia merasa sudah lelah menangis.
sebenarnya dika tidak tega melihat istrinya itu menangis di hadapannya namun ia tidak punya pilihan lain selain mendiamkannya saja.
"mas kamu marahin aja aku, ayo pukul aku!! pukul aja istri kamu yang enggak berguna ini. hiks..!! hiks..!! hiks..!!" vani menarik narik tangan dika agar memukul wajahnya.
"jangan cuekin aku kaya gini mas, aku enggak sanggup" hiks! hiks!
"huhhh!!!" dika menghembuskan nafas beratnya.
"kamu kenapa mas, apa udah bosen ya liat aku?"
"kamu ini yang kenapa, hem! kenapa kamu ngomongnya kaya gitu. kamu istri terbaikku vani, siapa yang bilang kalo kamu ini istri enggak berguna. kamu segalanya buat aku. kan kamu liat sendiri aku lagi kerja sayang. kenapa kamu malah nangis nangis kaya gini coba"
"habisnya kamu dari tadi cuekin aku terus"
"enggak kok, aku cuma lagi banyak kerjaan aja di kantor"
"biasanya sesibuk apapun kamu di kantor kamu enggak bakalan cuekin aku. pasti kamu lagi marahkan sekarang"
"enggak"
"bohong"
"terus sekarang kamu maunya apa?" tanya dika dengan suara lembut sambil memegang kedua sisi wajah vani dan menghapus sisa air mata di pipi istrinya itu.
vani yang mendapat pertanyaan itu dari suaminya pun menjadi bingung harus menjawab apa.
"aku, em aku mau hem...!" vani ragu mengatakannya. ia benar benar malu dengan tindakannya sendiri yang sudah menangis di hadapan suaminya itu.
"aku maunya kamu mas" vani pun menarik wajah dika dan langsung ******* bibir suaminya itu.
__ADS_1
tidak ingin usahanya menjadi sia sia vani pun melakukan hal itu lebih dulu. sudah terlanjur, lagi pula mengapa harus malu bagaimanapun juga dirinya melakukan bersama suami sendiri begitu pikirnya.