
hari terus berganti, karin merasa semakin kesal karena dika sudah mulai berani menunjukkan kemesraan dengan vani di hadapannya.
karin berencana untuk mempermalukan vani di hadapan para karyawan kantor dan mengambil simpatik mereka untuk ikut membencinya juga.
"hhh! jadi kamu nolak aku demi gadis sok polos itu dika? liat aja, aku bakal buat dia nyesel karena udah ngerebut kamu dari aku" karin menyeringai.
seperti biasa, vani dan dika sedang berjalan berdampingan memasuki lobby kantor setelah kembali dari makan siang bersama rangga dan ray juga.
karin berjalan mendekat membuat langkah mereka terhenti.
"oh, ternyata kamu beneran cewek licik ya vani. kamu bukan cuma merebut posisi ku sebagai sekretaris bos di kantor ini tapi kamu juga mau merebut posisi ku di hati dika"
karin mendekati vani dan menatapnya tajam.
"maksud kamu apa sih?"
vani bingung dengan sikap karin yang tiba tiba marah kepadanya itu.
"jangan pura pura bego deh, kamu bukan cuma mau ngambil posisi ku sebagai sekretaris pak rangga kan? tapi kamu juga mau ngambil dika dari aku. dasar cewek murahan..."
"aku..?"
"iya, kamu cewek murahan yang gak tau diri...!!"
teriak karin membuat para karyawan menoleh saat mendengar keributan disana.
mereka berkumpul untuk melihat perdebatan yang terjadi di antara para bos mereka itu.
"eh! ada apa sih?"
karyawan yang mendengarnya saling bertanya tanya sambil menatap dari kejauhan.
"tau tuh, mbak karin lagi ngelabrak sekretaris baru pak rangga" jawab yang lain ikut menatap.
"oh! perusak hubungan orang" nyinyir lainnya.
melihat karin yang berjalan semakin mendekati kekasihnya, dika pun langsung maju dan berdiri di antara kedua gadis itu untuk melindungi vani dari kemarahan karin.
dika memundurkan langkah vani kebelakang dan menyembunyikan tubuh gadis itu di balik punggungnya agar karin tidak berbuat nekat apalagi sampai menyakiti kekasihnya.
terlebih mengingat karin yang bahkan nekat untuk menyakiti dirinya sendiri demi egonya.
"mau apa kamu?"
dika menatap karin yang sudah yakin jika gadis itu akan kembali membuat ulah.
"sayang, kamu enggak usah belain dia ya..."
karin mengelus pipi dika dengan lembut.
"ck! lepasin..."
dika memalingkan wajahnya agar tangan karin menjauh dari pipinya.
"aku cuma mau bicara aja kok sama cewek penggoda ini...."
karin menunjuk wajah vani sedangkan yang di tunjuk hanya menunduk diam.
"apa maksud kamu..!"
dika tidak terima karena gadis yang dicintainya disebut sebagai wanita penggoda oleh karin.
"iya! karena cewek ini kan, kamu tega batalin rencana pernikahan kita? karena dia juga kamu buang aku dika! kenapa sih kamu tega banget sama aku, emang apa kelebihan yang dia punya di bandingkan aku?"
"harusnya kamu tanya diri kamu sendiri..."
"emang apa yang udah dia kasih ke kamu, hah!"
karin berteriak meluapkan emosi menatap dika di hadapannya namun dika hanya menatapnya dengan wajah yang datar.
"jangan berteriak karin.."
gumam dika berbicara dengan suara pelan karena melihat sudah banyak karyawan yang berkumpul disana.
"kenapa hah?" dengan marah karin mendorong pelan tubuh dika namun tubuh besar itu bahkan tidak bergeser sedikit pun.
"oh aku tau, dia pasti menggoda kamu dengan memberikan tubuhnya itu ke kamu. iya kan?"
ujar karin memandang rendah gadis itu.
vani menatap dika dari belakang punggungnya dengan mata berkaca kaca saat mendengar ucapan karin yang merendahkan dirinya di hadapan semua orang namun dika hanya diam saja tidak berusaha untuk membelanya. ingin rasanya vani pergi saja dari sana namun dika langsung menggenggam tangannya. seakan ia sudah tau jika vani akan melakukannya.
"jaga ucapan kamu karin, vani itu bukan kamu yang akan menyerahkan kehormatannya kepada seorang pria demi kemewahan"
__ADS_1
ucap dika masih dengan wajah yang datar.
"oh ya, kamu tau dari mana? jangan sampe kamu tertipu sama wajah sok polosnya itu"
karin memalingkan wajahnya menatap para karyawan yang mulai berbisik bisik menjudge gadis polos itu.
semua karyawan ikut menyalahkan namun ada juga yang membelanya karena merasa selama ini vani adalah gadis yang baik.
melihat vani yang semakin terpojok dan hanya diam saja saat karin merendahkannya dengan ucapan yang tidak benar, ray pun turun tangan membantu gadis polos itu.
"cukup karin! seharusnya kamu sadar kalau kamu sendirilah yang sudah membuat posisi mu itu tergeser" ucap ray.
"apa maksud kamu?"
"kamu pikir saya enggak tau semua kebusukan kamu selama ini? apa saya harus perlihatkan semuanya disini sekarang?"
"kebusukan apa yang kamu maksud? hah!!"
"jangan menantang ku karin, sebaiknya kamu pergi sekarang..." ujar ray geram.
"aku enggak mau" tolak karin.
"jangan membantah apalagi lancang kepada atasan mu. ingat posisi mu disini"
"dika liat dia..."
karin kembali membujuk dika sambil menunjuk ray namun dika malah mengusirnya juga.
"sudahlah karin, lebih baik kamu pergi"
"ck!"
karin pun akhirnya pergi dengan wajah kesal karena ray mengancamnya. ia hampir saja lupa sedang berhadapan dengan siapa dirinya saat ini.
seharusnya karin ingat jika ray bahkan bisa mengetahui semua identitas dan pergerakan orang lain dengan mudahnya tanpa harus turun tangan secara langsung.
meskipun selama ini dika memberikan karin kebebasan serta kemewahan materi namun tetap saja tidak akan luput dari pengawasan sekretarisnya ray.
ray tak akan membiarkan seorang pun berniat buruk kepada bos sekaligus sahabatnya itu.
vani yang sudah menangis sejak tadi akhirnya pergi. ia pun berlari ke arah taman di belakang kantor karena merasa dirinya benar benar ingin menghilang saja dari tempat itu.
"vani...!"
hiks! hiks! hiks!
saat ini vani sedang duduk di kursi panjang taman yang berada di belakang kantor itu sambil menangis.
air matanya tidak berhenti menetes, rasanya ia tidak bisa menerima ucapan karin yang sudah menuduhnya sebagai wanita murahan dan telah menggoda dika dengan memberikan tubuhnya kepada pria itu.
vani merasa sangat kecewa pada dirinya sendiri karena mendapat julukan itu.
dika pun datang dan melihat vani yang sedang duduk di kursi sudut taman sambil menangis. ia berjalan lalu duduk disampingnya.
"sayang, kamu jangan nangis dong. jangan dengerin omongan karin ya, dia enggak tau yang sebenarnya tentang kita. dia kaya gitu karena enggak bisa nerima kenyataan kalau aku sayang sama kamu"
dika menghapus air mata vani dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
vani pun langsung menjauhkan diri saat sadar jika dika sedang memeluknya.
"maaf mas, mendingan kita saling menjauh aja ya. aku enggak mau di sebut sebagai perusak hubungan orang lagi"
"sayang, aku enggak peduli apa kata orang tentang kita"
"tapi aku perduli mas. aku enggak mau di judge buruk sama orang"
"kalo gitu kita nikah ya sayang. aku janji bakal bahagiain kamu terus"
"apa kamu bilang? nikah..." hhh!
"iya sayang. kamu mau kan nikah sama aku?"
"maaf mas aku enggak bisa. lebih baik kamu lupain aku dan semua tentang kita"
vani berdiri lalu melangkah pergi meninggalkan dika di taman itu.
"sayang..."
dika menatap kepergian vani dengan sendu. ia merasa sedih karena kekasihnya itu menolak untuk menikah dengannya.
dika pun beranjak dan berjalan masuk ke dalam ruangannya dengan wajah murung.
*
__ADS_1
beberapa hari kemudian, karin datang ke kantor bersama dengan kedua nyonya wijaya yang tidak lain adalah mama ratih dan ranty.
seluruh karyawan kantor berkumpul di lobby termasuk vani atas perintah dari nyonya wijaya tersebut.
mama ratih datang hendak mengumumkan kabar bahagia tentang rencana pernikahan putra bungsunya itu kepada seluruh karyawan kantor sekaligus mengundang mereka.
saat ini mama ratih di temani oleh menantunya ranty serta kedua putranya dan juga ray yang sedang berdiri di hadapan kumpulan karyawan di sekeliling mereka sedangkan karin seperti biasanya ia selalu menempel pada dika sambil memeluk lengan pria yang dicintainya itu.
mama ratih mengumumkan bahwa pernikahan putra bungsunya akan di percepat dan akan berlangsung bulan depan.
mendengar kabar bahagia dari keluarga wijaya, para karyawan menyambut antusias dan suka cita atas undangan pernikahan yang khusus itu.
karin sengaja membujuk mama ratih untuk mempercepat pernikahannya dengan dika karena tidak mau kehilangan pria itu.
mendengar keputusan dari mamanya tentang pernikahan itu, dika pun merasa kesal karena sebelumnya tidak ada persetujuan darinya untuk menikah bulan depan namun ia tidak mungkin meluapkan amarah kepada mamanya terlebih lagi di hadapan semua orang yang ada di kantor.
akhirnya dika memilih pergi dari kantor tanpa mengucapkan apapun.
vani yang mendengarnya pun hanya terdiam dengan perasaan hancur karena sebentar lagi kekasih yang dicintainya akan menikah dengan wanita lain.
hari ini vani memutuskan untuk pulang lebih awal karena merasa jika dipaksa bekerja pun tidak akan bisa fokus.
sepulang kantor vani merasa bingung. di satu sisi ia sangat menyukai pekerjaannya sekarang namun di sisi lain vani harus ikhlas melihat pria yang dicintainya menikah dengan wanita lain.
setelah lama menimbang pilihan, akhirnya vani pun memutuskan untuk resain dari kantor saja. ia akan mengantar surat pengunduran dirinya besok begitu pikirnya.
selain resign vani juga harus pergi dari rumah yang ia tempati saat ini.
mungkin dirinya akan pulang kampung untuk sementara waktu sampai hatinya siap mencari pekerjaan yang baru lagi nanti begitu pikirnya.
*
malam hari di kediaman wijaya dika menemui mama ratih karena masih merasa kesal dengan keputusan sepihak dari mamanya itu.
"ma, kenapa mama ngumumin pernikahan dika di kantor tanpa persetujuan dari dika dulu sih?"
"kenapa sih sayang, bukannya kalian emang mau nikah"
"dika enggak mau nikah sama karin ma. dika enggak cinta sama dia jadi dika enggak mau nikah bulan depan"
"loh, emangnya kenapa? kalian lagi berantem?"
"pokoknya dika enggak mau ma."
dika langsung melangkah pergi setelah menolak pernikahan itu.
"dika, kenapa kamu ngomong kaya gitu nak"
mama ratih bingung tidak habis pikir pada putranya itu.
-
di rumahnya vani sedang sibuk mengemas barang bersama yuli.
"kenapa kita harus pindah dari rumah ini kak?" tanya yuli bingung.
"em, maafin aku ya yul. kita harus pindah dari sini jadi sementara kita pulang ke kampung dulu sampe aku dapet kerjaan baru"
"loh! emangnya kenapa kamu mau berhenti kerja di kantor bang dika?"
"aku udah mutusin buat resain yul, soalnya mas dika mau nikah sama cewek itu sebentar lagi. aku enggak mau di tuduh jadi cewek murahan yang godain calon suami orang"
"apa! cewek murahan? siapa yang berani bilang kaya gitu ke kamu kak, biar aku hajar dia. enak aja fitnah kakak ku sembarangan" kesal yuli.
"udahlah itu enggak penting lagi yul, sekarang mending kita siap siap aja deh"
"em, tapi kenapa bang dika malah mau nikah. bukannya dia bilang kalo dia enggak ada hubungan apa apa sama cewek itu ya?"
"aku juga enggak tau yul"
"atau jangan jangan...?"
"jangan jangan apa?"
"jangan jangan cewek itu lagi hamil jadi bang dika terpaksa harus setuju nikah secepatnya"
"enggak tau sih tapi tadi nyonya wijaya sendiri yang udah ngumumin pernikahan itu secara langsung di kantor. pernikahan mas dika bakal berlangsung bulan depan"
"kamu yang sabar ya kak" yuli memeluk kakaknya.
"aku engga papa kok yul, sekarang ayo kita beresin barang lagi. besok pulangmya setelah aku nganter surat resain ke kantor ya"
"em" yuli pun mengangguk.
__ADS_1