
dika berjalan menuju dapur hendak memasak sedangkan vani menyalakan televisi untuk menunggu.
"mama!"
raffa yang baru saja pulang bersama dengan hana pun memeluk mamanya.
"hai sayang anak mama udah pulang ya. emuach!" vani mengecup pipi raffa lalu memeluk putranya.
"udah dong ma" raffa tersenyum.
"pinter banget deh, anak mama gimana latihannya sayang, affa suka enggak?"
"em, suka banget ma affa juga punya temen banyak semuanya jago olahraga loh" raffa bersemangat.
"uhh!!! bagus nanti lama lama affa juga pasti jago sayang"
"iya ma, oh ya ma papa dimana?" raffa tidak melihat keberadaan papanya.
"papa ada di dapur tuh sayang lagi masak mie yang enak buat kita" vani tersenyum.
"oh oke ma affa mau mandi dulu ya"
raffa akan masuk ke dalam kamar bersama dengan luna.
"iya sayang cepetan ya mandinya nanti kita makan mie nya bareng bareng oke"
"oke ma" raffa dengan semangat berjalan menuju kamarnya hendak segera mandi.
"hana, gimana kerjaan kamu pasti kamu capek ya?" tanya vani saat melihat wajah lesu adiknya.
"lumayan kak, lumayan buat pusing" hana merasa lelah.
"kenapa kok pusing?"
"em, enggak papa kok kak" hehe
hana mengalihkan pandangan karena sebenarnya yang membuat dirinya pusing adalah farel dan dimas bukan tentang pekerjaannya di butik.
"hem, kakak kangen deh sama yuli" ucap vani.
"aku juga kak, gimana kalo kita ajakin kak yuli makan malam di sini aja besok. biar kita bisa ngumpul lagi kaya dulu kak"
hana antusias karena mereka sangat merindukan suasana seperti dulu saat mereka masih tinggal bertiga di dalam satu rumah yang sama.
"em, boleh juga oke deh besok kakak kabari yuli ya biar dia datang kesini"
vani tersenyum cerah mengingat kebersamaan mereka seperti dulu.
"ok kak, kalo gitu aku ke kamar dulu ya kak" hana berjalan menuju kamarnya.
"iya" vani mengangguk.
setelah selesai mandi raffa langsung berjalan menuju dapur untuk menemui papanya.
"papa! lagi ngapain?" raffa menghampiri dika.
"eh jagoan papa udah pulang ya. ini papa lagi masak mie kesukaan mama kamu sayang" dika menggendong putranya agar melihat masakan yang masih berada di atas kompor.
"oh, ini kesukaan affa juga kan pa" raffa tersenyum.
"oh iya jelas dong sayang kalian semua pasti suka kalo papa yang masak"
"hehe iya dong pa"
ayah dan anak itu pun kompak bercanda di dalam dapur sambil menunggu masakannya selesai.
"eh, jagoan mama kok pada ketawa bareng tapi enggak ngajak ngajak mama sih"
vani yang baru saja datang ke dapur hendak melihat masakan suaminya pun melihat keduanya tertawa bersama ia sudah tidak sabar ingin segera memakan mie buatan suaminya itu.
"mama liat deh mie buatan papa bentar lagi udah mateng nih. iya kan pa?" raffa masih berada di dalam gendongan papanya.
"iya dong sayang, mie buatan chef affa yang enak banget" dika mencubit gemas pipi anaknya itu.
"hem kayanya enak banget deh mas, aku udah enggak sabar nih mau nyobain"
__ADS_1
vani mengelus perutnya sambil menelan kasar salivanya karena merasa benar benar tidak sabar ingin segera memakannya sekarang juga.
"bentar lagi sayang, sabar ya" dika kembali memastikan rasanya.
"oh iya mas, besok aku mau undang yuli sama mas ray buat makan malam bareng di sini ya. boleh kan?" vani duduk di kursi dekat meja sambil menunggu
"em, iya boleh dong sayang" dika tersenyum.
"aku kangen banget pengen bisa ngumpul bareng yuli sama hana kaya dulu lagi mas" vani menunduk sedih karena mengingat kebersamaan seperti dulu.
"hei! sayang kamu kok sedih?" dika memegang kedua sisi wajah istrinya agar vani tidak menangis lagi.
"enggak papa kok mas" vani memegang lengan suaminya dan membalas tatapan mata dika.
"papa, udah mateng nih" raffa membuyarkan adegan tatapan romantis kedua orangtuanya itu.
"eh iya ini pasti udah mateng deh mienya ayo kita makan bareng bareng aja sayang"
dika menyajikan spaghetti buatannya di atas empat buah piring yang berada di meja makan.
mereka makan bersama dengan lahap terutama vani yang benar benar semangat menyantap mie yang ada dihadapannya.
bukan karena mie yang sangat enak namun karena mie itu adalah buatan suaminya yang di buat dengan penuh cinta dan kasih sayang untuknya dan juga calon bayi mereka.
"hem, gimana sayang rasanya?" dika menatap putranya yang sedang lahap memakan mienya.
"em, enak banget dong pa" raffa mengacungkan dua jempolnya.
"ya udah di abisin ya sayang" dika mengacak rambut lembut raffa.
malam harinya menjelang tidur vani sedang memeluk tubuh suaminya sambil berbaring di atas ranjang.
"mas" vani hendak mengatakan sesuatu.
"hem" dika sudah memejamkan matanya.
"besok aku juga mau buat acara kecil kecilan gitu boleh enggak mas?"
vani sedang meletakkan kepalanya di bagain dada suaminya.
"aw! sakit tau mas" vani mengusap hidungnya lalu mencubit dada suaminya dengan pelan.
"habisnya, kamu lucu banget tau gak inikan rumah kamu jadi ngapain harus minta izin dulu sama aku sih?" dika menatap istrinya.
"iya tapikan kamu suami aku mas jadi apapun yang mau aku lakuin harus ada persetujuan dari kamu kan" vani tersenyum
"uh!! manisnya istriku ini aku beruntung banget deh punya kamu sayang" dika kembali mencubit gemas pipi istrinya.
"em, aku juga beruntung punya kamu mas"
"semoga kita bisa selalu kaya gini ya saling sayang dan menghargai satu sama lain" cup!
"amin dan semoga kita bisa jadi papa sama mama yang baik buat anak anak kita ya mas"
"iya sayang aamiin"
"oh iya mas, besok kamu jadi kan mau nemenin aku ke dokter karena besok jadwal anak kita check up"
"ya ampun sayang aku lupa kalo besok jadwal check up anak kita tapi besok aku harus ke kantor sayang"
"yahh! kok enggak jadi sih mas" vani menunduk sedih.
"iya tadinya aku mau libur sayang, tapi ray malah cuti"
"em, ya udah deh mas kalo gitu enggak papa kok aku besok pergi bareng hana aja ya"
"kamu serius sayang enggak papa?"
"iya enggak papa kok mas"
"makasih ya sayang, maafin papa ya nak" dika mengelus perut istrinya.
keesokan harinya dika dan rangga sedang berada di dalam ruangan rangga untuk berdiskusi tentang masalah yang terjadi di kantornya.
"em, gimana menurut lo dika?" rangga menatap adiknya.
__ADS_1
"iya gue sih setuju aja bang" dika mengangguk.
"oke kalian masuk!" perintah rangga kepada beberapa orang suruhannya agar masuk ke dalam ruangannya.
"permisi pak! apa yang bisa kami lakukan sekarang?" tanya pria bertubuh tinggi besar itu di hadapan rangga dan dika.
"tolong kalian cari semua bukti yang mengarah kepada mereka seperti yang sudah saya katakan sebelumnya. saya mau hari ini juga semua bukti terkumpul" ujar rangga.
"baik pak akan segera kami kumpulkan"
"bagus, lebih cepat lebih baik kalian boleh pergi sekarang"
"baik pak. permisi" mereka mengangguk lalu keluar dari dalam ruangan itu.
"apa menurut lo hukuman yang paling tepat buat mereka dika?" tanya rangga.
"iya, terserah lo aja deh bang kali ini gue serahin semuanya ke elo kan istri gue lagi hamil jadi gue enggak mau ikutan dalam masalah penghukuman" dika menatap rangga.
"bener lo enggak boleh ikutan. hem, kalo kita di pecat plus blacklist semua akses mereka aja gimana? hidup mereka bakalan sulit dengan sendirinya tanpa harus kita siksa" rangga mengutarakan pendapatnya.
"iya itu sadis sih karena mereka bakal beneran kesulitan tapi gue setuju dari pada kita siksa mereka kaya yang dulu"
"hhh! gue udah tua mau tobat" rangga tersenyum sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.
"haha! tobat ya baguslah bang gue juga kan udah bilang dari dulu kalo nyakitin orang itu enggak baik"
"hhh! iya gue enggak pernah kok nyiksa orang, sekretaris lo tuh yang selalu ngehabisin nyawa orang" ucap rangga.
"hah!! iya mau gimana lagi bang bunuh atau di bunuh tapi gue bingung sih sama dia. di saat lagi kaya gini dia malah milih buat ngambil cuti aneh kan?" dika memikirkan.
"ya biarin lah dik, gue lebih simpatik aja sih sekarang karena liat dia sering ngelamun belakangan ini"
"kaya ada masalah berat yang lagi dia hadapi sekarang tapi dia milih buat nyembunyiin dari kita masalahnya, bukan tentang cuti tapi gue lebih ke khawatir aja bang takut dia kena tekanan mental gitu" dika bercerita
"kita doain aja semoga apapun masalah yang lagi dia hadapin sekarang semoga semua akan baik baik aja"
"iya sih terus gimana menurut lo tentang john itu dia udah balik lagi" dika menatap abangnya.
"john itu licik dika lo tau dia juga yang udah meretas semua data kemarin. kita enggak boleh lengah dik, kita harus lebih pintar dari kelicikannya"
"em, jadi lo udah tau bang sorry ya gue enggak bisa menang kemarin" dika mengalihkan pandangannya.
"udahlah dika, gimana pun juga perusahaan kita lagi butuh suntikan nih sekarang jadi gue bakal pergi ke london dalam beberapa minggu lagi. gue harap semua akan membaik"
"em okay deh, masalah john gimana?"
"kita harus cari titik lemahnya dulu baru bisa nyerang balik pertahanan perusahaan mereka. udah lah kita pikirin itu nanti aja, yang penting sekarang kita harus bersihin nama baik perusahaan dulu" jawab rangga.
"okay kalo gitu ayo kita meeting dulu deh"
dika beranjak dari duduknya lalu mereka pun berjalan menuju ruang meeting.
menjelang sore hari, vani masih hendak menelpon adiknya agar datang untuk makan malam di rumahnya.
brak!!
vani terkejut dengan kedatangan yuli yang tiba tiba saja sudah berada di dalam rumahnya. ia menggendong baby arka sambil membawa tas besar di tangannya.
"yuli! kamu kok udah datang sih aku baru aja mau nelpon kamu buat ngajak makan malam bareng di rumah ini" vani melihat adiknya yang datang dengan wajah kesal.
"ih! aku tuh kesel banget kak masa mas ray tiba tiba bilang ada tugas di luar kota jadi dia harus pergi. ya udah deh dari pada aku cuma berdua di rumah sama baby arka lebih baik aku ke rumah kamu aja" keluh yuli setelah duduk di samping kakaknya.
"apa! mas ray ke luar kota?" vani merasa bingung.
"iya emangnya kamu enggak tau?" yuli manyun.
"enggak. mas dika juga enggak ada bilang kemaren justru mas dika bilang kalo mas ray itu minta cuti tiga hari"
"apa! cuti! enggak, iya enggak mungkin lah terus maksud kamu dia mau pergi liburan tanpa aku gitu, hah!!!" yuli menghembuskan nafasnya berat.
"em" vani hanya mengendikkan bahunya.
"huh! ngeselin banget, masa liburan tanpa ngajak anak sama istrinya sih"
yuli masih saja terus mengomel sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya hendak meletakkan barang barang dan juga beristirahat.
__ADS_1