Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 180


__ADS_3

Di rumah sakit rangga dan ray yang sedang menunggu pun akhirnya melihat dika mulai tersadar.


"dika, lo baik baik aja kan?" rangga mendekati dika yang sudah duduk bersandar diatas bankar.


tanpa menjawab pertanyaan dari abangnya itu dika pun langsung mencabut infus di tangannya lalu berdiri.


"akkhh" ringis dika kesakitan saat melepaskan infus di tangannya.


"dika apa yang lo lakuin?" cemas rangga.


lagi lagi dika tidak mau mendengarkannya dan langsung melangkah hendak menuju pintu keluar.


"dika, lo mau kemana?" rangga menahan lengan dika agar tidak pergi.


"lepasin, gue mau pergi sekarang" ujar dika dingin sambil menatap tajam ke arah rangga yang sedang menghentikan langkahnya.


melihat tatapan amarah di mata adiknya, rangga pun langsung melepaskan tangannya dari lengan dika karena ia tau saat ini adiknya itu sedang emosi. dika tidak akan bisa mengontrol dirinya sendiri saat sedang marah pikirnya.


dika langsung melangkah saat rangga sudah melepaskan tangannya.


"bos" lagi lagi ray mencoba untuk menahan namun dika langsung menepisnya dan tidak mau mendengarkan.


dika melanjutkan langkahnya keluar dari dalam ruangan.


"biarin dia pergi ray sekarang dia lagi emosi" ucap rangga.


"tapi bos, justru karena dika lagi emosi gue khawatir kalo dia bakal nyakitin dirinya sendiri karena rasa bersalah bos"


"dika bukan anak kecil lagi ray, dia udah dewasa sekarang"


"hem, baiklah bos" akhirnya ray pun terdiam.


dika melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat yang ia yakini saat ini vani pasti berada di sana.


bukan, bukan mobilnya melainkan mobil milik rangga yang dika ambil kuncinya dari tangan abangnya itu.


hari sudah malam saat ini di ruang tamu rumah kakaknya vani sedang menemani raffa melakukan sesuatu yang ia sukai yaitu menggambar sedangkan vani memainkan ponselnya.


raffa fokus menggambar dan mewarnai bukunya. setelah selesai dengan gambarannya raffa pun menunjukkan hasil karyanya itu kepada mamanya.


"mama liat deh baguskan?"


di dalam buku gambar miliknya itu raffa sudah menggambar sebuah keluarga kecil yang bahagia.


meskipun gambar itu tidak begitu sempurna namun sudah terlihat sangat bagus karena itu adalah sebuah gambar dari anak yang masih berusia empat tahun.


"wah! bagus banget sayang. anak mama pinter banget sih" vani memuji putranya setelah melihat gambar itu.


"hehe makasih ma" raffa tersenyum puas.


"oh iya. ini gambar siapa sayang kok affa bisa gambar orang kaya gini sih?" tanya vani antusias memperhatikan buku gambar di tangannya.


"ini gambar kita ma. yang ini mama, yang ini affa terus ini papa" raffa menunjuk satu persatu gambar di sana untuk menjelaskan kepada mamanya.


"oh ya. iya ini bagus banget sayang"


vani tersenyum memeluk putranya dengan haru hingga matanya kembali berkaca kaca.


"emuachh....! mama jangan sedih lagi ya" raffa mengecup pipi mamanya.


"iya sayang, mama enggak sedih kok mama bahagia banget karena mama punya afa di sini" vani tersenyum dan kembali memeluk putranya.


tok...!!! tok...!! tok..!!!


suara ketukan pintu terdengar dari luar rumah, vani pun melepaskan pelukannya dari raffa.


"sayang kayanya ada yang datang mama bukain pintu dulu ya sebentar"


"iya ma" raffa mengangguk lalu kembali fokus pada buku gambarnya.


vani beranjak dan berjalan menuju pintu hendak segera membukanya.


Ceklek......!!!!!


"iya siapa?" tanya vani ketika membuka pintu.


vani tertegun dan mematung menatap seseorang yang sedang berdiri di hadapan itu.


melihat vani ada di hadapannya tanpa berkata apapun lagi dika langsung memeluk tubuh istrinya dengan erat sambil mengucapkan kata maaf.


"maafin aku ya"

__ADS_1


"mas dika?"


vani yang masih bingung pun membalas pelukan dika, jujur saja sudah lama mereka tidak bertemu membuat dirinya sangat merindukan suaminya itu.


"maafin aku ya karena udah nyakitin kamu, aku udah marah marah sama kamu waktu itu maaf" dika masih memeluk vani dengan erat


vani yang terlalu nyaman di dalam pelukan suaminya itu pun hanya diam hingga tidak sadar kalau saat ini raffa sudah berdiri di samping mereka.


"papa!!!" raffa menarik ujung baju papanya untuk memberi tahu jika dirinya juga sedang berada di sana.


dika melepaskan pelukannya membuat vani kembali tersadar.


"affa sayang, papa kangen banget sama affa" emuach!


dika berlutut lalu memeluk dan mengecup pipi putranya itu.


"affa juga kangen sama papa em, papa kemana aja sih enggak datang jemput affa sama mama di sini?"


"maafin papa ya sayang, kayanya papa terlalu sibuk kerja ya sampe engga sempat jemput afa tapi papa janji mulai hari ini papa enggak bakal sibuk kerja lagi papa bakalan nemenin affa terus main di rumah"


"beneran pa?" raffa tersenyum dengan wajah polosnya.


"em, iya sayang"


"yeyy....!!! asik kalo gitu ayo kita masuk pa, affa mau nunjukin sesuatu sama papa deh"


"iya ayo sayang"


dika mengikuti permintaan putranya itu untuk masuk ke dalam rumah.


raffa menarik tangan dika dan mengajaknya masuk ke dalam ruang tamu.


dengan sangat antusias raffa ingin menunjukkan hasil gambarnya kepada papanya.


vani tersenyum menatap keduanya, ia menutup pintu lalu berjalan masuk dan melihat raffa sedang menunjukkan hasil karyanya kepada papanya itu.


"liat deh pa" raffa memperlihatkan buka gambarnya.


"ini affa yang gambar sayang?" tanya dika tak percaya.


bagaimana mungkin anak berusia 4 tahun sudah bisa menggambar dengan sebagus ini pikirnya.


"iya dong pa. kata mama papa juga jago gambar nanti papa bisa ajarin affa juga ya buat gambar yang bagus"


vani hendak pergi setelah melihat tatapan aneh dari dika ia merasa canggung di tatap oleh suaminya sendiri.


"kamu mau kemana?" dika menahan tangan vani.


"em, saya mau buatin teh untuk bapak di dapur. tunggu sebentar ya pak" vani menarik tangannya dari genggaman dika lalu berjalan cepat menuju dapur.


"lucu banget sih" dika hanya tersenyum melihatnya.


setelah membuat dua cangkir teh untuk dika dan dirinya vani pun segera membawa dengan hati hati.


"dek, teh buat siapa?" tanya kak aida yang tiba tiba muncul mengangetkan vani.


"eh! kakak, aku kirain siapa buat kaget aja deh. ini teh buat mas dika emangnya kakak enggak lihat ya mas dika lagi ada di ruang tamu bareng raffa"


vani sedang memegang nampan berisi dua cangkir teh dengan kedua tangannya.


"loh kapan datangnya, kakak enggak lihat"


"baru aja kak, makanya nih aku baru buatin minum"


"dika datang sendirian?"


"iya kak, emangnya kenapa?" vani menatap kakaknya.


"kok bisa? maksud kakak. bukannya dika lupa ingatan ya kok bisa ingat jalan kesini sih?" kak aida semakin bingung.


"eh, iya sih kak. aku juga enggak tau mungkin mas dika nanya alamat kita sama mas rangga atau mas ray kali" vani tidak mau banyak berpikir tentang itu.


"em, iya juga sih. oh ya jangan lupa kamu ajak dika makan malam bareng kita ya" kak aida hendak melangkah.


"iya iya"


vani kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu.


setelah meletakkan nampan teh di atas meja vani pun duduk di samping putranya yang juga sedang duduk di sofa bersama dika.


"pak dika, ini di minum dulu tehnya" vani menawarkan.

__ADS_1


vani masih bingung bagaimana harus bersikap kepada dika. mereka memang sepasang suami istri namun satu tahun terakhir ini keduanya sudah seperti orang yang asing satu sama lain.


"makasih ya" dika tersenyum.


"sama sama" vani mengangguk.


dika meminum teh buatan istrinya yang sudah lama tidak ia rasakan itu. rasanya masih sama seperti sebelumnya, manis seperti yang buat pikirnya sambil tersenyum.


"em, bapak kenapa kok senyum senyum kaya gitu?"


"enggak papa, cuma mau bilang kalo tehnya manis kaya yang buat" dika kembali meletakkan cangkirnya.


vani tersenyum malu mendengar pujian dari dika karena sudah lama ia tidak mendengar pujian dari suaminya itu. selama amnesia dika terlihat cuek dan sulit untuk di dekati.


"em, affa lagi gambar apa sih itu sayang?"


vani mengalihkan pandangannya menatap raffa yang semakin antusias menggambar.


"ini affa lagi gambar pesawat ma"


"oh itu pesawat, affa pinter banget sih sayang" vani mengusap rambut putranya.


"iya dong ma. apa lagi papa yang kaci tau affa"


vani hanya melirik dika yang sedang asik menggambar bersama dengan putranya itu.


"em, oh ya pak ayo kita makan malam bareng" ajak vani setelah dika menghabiskan teh di dalam gelasnya.


"em, aku gerah banget nih mau mandi dulu"


"oh ya udah kalo gitu bapak bisa mandi di sana"


"iya deh"


"mari pak saya antar"


dika mengikuti langkah vani dari belakang, sesampainya di dapur vani menunjukkan pintu kamar mandi kepada dika agar ia bisa segera membersihkan diri.


"ini kamar mandinya pak, silahkan" tunjuk vani kearah pintu kamar mandi yang berada di dekat dapur itu.


"tapi aku enggak punya handuk sama pakaian ganti"


"em, tunggu sebentar ya"


vani melangkah menuju kamar hendak mengambil pakaian serta handuk untuk dika. setelah itu ia kembali ke dapur untuk memberikan handuk itu.


"ini handuk sama pakaian bapak"


dika menerima handuk serta pakaian lengkap yang diberikan oleh istrinya itu. ia menatap vani yang langsung melangkah pergi setelah memberikannya.


vani kembali menemani putranya yang sedang asik menggambar namun sekarang raffa sudah di temani oleh dira putri kak aida yang berusia sama dengan rara.


"sayang udah selesaikan gambarnya ayo kita makan malam dulu" ajak vani.


"iya, ayo dek kita makan dulu" dira tersenyum.


"iya kak ayo" raffa berjalan bergandengan tangan dengan kakak sepupunya itu.


ketiganya melangkah menuju meja makan hendak segera makan malam bersama dengan yang lainnya juga.


"vani, dimana dika kamu bilang tadi dia ada disini" tanya abang ipar vani yang sedang memulai makan malamnya.


"em, masih di kamar mandi bang"


"oh ya dek dika sebenernya masih lupa ingatan atau enggak sih?" tanya kak aida.


"aku juga bingung kak dia enggak bilang kalo udah inget atau belum ya aku masih bersikap biasa ajalah" vani pun menyuapi putranya makan.


"iya sih, kakak takut salah bicara nanti soalnya"


setelah selesai mandi dika pun datang dengan wajah yang lebih segar menuju meja makan lalu ia duduk di salah satu kursi yang berada di samping istrinya.


vani dan kak aida menatap bingung kearah dika yang datang dengan berjalan santai.


sepertinya dika sudah sangat hafal dengan isi rumah ini atau mungkin karena dika mendengar suara mereka yang berada di sana pikirnya. memang rumah kak aida tidak besar sehingga suara dari satu ruangan akan terdengar di ruangan lainnya.


"silahkan dimakan pak" vani mempersilahkan dika untuk makan.


"makasih ya"


akhirnya mereka makan dalam diam hanya pembicaraan ringan dan candaan yang sesekali terdengar disana.

__ADS_1


kakak dan abang ipar vani masih bingung harus bersikap bagaimana memperlakukan dika karena di satu sisi dika adalah adik ipar mereka namun di sisi lain juga harus menganggap dika sebagai bos dari adiknya.


__ADS_2