Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 101


__ADS_3

malam harinya dika baru saja menerima telpon dari mama ratih yang menceritakan tentang keadaan arin kepadanya.


mama ratih sangat khawatir saat melihat keadaan arin yang berantakan dan terlihat kacau kemarin sore.


setelah mengakhiri telpon dari mamanya itu dika terdiam sambil duduk di tepi ranjang di dalam kamar. ia sedang memikirkan tentang arin.


tidak lama vani datang dan memeluk pundak dika dari belakang.


"sayang kamu lagi mikirin apa?"


vani melihat suaminya sedang melamun sendirian seperti sedang memikirkan sesuatu.


"eh sayang, enggak ada kok. siapa lagi coba yang aku pikirin kalo bukan kamu"


dika menarik gemas hidung vani sambil tersenyum.


"masa sih mas dika gombal deh"


vani pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


dika ikut merebahkan diri di samping istrinya memiringkan tubuh menghadap kearah vani sambil menopang bagian kepala menggunakan tangannya.


"sayang, besok kita pulang ya"


dika menatap mata vani berharap istrinya itu akan menyetujuinya.


"emang kenapa mas? kok mata kamu kaya lagi khawatir gitu sih ada apa?"


vani pun melihat kekhawatiran di mata suaminya.


"enggak ada apa apa sayang, aku cuma lagi kepikiran sama kerjaan di kantor" dika beralasan.


"hem ya udah. kalo kerjaan kamu banyak kamu pulang aja duluan mas aku nanti pulangnya satu hari sebelum acara tujuh bulanan"


vani menolak pulang karena masih ingin berada di sana.


"tapi aku enggak mau ninggalin kamu sayang, yang ada nanti aku bakalan khawatir terus sama kamu dan baby kita disana"


dika tidak mau pulang jika harus meninggalkan vani sendirian.


"aku pasti baik baik aja disini mas, kamu liat kan semua orang disini sayang banget sama aku dan calon bayi kita juga" vani berusaha untuk meyakinkan dika.


"iya aku tau, tapi aku enggak mau pulang sendirian. masa kamu tega kalo aku tidur sendirian nanti"


dika terus saja membujuk istrinya agar mau pulang.


"mama sama papa kan udah ada di rumah mas, jadi kamu enggak bakal cuma berdua sama arin aja"


vani tau alasan dika ikut dengannya pun karena dika tidak mau ditinggal hanya berdua dengan arin saja di rumah.


"sayang bukan gitu tolong kamu ngertiin aku ya. aku enggak bisa jauh dari kamu"


dika memeluk vani lalu mengecup pipi istrinya.


"iya iya deh. kita pulang besok"


akhirnya vani mengalah mengikuti keinginan suaminya untuk pulang.


"bener ya sayang. kamu setuju kan?" dika tersenyum dengan wajah sumringah.


"iya mas" vani tersenyum mengangguk.


"ya udah sayang kalo gitu ayo kita tidur biar besok bisa bangun lebih cepat"


dika memejamkan matanya sambil terus memeluk tubuh vani dari samping.


'kenapa tiba tiba mas dika mau pulang ya, tadi dia juga keliatan bahagia banget pas aku setuju buat pulang. apa karena arin mas dika mau cepat pulang? apa suamiku kangen sama arin?' batin vani yang masih memikirkan.


tidak mau ambil pusing vani pun ikut memejamkan mata dan akhirnya tertidur dalam dekapan hangat suaminya.


keesokan harinya dika dan vani pun memutuskan untuk kembali pulang setelah jam makan siang.


mau tak mau yuli dan hana juga ikut pulang karena mereka harus kembali bekerja. lagi pula tak lama lagi mereka akan mengikuti persiapan tujuh bulanan vani di kota.


"kak kami pulang dulu ya, jangan lupa datang di acara tujuh bulanan aku"


vani bersalaman dengan kakak dan abangnya untuk pamit pulang.


"iya kalian hati hati di jalan ya, kakak sama yang lain pasti datang nanti kamu jangan khawatir"


kak aida pun meyakinkan adiknya.


"ya udah. kalo gitu kami pamit ya kak dahhh"


vani melambaikan tangan setelah masuk kedalam mobil.


"iya hati hati di jalan ya kalian dahh!!"


kak aida dan yang lain membalas lambaian tangan.


"dadah mom!!"


yuli dan hana juga melambaikan tangan mereka kepada mamanya.

__ADS_1


tin! tin! bunyi klakson mobil dika tanda mereka hendak segera melaju.


"iya bye!"


"hati hati di jalan ya"


mobil dika melaju menuju kota untuk segera pulang.


"huh, akhirnya kita pulang juga"


yuli menghembuskan nafas panjang dengan lega.


"kenapa kamu kayanya lega banget sih emangnya kamu udah bosen tinggal di kampung ya yul?"


dika heran karena yuli merasa lega setelah pulang.


"hehe. bukan bosen bang tapi udah kangen kerja aja"


yuli beralasan sebenarnya alasan utamanya adalah jika di kota maka ia akan lebih bebas dari pada saat berada di rumah orang tuanya.


"alasan! bilang aja kamu tuh bosen di rumah karena kamu selalu di suruh suruh sama bibi buat nyuci, masak, nyuci piring dan lain lain jadi kamu malas banget iyakan?"


vani mengatakan alasan yang sesungguhnya.


"hehe. tau aja sih kak itu pekerjaan yang membosankan" yuli memutar bola matanya.


"kamu tuh ya bisa aja menghindar"


vani menggelengkan kepalanya karena adiknya tidak pernah berubah.


keduanya memang memiliki banyak persamaan namun bukan tentang masalah pekerjaan rumah.


jika itu masalah pekerjaan rumah maka mereka memiliki perbedaan yang sangat menonjol karena vani sangat suka memasak dan beres beres sedangkan yuli adalah kebalikan dari dirinya.


"huh, dasar kak yuli kebiasaan kalo di rumah kota ada asisten yang ngerjain semua pekerjaan rumah nih kak"


hana pun ikut menimpali.


"heh, ssttt! anak kecil diem aja enggak usah ikut ikutan nyalahin aku lagian kamu sebenarnya juga seneng kan"


yuli melotot kearah hana yang mengejeknya.


"hehe kok tau sih kak" nyengir hana.


"kalian nih"


vani hanya geleng kepala mendengar percakapan kedua adiknya yang saling menyalahkan itu.


sedangkan dika hanya tersenyum sambil terus fokus menyetir mobil.


"mas cepetan dong aku capek nih duduk terus. perut aku enggak nyaman"


vani sudah merasa bosan di dalam mobil.


"iya sayang. sabar ya sebentar lagi kita sampe kok"


sesampainya di kota dika langsung mengantar kedua adik iparnya itu pulang ke rumah lalu melanjutkan laju mobilnya sampai di garasi rumahnya.


"nah, sekarang kita udah sampe nih sayang"


dika mengusap perut istrinya hendak mengajaknya keluar dari dalam mobil.


"aku mau langsung istirahat aja ya mas"


"iya udah sayang ayo kita ke kamar aja"


dika merangkul pinggang istrinya sambil berjalan.


dika mengajak vani langsung masuk ke dalam kamar agar istrinya itu bisa beristirahat untuk menghilangkan letih.


ceklekk!!


"sekarang kamu istirahat dulu ya sayang" emuach! dika mengecup kening istrinya.


"iya mas, oh ya kamu mau kemana?"


vani bertanya karena melihat suaminya tidak ikut berbaring di sampingnya.


"aku enggak mau kemana mana kok sayang cuma nanti mau ke ruang kerja sebentar" jawab dika.


"oh, ya udah aku mau tidur dulu ya mas"


"iya sayang"


setelah dika memastikan istrinya sudah tidur ia pun bergegas keluar dari dalam kamarnya hendak langsung menghampiri arin di dalam kamar gadis itu.


ceklek!! pintu kamar arin terbuka.


dika masuk ke dalam dan melihat arin sedang duduk di atas ranjang.


"arin?" dika menutup kembali pintu kamar itu dari dalam.


"mas dika! kamu udah pulang mas?"

__ADS_1


arin yang melihat dika masuk ke dalam kamarnya pun langsung beranjak dan memeluk tubuh pria yang sudah sangat dirindukannya itu.


"arin, sebenarnya apa yang terjadi kenapa mama bilang kalo kamu nangis" dika memegang kedua pipi arin.


"enggak papa mas aku cuma kangen banget sama kamu tapi aku enggak tau harus gimana makanya aku nangis" hiks! arin kembali menangis di pelukan dika.


"ya udah sekarang kamu jangan nangis lagi ya kan aku udah pulang buat kamu" dika menghapus air mata arin.


"makasih ya mas"


"iya"


"em kamu udah maafin aku kan? soalnya aku ngelakuin itu juga karena enggak mau kehilangan semua perhatian dan kasih sayang dari kamu"


arin kembali memeluk dika


"iya aku ngerti kok, tapi kamu enggak perlu ngelakuin itu buat dapat perhatian dari aku arin. aku bakalan selalu ngasih perhatian tanpa kamu minta" dika tersenyum membalas pelukan arin.


"makasih ya mas"


"iya"


"em oh iya sekarang aku udah sembuh loh, kamu kan pernah janji bakal ngajak aku jalan jalan kalo aku udah sembuh" arin menagih janji duka kepadanya.


"hem, ya udah. sekarang kamu siap siap ya, kita pergi jalan jalan hari ini juga" dika menatap arin dengan tersenyum.


"yang benar mas, kita pergi hari ini?" arin tersenyum


"iya" dika mengangguk.


"emangnya kamu enggak capek?"


"enggak kok, ayo kita pergi"


"ya udah kalo gitu aku siap siap dulu ya. kamu jangan kemana mana oke"


arin langsung melangkah menuju ruang ganti yang berada di dalam kamarnya.


"em" dika mengangguk.


setelah arin masuk ke dalam ruang ganti itu, dika pun melangkah mendekati sisi ranjang arin.


"hem, dimana ya?"


dika sedang mencari sesuatu di dalam laci yang berada dekat dengan ranjang arin itu.


"ck! ayolah dimana sih?"


dika menggeledah laci dengan harap cemas.


"nah ini dia. huh! untung aja masih ada" emuchh!


dika mengecup gelang merah muda yang pernah vani berikan kepadanya ternyata ada di dalam kamar arin.


setelah arin selesai mengganti pakaiannya ia pun melihat dika yang sedang berdiri di dekat ranjang.


"mas kamu ngapain di situ? em kamu lagi nyari apa sih" arin menatap dika.


"em, enggak ada ini aku enggak nyari apa apa kok. oh ya kamu udah siap? ayo kita pergi sekarang"


dika langsung mengantongi gelang itu lalu mengajak arin untuk keluar dari dalam kamar.


"iya udah mas ayo kita pergi sekarang"


mereka melangkah keluar dari dalam kamar.


"oh ya mas istri kamu dimana?"


arin takut jika vani akan marah melihat mereka pergi.


"vani lagi tidur kasian dia kecapean kita berdua aja yang pergi ya"


"iya mas" arin menggenggam tangan dika.


akhirnya dika pun pergi bersama dengan arin untuk mengajaknya jalan jalan seperti janjinya waktu itu.


dika mengajak arin ke tempat tempat yang belum pernah arin kunjungi di kota itu.


hal itu tentu saja membuat arin sangat bahagia, meskipun sebentar namun menghabiskan waktu bersama dika membuatnya bahagia.


hari sudah gelap namun dika belum juga kembali pulang, vani sudah terbangun dari tidurnya sejak sore tadi namun ia tidak melihat keberadaan suaminya di rumah.


setelah menyelesaikan sholat isya sendirian di dalam kamarnya vani kembali menatap jam di dinding.


"mas dika dimana ya, kok belum pulang?"


vani khawatir menunggu kepulangan suaminya.


tut!! tut!!


berulang kali vani menelpon namun tidak kunjung mendapat jawaban dari dika.


"huh!!"

__ADS_1


"mas dika kamu dimana sih. jangan buat khawatir deh"


vani merasa khawatir namun ponsel suaminya tidak dapat di hubungi.


__ADS_2