Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 183


__ADS_3

keesokan harinya dika berangkat ke kantor seperti biasa. ia bersi keras pergi ke kantor dan meninggalkan istrinya di rumah.


menjelang siang hari vani pun datang ke kantor untuk mengajak dika pergi ke rumah sakit sesuai janjinya.


mau tak mau dika harus mengikuti keinginan istrinya itu lagi pula kemarin ia sudah berjanji akan pergi ke dokter bersama dengan istrinya.


setelah berkonsultasi dengan dokter, vani merasa lebih tenang karena mengetahui kondisi suaminya yang sudah membaik namun dika masih harus kembali memeriksakan keadaannya beberapa kali hingga ia benar benar pulih.


rangga dan kedua orang tuanya pun sudah mengetahui tentang keadaan dika yang telah kembali mengingat istri dan anaknya itu.


ray menjelaskan kepada keluarga wijaya setelah istrinya bercerita kalau dika sudah menjemput vani di kampung halamannya.


kehidupan vani dan dika kembali berjalan seperti yang seharusnya.


malam ini keluarga wijaya sedang berkumpul di rumah dika untuk makan malam serta melakukan barbeque di halaman belakang rumah. mengingat sudah lama mereka tidak berkumpul dalam suasana yang hangat seperti ini. sekaligus untuk mensyukuri kembalinya ingatan dika.


"alhamdulillah ya sayang, akhirnya sekarang keluarga kita bisa kumpul bersama lagi kaya dulu" mama ratih menatap kedua anaknya.


"iya ma" vani memeluk mama mertuanya.


"vani, mbak seneng banget akhirnya kamu bisa pulang dan sekarang dika juga udah sembuh" mbak ranty memeluk adik iparnya.


"iya mbak. makasih ya karena udah doain yang terbaik buat kami selama ini" vani membalas pelukan dari kakak iparnya itu.


"iya pasti dong"


di tengah suasana hangatnya kumpul keluarga itu, terlihat hana sedang bermain bersama raffa dan beberapa anak lainnya yang merupakan sepupu raffa dari keluarga dika.


beberapa sepupu raffa dari pihak keluarga dika dan rangga juga hadir di sana meramaikan acara keluarga.


hana adalah gadis yang penyayang dan juga sangat suka dengan anak kecil sehingga banyak anak yang sangat menyukainya dan mudah akrab dengannya.


hana memiliki sifat dan sikap yang baik sama seperti kedua kakak sepupunya yaitu vani dan yuli karena mereka selalu bersama sejak kecil membuat hana sedikit banyaknya mengikuti hal dan kebiasaan baik yang di miliki oleh kedua kakaknya itu.


jika kelihatannya vani dan yuli itu memiliki dua sifat yang sangat berbeda, namun hana justru memiliki sifat dari keduanya. vani yang dominan dengan sifat lembutnya dan kalem melakukan semua hal selalu menggunakan hati serta perasaannya berbeda dengan yuli yang lebih ceria dan emosional melakukan segala hal dari logikanya meskipun mereka terkadang terlihat bodoh karena cinta.


dalam acara keluarga itu di hadiri oleh dimas yang merupakan salah satu dari adik sepupu dika dan rangga.


anak dari adiknya mama ratih itu pun selalu mencuri curi pandang kepada hana. sepertinya kecantikan gadis polos berusia 22 tahun itu telah mampu menarik perhatian dari seorang dimas pratama namun hana hanya terlihat cuek dan mengabaikannya karena fokusnya pada anak anak yang sedang bermain saja tanpa perduli dengan tatapan orang lain kepadanya.


ketika melihat hana yang sudah menjauh dari anak anak disana, dimas pun berjalan mendekati hana yang sedang duduk di salah satu kursi dekat sudut halaman belakang rumah itu.


dimas menyapa hana dan berusaha untuk mengenal lebih dekat gadis manis itu.


"hai" sapa dimas pada hana namun hana justru melihat kesana kemari mencari seseorang yang mungkin ada di dekatnya. ia berpikir dimas sedang menyapa orang lain.


"aku?" tanya hana menunjuk wajahnya sendiri.


"em, iya kamu, emang ada siapa lagi disini" ujar dimas mendekat.


"oh maaf ya bang. aku pikir abang lagi nyapa orang lain" hana tersenyum canggung.


"em, iya enggak papa kok. oh ya aku boleh duduk di sini enggak?" tanya dimas menunjuk kursi di samping hana.


"oh iya boleh kok. silahkan" hana mempersilahkan dengan tersenyum manis.


"makasih" kemudian dimas pun duduk.


"iya"


"eee, oh ya nama kamu siapa?" tanya dimas mengulurkan tangannya hendak berkenalan dengan hana.


"nama aku hana kalau nama abang siapa?" hana menjabat tangan dimas dan kembali bertanya.


"oh, salam kenal ya nama aku dimas" dimas tersenyum.


"oh iya abang ini adek sepupunya bang dika ya?" tanya hana setelah kembali menarik uluran tangannya.


"em, iya. kalo kamu adek sepupunya mbak vani kan?"


"iya bang" hana mengangguk.

__ADS_1


cukup lama dimas dan hana berbincang saling bertanya satu sama lain untuk mengakrabkan diri. dimas dan hana merasa nyaman saat bercerita satu sama lain. hingga akhirnya dimas memberanikan diri untuk bertanya tentang hal pribadi kepada hana.


"ee, hana boleh enggak kalo kita tukeran nomor ponsel?" dimas menatap hana dengan penuh harap.


"em, boleh bang" hana pun memberikan nomor ponselnya kepada dimas.


"entar aku chat ya"


"oke"


kedekatan keduanya tak luput dari pandangan mata vani yang sejak tadi memperhatikan adiknya dari kejauhan.


sejak saat itu, hubungan antara dimas dan hana semakin dekat dan akrab satu sama lain karena setiap hari mereka selalu asik berchating ria.


pagi ini seperti biasanya dika bersiap hendak berangkat ke kantor namun sedikit berbeda karena raut wajah dika yang terlihat tidak bersemangat.


vani yang melihat wajah murung suaminya itu langsung mendekat hendak bertanya.


"mas, kamu kenapa kok mukanya lesu gini sih?" vani mengelus pipi suaminya.


"iya nih sayang aku lemes banget jadi males ke kantor pengennya tidur aja di rumah" dika merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"loh kenapa mas kamu sakit? kita ke rumah sakit lagi ya"


"ck! baru juga dari rumah sakit kemaren sayang"


"kalo enggak mau berobat berarti harus kerja dong mas"


"ck! males sayang"


"kalo kamu enggak kerja nanti kamu enggak gajian dong terus kita mau makan pake apa mas?" vani tersenyum jahil lalu duduk di tepi ranjang.


"jangan kaya orang susah gitu dong sayang. masa karena aku enggak kerja sehari doang kita enggak bisa makan sebulan" dika memutar bola matanya.


"iya kamu sih mas kebiasaan kalo satu hari enggak kerja besoknya nular lagi"


"iya kan enggak papa sayang. aku kan bosnya " dika tersenyum sambil memainkan alisnya.


"ibu dari anak ku sayang. pokoknya hari ini suami kamu yang tampan ini libur kerja ya, soalnya dia lagi sakit" dika pun langsung memejamkan matanya.


"hah!!! sakit apa perasaan suami ku ini baik baik aja deh"


vani meletakkan tangannya di bagian dahi dika untuk mengecek suhu tubuh suaminya yang tidak demam.


"aduh pusing nih sayang" dika bersikap manja langsung memegang kepalanya.


"ya ampun beneran mas, dimana yang sakit sayang?" vani merasa khawatir.


"di sini sayang yang sakit hehe"


dika nyengir sambil memegang bagian dadanya serta mengedipkan sebelah mata untuk menggoda istrinya.


"ih! mas dika, kamu kebiasaan deh" vani menepuk pelan dada suaminya itu karena merasa kesal.


"peluk sini"


dika langsung memeluk erat tubuh istrinya, vani hanya terdiam di dalam dekapan hangat suaminya itu tanpa menolaknya.


"sayang aku lagi pengen makan sop ayam buatan kamu deh, nanti kamu buatin ya terus tolong anterin ke kantor" minta dika sambil masih terus memeluk istrinya.


"em, iya deh mas nanti aku masakin buat kamu terus langsung aku bawa ke kantor" vani mengangguk di dalam pelukan suaminya.


"beneran sayang?" dika tersenyum menatap wajah istrinya.


"iya mas. apa sih yang enggak bisa aku lakuin buat kamu" vani tersenyum gombal.


"hem, bisa aja istriku yang cantik ini" cubit gemas dika pada kedua pipi istrinya.


"ya udah, sekarang kamu semangat ya kerjanya mas"


vani beranjak serta menarik tangan suaminya untuk beranjak juga dari atas ranjang.

__ADS_1


"em, morning kiss dulu dong" tunjuk dika pada bibirnya.


vani mendekatkan wajahnya lalu menyatukan bibir mereka. emuach!!


kedua tangan vani merambat ke belakang memeluk tubuh dika serta mengelus tengkuk leher suaminya. tanpa sadar vani memperdalam ciumannya dika pun ikut menikmatinya sambil meletakkan kedua tangan melingkar di bagian pinggang istrinya itu.


saat keduanya sedang larut menikmati ciuman hangat pagi mereka tiba tiba saja terdengar suara teriakan putra mereka yang memanggil kedua orangtuanya untuk segera sarapan bersama.


"mama!!! papa!!!." suara raffa yang sedang mencari keberadaan mama dan papanya.


vani langsung menarik diri dan menghentikan aktivitas bibir mereka.


"ayo mas, cepetan sarapan nanti kamu terlambat loh"


vani berbalik badan dan berjalan menuju pintu dengan wajah merahnya.


vani merasa canggung dan bingung sendiri, mengapa justru ia menahan dan memperdalam ciumannya. padahal biasanya suaminya itulah yang tidak ingin melepaskannya. dika tersenyum melihat istrinya salah tingkah sendiri.


"kamu kenapa sayang?"


dika ikut berjalan di belakang lalu merangkul pundak istrinya yang sedang berjalan sambil membawa tas kerja milik suaminya itu.


"em, enggak papa kok mas"


vani menarik handle pintu hendak membukanya namun dengan cepat dika langsung kembali menutup pintu itu dan menyandarkan tubuh istrinya di daun pintu yang sudah kembali tertutup.


dika melahap bibir istrinya lebih liar dari sebelumnya. tidak seperti biasanya vani yang akan menolak ciuman itu karena mengingat dika harus segera berangkat ke kantor namun kali ini vani dengan senang hati membalasnya bahkan menginginkan hal yang lebih.


setelah vani terbuai dengan sentuhan hangat dari suaminya, tiba tiba saja dika mengehentikan aktivitasnya.


"kita lanjut nanti malam aja ya sayang kan aku harus berangkat ke kantor sekarang udah terlambat nih" bisik dika tersenyum jahil lalu menatap arloji di tangannya.


dengan cepat dika membuka pintu lalu melangkah keluar dari dalam kamarnya meninggalkan vani yang sedang merasa kesal.


"ih!! mas dika ngeselin deh"


vani merasa kesal karena dika sengaja melakukannya ia menghentikan sentuhan itu saat tubuh vani sudah terpengaruh olehnya.


di meja makan dika, raffa dan hana sedang sarapan dalam diam.


vani baru saja datang dengan wajah malas lalu duduk di salah satu kursi yang berada tepat di samping suaminya.


"sayang, ayo kita berangkat bareng"


dika mengajak putranya karena akan mengantarkan raffa ke sekolahnya lebih dulu.


"iya pa" raffa mengangguk.


"hana, kamu ikut mobil mas dika aja ya kan sekalian mau nganter afa sekolah" vani menatap adiknya.


"em, iya kak" hana pun mengangguk.


"kita pergi dulu ya mama sayang" emuach


dika dan raffa pun mengecup kedua pipi vani secara bergantian.


"iya iya. hati hati ya sayang" emuch! vani mengecup pipi putranya.


"papa juga dong ma?" dika pun ingin di kecup pipinya.


"hihihi" raffa terkikik.


"ck!" vani mengabaikannya.


"pliss"


"udah sana pergi nanti kalian terlambat lagi" usir vani.


"emuch!!" dika mengecup pipi vani karena istrinya itu tidak mau mengecupnya.


"dahh!!!! mama!!" raffa melambaikan tangannya.

__ADS_1


"dah!! sayang" vani pun membalasnya.


__ADS_2