
hari berlalu masih seperti kemarin dika yang menemani karin di rumah sakit.
saat ini dika sedang menyuapi karin makan karena karin tidak mau makan jika ia tidak menyuapinya.
"ayo, habisin makanan kamu"
"udah sayang, aku udah kenyang banget nih"
"ya udah kalo gitu"
"makasih ya sayang" karin tersenyum manis.
"kamu mau minum?"
"iya dong sayang, entar kalo aku enggak minum terus gimana dong?"
"hhh! iya juga sih, aku pikir kamu enggak mau minum"
dika menyodorkan segelas air putih.
"sayang jahat banget deh"
glek! glek! glek! karin pun minum.
"ya udah sekarang kamu istirahat lagi ya"
"sayang aku mau pulang aja ya, biar bisa istirahat di rumah" karin meminta pulang.
"ya udah nanti aku tanya dokter dulu ya"
"makasih ya sayang"
karin tersenyum sambil memeluk lengan dika.
"kamu manja banget sih"
"sayang aku kangen"
"em aku keluar dulu ya, mau nanya dokter"
ujar dika beralasan lalu berjalan keluar dari ruangan karin.
sore hari akhirnya dika pun mengantar karin pulang ke apartemennya.
"makasih ya sayang, kamu udah mau nganterin aku pulang" karin duduk sambil memeluk lengan dika.
"iya sama sama. ya udah sekarang kamu istirahat aja ya"
dika menarik selimut lalu menyelimuti tubuh karin yang sudah berbaring.
"em, tapi kamu disini aja ya nemenin aku sayang. soalnya aku takut sendirian"
"iya aku temenin kamu"
dika pun tetap berada disana untuk menemani karin hingga tertidur pulas.
setelah beberapa jam tertidur akhirnya karin pun kembali terbangun saat hari sudah gelap. ia mencari keberadaan dika yang ternyata masih berada disana untuk menemaninya.
karin tersenyum senang karena melihat dika yang masih memperdulikan dirinya.
ia menatap dika yang sedang tertidur di atas sofa di dalam kamar itu.
sebenarnya karin ingin mengambil minum di atas meja namun ia tidak mau membangunkan dika yang masih terlelap.
karin bangun dan berusaha mengambil minum sendiri namun saat hendak menggapai gelas di atas meja tiba tiba saja dika terbangun karena mendengar suara gelas yang jatuh.
"karin?" panggil dika membuat karin kaget
"sayang, kamu udah bangun?"
"maaf ya, aku ketiduran"
"enggak papa kok, aku cuma mau minum"
dika pun mendekat lalu mengambilkan minuman yang baru.
"ini minumnya"
dika menyodorkan segelas air yang langsung diterima oleh karin dan meminumnya.
glek! glek!
"makasih ya sayang"
"em" dika mengangguk.
hari sudah hampir larut namun dika masih berada disana untuk menemani gadis itu.
"sayang..." karin yang sedang berbaring pun memeluk lengan dika dari samping.
"hem?" dika masih asik menatap ponselnya.
"aku kangen nih"
karin mencoba untuk kembali merayu dika.
"maksudnya?" dika pun menoleh.
"kangen kamu..."
"em karin, aku harus pulang sekarang. lagian ini kan udah larut malam jadi kamu istirahat aja ya. besok aku bakal minta mama buat datang nemenin kamu disini"
dika beralasan untuk menghindari karin lalu ia pun melepaskan pelukan karin dari lengannya.
"tapi sayang, kamu tega banget sih ninggalin aku sendirian. malam ini kamu nginap disini aja ya sambil nemenin aku"
"maaf karin aku enggak bisa, masih ada kerjaan yang harus aku seleseiin malam ini" dika menolak.
"hem ya udah deh sayang. makasih ya kamu udah mau nemenin aku seharian ini"
"ya udah aku pamit pulang ya"
__ADS_1
dika pun beranjak dari duduknya.
"sayang tunggu!"
karin kembali menarik lengan dika.
"hem?" dika menoleh.
"cium..." karin menatap dika sambil menunjuk keningnya minta dikecup.
cup! dika mengecup kening karin membuat senyum mengembang di wajahnya.
"ya udah kamu istirahat ya"
"iya sayang, kamu hati hati ya"
dika mengangguk lalu berjalan keluar dari dalam apartemen karin.
sesampainya di rumah dika langsung menemui mamanya untuk memberi tahu keadaan karin.
"ma?" panggil dika.
"iya ada apa sayang?" mama ratih melihat putranya datang
"dika cuma mau bilang ke mama kalo karin lagi sakit jadi besok mama bisa kan luangin waktu buat nemenin karin?" dika menatap ibunya.
"karin sakit?"
"iya ma"
"iya udah besok mama datang buat nemenin karin ya"
"ya udah kalo gitu dika mau istirahat dulu ya ma"
dika berbalik hendak melangkah menuju kamarnya.
"ehh dika. memangnya karin sakit apa nak?"
"asam lambung ma tapi sekarang udah mendingan sih"
"owh gitu" mama ratih mengangguk.
*
keesokan harinya setelah selesai bersiap, dika langsung melajukan mobil hendak menjemput vani pulang dari kampung halaman.
sedangkan mama ratih berangkat menuju apartemen karin untuk menjaga calon menantunya yang sedang sakit itu.
sesampainya di rumah kak aida, dika kembali bertemu dengan kakak dari kekasihnya itu.
"Assalamualaikum"
dika melangkah masuk ke dalam teras rumah kak aida.
"Walaikumsalam. eh dika udah datang?"
kak aida tersenyum menyambutnya.
"oh vani, ada sih tapi tadi dia keluar sebentar kayanya pergi ke warung deh di depan sana" ujar kak aida.
"oh gitu ya kak. ya udah dika tunggu disini aja"
dika pun duduk di kursi yang ada di teras itu.
"nah itu dia vani udah pulang" kak aida melihat vani datang
dika pun langsung menoleh kearah vani yang baru datang namun matanya memicing saat melihat kekasihnya itu di bonceng oleh seorang pria menggunakan sepeda motor.
"Assalamualaikum kakak ipar"
pria yang bernama doni itu menyapa kak aida yang sedang berdiri disana.
"Walaikumsalam. kalian dari mana aja sih?"
kak aida menggelengkan kepalanya.
"dari lapangan kak, main bola" jawab doni sedangkan vani hanya diam saja karena sudah melihat dika datang.
"ya ampun vani, kamu ikut main bola lagi"
kak aida semakin menggelengkan kepala menatap adiknya itu.
"engga kok kak, aku cuma liat pertandingannya doang tadi" vani menggelengkan kepalanya.
"kakak ipar tenang aja. vani aman kok kan ada babang yang jagain, lagian dia jago mainnya kak aku aja bisa kalah" doni kembali menyela percakapan.
"hh!! kamu tuh ada ada aja deh doni, udah sana mending kamu pulang jagain kambing di dalam kandang takut entar brojol lagi anaknya"
kak aida meminta doni untuk segera pulang.
"oke siap laksanakan kakak ipar"
"ayang, abang pulang dulu ya" doni memainkan alisnya kepada vani sambil tersenyum lebar.
"iya hati hati ya bang. makasih loh udah di anterin pulang" jawab vani tersenyum pula.
"oke deh, jangankan nganterin ayang pulang. ngajak ayang beb ke KUA aja abang jabanin"
ujar doni bercanda sebelum melajukan motornya pulang.
"huh! ngajak ke KUA, gaya banget itu si doni. ngasih makan kambingnya aja masih belum bener, gimana mau ngasih makan adek gadis ku ini yang makannya banyak"
kak aida kembali menggelengkan kepalanya.
"ih kakak" kesal vani karena mendengar ucapan kakaknya yang mengatakan jika dirinya makan banyak.
"oh ya, kamu juga kenapa malah pulang bareng doni sih bukannya tadi pergi bareng yuli sama hana ya?" tanya kak aida kepada adiknya.
"ck! tau tuh yuli ninggalin aku kak. masa aku di suruh pulangnya jalan kaki sendirian sih kan kesel, terus ada bang doni yang mau nganterin pulang mana mungkin aku nolak rezeki dari pada capek jalan" ngadu vani sambil manyun
"loh kok bisa yuli minta kamu pulangnya jalan?" tanya aida tak habis pikir.
__ADS_1
"iya, tadi tuh dia sama hana...."
"haha! gimana kak vani emang enak pulangnya jalan kaki"
ledek yuli dan hana tertawa saat melewati rumah kak aida sambil menaiki sepeda motor lalu berhenti di depan teras rumahnya yang berada di samping.
"heh!! sorry ya, gue terlalu cantik buat jalan kaki sendirian" vani memalingkan wajahnya.
"ops! bener juga sih. mana mungkin kembang desa lagi jalan di anggurin sama om om yang disana itu" haha...! kedua gadis itu masih menertawakan vani.
"ck! terserah..." vani melengos malas.
"ya udah deh kakak masuk dulu ya"
kak aida pun berjalan masuk ke dalam rumah.
vani berjalan mendekati dika yang sudah duduk di kursi teras itu sedangkan yuli dan hana juga langsung masuk ke dalam rumah masing masing.
"mas, udah lama sampenya?"
tanya vani lalu duduk di kursi yang berada di samping dika.
"belum, baru aja" dika menjawab datar.
"oh"
vani mengangguk, bingung harus mengatakan apa akhirnya ia hanya diam saja.
cukup lama mereka saling terdiam hingga akhirnya vani kembali berdiri dari duduknya.
"em, aku masuk dulu ya mas"
vani beranjak hendak melangkah masuk. namun dika menahannya agar tidak pergi.
"sayang,,,"
"ada apa?" vani menoleh menatapnya.
"kamu udah siap buat pulang hari ini kan?"
"em, aku masih butuh waktu mas"
"waktu buat apa sih sayang, biar kamu bisa ketemu terus sama cowok yang tadi?"
"ck! kamu apa apaan sih mas. bang doni itu cuma temen aku dan kamu enggak ada hak buat cemburu"
vani menarik lengannya dari genggaman dika lalu berjalan masuk.
dengan cepat dika pun mengikuti langkah vani masuk ke dalam rumah.
"sayang, kok kamu ngomongnya kaya gitu sih. aku ini kan pacar kamu"
dika kembali menahan lengan vani agar berhenti melangkah menuju kamarnya.
"aku enggak suka ya kamu terlalu banyak aturan kaya gini. maksudnya aku enggak boleh punya temen lagi gitu?"
ujar vani yang sengaja mencari keributan.
"bukan gitu sayang tapikan..."
"udahlah mas, aku enggak mau pulang hari ini"
"kalo kamu enggak mau pulang, aku bakal tungguin kamu terus disini sampe kamu mau pulang"
"terserah kamu.."
vani melangkah masuk ke dalam kamar.
dika pun duduk di atas sofa ruang tamu itu sambil menunggu vani keluar dari dalam kamarnya.
hingga sore hari, kak aida masih melihat dika duduk bersandar di sofa ruang tamu sambil menunggu vani keluar dari dalam kamarnya.
"loh dika masih disini tapi kok vani enggak ada ya?" kak aida bertanya tanya sambil berpikir.
aida pun melangkah masuk ke dalam kamar adiknya untuk menanyakan hal tersebut.
ceklek!
pintu kamar vani terbuka, kak aida melihat adiknya yang sedang asik tiduran sambil mendengarkan musik dengan menggunakan earphone di telinganya.
"vani..."
kak aida mengusap pelan lengan vani agar mendengar panggilannya.
"ada apa sih kak"
vani pun membuka mata dan earphone di telinganya.
"kamu kok di kamar terus sih, itu dika masih nungguin kamu loh di ruang tamu" ucap aida.
"ck! biarin ajalah kak. kalo kakak bosen liatnya ya udah usir aja" ucap vani membuat kak aida marah mendengarnya.
"vani..! kamu enggak boleh ngomong kaya gitu, kamu ini udah dewasa jadi harusnya kamu juga bersikap dewasa"
kak aida menasehati adiknya.
"maksud kakak, aku harus gimana?"
vani bertanya dengan mata yang berkaca kaca.
"em, emangnya kamu lagi ada masalah apa sih sama dika. kemarin itu kakak liat kalian mesra kenapa sekarang kamu jadi sedih gini?"
"aku enggak papa kok kak"
vani menghapus air matanya yang menetes.
"ayo kamu temuin dika dulu ya, kasian dia nungguin kamu terus kaya gitu. seleseiin masalah kalian dengan baik baik, kakak engga mau kamu nyakitin hati orang lain kaya gini"
kak aida mengusap lembut rambut adiknya.
"iya kak"
__ADS_1
vani mengangguk lalu kak aida pun keluar dari dalam kamar adiknya.