Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 107


__ADS_3

setelah beberapa lama menunggu akhirnya dokter pun keluar menemui keluarga vani di luar ruangan.


dika segera berdiri dari duduknya mendekati dokter dan langsung bertanya tentang keadaan vani yang diikuti oleh rangga dan juga ray di belakangnya.


"dokter gimana dengan kondisi istri saya?" tanya dika setelah dokter itu berdiri di hadapannya.


"kondisi istri bapak masih belum stabil, dia juga masih belum sadarkan diri" dokter menjelaskan.


"lalu gimana dengan keadaan calon bayinya dok?" tanya rangga juga khawatir.


"itulah masalahnya pak, saat ini detak jantung bayi bapak sangat lemah hampir tidak terdeteksi jika kondisi ibunya juga tidak membaik dalam beberapa jam kemungkinan bayi bapak tidak dapat diselamatkan lagi"


"enggak!! itu enggak mungkin dokter" dika menggeleng


"sabar ya pak, kalau begitu saya permisi dulu" dokter melangkah pergi.


"anakku"


air matanya kembali menetes, dika hanya bisa mematung di tempat bahkan kakinya tidak sanggup berdiri dengan seimbang untuk menopang tubuhnya.


dunia dika seakan berhenti untuk sekejap saat dokter mengatakan tentang kondisi calon bayinya yang sangat lemah sekarang.


dika sangat menyesal ia merasa bersalah kepada istri dan anaknya. mungkin dika tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada istri dan juga calon bayinya.


"jangan tinggalin papa sayang" hiks!


dika memundurkan langkahnya kebelakang hingga bersandar pada dinding kemudian tubuhnya merosot kebawah memeluk lututnya sambil menangis.


"maafin papa sayang, ini semua salah papa. papa enggak bisa jagain kamu"


tangis dika menyesal sambil meremas rambutnya sendiri merasa frustasi karena kondisi bayinya kritis akibat dari ulah dan perbuatannya.


melihat adiknya sangat terpuruk dan merasa bersalah pada dirinya sendiri rangga pun mendekat lalu memegang kedua pundak dika hendak membantunya untuk berdiri.


"udah dika, ayo bangun"


rangga mencoba untuk menguatkan dika.


"sabar ya dika"


baru kali ini ray melihat kesedihan yang begitu mendalam di wajah sahabatnya itu.


tidak lama mama ratih dan papa hardi sampai di rumah sakit bersama dengan ranty dan keluarga vani yang lainnya termasuk abang dan kakak begitu pula adik sepupunya yuli dan hana juga datang.


"gimana keadaan vani rangga?"


mama ratih bertanya dengan sangat cemas kepada putranya.


"kata dokter kondisi vani belum stabil ma, detak jantung bayinya juga lemah banget sekarang kalo dalam beberapa jam kondisi mereka belum stabil kemungkinan bayinya enggak bakal bisa diselametin"


penjelasan rangga membuat mama ratih kembali merasa syok saat mendengarnya.


"apa maksud kamu rangga? itu enggak mungkin! calon cucu mama pasti bakal baik baik aja kan pa?"


mama menatap suaminya dengan derai air mata.


"iya ma, mama tenang ya. putri kita kuat kok jadi calon cucu kita juga pasti kuat"


papa hardi memeluk istrinya untuk menenangkan mama ratih yang hampir pingsan lagi.


"ini semua salah kamu dika! bukannya jagain istri kamu yang lagi hamil malah kamu nyakitin dia dengan selingkuh bener bener memalukan kamu"


mama ratih menunjuk ke arah putranya dengan marah.


"maafin dika ma"


dika mendekati mamanya dengan wajah sedih karena baru kali ini mama ratih marah kepadanya.


selama ini mama ratih tidak pernah marah pada kedua putranya meskipun mereka melakukan kesalahan karena rangga dan dika juga sangat jarang melakukan kesalahan besar sejak mereka dewasa.


"mama kecewa sama kamu dika! kalo sampe terjadi sesuatu sama vani dan calon cucu mama. mama enggak akan maafin kamu"


mama ratih terlihat benar benar marah kepada putra bungsunya itu.


"ma, udah ya jangan nyalahin dika terus dia juga pasti nyesel sekarang"


rangga membela adiknya karena kasian melihat dika yang sangat tertekan.


"apa kamu bilang dia nyesel? hh! udah terlambat tau enggak kamu"

__ADS_1


mama ratih tetap marah dan melangkah masuk kedalam ruangan vani meninggalkan dika di sana.


keluarga vani yang masih berada di sana pun menatap tajam ke arah dika karena sebenarnya rio ingin sekali menghajar adik iparnya itu namun aida selalu menahan adiknya agar tidak sampai melukai dika.


bagaimana pun juga mereka belum tau pasti kebenaran seperti apa yang terjadi.


beberapa keluarga masuk kedalam ruangan vani dan sebagian menunggu di luar ruangan.


yuli menatap dika yang sedang tertunduk di atas kursi sambil terus menyesali perbuatannya itu. ia sangat tidak percaya atas apa yang terjadi kepada dika saat ini.


yuli berpikir dika tidak mungkin mengkhianati kakaknya melihat karakter abang iparnya selama ini yang sangat baik kepada mereka namun bukti menunjukkan jika dika memang bersalah dan menyebabkan vani hampir kehilangan bayinya.


di dalam ruangan vani mama ratih kembali menangis saat menatap keadaan menantu yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri itu sedang terbaring lemah dengan alat bantu pernafasan dan selang infus di tangannya.


"kenapa jadi kaya gini sayang kamu bangun ya, mama akan selalu sayang sama kamu"


mama ratih mengusap lembut rambut menantunya itu.


aida mendekat lalu mengusap lembut perut vani sambil memegang tangan adiknya lalu berbisik untuk memberikan semangat.


"kamu yang kuat ya dek demi anak kamu semua pasti baik baik aja"


aida berbisik di telinga adiknya lalu mengecup kening vani.


sudah lama mereka menunggu kesadaran vani namun masih belum ada tanda apapun jika vani akan membuka matanya. hal itu membuat mama ratih dan yang lainnya semakin khawatir.


dika sendiri tidak berani masuk ke dalam ruangan istrinya karena mama ratih yang melarangnya dan meminta dika untuk menunggu di luar saja.


"pa, gimana ini tadi dokter bilang kalo dalam beberapa jam vani belum sadar juga bayinya enggak bisa di selamatin mama takut"


mama ratih menatap suaminya karena merasa sangat khawatir.


"sabar ya ma, semoga vani sama cucu kita akan baik baik aja" papa hardi hanya bisa menyemangati istrinya.


dari luar ruangan dika juga sangat gelisah menunggu kesadaran vani. berulang kali ia melihat istrinya dari balik pintu kaca ruangan itu namun vani masih belum sadarkan diri juga membuat dika sangat khawatir dengan keadaan istri dan anaknya.


rangga menatap dika yang sedang berjalan mondar mandir di depan pintu ruangan vani dengan sangat gelisah.


"dika mendingan lo masuk sekarang buat liat keadaan vani secara langsung"


rangga menepuk pelan bahu dika agar ia berhenti berjalan mondar mandir.


"apa gue boleh masuk bang? gue pengen banget liat vani sekarang" dika dengan tatapan penuh harap.


akhirnya rangga mengajak dika untuk masuk kedalam ruangan vani.


ceklek!!!


"ehem"


rangga dan dika masuk bersama membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu menoleh.


"tolong yang lain keluar dari ruangan ini dulu ya soalnya dika mau nemenin istrinya disini. harap bergantian ya"


rangga menatap semua orang yang ada di dalam ruangan vani termasuk mamanya sendiri meminta semua orang untuk keluar.


semua keluarga termasuk mama ratih yang masih berada di dalam ruangan itu pun akhirnya keluar dan membiarkan dika masuk untuk menemui istrinya.


bagaimana pun di bawah alam sadarnya pasti vani sangat butuh dukungan dari suaminya untuk tetap bertahan.


"makasih ya bang"


dika menatap rangga karena sudah membantunya untuk bisa masuk.


"ya udah gue keluar ya kalo ada apa apa langsung panggil dokter aja oke"


rangga mengusap pundak adiknya sebelum keluar.


"em" dika mengangguk


rangga melangkah keluar dari dalam ruangan vani agar dika bisa berdua saja dengan istrinya.


sesampainya di luar ruangan rangga melihat mama ratih dan papa hardi yang sudah terlihat lelah menunggu begitu juga dengan keluarga yang lainnya


"lebih baik sekarang semuanya pulang aja dulu buat istirahat di rumah ya, lagian ini udah larut malam dan enggak ada tempat buat istirahat disini"


rangga meminta yang lainnya untuk pulang termasuk orang tua dan juga istrinya agar mereka dapat beristirahat dengan baik di rumah.


"mama enggak mau pulang sebelum vani sadar" mama ratih ingin menunggu kesadaran menantunya.

__ADS_1


"tapi ma..." ucapan rangga tidak di gubris oleh mamanya


"terserah kamu kalo mau pulang, kamu pulang aja duluan mama mau tetap disini" mama ratih bersikeras.


"ya udah terserah mama aja deh"


rangga yang merasa pusing pun akhirnya memilih untuk meninggalkan perdebatan.


di dalam ruangan istrinya, dika hanya menatap vani dalam diam karena ia tidak tau harus berbuat apa.


dika mendekati bankar vani dan mengecup kening istrinya ia memeluk tubuh lemah itu sambil terus mengucap kata maaf di telinga istrinya.


"maafin aku ya sayang, aku udah salah kamu boleh hukum aku pake cara apapun tapi aku mohon jangan kaya gini ya. ini terlalu menyakitkan buat aku sayang plis aku enggak sanggup liat kamu kaya gini"


"sayang bangun dong aku kangen sama kamu. aku janji enggak bakalan nyakitin kamu lagi. kamu boleh marahin aku kamu juga boleh pukul aku, kamu boleh lakuin apapun asal kamu sama anak kita tetap sehat ya"


dika tidak tau harus mengatakan apa lagi saat ini ia hanya menatap istrinya dengan sendu dan berharap kondisi vani dan calon bayinya akan baik baik saja.


sudah hampir satu jam dika hanya diam menunggu kesadaran istrinya di sana dengan perasaan yang sangat cemas namun vani masih betah menutup matanya.


"sayang, maafin papa ya. jagoan papa pasti kuat di dalam sini kan papa mohon jangan tinggalin papa ya nak"


tangan dika tidak berhenti membelai lembut perut istrinya hingga akhirnya ia dapat merasakan pergerakan bayinya dari dalam.


"sayang, baby kita gerak kenceng banget nih. apa jagoan papa di dalam udah sehat?"


dika menempelkan telinganya di perut istrinya untuk meyakinkan diri jika ia tidak salah merasakan itu.


benar saja dari dalam perut istrinya bayi mereka kembali bergerak seperti sebelumnya.


"Alhamdulilah sayang baby kita udah bisa gerak lagi di sini"


dika tetap mengusap perut vani dengan satu tangan yang lain mengusap rambut istrinya.


tidak lama tangan vani mulai bergerak lalu membuka matanya secara perlahan.


"mas dika.." gumam vani.


"sayang kamu udah sadar? iya ini aku. aku disini sayang"


dika tersenyum karena vani memanggil namanya.


"jangan sentuh aku!"


setelah sadar vani langsung menarik lengannya yang sedang di pegang oleh dika.


"sayang maafin aku ya. aku enggak bermaksud,,,,"


"diam mas! aku enggak mau dengar lagi kata maaf dari kamu. tolong kamu keluar dari sini" vani mengusir dika.


"sayang tapi aku khawatir sama kamu dan anak kita juga"


"pergi!"


"sayang"


"pergi kamu mas! shh aw, perut aku sakit"


vani kembali memegang perutnya yang masih terasa sakit.


"sayang kamu kenapa?"


dika yang khawatir pun langsung memanggil dokter.


"sshh! mas, perut aku sakit,,,"


vani meremas lengan suaminya dengan kuat untuk menahan rasa sakitnya.


"tahan ya sayang sebentar lagi dokter datang"


dika menggenggam tangan vani untuk menenangkan istrinya.


"mas anak kita bakal baik baik aja kan? huh! huh!"


vani berusaha mengatur nafasnya agar tetap stabil.


"iya sayang, anak kita pasti baik baik aja kok"


dika mencoba untuk menenangkan istrinya meskipun sebenarnya dirinya sendiri tidak bisa tenang saat melihat vani kesakitan.

__ADS_1


"huh!! huh!!"


kondisi tubuh vani kembali drop.


__ADS_2