
beberapa hari kemudian dika dan vani harus pergi keluar kota untuk memantau perkembangan proyek baru di sana.
sebenarnya sangat berat untuk vani pergi meninggalkan raffa dalam waktu yang terbilang cukup lama karena selama ini vani tidak pernah jauh dari putranya itu.
"vani, kamu pergi aja mbak bakal jagain raffa disini" ranty mengelus lembut pundak adik iparnya itu.
"tapi mbak" vani ragu.
"kamu perginya kan enggak lama, lagian disana kamu bakal bareng sama dika" mbak ranty menyemangati.
"em, iya sih mbak"
"ya udah semangat ya, raffa bakal baik baik aja kok"
"em, makasih ya mbak"
vani berjalan mendekati raffa lalu memeluk putranya itu dengan sangat erat.
"sayang, mama harus pergi kerja di luar kota mungkin dua atau tiga hari baru pulang. affa baik baik sama tante ya disini, anak mama enggak boleh nakal oke"
"iya ma, mama ati ati ya pelgi keljanya"
"siap bos kecil ku" vani meletakkan tangan di samping dahi membentuk hormat pada putra kecilnya itu.
"mama pelginya sama papa ya?" tanya raffa tersenyum menggemaskan.
"em, iya sayang mama mau nemenin papa kerja tapi raffa enggak bisa ikut karena mama sama papa bakalan sibuk kerja disana"
"oooo affa endak bole itut ya ma" raffa mengangguk.
"iya sayang, mama janji nanti kalo kerjaan mama udah selesai mama bakal ajak affa liburan kita jalan jalan bareng ya" vani tersenyum menghibur putranya.
"janji? pelginya baleng papa uga ya ma" raffa mengulurkan jari kelingkingnya.
vani menatap jari kecil putranya dengan ragu, ia tidak yakin jika mereka bisa pergi bersama dika.
"em, kalo papa enggak sibuk ya sayang" vani memeluk putranya.
tidak terasa air mata vani kembali mengalir di pipinya, ia merasa saat ini dirinya benar benar tidak bisa melakukan sesuatu untuk mengabulkan keinginan putranya itu.
"mama jangan nangis ya, affa tayang mama. emuachh"
raffa mengusap air mata di wajah vani lalu mengecup kedua pipi mamanya itu.
"iya sayang, mama enggak nangis kok ya udah mama pergi sekarang ya. dahh sayang!"
vani melepaskan pelukan dari raffa lalu melambaikan tangan.
"dahh mama tantik" raffa juga melambaikan tangannya.
dika yang melihat interaksi manis antara ibu dan anak itu pun mendekati raffa. entah mengapa melihat mata anak berusia tiga tahun itu berkaca kaca membuat hati dika ikut sedih.
"hei jagoan jangan sedih lagi ya, om janji bakal jagain mama kamu disana. om juga bakal bawain hadiah buat jagoan kecil yang ganteng ini" dika menoel hidung raffa.
"benelan papa janji ya" raffa mengulurkan jari.
"okay deh om janji" dika membalas dengan jari kelingking juga membuat raffa tersenyum senang.
"dadahhh papa, mama" raffa kembali melambaikan tangannya.
"dahh sayang!!" dika dan vani tersenyum membalasnya.
di dalam mobil vani berterima kasih kepada dika karena sudah membuat putranya tersenyum.
"pak dika makasih ya karena bapak udah buat raffa senyum tadi sebelum kita pergi" vani menatap suaminya.
"hhhh! kamu ini ada ada aja deh vani, saya kan enggak ngelakuin apa apa cuma mau pamitan aja sama bos kecil kamu yang ganteng itu karena saya bakal pergi bareng mamanya yang cantik" dika tersenyum.
"em, maksud saya" dika hendak meralat ucapannya yang sudah memuji vani baru saja.
__ADS_1
"enggak papa kok pak, enggak usah sungkan gitu. saya tau kok kalo saya ini memang cantik jadi pasti bapak enggak bisa menolak kenyataan itu" ujar vani dengan pede nya.
"ppffttt...!! ternyata kamu sepede itu ya" dika menahan tawanya.
"em, iya apa menurut bapak saya ini enggak cantik?" vani menatap dika.
dika yang di tatap seperti itu pun menjadi gugup.
"ee, iya kamu memang cantik tapi sayang udah ada yang punya" gumam dika dengan suara pelan namun masih terdengar di telinga vani.
"iya, namanya juga cantik pak pasti banyak yang ngantri untuk memiliki gitu" vani sekali lagi dengan pede nya membuat dika semakin tertawa mendengarnya.
"haha, iya juga sih"
setelah melewati beberapa jam perjalanan akhirnya mereka pun sampai di sebuah vila mewah milik dika yang berada di kota itu. vila itu akan menjadi tempat tinggal mereka selama berada di sana.
"wah!!! ini vila punya bapak ya, bagus banget" vani memandang kagum pada vila mewah milik suaminya itu.
ya vani memang belum pernah datang dan mengunjungi vila itu karena memang vila itu berada di sebuah kota kecil.
lagi pula vila itu memang baru saja selesai di bangun dika sengaja membangunnya hanya untuk urusan pekerjaan saat berada di kota itu saja karena belum ada tempat wisata bagus di sana sehingga dika tidak pernah mengajak istrinya untuk berlibur ke vila itu.
"iya, ini vila kecil kok cuma untuk tempat sekedar santai kalo ada kerjaan di kota ini"
"sebesar ini kok di bilang kecil sih pak, bapak pasti punya banyak vila lain yang lebih besar ya"
"iya, ada beberapa sih di kota kota yang berbeda"
"ya udah deh pak, saya mau ke kamar dulu ya istirahat soalnya capek banget nih perjalanannya jauh"
"iya udah kalo gitu ayo kita istirahat dulu ya"
vani dan dika pun langsung masuk ke dalam kamar masing masing untuk beristirahat sejenak sebelum melakukan pekerjaan selanjutnya.
malam harinya dika mencari keberadaan vani di dalam kamarnya namun tidak melihat vani ada disana.
"vani?"
"vani!!!"
"kamu dimana sih?" gumam dika berjalan cepat sambil mencari keberadaan sekretarisnya yang selalu mengikuti setiap langkahnya itu.
saat sedang berkeliling mencari keberadaan vani, tidak sengaja dika pun melihat wanita yang di carinya itu sedang duduk di atas kursi panjang taman kecil yang berada di halaman belakang vila itu.
vani terlihat sedang melamun memandang bintang bintang di langit sambil merasakan sejuknya hembusan angin malam hari.
"huhh! ternyata kamu ada disini?" dika bernafas lega setelah menemukan keberadaan vani.
"lho bapak kenapa, kok ngosngosan gitu sih?"
vani melihat dika yang duduk di sampingnya dengan nafas masih terengah engah.
"saya cariin kamu dari tadi" keluh dika.
"cari saya! emang buat apa pak?" tanya vani bingung.
"saya pikir kamu hilang" ujar dika terdengar aneh.
"hilang? ye emangnya saya anak kecil pak" vani manyun.
"iya emang, kamu kan selalu ngikutin saya biasanya. ini tiba tiba kamu malah ngilang buat panik aja" omel dika.
"ih, enak aja bilangin saya anak kecil lagian emangnya kenapa kalo saya hilang bapak takut ya saya hilang dari hidup bapak" hehe nyengir vani.
"eh! kepedean banget sih kamu saya tuh cuma mau ngajak kamu makan malam bareng" ajak dika.
"emangnya harus sama saya gitu, kan bapak bisa makan sendirian"
"iya, enggak bisa" dika mengangguk lalu menggeleng
__ADS_1
"emang pak dika mau saya suapin?" hehe
dika hanya diam menatap vani dengan wajah datar.
"hehe bercanda pak. em, saya belum lapar pak bapak makan duluan aja deh" vani menolak secara lembut.
"kalo kamu enggak makan nanti kamu bisa sakit"
"emangnya kenapa kalo saya sakit pak?" vani tersenyum.
"itu akan merepotkan saya"
dika menjawab dengan datar membuat senyum di wajah vani menghilang dan akhirnya memanyunkan bibirnya.
drt! drt! drt!
ponsel vani berdering tanda ada panggilan masuk yang ternyata dari mbak ranty.
vani langsung menjawab panggilan video dari ranty yang ia yakini pasti raffa yang memintanya.
setelah sambungan video itu terhubung, vani tersenyum menatap wajah putranya di layar ponsel.
"hai sayang mama" vani melambaikan tangan pada layar ponsel.
"hai mama, affa tanen mama" raffa tersenyum bahagia saat melihat wajah mamanya.
"mama juga kangen banget nih sama affa sayang"
dika yang melihat vani sedang berbicara dengan raffa ditelpon itu pun mendekat dan ikut bergabung menyapa putranya.
"hai jagoan, lagi ngapain nih?" tanya dika yang sudah duduk mendekat dan ikut menatap layar ponsel vani.
"hai papa! affa lagi bobok nih" raffa bahagia karena dapat melihat kedua orangtuanya secara bersamaan.
"oh jagoan lagi bobok ya"
"iya pa afa lagi tanen nih pengen tetemu mama tama papa. talo afa bobok pasti tetemu deh hehe" ujar raffa lucu namun membuat vani merasa sedih karena putranya hanya bisa menahan rindu kepada mereka saja.
"em pinter banget sih, affa jangan sedih lagi ya mamanya kan lagi kerja papa janji nanti kalo pulang bakal beliin affa mainan baru" ujar dika yang akhirnya menyebutkan dirinya dengan panggilan papa kepada raffa.
vani yang mendengar ucapan dika kepada putra mereka itu menatap suaminya dengan mata berkaca kaca menahan harunya. pasalnya selama ini dika selalu menyebut dirinya sebagai om kepada raffa namun hari ini dika menyebut dirinya sebagai papa di hadapan putra mereka itu.
raffa tersenyum bahagia di balik layar karena sekarang dika sudah menerima panggilan papa darinya.
ayah dan anak itu pun terus bercerita sambil tertawa dalam panggilan video itu, mereka asik dengan obrolan berdua sedangkan vani hanya menatap kedua laki laki yang di cintainya dengan tersenyum dalam diam.
'mas dika, seandainya kamu ingat kalo raffa itu memang benar anak kamu' batin vani dalam lamunannya sambil terus menatap wajah dika dari samping.
"mama tenapa tok diem aja sih pa?" raffa melihat mamanya hanya diam saja sejak tadi membuat dika juga menoleh kepada vani yang sedang menatapnya dari dekat.
"mungkin mama kamu liatin papa karena papa ini ganteng banget sayang" ujar dika tersenyum.
"haha iya pa"
vani yang tersadar pun langsung mengalihkan pandangan kearah layar ponsel yang sudah berada di tangan dika itu.
"eh, enggak kok sayang. mama cuma.." vani bergeser duduk semakin dekat dengan dika agar dapat melihat wajah putranya di ponsel.
"ditu dong mama tama papa halus deketan telus affa ceneng deh liatna" raffa yang melihat dika dan vani duduk berdekatan bahkan tanpa ada jarak di antara tempat duduk mereka pun tersenyum.
"oke deh sayang papa sama mama bakal deketan terus"
dika merangkul pundak vani membuat vani merasa canggung melihat tangan dika yang kini berada di pundaknya itu.
"uda dulu ya ma pa, afa mau bobok nih" raffa pun mengakhiri telponnya.
"iya sayang. affa bobok yang nyenyak ya love you sayang mama emuachh" vani memberi kecupan jarak jauh dari ponsel itu kepada putranya.
"dahhh!!! mama papa emuach...." raffa melambaikan tangan dari balik layar saat akan mengakhiri telponnya.
__ADS_1
"dahhhh sayang" dika dan vani juga secara bersamaan melambaikan tangan mereka.