Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 177


__ADS_3

tidak lama, ray dan yuli pun datang mereka baru saja tiba pagi ini setelah pulang dari london dan sedang mampir ke rumah wijaya yang sudah menjadi orang tua bagi ray.


"assalamualaikum"


"walaikumsalam"


"hai kak vani, hai raffa sayang" sapa yuli saat ia melihat vani juga sedang berada di sana.


yuli mempercepat langkahnya hendak segera menghampiri vani dan langsung memeluk kakaknya itu.


"eh yuli, kalian udah pulang apa kabar?" vani membalas pelukan karena sangat bahagia dapat kembali bertemu dengan adiknya itu.


"iya kak, kami baik kok"


"syukurlah. baby di dalam juga sehatkan" vani mengusap lembut perut buncit adiknya.


"iya alhamdulilah sehat kak. kalian juga baik kan disini?"


"iya alhamdulilah baik semuanya" jawab vani.


"hei jagoan aunty afa udah besar sekarang ya. makin ganteng aja deh sayang aunty emuach"


yuli mengecup pipi raffa dan memeluknya untuk melepas rindu.


"iya dong aunty. affa kan emang ganteng dari lahir" jawab raffa tersenyum.


"ih afa emang enggak jauh beda ya sama papanya. bukan cuma mukanya doang yang sama tapi pede nya juga lho" yuli menoel hidung raffa dengan gemas.


"hehe" raffa hanya tersenyum.


"hai mas ray" sapa vani juga pada ray.


"hai vani. apa kabar?" balas ray.


"kami baik mas. kalian juga baikkan?"


"syukurlah, alhamdulilah kami juga baik"


ray tersenyum lalu mendekat kepada papa hardi dan mama ratih untuk bersalaman.


"apa kabar om tante?"


"alhamdulilah baik nak"


"lho ray, kalian udah pulang ya. alhamdulilah om baik nak"


mama ratih dan papa hardi menyambut ray dan yuli yang mendekat hendak salim pada mereka.


"iya nih om tante kerjaan mas ray udah normal lagi di sana. lagian bang dika juga udah minta kami pulang waktu itu iya kan mas?" yuli menatap ray.


"iya om" ray mengangguk dan tersenyum.


"oh ya udah kalo gitu kalian istirahat aja dulu ya" ucap mama ratih kepada ray dan yuli.


"oh enggak usah tante makasih kita mau langsung pulang ke kampung soalnya ini" jawab yuli yang sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan keluarganya juga.


"loh kamu kan lagi hamil besar yuli gimana kalo nanti kamu kecapekan kalian baru aja sampe" mama ratih khawatir dengan kesehatan yuli.


"iya sih tante tapi aku udah pengen banget ketemu mama di kampung udah dari lama pengennya" yuli menunduk murung karena sangat merindukan orang tua dan keluarga di kampung.


"oh gitu. ya udah deh kalo emang kangen banget enggak papa. kalian pulangnya sekalian aja bareng vani sama raffa ya soalnya mereka juga mau pulang ke kampung" ujar mama ratih.


"oh ya serius kak?" yuli menatap vani.


"em" vani tersenyum sambil mengangguk.


"aaa... aku seneng banget! itu berarti kita bisa nyolong mangga bareng lagi dong kaya dulu" hehe yuli kegirangan hingga tidak sadar keceplosan di hadapan papa dan mama mertua vani itu.


"ck! sssttt!!! sssttt!!!" vani melotot ke arah adiknya sambil meletakkan jari di bibir meminta yuli untuk diam.


"ooppsss! maksudnya bisa makan mangga bareng lagi kaya dulu" hehe

__ADS_1


yuli meralat ucapannya dengan canggung karena merasa malu sudah mengungkap aib masa lalu mereka dengan sendirinya di hadapan semua orang disana.


"huh!!! dasar yuli" gumam vani memutar bola matanya.


papa hardi dan mama ratih hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat kepolosan dua menantunya itu.


ray tersenyum malu mendengar kisah aib istrinya dengan kakak sepupunya itu.


setelah selesai berpamitan dengan kedua mertuanya vani pun mengajak raffa untuk pulang ke kampung halaman mereka bersama dengan ray dan yuli yang juga akan pulang.


di dalam mobil vani dan raffa serta yuli duduk di bagian jok belakang mobil sedangkan ray duduk di bagian depan tepatnya di samping supir yang sedang membawa mobil.


yuli melihat raffa sudah tertidur di antara dirinya dan vani dengan kepala bersandar di pangkuan mamanya itu.


dalam keheningan yuli pun bertanya tentang maksud dari kepulangan vani ke kampung halamannya.


"kak, gimana sama hubungan kalian semua baik baik aja kan?" yuli menoleh menatap vani.


yuli tau benar bagaimana kakaknya itu pasti sedang terjadi sesuatu yang membuat vani tidak dapat bertahan lagi sehingga ia memutuskan untuk pulang.


"semuanya baik kok yul" jawab vani singkat.


"kalo baik terus kenapa kamu malah pulang dan berhenti kerja?"


ray hanya diam mendengarkan pembicaraan di antara kedua wanita itu dari tempat duduknya. ia tau benar tentang maksud dari pertanyaan istrinya itu kepada vani.


"enggak papa, aku cuma kangen sama suasana kampung sekalian juga lepas penat setelah lama kerja beberapa bulan terakhir ini" jawaban vani masih dengan tenang.


vani berusaha untuk tetap tenang dan tidak mau menunjukkan kesedihan di hadapan adiknya itu saat ini.


"oh gitu" yuli hanya mengangguk mengerti. walaupun sebenarnya ia tidak percaya sepenuhnya dengan ucapan kakaknya itu.


yuli hanya berpikir jika saat ini vani belum ingin bercerita. ia akan menunggu waktu yang tepat untuk kembali bertanya pikirnya.


sesampainya mereka di kampung halaman, vani dan yuli pun langsung beristirahat di rumah masing masing. yuli yang kembali ke rumah orangtuanya dan vani masuk ke dalam rumah kakaknya.


sore harinya raffa terlihat sedang bermain dengan para sepupunya yang lain. ya meskipun raffa hanya akan duduk dan tersenyum menanggapi candaan dari teman temannya.


dari kejauhan vani sedang menangis menatap putranya yang terlihat menyendiri dengan pensil warna dan buku gambar di tangannya.


entah kenapa air mata vani menetes begitu saja kala mengingat putranya yang hampir satu tahun terakhir ini kurang menerima kasih sayang dan perhatian dari papanya.


"vani!"


kak aida mendekat dan menghampiri vani saat melihat adiknya itu sedang menangis dalam diam agar tidak terdengar oleh siapapun.


vani segera menghapus air matanya dan berbalik menatap kakaknya itu.


"kamu kenapa dek?" kak aida menatap adiknya.


"em, kakak. aku enggak papa kok" vani mencoba tersenyum.


"sebenarnya gimana sih hubungan kamu sama dika apa kalian lagi bertengkar?"


kak aida memberanikan diri untuk bertanya tentang masalah yang terjadi dalam rumah tangga adiknya itu.


"gimana mau bertengkar kak, kami bahkan udah jarang ketemu apalagi ngobrol bareng sekarang" vani menunduk.


"apa belum ada perubahan juga dalam ingatan dika sampe sekarang?"


"belum kak, dokter juga bilang ada kemungkinan mas dika enggak bakalan ingat lagi sama kenangan masa lalu yang hilang itu" vani semakin sedih.


"terus gimana sama raffa. apa dia enggak kangen sama papanya kalo kamu tinggal disini dan dika di sana" kak aida menatap keponakannya yang sedang asik sendirian.


"walaupun kami disana raffa tetap kangen sama papanya kak karena mereka jarang ketemu"


"kamu yang sabar ya dek, pasti allah bakal kembaliin lagi ingatan dika secepatnya" kak aida mengusap punggung adiknya.


"aamiin. Iya kak, aku baik baik aja kok lagian sekarang aku udah enggak kerja lagi jadi aku pulang deh"


"kenapa kamu enggak kerja lagi bukannya waktu itu kamu bilang, kamu kerja di kantor suami kamu lagi biar sekalian bisa jagain dia juga ya"

__ADS_1


"iya tapi sekarang mas dika udah enggak mau aku jagain dia lagi kak"


"kenapa?"


"oh iya kak, tadi aku tuh lagi masak. aduh pasti gosong deh nih !!" vani beralasan dan langsung berlari ke dapur untuk menghindari pertanyaan dari kakaknya.


"hem, pasti cuma alasan..." kak aida melangkah pergi.


beberapa hari berlalu, di kantor dika yang hendak masuk ke dalam ruangannya pun melihat meja kerja vani yang lagi lagi kosong. sudah beberapa hari ini vani tidak pernah masuk ke kantor membuat dika bertanya tanya.


"vani dimana sih, kenapa udah berapa hari ini dia enggak masuk kerja ya. apa dia lagi sakit atau jangan jangan dia...?" dika bingung sendiri.


tidak sengaja dika melihat rangga yang sedang berjalan menuju ruangannya.


"bang rangga, tunggu!!" panggil dika.


rangga yang mendengar panggilan dari adiknya itu pun menghentikan langkah kakinya.


"ada apa dik?" rangga menoleh.


"em, lo tau enggak kenapa vani enggak masuk kantor udah berapa hari ini?" tanya dika setelah mereka berhadapan.


"vani, em gue enggak tau tuh" rangga hanya mengendikkan bahunya.


"masa lo enggak tau sih bang, kan dia tinggal di rumah lo" dika menatap rangga dengan tidak yakin.


"iya tapi sekarang udah enggak lagi" rangga hendak melanjutkan langkah menuju ruangan kerjanya.


"hah!! maksud lo?" tanya dika membuat rangga harus mengurungkan niatnya untuk melangkah.


"iya. vani udah pergi dari rumah gue sejak beberapa hari yang lalu" jawab rangga kembali menatap dika.


"apa!! serius lo bang vani pergi. kemana?" tanya dika kaget saat mendengarnya.


"iya mana gue tau" rangga mengendikkan bahunya.


"masa lo enggak tau sih bang" dika dengan wajah murung.


dika terlihat diam memikirkan sesuatu dengan raut wajahnya yang bingung.


"ya mungkin aja dia udah balik lagi sama suaminya"


rangga sengaja ingin menggoda dika dan melihat ekspresi wajah dari adiknya itu.


"em, maksud lo vani udah balikan sama mantan suaminya?"


"eh, sembarangan aja lo siapa bilang itu mantan suaminya. mereka tuh belum pisah jadi statusnya mereka ya masih resmi suami istri" rangga membuat dika semakin kaget.


"hah!! jadi maksud lo selama ini vani istri orang" dika semakin menunduk murung.


"menurut lo?"


"harusnya kan,,,"


"ah udahlah dik, gue males ngomong sama lo karena lo itu enggak gantleman jadi cowok kalo emang lo suka sama vani ya harusnya di perjuangin dong"


rangga kembali melangkah masuk ke dalam ruangannya meninggalkan dika sendiri yang masih kebingungan.


"maksud lo gue harus perjuangin istri orang gitu" ujar dika kesal dengan ucapan abangnya.


namun rangga tidak mempedulikan ucapan adiknya itu.


"ck! masa sih gue suka sama vani?"


"ya enggak mungkinlah apalagi kan dia istri orang"


dika pun berjalan dengan gontai menuju ruangan kerjanya setelah sampai di dalam ruangannya ia langsung duduk di atas kursi meja kerjanya itu.


dika duduk sambil masih berpikir dan bertanya pada diri sendiri.


"hem, enggak mungkin kan gue suka sama vani tapi kok gue kangen banget ya sama raffa" dika kembali teringat dengan senyuman manis putranya itu.

__ADS_1


__ADS_2