
di waktu yang bersamaan di dalam ruang tamu rumah itu juga, salah satu anak buah ray sedang berhadapan dengan rico sambil membawa koper berisi uang tunai ditangannya untuk di serahkan kepada rico.
"dimana istri saya?" tanya anak buah ray kepada rico.
"hhh! jadi elo suaminya naya? gue kira lebih cakep dari gue ternyata naya itu emang bodoh dari dulu" rico tersenyum mengejek.
"hhh! sebenarnya elo yang bodoh karena udah ninggalin naya, dia cewek yang pintar karena udah berhasil dapetin cowok kaya raya kaya gue ini"
anak buah ray sebenarnya tidak tahu siapa rico namun saat mendengar ucapan rico tentang kata dulu. ia berpikir jika pria di hadapannya itu adalah pria dari masa lalu naya.
setelah ikatan tali itu terlepas dari tubuh naya, ia merasa lemas dan lunglai hingga hampir terjatuh.
"naya! kamu baik baik aja kan?"
"saya enggak papa pak" naya berusaha menahan sakitnya.
"kamu tahan ya kita pulang sekarang" ray menopang tubuh naya yang hampir terjatuh.
"sshh akhh! perut saya sakit pak saya udah enggak kuat" naya merintih kesakitan.
"jangan bilang kaya gitu dong, kamu harus kuat naya" ray khawatir melihat wajah pucat naya.
mereka pun akhirnya berjalan secara perlahan dan keluar dari rumah itu melalui pintu belakang.
"hhh! saya enggak kuat jalan lagi pak sakit!!" naya merasa semakin lemah.
"maaf bos, sepertinya nyonya mengalami pendarahan"
salah satu anak buah ray melihat ada darah di kaki naya dari arah belakang.
"naya!"
ray membelalakkan matanya melihat tubuh naya jatuh pingsan dan langsung memeluk tubuh naya yang hendak terjatuh itu.
"nay, naya bangun sayang!"
ray langsung menggendong tubuh naya lalu berjalan cepat.
"kalian urus pria brengsek itu dan jangan biarkan dia lolos begitu saja"
perintah ray kepada anak buahnya sambil menahan rasa marahnya.
"baik bos" mereka mengangguk.
ray melangkah cepat berjalan ke arah mobil dengan salah satu anak buahnya yang akan menyetir karena ray sudah terlalu panik melihat keadaan naya.
mereka melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.
"brengsek! gue enggak peduli ya lo bilang apa yang jelas, serahkan uang itu sekarang juga" rico menatap koper di tangan anak buah ray.
"hhh! selain kaya gue juga enggak bodoh, gue bakal kasih uang ini setelah gue liat istri gue ada di sini" anak buah ray menatap rico sambil tersenyum semirk.
"oke, gue bakal bawa dia ke sini"
rico berjalan ke arah belakang hendak membawa naya kepada anak buah ray.
sesampainya di dalam kamar itu rico melihat naya yang sudah tidak ada di sana.
"sial! dimana naya"
rico mengalihkan pandangannya ke sana kemari namun tetap tidak menemukan naya disana.
rico melihat dua orang temannya yang sudah pingsan tergeletak di lantai.
"siapa yang udah berani...."
bughhh!!!
"aakkhh"
suara teriakan rico saat tiba tiba saja dari arah belakang seseorang menghantam keras bagian tengkuknya dengan benda tumpul hingga membuatnya jatuh pingsan.
bruk!! tubuh rico jatuh ke lantai sama seperti dua orang temannya yang lain.
"dasar bodoh! beraninya dia main tunggal menghadapi bos ray yang terkenal tanpa ampun"
ujar salah satu anak buah ray yang sudah memukul rico hingga pingsan itu.
__ADS_1
"hhh! benar sebentar lagi dia akan menyesalinya seumur hidup"
"ayo bawa mereka!" ucap kepala anak buah.
"baik bos"
akhirnya mereka membawa rico yang sudah pingsan untuk di sekap di sebuah gudang milik mereka.
di rumah sakit ray sedang duduk di samping bankar naya menunggu hingga wanita itu sadar.
"naya maafin saya ya, saya enggak bisa jagain kamu" ray menggenggam tangan naya.
cukup lama ray menunggu namun naya tetap belum sadarkan diri.
hingga sore hari dika yang sudah pulang dari kantor pun datang ke rumah sakit menemui ray setelah sebelumnya ia bertanya dimana keberadaan sekretarisnya itu sekarang.
ceklekk!!!!
dika membuka pintu ruangan naya secara perlahan dan melihat sahabatnya yang sedang duduk disana.
"ray, gimana keadaan naya?" tanya dika.
"naya belum sadar dik" ray menatap naya.
"lo yang sabar ya gue turut prihatin, em gimana sama penculiknya. apa lo udah serahin ke kantor polisi?"
"belum, dia masih ada di dalam tahanan kita" jawab ray.
"terus apa yang mau lo lakuin ke dia?"
"gue juga belum tau dik, sekarang gue cuma mau fokus ke naya aja" ray menunduk.
"gue ngerti banget perasaan lo sekarang karena gue juga udah beberapa kali ngerasain hal kaya gini waktu vani hamil" dika mengusap pundak ray memberinya semangat.
"thanks ya dik, lo emang sahabat terbaik" ucap ray.
"tumben lo muji gue, hhh! pasti ada maunya" dika mengalihkan pandangannya.
"hhh! lo bener, gue mau minta tolong sama lo..." ucapan ray menggantung karena dika menimpalinya.
"lo mau minta gue buat bohong lagi sama istri lo kan?" dika yang sudah mengerti.
"ray please lah lo kan punya asisten yang udah lo percaya buat jagain naya, lo bisa minta dia buat nemenin naya di sini. kalo lo kaya gini terus bisa bisa istri lo bakal tau tentang naya" dika memberi saran kepada ray.
"tapi dik, gue nggak bisa tenang kalo gue harus ninggalin naya dalam keadaan kaya gini" ray menolak saran dari sahabatnya.
"kenapa ray, apa karena lo terlalu cinta sama naya dan lo udah enggak perduli lagi sama anak dan istri lo yang lain"
dika merasa kesal karena mengingat adik iparnya yang tersakiti oleh perbuatan sahabatnya sendiri.
"dika bukan gitu..." ray tidak bisa membela diri.
"cukup ray, gue tau lo sahabat gue tapi yuli juga adek ipar gue lo tau kesedihan dia adalah kesedihan buat istri gue juga jadi sorry gue gak bisa bantu lo lagi. kalo lo emang udah enggak sayang sama yuli lebih baik lo lepasin dia dan lo bisa hidup bahagia sama naya" dika berjalan keluar dari dalam ruangan itu.
"dika!" panggil ray namun dika tidak mau menghentikan langkahnya dan tetap pergi dari sana.
sebenarnya dika tidak tega melihat sahabatnya merasa kebingungan dengan posisinya saat ini namun dika juga tidak tega membayangkan bagaimana perasaan seorang wanita yang di khianati pasti akan sangat terluka pikirnya.
dika akhirnya pulang dan meninggalkan ray di rumah sakit sendirian.
di rumah sakit ray semakin bingung dengan keadaannya, di satu sisi ia tidak tega meninggalkan naya namun di sisi lain ia juga tidak siap kehilangan anak dan istrinya.
menjelang malam tiba, ray pun menghubungi mini dan memintanya untuk segera datang ke rumah sakit agar menjaga naya.
ray menatap naya dengan mata yang berkaca kaca lalu meminta maaf.
"maafkan saya naya, maafkan saya"
ray tidak sanggup harus mengatakan apapun ia hanya bisa meminta maaf lalu keluar dari dalam ruangan naya untuk segera pulang.
akhirnya ray memilih untuk mempertahankan keutuhan rumah tangganya dan meninggalkan naya sendirian.
setelah kepergian ray, naya membuka matanya dan langsung mengalir air mata di sudut mata gadis itu.
'saya ngerti pak ray, seharusnya dari awal memang bapak enggak perlu mengasihani saya tapi terima kasih banyak atas kebaikan bapak yang sudah membantu saya selama ini' batin naya sambil menangis dalam diamnya.
tidak lama mini datang dan masuk ke dalam ruangan naya, naya langsung menghapus sisa air matanya dan pura pura kembali tertidur.
__ADS_1
"loh dimana pak ray? kok sudah pergi ya padahal saya belum datang"
mini menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu ia duduk di kursi yang berada di samping bankar naya menatap mata naya yang masih terpejam.
"ya ampun kok bisa gini sih nyonya" mini melihat bekas luka di wajah naya.
"nyonya cepat sadar ya" mini mengusap lengan naya.
di rumahnya ray merasa sangat gelisah namun ia mencoba untuk bersikap biasa saja di hadapan istrinya.
akan tetapi yuli yang sudah sangat faham dengan suaminya itu pun mengerti jika sebenarnya ray sedang tidak baik baik saja.
"mas, kamu kenapa kok kayanya gelisah banget sih?" yuli tersenyum sambil mengusap lembut lengan suaminya.
"em, enggak papa kok sayang ini aku lagi banyak kerjaan aja kamu tau kan kantor masih ada di masa sulit"
"oh ya? tapi bukannya waktu itu kamu bilang keadaan kantor udah mulai stabil lagi ya mas karena pak rangga udah ngasih pinjaman besar dari london"
"em, iya sayang tapikan perusahaan harus punya nama baik lagi di dalam dunia bisnis jadi aku masih harus terus berusaha kasih yang terbaik" ray tersenyum menatap istrinya.
"oh gitu, suamiku ini emang yang terbaik deh" yuli memeluk tubuh suaminya dari samping.
"makasih sayang" cup! ray membalas pelukan dari istrinya.
'maafin aku ya sayang, seandainya kamu tau siapa suami kamu ini yang sebenarnya mungkin kamu bakal bilang kalo aku ini adalah pria yang terburuk di dunia ini' batin ray sedih sambil memejamkan mata memeluk istrinya itu.
"mas, kamu nangis ya?" yuli merasakan getaran di tubuh suaminya karena menahan air mata.
"enggak kok sayang" ray mencoba tersenyum.
"mas kalo kamu ada masalah tolong ceritain sama aku ya, aku ini kan istri kamu tempat berbagi kebahagiaan dan kesedihan kamu juga" yuli mengusap pipi suaminya.
"iya sayang, maafin aku ya aku cuma enggak mau berbagi kesedihan sama kamu karena aku cuma mau liat kamu tersenyum" ray memegang kedua sisi wajah istrinya.
"tapi aku juga bisa jadi tempat kamu berkeluh kesah mas. kalo kamu capek kerja terus bilang aja sama aku nanti aku bakal marahin bang dika biar dia enggak ngasih kerjaan yang banyak terus ke kamu" yuli menghibur suaminya yang sedang sedih.
"hehe. kamu lucu banget sih sayang kan kalo aku di kasih banyak kerjaan berarti bakal di kasih banyak bonus juga"
ray tersenyum dengan ucapan istrinya yang ingin memarahi bosnya itu.
"iya aku enggak peduli kok sama uang bonus mas asalkan kamu enggak ngerasa tertekan lagi karena banyak banget kerjaan yang dikasih sama bos kamu. selama gaji kamu masih cukup buat kita makan ya udah aku enggak butuh banyak uang apalagi barang mewah asalkan bisa bareng kamu terus" yuli kembali memeluk suaminya.
hal itu membuat hati ray semakin teriris mendengarnya karena wanita yang sudah begitu baik dan sangat tulus mencintai dirinya itu telah ia khianati dengan menikahi wanita lain.
"maafin aku ya sayang" ray semakin memeluk erat tubuh istrinya.
"oekk! oekk"
baby arka menangis karena terbangun dari tidurnya.
"em, sebentar ya mas anak kita nangis tuh"
yuli melepaskan pelukan mereka lalu beranjak hendak segera menggendong putranya yang sedang menangis.
"iya sayang"
ray kembali menatap ponselnya namun ia merasa ragu untuk menghubungi mini agar mendapat informasi tentang keadaan naya di rumah sakit.
"sayang, anak mama kok nangis sih?" yuli tersenyum menatap bayinya.
"sayang, arka kenapa?" ray mendekati istrinya dan melihat putranya sedang menangis.
"enggak tau nih, kangen sama papa kayanya"
"sini papa gendong ya sayang"
"cup! cup! cup! sayang jangan nangis ya" emuch!
"bentar ya mas aku ke dapur dulu" yuli menatap suaminya.
"iya sayang" ray mengangguk.
"sayang, arka haus ya? bentar ya mama masih ke kamar mandi kayanya sayang"
ray menggendong arka dan mencoba untuk menenangkan tangis putranya itu. tak lama arka terdiam dan tersenyum di dalam gendongan papanya.
"kamu manis banget sih sayang kaya mama kamu"
__ADS_1
ray tersenyum menatap putranya yang juga sedang tersenyum kepadanya.