
keesokan harinya dika mengajak vani pergi ke dokter kandungan untuk melakukan serangkaian pemeriksaan kehamilan termasuk melakukan USG agar dapat melihat kesehatan calon bayi kedua mereka yang sedang tumbuh di dalam rahim istrinya saat ini.
sesampainya di rumah sakit vani dan dika langsung masuk ke dalam ruang pemeriksaan yang akan di lakukan oleh dokter spesialis kandungan karena sebelumnya mereka sudah membuat janji terlebih dahulu.
vani berbaring di atas bankar karena dokter akan segera melakukan pemeriksaan terhadap dirinya.
sebelum meletakkan alat pemeriksaan itu di atas perut vani terlebih dahulu dokter mengoleskan gel pada bagian perutnya.
dokter menggerakkan alat usg itu di permukaan perut vani sehingga terlihatlah janinnya di dalam layar yang berada di hadapan mereka.
secara bersama keduanya menatap layar dengan perasaan bahagia dan haru.
"selamat ya pak dika, istri bapak memang benar benar sedang hamil saat ini dan kondisi janinnya juga sehat. bapak bisa lihatkan ini calon bayi bapak" dokter menunjukkan hasil yang terlihat di dalam layar.
"iya dokter terima kasih" dika tersenyum lalu mengecup kening istrinya.
"kandungan istri bapak sekarang sudah memasuki usia dua belas minggu yang berarti akan melewati trisemester pertama jadi bapak sama ibu enggak perlu terlalu khawatir semuanya sehat dan baik kok" dokter menjelaskan.
awalnya dika merasa aneh saat mendengar penjelasan dari dokter tentang usia kandungan istrinya yang akan melewati bulan ketiga itu.
bagaimana mungkin vani tidak mengetahui tentang kehamilannya selama itu bahkan istrinya juga tidak mengatakan tentang kehamilannya sejak awal kepada dirinya membuat dika bingung namun ia langsung menepis keraguan di dalam hatinya dan berpikir mungkin saja hasil pemeriksaan dokter yang salah.
"alhamdulillah, terima kasih dokter" dika tersenyum.
"baiklah bu vani ini hasil USG serta beberapa vitamin dan susu hamil jangan lupa di minum ya" dokter menjelaskan setelah selesai dengan pemeriksaannya.
"baik dokter terima kasih kalo gitu kami permisi dulu ya"
"sekali lagi selamat ya pak dika bu vani"
"iya dokter"
dokter memberi selamat kepada pasangan suami istri itu atas kehamilan anak keduanya.
setelah selesai dika langsung mengajak istrinya untuk kembali pulang agar vani bisa beristirahat.
dengan lembut dika terus memeluk tubuh istrinya sambil berjalan hati hati menuju mobil. sesampainya di dekat mobil ia pun membukakan pintu mobil untuk istrinya.
vani merasa sangat bahagia atas perlakuan lembut dari suaminya itu. mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah mereka namun saat dalam perjalanan vani meminta dika untuk menghentikan laju mobilnya karena ia melihat penjual martabak telur di pinggir jalan.
"mas berhenti!!" dengan sangat tiba tiba vani berteriak membuat mobil berhenti mendadak karena dika kaget mendengar teriakkan istrinya itu.
"ada apa sih sayang? aku kaget loh, kamu tau kan ini tuh bahaya buat kita sama pengendara lain juga kalo berhenti mendadak" omel dika kepada istrinya.
"maaf ya mas, lagian kenapa kamu langsung berhenti mendadak kaya gitu kan bisa berhentinya pelan pelan aja"
"hhh! kan aku kaget sayang. udah deh, emangnya ada apa kamu minta kita berhenti di sini?"
"mas, sebentar ya aku pengen banget beli martabak itu dulu" vani hendak keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
"jangan sayang, biar aku aja ya yang turun buat beli. kamu di dalam mobil aja liat deh antriannya panjang banget nanti kamu capek berdiri" dika menahan tangan istrinya agar tidak keluar dari dalam mobil.
"em, iya deh makasih ya mas" vani tersenyum manis.
"jangan bilang makasih gitu dong sayang ini kan emang udah jadi kewajiban aku sebagai suami yang baik buat kamu" dika mengelus lembut pipi istrinya.
"iya kamu juga papa yang baik banget buat anak kita" vani mencubit gemas kedua pipi suaminya.
setelah memarkirkan mobil di pinggir jalan dika pun keluar dari dalam mobil hendak membelikan martabak telur yang sangat diinginkan oleh istrinya itu.
setelah membeli martabak mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang. meskipun harus mengantri lama untuk membelinya namun melihat senyuman mengembang di wajah istrinya sudah membuat dika merasa senang.
akhirnya vani dan dika pun sampai di rumah. kepulangan mereka disambut oleh hana dan raffa yang sudah tidak sabar ingin mendengar kabar baik dari keduanya.
"assalamualaikum" dika dan vani melangkah masuk ke dalam rumah secara bersamaan.
"walaikumsalam" raffa langsung mendekati mama dan papanya sambil tersenyum.
"mama, papa dari mana aja sih? afa cariin dari tadi" raffa langsung memeluk mamanya.
"maaf ya sayang tadi mama sama papa harus ke rumah sakit jadi enggak ajak afa deh"
"ya udah sekarang afa jangan marah lagi ya papa udah beliin afa banyak mainan nih" dika membujuk anaknya.
"makasih ya papa" raffa memeluk papanya.
"em, kak vani gimana tadi hasilnya. apa yang dokter radit bilang kemaren itu emang bener?" tanya hana.
"alhamdulillah. akhirnya afa beneran bakal punya adek"
"afa seneng enggak, bentar lagi afa mau punya adek loh" hana menggendong keponakan kesayangannya itu sambil bertanya.
"seneng banget dong bik. kalo afa punya adek berarti afa bisa punya temen main dong di rumah" raffa tersenyum.
selama ini raffa sudah semakin dekat dengan hana dan ia juga selalu mengikuti kemana pun bibinya itu pergi.
akhir akhir ini raffa juga jarang memiliki waktu bersama mama dan papanya.raffa sangat senang saat tahu jika sebentar lagi ia akan punya seorang adik.
"iya sayang, nanti afa bakalan sayang sama adek kan?" vani mengusap lembut pipi putranya
"iya pasti dong ma" raffa mengacungkan jempolnya.
"pinter banget anak mama" vani mengusap rambut putranya.
"pasti pinter dong kan anak papa" dika menggendong putranya.
malam hari saat dika sedang fokus bekerja di dalam ruang kerjanya. tiba tiba saja ia menghentikan aktivitasnya dan kembali teringat dengan ucapan dokter pagi tadi tentang usia kandungan istrinya yang akan melewati bulan ketiga.
'kok bisa ya kandungan vani udah tiga bulan sekarang harusnya kan masih sekitar satu bulanan gitu, kenapa jauh banget bedanya apa memang itu cara perhitungan dokter" dika bertanya tanya di dalam hatinya.
__ADS_1
"em, apa mungkin vani selingkuh dari aku waktu aku masih lupa ingatan?" dika masih terus bertanya tanya.
"ahh! enggak!! enggak mungkin vani mengkhianati aku" dika menepis pikiran yang buruk tentang istrinya.
"tapi, apa mungkin anak itu bukan anakku?" dika kembali merasa ragu saat ia mengingat kedekatan diantara istrinya dengan pria bernama diki belakangan ini.
"enggak! enggak! aku enggak boleh ngeraguin anakku sendiri. iya itu pasti anakku, darah daging ku. aku enggak boleh meragukannya"
dika mencoba untuk tidak memikirkannya lagi meskipun itu sangat sulit ia lakukan.
hari terus berjalan dengan dika yang selalu berusaha untuk menepis keraguan di hatinya tentang calon bayi kedua mereka. karena jujur saja sampai saat ini dika masih memikirkan tentang usia kandungan istrinya itu.
seiring berjalannya waktu meskipun dika terus berusaha untuk percaya kepada istrinya namun tanpa sadar ia juga telah membangun jarak di antara mereka. dika kembali menghindari istrinya meskipun kerap kali vani mencoba untuk menggoda dan bersikap manja kepadanya.
malam ini saat hendak tidur vani dan dika sudah berada di atas ranjang. vani yang merasa belakangan ini hubungan mereka hambar pun berusaha untuk mencairkan suasana.
"mas, aku kangen deh" vani memeluk manja tubuh suaminya yang sedang duduk bersandar di atas ranjang.
"em, sayang aku masih banyak kerjaan nih. aku mau ke ruangan kerja dulu ya"
dika melepaskan pelukan istrinya lalu hendak melangkah keluar dari dalam kamar menuju ruangan kerjanya.
"ih mas dika! kenapa sih kamu nolak aku terus, akhir akhir ini kamu selalu menghindar. kamu udah enggak sayang sama aku lagi ya. apa karena sekarang aku udah jelek?" vani menahan tangan dika dengan mata berkaca kaca menatap suaminya itu.
"bukan gitu sayang, aku memang masih sibuk sekarang karena banyak kerjaan di kantor. kamu tau sendiri kan gimana banyaknya kerjaan aku di kantor belakangan ini. jadi aku harap kamu ngerti ya"
dika melepaskan tangannya dari genggaman vani dan melanjutkan langkahnya keluar dari dalam kamar.
vani hanya menatap kepergian suaminya dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.
malam ini terlihat ray sedang melakukan panggilan video dengan yuli karena banyak pekerjaan di kantor membuat ray tidak bisa sering pulang ke kampung halaman untuk mengunjungi istrinya yang sedang stay di sana menunggu hingga kelahiran anak pertama mereka.
di dalam percakapan itu juga terselip cerita tentang vani yang sedang mengandung anak keduanya dengan dika.
"sayang, gimana ya keadaan kak vani sekarang akhir akhir ini kami udah jarang telponan. sejak kabar kehamilan kak vani minggu lalu juga dia tuh enggak pernah jawab telpon dari aku lagi" curhat yuli kepada suaminya.
"em, mungkin vani lagi enggak mood telponan sayang. kamu tau sendiri kan gimana ribetnya mood ibu hamil" ray memberi pengertian kepada istrinya itu.
"iya sih mas, tapikan aku jadi kepikiran sama dia di sana"
"udah kamu jangan khawatir gitu dong sama vani, dia pasti baik baik aja kok kan ada dika sama hana juga yang selalu jagain vani di rumah" ray tetap sabar meskipun terkadang istrinya itu selalu membahas tentang kakaknya.
"iya deh maaf"
"ya udah mending kita bahas tentang baby kita aja, gimana keadaan kalian disana. maaf ya sayang aku belum bisa pulang soalnya sering kecapekan karena banyak lembur belakangan ini" ray selalu memberi penjelasan kepada istrinya padahal yuli sendiri sudah memakluminya.
"kami baik baik aja kok mas lagian aku ngerti kok kamu pasti capek kalo harus bolak balik setiap hari"
"syukurlah kalo gitu makasih ya kamu udah ngertiin aku. kamu jaga kesehatan terus ya sayang biar baby kita juga sehat sampe dia lahir nanti" ray tersenyum menatap istrinya.
__ADS_1
"iya mas"
keduanya bercerita setiap malam seperti itu hingga salah satunya ketiduran.