Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Balik kampung


__ADS_3

malam hari, di kediaman wijaya dika berjalan menuju ruang kerja rangga hendak menemui abangnya. terlihat saat itu rangga masih sibuk dengan berkas di tangannya.


tanpa mengetuk pintu dika langsung masuk dan duduk di kursi yang berada di hadapan rangga.


"bang gue mau ngomong sesuatu"


"hem, ngomong aja"


rangga tak menoleh karena masih fokus menatap berkasnya.


"vani mau cuti selama beberapa hari"


"oh baguslah, gue juga masih bingung harus nempatin vani dimana karena karin udah balik lagi sekarang"


rangga tetap sibuk menatap pekerjaannya.


"gue mau karin aja yang lo pindahin"


ucapan dika membuat rangga menoleh lalu menatap adiknya itu dengan bingung.


"oke, tapi kenapa lo engga minta karin buat berhenti kerja aja sih. kan bentar lagi kalian mau nikah terus dia bakal jadi ibu rumah tangga yang baik kaya mbak lo ranty"


rangga kembali menatap pekerjaannya.


"kayanya itu enggak bakalan terjadi deh bang, karena gue udah berubah pikiran sekarang"


"loh kenapa? lo tau kan bentar lagi papa bakal pulang dari london buat ngurus pernikahan lo sama karin"


"iya tapi gue..."


"tapi apa? udahlah dika jangan buat hidup lo makin rumit"


"apa gue harus nikah?"


"iya, setelah lo nikah nanti papa bakal ngajak mama buat tinggal di london dan kemungkinan gue sama mbak lo juga bakal tinggal disana"


"apa!! lo mau tinggal disana? tapi kenapa..."


"iya gue harus bantu papa disana, lagian anak papa kan ada dua jadi kita harus bantu papa buat ngurus kedua perusahaannya juga. gue ngurus yang disana dan lo yang ada disini" jelas rangga.


"emang lo bakal tinggal menetap disana?"


"iya, mau enggak mau"


"lo yakin?"


"kenapa? lo bisa kan ngurus dua perusahaan disini. gue yakin kok lo pasti bisa selama ada ray di samping lo"


"bukan itu masalahnya, tapi gue enggak mau nikah secepat ini bang"


"hhh! lo emang harus nikah dika karena mama enggak mau ninggalin lo sendirian disini. kalo udah nikah otomatis lo bakalan punya temen di rumah yang bisa ngurusin kenakalan lo itu jadi bakal ada juga yang merhatiin lo setiap hari"


"tapi gue kan enggak..."


"enggak ada tapi tapian dika, ingat umur lo juga udah tua"


"enak aja, gue masih muda tau" protes dika.


"emang lo mau nunggu apa lagi sih? sekarang papa udah sering sakit. gue bantuin kerjaan papa disana biar papa bisa istirahat dan jalanin pengobatan dengan baik. papa sama mama pengen punya cucu dari lo juga dika, apalagi mereka pengen banget punya cucu laki laki"


"iya kan lo juga bisa kasih cucu laki laki buat mama sama papa. gue bisa kok jaga diri gue sendiri"


"enggak usah ngebantah terus dika, emangnya kenapa lo malah mau batalin pernikahan sama karin sekarang? baru sadar lo kalo dia enggak beneran cinta sama lo..."


"gue enggak peduli lagi dia beneran cinta sama gue atau enggak yang jelas gue enggak cinta sama dia"


"terus, lo cintanya sama siapa?"


sebenarnya rangga sudah mengetahuinya namun ia sengaja menggoda adiknya itu.


"enggak usah pura pura enggak tau deh lo"


"hehe. oke oke tapi,,,"


"enggak pake tapi bang gue cintanya pake titik"


dika beranjak lalu melangkah keluar dari dalam ruangan rangga.


"hhh, sekarang aja lo bilang cinta pake titik dari dulu kemana aja lo" omel rangga meski dika tak lagi mendengarkannya.


*


di rumahnya saat ini vani sedang mengemas barang barang yang mungkin akan ia butuhkan ketika pulang ke kampung halaman.


begitu juga dengan yuli yang ikut mengemas barang bawaannya karena mereka akan pulang bersama untuk melepas rindu pada keluarga tercinta sekaligus melepas penat selama bekerja.


anggap saja seperti liburan bersama keluarga pikirnya.


"ehh, lo serius mau pulang kak?" tanya yuli.


"iya dong, emangnya kenapa?"

__ADS_1


"terus hubungan lo sama pak dika gimana, apa kalian udah putus?"


"hem" vani hanya menggelengkan kepalanya.


"loh! kenapa? bukannya tadi lo bilang pak dika udah datang kesini buat nemuin lo ya, terus kenapa lo enggak mutusin dia?"


mereka duduk di tepi ranjang dengan saling berhadapan.


"dia enggak mau putus padahal aku udah bilang ke dia kalo kita putus aja terus aku juga udah balikin cincin ini sama dia tapi malah di pakein lagi"


vani menatap cincin di jari manisnya.


"ya kenapa lo terima lagi cincinnya? karena lo masih cinta kan sama pak dika"


"aku pusing yul, masih bingung juga mendingan kita pulang aja dulu buat nenangin diri. mikirin masalah itu nanti aja deh"


vani malas membahasnya.


"ya udah terserah loh aja, lagian kenapa juga dia enggak mau putus atau jangan jangan....." yuli memasang wajah curiga.


"jangan jangan apa...?" tanya vani dengan wajah polosnya.


"jangan jangan pak dika mau nikah sama cewek itu terus lo di jadiin simpenan lagi" haha tebak yuli bercanda.


"ish! apaan sih yul, ya gue enggak mau lah jadi simpanan emang gue cewek apaan" vani kesal.


"ya terus kenapa dia nolak buat putus padahal udah punya calon istri? lagian elo juga ngapain diem aja waktu dia makein cincin ini balik ke tangan lo. ya berarti lo mau jadi simpenan dong" haha


yuli tertawa meledek kakaknya yang kesal.


"dia bilang kalo dia tuh enggak ada hubungan apa apa sama cewek itu, mereka cuma temen katanya"


"hem, terus lo percaya gitu?"


"ya enggak sih. sebenarnya aku mau pulang juga biar bisa jauh dari pak dika. aku mau lupain dia aja"


"yakin? lo mau lupain bos tampan pujaan hati"


"ck! udah deh yul mending sekarang kita tidur. aku capek mikirnya, ingat! besok harus bagun lebih pagi ya mana tau kan disana kamu bakal ketemu terus balikan sama mantan kamu lagi hehe" goda vani.


"ih, ogah banget gue enggak bakal mau mungut barang yang udah gue buang" ucap yuli kesal.


"sadis banget deh yul tapi hati hati loh sama ucapan kamu takutnya nanti kalo dia beneran jodoh kamu, kamu bakal nyesel bilang kaya gitu" haha


"ya Allah amit amit, jangan sampe itu terjadi" yuli bergidik membayangkannya.


"haha"


"elo tuh ya, awas aja kalo sampe mau jadi simpanan pak dika"


"iya mana tau, lo kan cinta mati sama dia haha"


"haha, enggak lucu deh" ucap vani malas.


"lo kan emang bucin"


"iya tapi secinta cintanya aku sama dia, enggak mungkinlah aku rela liat dia nikah sama cewek lain terus aku mau di jadiin simpenan"


"iya lo kan suka berbagi. lo bilang berbagi itu indah" haha.


"ya tapi nggak berbagi suami juga kali. lagian kan aku cuma suka berbagi sama kamu aja" vani tersenyum.


"loh, itu berarti lo mau berbagi suami sama gue dong?"


"ih! ya enggaklah, bukan gitu maksudnya tau... lagian emang kamu mau berbagi suami sama aku?"


"em,, kalo suaminya seganteng dan setajir pak dika boleh deh. hahaha" yuli tertawa.


"ih, yuli....!"


vani kesal sambil melempar bantal kearah yuli agar adiknya itu terdiam.


"haha, lucu kali ya kalo misalnya kita punya suami yang sama. kita bisa barengan terus malah bisa tidur bareng bertiga lagi, asikkan..?" yuli membayangkannya.


"otak kamu tuh yang perlu di cuci. mana ada cewek yang mau di madu apalagi tidur bareng sekamar sama madunya" vani merebahkan tubuhnya di ranjang.


"iya kalo madunya itu saudaraan terus bestian juga, bisakan...?"


"enggak!"


vani tak mau menyambung ucapan aneh adiknya.


"hehehe, gitu aja marah. kan aku cuma.."


"tidur!!!"


"iya iya deh. selamat malam besti" yuli tersenyum lalu memejamkan matanya.


vani kembali membuka matanya karena masih memikirkan tentang ucapan adiknya.


"kenapa kamu enggak jadi tidur?" tanya yuli yang melihat vani kembali membuka matanya.

__ADS_1


"eh! em, kamu kenapa belum tidur sih"


"iya, aku juga enggak bisa tidur nih"


"gimana kalo kita mabar dulu yuk...."


yuli mengambil ponsel mereka lalu membukanya.


"boleh deh" vani menerima tawaran adiknya.


akhirnya mereka pun main game bersama sebelum tidur.


*


keesokan harinya vani dan yuli sudah bersiap hendak pulang ke kampung halaman mereka.


keduanya tak sabar ingin bertemu keluarga yang sangat mereka rindukan itu. meskipun sebenarnya jarak kampung halaman tidak terlalu jauh dari kota namun mereka jarang sekali pulang weekend karena merasa lelah.


setelah selesai sarapan bersama vani dan yuli pun hendak segera pergi agar tidak kesiangan saat di perjalanan.


"bik, tolong jaga rumah ya. kami pamit dulu" ucap vani kepada asisten di rumah itu.


"baik non, hati hati di jalan ya" bik ina tersenyum.


"iya, makasih ya bik"


vani tersenyum memeluk bik ina.


setelah berpamitan dengan para asisten disana mereka pun keluar dari dalam rumah.


"huh!! akhirnya balik kampung juga kita"


yuli tersenyum sambil berjalan keluar.


tin! tin!


bunyi klakson mobil dika pun datang. ia berniat akan mengantar vani dan yuli pulang hari ini sekaligus ingin mengenal keluarga vani yang berada di kampung halaman.


yuli dan vani menatap mobil berhenti tepat di hadapan mereka itu dengan bingung.


dika tersenyum saat turun dari dalam mobilnya lalu berjalan mendekati vani.


"kalian udah siap?" tanya dika mendekat.


"loh, pak dika ngapain?"


yuli bingung melihat dika yang datang hanya dengan menggunakan pakaian rumahan.


"ya mau ngantar kalian dong"


"hah! serius?"


yuli kaget lalu melirik kakaknya yang hanya menatap diam.


vani membalasnya dengan mengendikkan bahu.


"kamu serius mas mau nganterin kami pulang kampung?" tanya vani kepada dika.


"iya serius dong sayang. kan aku sekalian mau kenalan sama calon mertua" hehe dika tersenyum.


'em, kak vani mau pulang kan buat ngehindar sementara dari pak dika. kenapa dia malah mau ikut?' batin yuli.


vani terdiam sambil berpikir apakah ia harus mengenalkan dika pada keluarganya sebagai kekasihnya.


"eh kak, serius nih?" bisik yuli mendekati vani.


"em, kamu enggak usah ikut ya mas. soalnya kami bakal ada acara keluarga disana, jadi lebih baik kamu ikutnya lain kali aja ya"


vani beralasan kepada dika untuk menolaknya.


"sayang, aku janji enggak bakal ganggu acara keluarga kamu disana. aku cuma pengen ikut sama kamu aja. plisss boleh ya?" bujuk dika dengan mata berbinar.


"tapi mas kamu...."


"plis sayang. aku bakal lakuin apapun asal kamu izinin aku ikut ya"


dika tetap bersi keras ingin ikut.


"em, ya udah deh, baguskan kita bisa pulang tanpa kepanasan" vani akhirnya pasrah.


"lah bener juga, gue kan jadi enggak capek bawa motor" yuli tersenyum senang.


"itu bener sayang. ayo aku bantuin"


dika segera membukakan pintu mobil bagian depan agar vani duduk di sampingnya. mengingat vani pernah duduk di belakang dan menganggapnya sebagai supir dika tidak mau itu terulang lagi.


"silahkan masuk tuan putri"


dika membuka pintu mobil sambil tersenyum.


"makasih"

__ADS_1


vani masuk ke dalam mobil sambil membalas senyum dari dika dengan tersenyum tipis.


yuli pun langsung masuk dengan sendirinya lalu duduk di jok belakang bersama kedua tas mereka.


__ADS_2