Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Kepulangan rangga


__ADS_3

yuli yang baru saja pulang bekerja merasa bingung saat melihat vani senyum senyum sendiri di dalam kamar.


"kenapa lagi nih orang, senyum senyum sendiri enggak jelas"


ujar yuli dengan suara pelan lalu ia berjalan masuk ke kamar mandi.


sebenarnya suara yuli tidak terlalu pelan hanya saja karena vani terlalu asik dengan ponselnya membuat dirinya tidak menyadari jika adiknya itu sudah pulang.


setelah selesai mandi yuli mendekat dan duduk di atas ranjang.


"ehem, cie yang lagi jatuh cinta senyum senyum terus nih"


celetuk yuli menggoda vani yang masih asik dengan ponselnya itu.


"eh yuli, kamu udah pulang?"


vani baru saja menyadari kepulangan yuli.


"yee,,, udah dari tadi kali. udah siap mandi juga nih, kamu aja yang keasikan sama bos tampan"


"hem, tau dari mana kamu?"


"ya tau lah. apa sih yang aku enggak tau tentang kamu" haha yuli tertawa.


"em, iya deh"


"oh ya gimana keadaan kamu, tadi jadi ke dokter kan?"


"Alhamdulillah kaki aku udah mendingan kok, lagian aku udah bosen di rumah terus pengen cepet sembuh biar bisa kerja lagi"


"hem, pengen cepet kerja atau pengen cepet ketemu bos ganteng?"


"em, dua duanya deh" vani tersenyum.


"haha. dasar kamu ya"


"oh ya yul, emang kamu beneran udah putus ya sama cowok kamu yang dulu itu?"


pertanyaan vani membuat wajah yuli berubah, ia malas membahas tentang masa lalunya.


"hem!" responnya singkat.


"kenapa?" vani masih penasaran.


yuli menoleh lalu menatap mata kakaknya.


"kamu udah tau jawabannya"


setelah mengatakan itu yuli pun kembali asik memainkan ponselnya.


vani yang mendapat jawaban seperti itu hanya mengangguk anggukkan kepala mengerti.


begitulah mereka, selalu saling memahami satu sama lain tanpa harus di jelaskan.


*


malam pun tiba, rangga baru saja pulang dari perjalanan bisnisnya di luar kota.


rara menyambut kepulangan papa tercintanya dengan hati yang gembira.


"Assalamualaikum"


salam rangga saat memasuki rumahnya.


"papa!"


teriak rara senang sambil berlari ke dalam pelukan papanya.


"rara sayang"


rangga pun memeluk dan menggendong putri semata wayangnya itu.


"rara kangen papa" rara memeluk erat papanya.


"papa juga kangen banget sama rara sayang" emuach!! emuach!!!


rangga mengecup pipi putri kesayangannya itu.


"Walaikumsalam"


dengan senyuman manis ranty menyambut kepulangan suami tercintanya, lalu mengecup punggung tangan rangga yang di balas pelukan dari sang suami.


cup! rangga pun mengecup kening istrinya.


"papa kangen banget sama kalian sayang"


rangga memeluk erat tubuh istrinya dengan rara yang masih berada dalam gendongannya.


"kami juga kangen banget sama papa" rara tersenyum bahagia.


"rangga, kamu udah pulang nak?" mama ratih ikut menyambut kepulangan putranya.


"iya ma, mama sehat kan?" rangga memeluk mamanya.


"sehat sayang, oh iya ray dimana?" tanya mama ratih karena tidak melihatnya.


"ray udah langsung pulang ma, biar bisa istirahat"

__ADS_1


"oh gitu" mama ratih mengangguk mengerti.


"oh iya sayang, om kamu yang nakal itu di mana? kok enggak kelihatan"


rangga bertanya kepada putrinya tentang keberadaan dika yang tidak terlihat ikut menyambut kepulangannya.


"enggak tau tuh pa, tadi pulang kerja katanya om dika mau mandi dulu terus janji mau main sama rara tapi om dika enggak turun turun dari atas buat ngajak rara main huh!!!! rara kesel deh sama om dika" rara cemberut.


"oh gitu, ya udah sayang mainnya sama papa aja ya. om kamu lagi galau mungkin" rangga tersenyum.


"mungkin om dika lagi kecapekan kerja sayang"


mama ratih membujuk cucunya agar tidak kesal lagi pada om kesayangannya itu.


"om kamu lagi galau haha"


rangga berbisik kepada putrinya lalu tertawa.


"hihi iya pa" rara juga berbisik geli.


"kalian bisik bisik apa sih?" ranty menatap suami dan putrinya.


"ada deh ma" ucap ayah dan anak itu bersamaan.


"ya udah rangga kamu bersih bersih dulu sana mandi biar nanti kita makan malam bareng" ucap mama ratih.


"iya ma, sayang papa mandi dulu ya"


ujar rangga agar putrinya mau turun dari dalam gendongannya.


"iya pa, pantesan papa bau banget belum mandi sih"


rara menutup hidungnya seolah papanya itu sangat bau.


"haha. kamu bisa aja sayang tadi peluk papa erat banget kamu enggak ada bilang bau tuh" goda rangga.


"rara kan kangen" rara kembali memeluk papanya.


"papa juga kangen banget"


*


satu jam kemudian keluarga wijaya sedang berkumpul menikmati makan malam bersama di meja makan. dika pun sudah bergabung dengan yang lainnya.


"gimana keadaan kantor dik kemarin lo bilang sekretaris lo lagi sakit ya terus gimana keadaannya sekarang?"


rangga menatap adiknya di sela sela makan mereka.


"baik"


"oh, itu berarti lo bisa handle semua kerjaan tanpa ada sekretaris dong?"


"hem" respon dika masih sama.


"besok lo ngantor kan?" rangga masih saja bertanya.


"hem" dika semakin malas menjawabnya.


"lo kenapa sih lagi sariawan ya dari tadi ham hem ham hem doang"


rangga kesal karena paling tidak suka di cuekin.


"ya elo udah tau semuanya pake nanya lagi"


dika juga kesal karena tau rangga sengaja hanya ingin menggodanya.


"kangen banget ya lo berantem sama gue" rangga tidak mau mengalah.


"lo yang cari ribut duluan"


"gue kan cuma nanya"


"ngapain nanya kalo udah tau"


"emang adek durhaka ya lo"


"lo abang gadak akhlak"


akhirnya abang dan adik itu kembali berdebat seperti biasa. mereka selalu memperdebatkan sesuatu yang tidak jelas.


mama ratih dan menantunya hanya terdiam mendengarkan perdebatan abang beradik itu dengan gelengan kepala.


sudah menjadi tradisi mereka pasti selalu berdebat saat bertemu apalagi setelah lama berpisah.


meskipun perdebatan itu selalu berakhir dengan dika yang harus mengalah karena rangga akan selalu punya jawaban untuk melanjutkannya tapi percayalah perdebatan mereka hanya sebuah candaan bukan hal yang serius.


"udah udah, kalian ini udah pada gede juga masih aja terus berantem" ucap mama ratih pada kedua putranya.


"dika tuh ma" adu rangga.


"dia duluan ma yang cari ribut" kesal dika.


"iya udah dong sayang" mama ratih sangat sabar menghadapi kedua putranya itu.


"enak aja lo nyalahin gue"


"diem lo!"

__ADS_1


"elo yang diem"


"mas udah dong ngalah sama adek" ranty menengahi.


"ck!" rangga berdecak kesal.


*


keesokan harinya rangga dan dika bersama ray sudah kembali masuk kantor seperti biasanya.


karena vani masih sakit untuk sementara ray yang akan menghandle pekerjaan mereka.


sepulang dari kantor mereka hendak mampir menjenguk vani.


"ray, nanti kita mampir dulu ke rumah baru dika ya buat jenguk vani" ujar rangga saat mereka berjalan keluar dari dalam gedung kantor.


"em, sejak kapan pak dika punya rumah baru bos?"


ray bertanya kepada rangga sambil melirik dika yang sedang berjalan di samping mereka karena sengaja ingin menggoda bosnya.


"em, entahlah ray mungkin baru beberapa hari yang lalu deh. dika sengaja beli rumah itu buat seseorang yang spesial" rangga tersenyum miring.


"okelah bos, ayo kita kesana saya juga penasaran pengen liat rumah baru"


ray berjalan menuju parkiran lalu mereka masuk ke dalam mobil yang sama sedangkan dika hanya diam saja mendengar ocehan dua orang di sampingnya.


sesampainya disana, mereka pun duduk di sofa ruang tamu sambil mengamati rumah mewah yang sengaja dika belikan untuk vani itu.


"gede juga nih rumah"


rangga mengamati di sekelilingnya, ray pun ikut mengangguk anggukkan kepala.


"rumah masa depan bos kayanya" sahut ray.


"cocok sih" ppfftt....


rangga sudah berusaha menahan tawanya saat melirik kearah dika yang hanya diam saja mendengarkan candaan dari mereka berdua.


"ini rumah baru beli atau emang sengaja di bangun dengan desain khusus ya bos?"


"gue dengar sih emang sengaja di bangun buat rumah masa depan gitu tapi ya karena calon istrinya masih di awang awang akhirnya nih rumah di sumbangkan aja gitu" ckck rangga menahan tawa.


"ppfftt, boleh juga sih. di jual enggak ya? gue minat beli nih bos, soalnya desainnya bagus dan modern gitu" ray tersenyum.


"ya udah, entar lo transaksi nya sama gue aja" ucap rangga.


saat mereka masih berbincang vani pun datang bersama seorang perawatnya yang mendorong kursi roda menemui ketiga bosnya itu.


"selamat sore pak" vani menyapa ketiganya


"sore vani, bagaimana keadaan kamu?" tanya rangga.


"Alhamdulillah saya sudah lebih baik pak"


"em! syukurlah kalo gitu" rangga mengangguk.


"oh ya vani, berapa lama kamu baru akan bisa berjalan lagi kata dokter?"


tanya ray saat melihat kaki vani yang sepertinya terluka cukup parah.


"em, paling cepat tiga minggu mungkin saya sudah bisa berjalan lagi pak tapi bisa sampai sebulan lebih baru akan normal" jawab vani.


"ya sudah, kalo begitu kamu istirahat saja di rumah sampe kaki kamu benar benar pulih dan bisa berjalan normal lagi" ujar rangga.


"baik pak, terima kasih"


"tenang saja, kamu akan tetap menerima gaji bulanan dan biaya pengobatan sampai sembuh nanti" ucap rangga.


"hem? bapak serius?" vani tidak percaya.


"iya, kamu juga akan kembali bekerja di kantor setelah sembuh. jadi kamu cepat sembuh ya" rangga menyemangati.


"baik, terima kasih banyak pak"


sejak tadi dika hanya diam sambil menatap vani tanpa berkedip namun ia tersadar saat rangga sengaja mengganggunya.


"apa segitu kangennya, sampe lo lupa caranya kedipin mata?"


rangga tersenyum miring sambil menatap lurus padahal sebenarnya ia sedang menggoda dika.


ray yang mendengar sindiran dari rangga itu langsung melirik sahabatnya dan tersenyum penuh arti.


"kayanya kamu memang harus cepat sembuh vani karena ada yang selalu merindukan kamu di kantor" rangga menatap sekretarisnya.


vani yang baru menyadari tatapan dika kepadanya sejak tadi pun menjadi gugup lalu menunduk malu karena ada rangga dan ray disana.


dika pun langsung mengalihkan pandangannya dari vani karena melihatnya yang tidak nyaman di tatap seperti itu.


ray mulai menyadari jika sahabatnya itu benar benar sudah jatuh cinta pada gadis yang menjadi incarannya selama ini.


bahkan dika tidak dapat menyembunyikan perasaannya itu meskipun sedang berada di hadapan mereka.


selama beberapa minggu terakhir, dika sering datang ke rumah barunya untuk menemui vani setiap pulang bekerja dengan alasan khawatir akan keadaan kaki gadis itu.


mendapat banyak perhatian dari dika membuat vani merasa senang namun juga sekaligus tidak enak hati.


pasalnya semua bentuk perhatian dari dika itu membuat hatinya luluh sehingga vani takut jika dirinya benar benar akan jatuh cinta terlalu dalam kepada bos tampannya.

__ADS_1


__ADS_2