Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 79


__ADS_3

selama ini vani selalu berusaha menahan diri ketika dika menggodanya karena mengingat kondisi suaminya yang masih belum pulih sepenuhnya pada waktu itu.


vani takut jika kondisi dika sampai drop karena merasa kelelahan.


kali ini vani tidak lagi menahan hasrat suaminya itu karena ia juga sudah sangat merindukan dan menginginkannya sentuhan lembut serta belaian dari suaminya.


dika mengecup bagian tengkuk hingga ke pundak vani lalu tangannya bergerak mengelus lembut bagian dada istrinya.


tangan dika beralih meraba punggung vani dan membuka resleting gaun yang dipakai oleh istrinya secara perlahan.


dengan mata berbinar dika menatap punggung mulus istrinya lalu mulai mengecupnya dari atas hingga kebawah membuat vani melenguh karena tubuhnya mulai bergetar merasakan sentuhan itu.


"emh!"


melihat istrinya mulai kehilangan keseimbangan untuk berdiri dika pun langsung mengangkat tubuh vani menuju ranjang lalu merebahkannya disana.


setelah tubuh vani berada di bawahnya dika menatap mata istrinya seakan sedang meminta persetujuan untuk boleh melakukannya sekarang.


mengerti akan tatapan mata suaminya itu vani pun membalasnya dengan mengangguk pelan.


dika tersenyum setelah mendapat persetujuan dari istrinya


dengan lembut dika melumvt bibir mungil istrinya itu dan memperdalam ciumannya.


semakin turun dika pun mengecup bagian leher hingga ke dada vani serta bermain lidvh disana.


sudah tidak tahan lagi melihatnya dika pun langsung melepaskan gaun yang di pakai oleh vani dan menatap tubuh istrinya dengan tatapan penuh gairah.


tatapannya berhenti tepat di bagian perut istrinya yang terlihat sudah membuncit itu lalu ia mengecup terlebih dahulu calon baby di dalam sana.


cup! kecup dika lembut di bagian perut istrinya.


tidak tahan melihat tubuh indah istrinya dika langsung melepaskan seluruh pakaiannya juga lalu menarik selimut menutupi bagian bawah tubuh mereka.


dengan sekali hentakan dika memasukkan miliknya ke dalam tubuh istrinya yang membuat vani harus menahan rasa perih karena hentakkan yang kuat dari suaminya itu.


"emhh!!" vani mencoba untuk menahannya.


melihat wajah vani yang sepertinya sedang menahan rasa sakit dika kembali tersadar dan memperlambat gerakan pinggulnya karena tidak ingin menyakiti istri maupun calon bayinya di dalam sana.


"maaf ya" bisik dika pelan.


dika bergerak dengan teratur yang semakin lama membuat vani juga ikut menikmatinya dan melenguh nikmat.


"uuhhh!!"


lenguhan demi lenguhan keluar tidak tertahan dari bibir keduanya menikmati olahraga sore yang indah.


cukup lama merasakan nikmatnya olahraga itu membuat hasrat keduanya tak tertahan.


hingga akhirnya vani mengeluh lelah kepada suaminya karena sudah merasakan nyeri di bagian perutnya, vani khawatir dengan calon bayinya.


"sshh!! mas udah ya aku capek, perut aku juga sakit nih"


vani dengan nafas yang masih terengah-engah.


saat mendengar vani mengatakan jika perutnya terasa sakit dika merasa khawatir dan langsung menghentikan aktivitas mereka tanpa menyelesaikannya terlebih dahulu.


"sayang kamu serius sakit?" tanya dika khawatir.


"sshh!! iya nih mas, sakit" vani memegangi perutnya.


"kalau gitu kita ke dokter aja ya?" dika pun semakin cemas.


"enggak usah mas, aku malu ih.." vani pun menolak.


"kenapa harus malu sih sayang, aku juga khawatir sama calon bayi kita. kalo sampe kenapa kenapa gimana?"


"kamu sih mas enggak mau udahan"


"hehe maaf sayang, namanya juga enak"


ucapan dika membuat vani melotot ke arah suaminya itu.


"ih kamu ya mas, giliran yang enak enak aja enggak mau udah" vani sambil mencubit pelan perut suaminya.


"aw! iya ampun sayang sakit tau, lagian kamu juga keenakan iya kan hem?" dika menggoda.


"ih kamu tuh,,,"


vani merasa malu langsung menutup wajahnya dan membelakangi suaminya itu.


"sayang jangan ngambek dong, nanggung nih dikit lagi belum selesai juga" dika memelas.


"ih! enggak mau, kamu selesein aja sendiri sana" vani tidak mau berbalik.


"enggak enak kalo sendirian sayang, enaknya sama kamu"


"biarin aku enggak mau. sakit tau"


"eh, udah mau adzan tuh sayang mandi yuk"

__ADS_1


dika terus membujuk istrinya sambil ikut rebahan dan memeluk tubuh vani dari belakang.


"enggak mau ah nanti mandinya jadi lama lagi"


"pliss ayo dong janji enggak lama deh sayang"


"pasti bohong. udah sana kamu duluan aja mas selesaiin dulu sendiri"


"enggak mau sayang. enaknya sama kamu"


dika sudah memakai pakaiannya lalu dengan cepat menggendong tubuh istrinya dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


"mas dika, turunin aku"


vani yang kesal menepuk nepuk pundak dika karena kelakuan suaminya itu.


"biarin aku yang mandiin kamu ya sayang biar kamu enggak capek kalo mandi sendiri"


dika menolak dan tetap membawa istrinya masuk ke dalam kamar mandi dan langsung menutup pintu kamar mandinya.


brakk!!!


malam harinya keluarga wijaya sedang berkumpul di dalam ruang keluarga setelah selesai makan malam bersama seperti biasanya.


"rangga gimana persiapan acara syukuran untuk adik kamu?" tanya papa hardi.


"em, udah beres pa besok semua perlengkapan yang lainnya akan datang"


"hem, baguslah kalau gitu"


di kursi lainnya rara dan ranty sedang duduk berdekatan dengan vani dan juga dika.


"ma emangnya beneran ya, rara mau punya adek?" tanya rara kepada ranty mamanya.


"iya sayang, rara seneng enggak?" tanya rangga.


"yee rara seneng banget em, dimana adek rara sekarang?"


"adek rara masih disini sayang. di dalam perut tante cantik"


ranty membawa rara mengelus perut vani.


"kenapa adek ada di dalam sih ma. emangnya adek bisa liat kita dari dalam ya?" tanya rara polos.


"adek memang harus di dalam sini sampe umurnya cukup buat lahir nanti sayang" ranty menjelaskan.


"loh kok adek bisa ada di dalam sini sih ma?"


"em,,, gimana ya sayang?"


ranty juga bingung harus bagaimana menjelaskan kepada putrinya itu.


semua orang yang berada di sana pun bingung saling melirik sambil menahan tawa saat mendengar pertanyaan rara yang sulit untuk mereka jelaskan.


"nah, lo jelasin tuh dika gimana caranya"


rangga menahan senyum jahilnya.


"om yang buat sayang"


dika sengaja ingin membuat rangga kesal karena sudah membuat dirinya berada dalam pertanyaan yang sulit itu.


mendengar jawaban dika itu vani pun membelalakkan matanya lalu memberi cubitan kecil di bagian perut suaminya karena merasa malu.


"aww, sakit sayang"


dika meringis pelan sambil mengelus bagian sisi perutnya yang mendapat cubitan.


"kamu ih, ngomong apa sih mas"


cicit vani dengan pipi merahnya.


"ppffttt,,,"


rangga menahan tawa melihat adiknya mendapat cubitan dari istrinya.


"kenapa om malah buatin adeknya di dalam sih kenapa enggak di,,,"


ucapan rara menggantung karena papanya langsung membekap mulut putrinya itu dengan tangannya.


"sssttt, udah kamu enggak usah banyak nanya"


rangga menutup mulut rara.


"eemmm,,,, papaaa!!!"


rara kesal melepaskan tangan rangga dari mulutnya lalu menepuk lengan papanya namun ia masih penasaran.


"makanya jangan banyak nanya" rangga tersenyum jahil.


"kapan adek rara lahirnya ma?"

__ADS_1


rara masih setia mendengarkan sesuatu dari dalam perut vani karena berpikir adiknya akan berbicara dari dalam untuk meminta sesuatu.


"nanti sayang sekitar empat bulan lagi" jawab ranty


"uhh, lama banget sih ma"


rara melipat tangannya di dada dengan menggemaskan karena merasa kesal.


"sabar dong sayang empat bulan enggak lama kok"


vani mengelus rambut rara dengan lembut.


"iya deh tante"


rara pun tersenyum memeluk tante cantiknya.


"nah, gitu dong sayang" dika mengusap pipi gembul rara


"adek nanti kita main boneka bareng ya" emuch!


rara mengecup perut buncit tantenya itu karena ia ingin mengecup adiknya yang masih berada di dalam sana.


"eh, sayang gimana kalo nanti adek rara itu laki laki kok malah di ajak main boneka sih"


"iya enggak papa dong pa, om dika juga punya banyak boneka gede di kamarnya"


ucapan rara membuat dika melotot mendengarnya.


"itu semua boneka punya tante kamu sayang bukan punya om" dika memelas.


"hahaha" semua orang tertawa mendengarnya.


mama ratih dan papa hardi pun hanya tersenyum sambil geleng geleng kepala mendengar semua percakapan anak dan cucunya itu.


"om kamu suka main boneka ya ra?" celetuk yuli


"iya tante bener hihihi"


rara senang sekali menggoda omnya itu.


"ngarang kamu" dika ngambek


"beneran week"


rara menjulurkan lidahnya kepada om kesayangannya.


"haha rasain lo"


rangga pun bahagia melihat putrinya dan om kesayangannya itu berdebat.


padahal selama ini mereka bahkan tidak pernah saling berdebat karena rara akan selalu membela omnya.


arin dan hana hanya tersenyum menatap tingkah rara yang menggemaskan semua orang itu.


malam semakin larut semua orang pun memutuskan untuk kembali ke dalam kamar masing masing.


setelah semua orang kembali ke kamar masing masing. masih tersisa yuli, hana dan arin disana.


"arin, apa benar kamu mau kerja di butik? tadi kak vani bilang kami harus ngajak kamu gabung" tanya yuli


"hem, iya kalau boleh" arin tersenyum.


"iya pasti boleh, kita malah seneng jadi makin rame dong"


"makasih ya, kapan aku boleh mulai masuk kerja?"


"em, kapan pun boleh kamu juga bisa ikut sama kami besok buat liat liat butik nya dulu terus kamu bisa mulai masuk kerja setelah acara syukuran di rumah ini selesai"


yuli memberi saran agar arin tidak merasa bingung.


"em, ya udah kalo gitu makasih ya" arin pun tersenyum.


"iya sama sama, soalnya kami juga bakalan pulang setelah acara syukuran di sini selesai" yuli pun menatap hana.


"iya kak" hana hanya mengangguk.


"oh ya, pulang kemana?" arin penasaran.


"ke rumah kak vani juga sih hehe"


"haha. sama aja ya kak" hana juga tertawa menertawakan kekonyolan yuli dan dirinya juga.


"oh ya. apa aku boleh main ke rumah kalian?" arin juga tersenyum mendengarnya.


"iya boleh dong. kalo nanti kamu udah masuk kerja kami bakalan ngajak kamu main ke sana"


"baiklah. makasih ya" ucap arin.


"ya udah kalo gitu ayo kita istirahat aja" ajak yuli.


"iya ayo"

__ADS_1


arin dan hana pun mengangguk lalu mereka juga kembali masuk ke dalam kamar masing masing.


__ADS_2