
Raffa datang dan melihat mamanya sedang menangis duduk di tepi ranjang, ia pun beralih menatap papanya yang sedang tertidur disana.
raffa berjalan masuk ke dalam kamar itu untuk menemui mamanya.
"mama tenapa nangis?" tanya raffa dengan ciri khas bicaranya yang menggemaskan itu.
raffa memang terlihat sangat pendiam namun jika melihat mamanya sedang menangis ia tidak akan tinggal diam.
"mama enggak papa kok sayang. mama cuma sedih karena papa affa lagi sakit" vani memeluk putranya.
"papa catit apa cih ma?" sebenarnya raffa sangatlah cerdas karena ia sangat suka belajar.
"sekarang affa belum ngerti sayang, nanti kalo affa udah besar pasti affa bakal ngerti yang penting affa sayang sama papa ya"
"iya ma" raffa mengangguk
"emuach anak mama pinter"
"ma liat deh papa uda banun bobokna" raffa melihat dika bergerak dan membuka matanya secara perlahan.
"eh, iya sayang. papa udah bangun" vani mendekati dika yang sudah sadar.
"sshh"
"mas, kamu udah sadar?"
pertanyaan itu tidak mendapat jawaban apapun dari dika.
raffa hanya diam menatap dika karena tidak mau membuat papanya itu sakit lagi jika terus bertanya.
dika bangun dan duduk di atas ranjang sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
"hati hati mas" vani membantu dika duduk lalu mengambil segelas air putih untuk dika yang sepertinya sedang haus.
"ini pak di minum dulu" tawar vani menyodorkan gelas.
glek...!!! glek...!!! glek...!!!. dika menghabiskan air di dalam gelas itu.
"terima kasih"
"sama sama"
"mama, affa main dulu ya"
raffa langsung berlari keluar dari dalam kamar itu setelah vani mengangguk setuju.
"itu anak kamu ya?" dika menatap vani setelah raffa keluar dari pintu kamar.
"iya pak" vani mengangguk sambil tersenyum menatap dika.
"ee,, dimana suami kamu?" tanya dika membuat vani bingung harus menjawab apa.
"emm, dia sudah melupakan kami pak" jawab vani asal namun dika malah mengangguk mengerti.
"maaf ya" dika merasa bersalah karena sudah membuat vani sedih atas pertanyaannya.
"enggak papa kok pak, ya udah kalo gitu saya permisi keluar ya pak" vani melangkah keluar dari dalam kamar meninggalkan dika agar ia bisa istirahat lebih banyak.
"vani!" panggilan dika membuat vani menghentikan langkahnya lalu berbalik badan.
"iya pak?"
"em, enggak papa" ujar dika menggelengkan kepalanya.
vani hanya tersenyum lalu melanjutkan langkahnya keluar dari dalam kamar itu.
__ADS_1
hari masih terus berjalan bulan pun ikut berganti namun penantian vani agar suaminya kembali mengingat dirinya dan putra semata wayang mereka itu pun tak kunjung tiba.
dika masih betah melupakan mereka hingga membuat vani semakin sulit menahan rindu pada suami tercintanya yang saat ini kembali menjadi bosnya di kantor itu.
mungkin vani bisa menahan rindu pada suaminya namun bagaimana ia akan menahan rindu dari putranya kepada papanya itu.
terkadang ingin rasanya vani berkata kepada dika jika raffa sangat merindukan papanya namun ia juga tidak ingin melihat kesehatan dika kembali terganggu.
akhir akhir ini dika memang sudah sering bertemu dengan raffa karena rangga selalu mengajak raffa dan vani untuk berkunjung ke rumah utama atau di setiap pertemuan keluarga mereka pasti bertemu.
sampai sekarang dika masih tetap menolak jika raffa memanggil dirinya dengan sebutan papa. meskipun ia tahu jika raffa hanyalah seorang anak kecil yang mungkin sangat merindukan papanya namun dika hanya diam saja ketika putranya itu memanggilnya dengan sebutan papa.
hari ini rangga kembali menemui dokter farhan dan dokter radit untuk berkonsultasi mengenai kesehatan dika.
"jadi gimana dokter, apa belum ada perubahan apapun dengan ingatan dika sekarang?" tanya rangga kepada dokter radit lalu beralih menatap dokter farhan juga.
"maaf pak rangga, sepertinya akan lebih baik jika kita berusaha untuk menciptakan kenangan baru bersamanya dari pada harus memaksa pak dika untuk mengingat kenangan masa lalunya" jawab dokter farhan yang ragu jika dika akan kembali mengingat masa lalunya.
"apa!!! tidak bisa begitu dong dokter, dika bahkan lupa sama anak dan istrinya sekarang. bagaimana mungkin dika akan selamanya hidup melupakan keluarga kecilnya yang seharusnya hidup bahagia bersama dengan dia. dokter punya anak dan istri juga kan dok, bagaimana kalau itu terjadi kepada anak dan istri dokter" ujar rangga terbawa emosi.
"tenang pak rangga, kita hanya butuh waktu. cepat atau lambat saya yakin pak dika akan kembali mengingat semuanya" ujar dokter farhan akhirnya karena mendapat kekesalan dari rangga.
"tapi ini sudah sangat lama dokter, sudah lima bulan tapi tidak ada peningkatan apapun" rangga masih kesal.
"sabar pak kami akan lakukan yang terbaik" dokter sangat sabar menghadapi rangga yang cerewet.
"maaf dokter saya terlalu terbawa emosi tadu"
rangga akhirnya mengontrol emosinya yang hampir saja meluap. hal itu terjadi karena rangga tidak tega melihat raffa keponakannya yang selalu murung itu.
"tidak papa pak rangga, kami sangat mengerti"
"saya berharap ada peningkatan bulan depan dok atau sebaiknya saya tidak memanggil gelar dokter lagi"
"tidak mudah menenangkan pak rangga"
"iya kita harus bekerja lebih keras lagi dokter"
dokter radit dan dokter farhan larut dalam pikiran masing masing.
hari ini di kantor, tepatnya di dalam ruangan dika ia sedang bercanda tawa dengan seorang wanita bernama rissa yang merupakan teman kuliahnya saat di london dulu.
"haha"
"wah! iya udah lama banget ya momen itu" rissa tertawa mengingat masa masa awal kuliah mereka.
"iya bahkan sekarang aku udah ngelupain sebagian dari cerita hidupku" ujar dika dengan raut wajah murung.
"maksud kamu?"
"iya, semenjak kecelakaan beberapa bulan yang lalu dokter bilang aku mengalami amnesia tapi anehnya cuma sebagian dari ingatanku yang hilang" jelas dika.
"oh ya, tapi kamu masih ingat sama aku?" rissa tersenyum.
"iya mungkin karena kamu memang sulit untuk dilupain rissa" dika tersenyum.
"ck! kamu bisa aja" risa menatap dika sambil tersenyum juga.
"hhh! memang benerkan? lagian sekarang aku cuma ingat awal pertemuan kita aja selebihnya aku udah lupa"
"oh ya? em, apa kamu udah nikah. soalnya aku pernah dengar waktu itu kalo putra bungsu keluarga wijaya akan segera menikah tapi pernikahannya batal" tanya rissa
"entahlah, aku enggak ingat. kayanya pernikahan itu memang batal" ujar dika karena sampai detik ini dirinya masih sendiri.
"jadi kapan kamu bakal nikah umur kamu udah enggak muda lagi loh" rissa tersenyum jahil.
__ADS_1
"nanti aja, aku masih nunggu seseorang sampe dia siap membuka hatinya untuk ku" dika menatap rissa.
"oh ya, siapa dia?"
"mungkin kamu" dika kembali tersenyum.
"haha kamu mau nunggu aku?" rissa menggelengkan kepalanya.
"mungkin" dika mengendikkan bahunya.
"aku emang lagi sendiri sekarang, aku sengaja pulang ke tanah air karena di negeri orang aku enggak bisa dapat jodoh. siapa tau sebenarnya jodoh aku ada disini yakan" haha rissa tertawa dengan ucapannya sendiri.
"iya mungkin emang gitu" dika mengangguk.
"hem, gimana kalo kita jadi pasangan kekasih kayanya menarik" rissa memberi penawaran.
"hem, iya mungkin tapi aku cuma mau yang serius"
"hidup kamu terlalu serius dika, aku bakal kasih tau gimana caranya bersenang senang menikmati hidup ini"
"hhh! makasih tapi kamu sendiri kan yang bilang kalo umur ku udah enggak muda lagi sekarang"
"emangnya kamu enggak ngeliat keseriusan di mataku ini ya? ayolah dika aku juga udah enggak muda lagi sekarang kan umur kita sama jadi aku pasti bisa serius sama kamu. lagian kamu adalah seorang putra bungsu dari keluarga wijaya jadi aku yakin aku pasti bakal hidup bahagia kalo sama kamu" haha rissa tertawa.
"iya pasti, tapi pernikahan bukan cuma tentang keluarga terpandang atau harta warisan rissa. nikah juga harus saling mengerti dan menyayangi satu sama lain"
"iya dari dulu aku udah sayang sama kamu dika tapi kamu cuma nganggep aku sebagai temen"
"hhh! bukannya kebalik ya, kamu yang cuma nganggap aku temen karena kamu udah punya pacar dulu"
"iya itu kan awal pertemuan kita, setelah itu kamu udah lupa semuanya kan kamu sendiri yang bilang kalo kamu enggak ingat lagi sama semua kenangan di antara kita"
"haha! iya maaf ya aku memang ngelupain banyak orang yang ada di sekitar ku"
"its okay dika. kamu jangan sedih lagi ya kita kan bisa buat kenangan yang baru" rissa menggenggam tangan dika.
"makasih ya rissa" dika mengusap tangan itu dalam genggamannya.
di luar ruangan vani sedang gelisah karena ia merasa penasaran siapa wanita yang sedang bersama suaminya di dalam ruangannya itu.
"mas dika lagi nerima tamu rekan kerja atau siapa sih, kok lama banget ya cewek itu enggak keluar keluar dari dalam ruangan suamiku" vani merasa gelisah.
ceklek!
tidak lama dika dan rissa pun keluar dari dalam ruangan secara bersamaan. vani melihat keduanya bergandengan tangan dengan mesra.
"vani, saya mau keluar sebentar sama rissa. tolong kamu tunda jadwal meeting hari ini ya" ujar dika menatap vani.
"tapi pak..." ucapan vani terhenti karena dika langsung menimpalinya.
"kamu dengar kan ucapan saya?" dika tidak mau di tolak.
"baik pak" vani pun menerimanya dengan pasrah.
"bagus, terima kasih"
"ayo" dika mengajak rissa pergi dari sana.
rissa melirik vani sambil tersenyum sedangkan vani menatapnya dengan rasa cemburu.
vani hanya memandang nanar kepergian suaminya yang terlihat sangat akrab dengan wanita lain itu. ia memegang dadanya yang terasa sesak karena melihat suaminya pergi dengan bergandengan tangan mesra bersama wanita lain.
"ya allah, sakit banget hati ku melihatnya" vani berusaha menahan air matanya dan harus sabar.
waktu terus berjalan semakin hari kedekatan di antara dika dengan rissa pun semakin terlihat mesra bak sepasang kekasih. vani yang melihat kedekatan di antara rissa dengan suaminya itu pun semakin tidak dapat menahan rasa cemburu di hatinya.
__ADS_1