Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
kecupan hangat


__ADS_3

vani sampai menangis menahan rasa sakitnya.


dika kesulitan untuk mengobati luka di kaki vani menggunakan obat seadanya itu karena darah terus mengalir.


dengan tangan gemetar dika menuang cairan alkohol di kaki vani yang luka agar darah tidak terus menerus keluar.


"shh"


tangan vani terus menggenggam lengan dika yang sedang berusaha untuk mengobati luka di kakinya itu.


warga yang berprofesi sebagai bidan pun ikut membantu dika mengobatinya karena saat ini ia panik hingga membuatnya bingung harus melakukan apa untuk menghentikan darah yang terus mengalir dari kaki vani itu.


"lukanya memang tidak terlalu parah tapi kemungkinan tulang kakinya retak pak"


ucap bidan itu setelah membalut luka vani dengan perban.


tulang kaki retak namun tidak parah? padahal hal itu cukup parah karena membuat vani tidak akan bisa berjalan lagi setelahnya.


"baiklah, kalau begitu saya akan langsung membawanya ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut"


"iya pak, memang akan lebih baik jika dokter yang menanganinya secara langsung"


dika berdiri lalu menggendong tubuh vani dan berjalan cepat menuju mobil hendak ke rumah sakit terdekat.


di dalam mobil dika melihat vani yang hanya memejamkan mata untuk menahan rasa sakit di kakinya.


"sakit banget ya?"


tanya dika merasa khawatir dengan keadaan vani karena melihat wajahnya sudah pucat kehilangan cukup banyak darah dan cairan di tubuhnya.


"em" vani mengangguk


ia tidak mau berbohong untuk menutupi rasa sakitnya lagi karena nyatanya saat ini dirinya sudah tidak sanggup untuk menahan itu.


"tahan sebentar ya, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit" dika berusaha menguatkan vani.


vani hanya diam dengan mata tetap terpejam karena sudah merasa sangat pusing.


sesampainya di rumah sakit, vani langsung di bawa masuk ke dalam ruang ICU untuk di periksa lebih lanjut.


setelah selesai melakukan beberapa rangkaian pemeriksaan, dokter pun masuk kedalam ruang rawat untuk memberi tahu hasil ronsen kaki vani yang sudah mereka lakukan tadi.


"seperti yang sudah kita lihat tadi, kaki bu vani memang mengalami keretakan pada tulang jadi untuk sementara waktu kaki ibu harus di gips sampai tulangnya kembali kuat untuk berjalan" jelas dokter


"ibu juga tidak boleh banyak bergerak apalagi memaksa kaki ibu untuk berjalan sebelum ada anjuran dari dokter ya" peringat dokter.


"baik dokter"


dika yang menjawab karena melihat vani hanya diam saja.


vani diam karena dokter mengatakan kakinya tidak bisa berjalan untuk waktu yang cukup lama berarti ia juga tidak akan bisa bekerja.


saat ini vani merasa sedih karena ia tidak akan bisa berjalan sampai waktu yang belum bisa di pastikan.


"ini resep obat dan vitaminnya tolong di tebus ya pak"


dokter memberikan secarik kertas kepada dika.


"baik dokter"


"bu vani harus rutin ganti perban dan kontrol agar pemulihan kakinya lebih cepat nanti bisa di konsultasikan dengan dokter di rumah sakit terdekat dari rumah ya pak"


"baik dokter terima kasih"


dika menjawab namun vani masih tetap diam.


"kalau begitu saya permisi"


"mari dok"


dokter berjalan keluar dari dalam ruangan vani dengan dika mengikutinya hingga depan pintu.


melihat vani yang sejak tadi hanya diam saja dokter pun mengerti tentang perasaan sedih gadis itu lalu ia meminta dika untuk menghibur vani agar tidak terlalu sedih.


"tolong kasih semangat terus ke pacarnya ya pak sepertinya dia sangat sedih" saran dokter.


"em, baik dokter" dika mengangguk bingung.


setelah dokter pergi dika pun kembali masuk ke dalam ruangan vani.


saat membuka pintu dika melihat sekretarisnya itu sedang menangis lalu ia pun mendekat.

__ADS_1


"kamu kenapa kok nangis, masih sakit ya? "


dika membelai rambut vani dengan lembut.


seperti biasa saat vani sedang bersedih maka mode anak bungsunya pun keluar, ia menangis dan langsung memeluk pinggang dika yang sedang berdiri di sampingnya itu.


hiks! hiks!


vani menyembunyikan wajahnya di bagian perut dika karena merasa butuh sandaran untuk menangis.


disaat seperti ini ia akan melupakan segala hal bahkan juga lupa siapa seseorang yang saat ini sedang di peluknya itu.


vani hanya ingin di peluk saat ia menangis agar sedihnya berkurang.


dika yang mengerti kesedihan vani berusaha untuk menenangkan dengan mengusap lembut punggung sekretarisnya itu.


"saya minta maaf ya, karena nolongin saya kamu jadi terluka"


dika pun memeluk vani yang sedang menangis.


"hiks! hiks! hiks!"


tidak ada jawaban apapun karena yang terdengar hanyalah suara tangisan vani.


dika merasa sangat bersalah karena gadis itu harus mengalami kecelakaan demi menolong dirinya.


andaikan saja ia tidak mengajak vani untuk ikut maka sekretarisnya itu tidak akan terluka begitu pikirnya.


secara perlahan dika melepaskan pelukannya lalu menggenggam wajah vani dengan kedua telapak tangannya. ia menghapus air mata di pipi gadis itu lalu mengecup keningnya dengan lembut agar vani merasa lebih tenang.


merasakan kehangatan dari sentuhan lembut itu akhirnya vani terdiam karena perasaannya sudah menjadi lebih tenang.


namun beberapa saat kemudian vani kembali tersadar dan langsung menarik diri menjauh dari dika.


kali ini jantungnya berdetak berkali kali lipat lebih cepat dari biasanya.


"maaf"


dika melepaskan genggaman tangannya dari wajah vani ketika gadis itu menjauh.


vani mengalihkan pandangan dengan canggung lalu menghapus sisa air mata di pipinya.


setelah melihat vani tertidur dika mendekatkan wajahnya di telinga gadis itu.


"saya akan selalu ada sini" bisik dika.


tentu saja vani masih bisa mendengar dengan jelas karena sebenarnya ia belum tidur.


vani memejamkan matanya hanya untuk menghindari tatapan mata langsung dengan dika seperti sebelumnya.


saat tersadar tadi vani merasa sangat malu karena ia telah menangis di dalam pelukan bosnya itu. apalagi mengingat dika mengecup keningnya ingin rasanya vani pindah planet saja untuk bersembunyi karena pipinya memerah.


*


malam hari vani baru saja bangun dari tidurnya dan menatap sekeliling namun tidak ada siapa pun di sana.


awalnya vani panik dan takut, ia berpikir dika sudah pergi meninggalkan dirinya sendirian di rumah sakit itu.


"pak dika?"


vani sedang mencari keberadaan bosnya itu kemudian ia melihat handle pintu bergerak.


ceklek!


pintu terbuka dan memperlihatkan wajah tampan dika yang datang.


vani menghembuskan nafas lega karena ternyata dika tidak meninggalkannya sendirian disana.


dengan tersenyum dika berjalan masuk ke dalam sambil membawa bungkus makanan di tangannya. ia melihat vani yang sudah bangun dari tidurnya lalu mendekati gadis itu.


"vani, kamu udah bangun?"


"hem" vani menganggukkan kepala.


"kamu pasti laper kan? ini saya udah bawain makanan buat kamu, ayo dimakan dulu"


dika membuka bungkus makanan lalu hendak menyuapi sekretarisnya itu makan namun vani langsung menolak.


"saya bisa makan sendiri pak" ujar vani merasa sungkan.


"enggak papa saya pengen ngerawat kamu sampe sembuh sebagai bentuk permintaan maaf. kan kamu terluka karena udah nolongin saya" dika masih merasa bersalah.

__ADS_1


"makasih pak, tapi bapak enggak perlu merasa bersalah seperti itu. justru saya yang akan merasa bersalah kalo sampai terjadi sesuatu sama bapak tadi"


"kenapa begitu?"


"em, iya karena bapak kan bos saya jadi saya harus bisa melindungi bapak dari hal hal yang buruk kaya tadi. kalo pak ray ada disini dia juga pasti akan melakukan hal yang sama untuk menolong bapak" ujar vani merasa gugup.


hampir saja vani keceplosan, mana mungkin ia menjawab hatinya yang akan merasa sedih jika terjadi sesuatu kepada bos tampannya itu.


"oh gitu" dika hanya mengangguk.


"em" vani menunduk karena merasa canggung.


"ya sudah kalo gitu kamu makan sekarang ya. ayo buka mulutnya. aaa"


dika hendak menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulut vani.


"tapi pak, saya kan masih bisa makan sendiri lagian yang sakit itu kaki saya bukan tangan saya" vani masih menolak.


"enggak ada tapi vani, saya ini kan bos kamu jadi kamu harus nurut. ini perintah dari saya"


tegas dika agar vani tidak menolak suapan darinya lagi.


"em" vani ragu membuka mulutnya.


"ayo buka mulutnya dong"


"aaaa"


vani pun akhirnya membuka mulut secara perlahan dan menerima suapan dari dika.


"nah, gitu dong gadis pintar! "


dika tersenyum karena vani mau makan dengan disuapin olehnya.


di sela sela makannya vani bertanya kepada dika hendak mencoba mencairkan suasana yang terasa canggung di antara mereka.


"hem, bapak tadi habis dari mana? saya pikir bapak udah pergi ninggalin saya" ujar vani.


"saya enggak mungkin ninggalin kamu kok, tadi saya cuma keluar sebentar buat nyari musholla di sekitar sini. setelah itu saya merasa lapar jadi cari makan dulu diluar. selesai makan saya langsung balik lagi dan bawain kamu makanan juga karena saya tau makanan di rumah sakit itu enggak enak" jawab dika.


mendengar cerita dika membuat vani merasa semakin tersentuh pada kebaikan hati yang di miliki oleh pria di hadapannya itu namun ia sadar bahwa semakin dalam perasaan yang dimilikinya kepada pria itu maka akan semakin dalam pula rasa kecewa yang akan diterimanya karena cinta yang tidak mungkin bersambut.


bagaimanapun vani sadar jika dirinya hanyalah seorang gadis biasa yang tidak punya apa apa sedangkan pria di hadapannya itu adalah pria tampan dan kaya raya.


mana mungkin pria yang memiliki segalanya seperti dika akan menyukai gadis kampung yang sederhana seperti dirinya ini. bagaikan punguk merindukan bulan saja.


dika menyuapi vani makan hingga selesai.


ternyata vani merasa sangat lapar karena sudah melewatkan makan siangnya tadi atau mungkin memang makan dari suapan bosnya itu membuat rasa makanannya menjadi lebih enak.


"Alhamdullilah makasih ya pak"


"iya sama sama" dika mengangguk.


setelah vani selesai makan dika pun langsung memberikan obat yang sudah ia beli sesuai anjuran dokter.


"nah, sekarang kamu minum obatnya dulu ya"


dika memberi obat sambil menyodorkan segelas air.


"em" vani mengangguk.


glek!!! glek!!!


vani langsung meminumnya dan menghabiskan air di dalam gelas juga.


"sudah pak makasih ya" vani tersenyum.


"hem, sepertinya kita harus pulang besok karena ini sudah malam. apa kamu enggak mau kasih kabar ke adik kamu dulu, biar dia enggak khawatir?" tanya dika.


"em, iya pak saya telpon adik saya dulu ya"


vani mengambil ponselnya yang berada di dalam tas.


tut!!!! tut!!!


berulang kali vani mencoba menelpon yuli namun panggilannya tidak kunjung di jawab oleh adiknya itu.


"ck! kemana sih dia, di telponin juga enggak di angkat buat khawatir aja deh"


vani menghawatirkan yuli karena tak kunjung menjawab telpon darinya.

__ADS_1


__ADS_2