
keesokan harinya vani terbangun dari tidurnya, dika yang melihat vani sudah bangun langsung mendekat.
"kamu udah bangun?" tanya dika
"em" vani mengangguk pelan.
"kamu mau apa?"
"badan aku sakit semua rasanya susah buat di gerakin"
"em, ya udah kalo gitu kamu tidur aja dulu ya"
"bisa tolong bantu aku buat duduk enggak?"
"em, tapi kamu enggak bakal teriak lagi kan kalo aku dekat?" dika takut jika vani masih akan histeris.
"em" vani hanya menunduk diam.
"ya udah sini aku bantuin"
akhirnya dika pun membantu vani untuk duduk bersandar dengan menaikkan bagian atas tempat tidur.
"makasih"
"kak, kamu udah bangun?" tanya yuli mendekat.
"udah" vani mengangguk
"gimana keadaan kamu?"
"badan aku masih sakit semua"
"ya udah kamu istirahat aja ya"
yuli mengusap dengan lembut lengan vani agar ia tidak merasa kesakitan.
"oh ya vani, aku pulang sebentar ya sekalian mau beliin sarapan buat kita"
dika menatap kedua gadis disana lalu vani mengangguk
"oke, hati hati ya bang"
yuli tersenyum lalu dika pun melangkah keluar.
saat ini yuli sedang bersiap hendak berangkat kerja namun ia masih harus menunggu hingga dika kembali membawa sarapan agar ada yang menjaga vani disana.
"yul, kamu udah mau pergi kerja ya?"
vani melihat adiknya yang sudah rapi.
"iya nih kak, kamu enggak papa kan kalo aku tinggal kerja dulu. kan ada bang dika yang bakal jagain kamu disini. soalnya aku enggak boleh libur kak"
yuli duduk di samping kakaknya.
"iya, aku enggak papa kok"
vani mengerti dengan kesibukan adiknya itu.
"oh iya, emangnya bang dika enggak pulang dari kemaren malam enggak di cariin sama istrinya ya?"
sejak kemarin yuli bingung dengan keadaan.
"em, aku juga bingung sih yul tapi kemaren mas dika bilang sama aku kalo sebenarnya dia itu enggak jadi nikah sama pacarnya yang dulu karena dia udah batalin pernikahannya gitu"
vani pun menceritakan apa yang dika katakan kepada yuli.
"oh ya, serius? masa sih?"
"em" vani hanya mengendikkan bahunya.
"tapi menurut aku sih kamu jangan langsung percaya sama bang dika kak. soalnya bisa aja kan dia cuma ngaku single di depan kamu doang hehe"
"iya aku juga enggak terlalu percaya sih, lagian aku enggak mau bahas soal itu dulu. kamu liat kan keadaan aku aja kaya gini"
vani menunduk menatap seluruh tubuhnya yang di penuhi luka dan memar.
"em, ini masih sakit ya?"
yuli memegang lengan vani yang terdapat banyak memar.
"iya tapi udah baikan dari pada kemarin kok"
"kak, apa kamu..."
yuli ingin bertanya tentang raka kepada vani namun ia mengurungkan niatnya karena mengingat vani masih merasa trauma.
"kenapa?" vani bingung dengan ucapan yuli yang menggantung.
"em, maksud aku pantesan ya enggak ada yang nyariin bang dika dari kemaren ternyata dia lagi jomblo hehe"
yuli bercanda untuk mengalihkan ucapannya.
"hem, kamu ada ada aja deh" vani hanya tersenyum tipis.
"oh ya kak, apa ada kemungkinan nanti kalian bakal balikan lagi kalo emang benar bang dika itu belum nikah?"
"em, aku rasa enggak deh. kamu tau kan gimana keadaan aku sekarang"
vani menunduk sedih ia sudah tidak punya kepercayaan pada dirinya lagi.
"kenapa kamu ngomong kaya gitu?"
"aku enggak pantas buat dia"
mata vani kembali berkaca kaca.
"kamu yang sabar ya kak mungkin ini jalannya kamu sama bang raka emang enggak jodoh"
yuli mengusap lengan vani untuk menguatkannya.
"em, tapi kamu sama bang dika kayanya masih saling cinta deh mungkin ini tuh petunjuk kalo sebenarnya kalian itu berjodoh iya kan?"
"iya enggak mungkinlah yul, mana mungkin cowok sebaik mas dika itu berjodoh sama cewek kaya aku ini"
__ADS_1
vani kembali mengalihkan pandangannya.
"kok gitu sih ngomongnya, kamu kaya gini juga kan bukan keinginan kamu tapi karena takdir jadi kamu jangan anggap diri kamu serendah itu dong. kamu harus tetap semangat oke"
"iya iya, ya udah sana kamu pergi" vani mengusir yuli.
rasanya vani ingin menangis namun ia masih berusaha untuk menahannya agar yuli tidak melihat serapuh apa sebenarnya dirinya.
"kok aku malah di usir sih kak, aku kan belum sarapan masih nunggu calon abang ipar datang sambil bawa makanan. lagian lama banget sih ni bang dika"
yuli mengalihkan pembicaraannya karena melihat vani kembali memiliki suasana hati yang buruk.
"iya katanya mas dika mau pulang dulu sekalian mandi juga jadi pasti lama mending kamu sarapan di tempat kerja aja" vani tetap ingin mengusir adiknya itu.
"enggak ah, aku mau sarapan disini aja bareng kamu kak lagian kalo aku pergi sekarang entar siapa yang nemenin kamu disini"
"aku mau sendiri yul"
"enggak boleh. nanti kamu nangis lagi"
"aku enggak nangis kok"
"ya ampun, ini bang dika lama banget deh. padahal dia enggak mandi aja masih ganteng kenapa harus pake mandi segala sih. nanti kalo makin ganteng kan susah urusannya bisa bisa kakak ku jadi makin jatuh cinta lagi"
yuli mengalihkan pembicaraannya sekaligus bercanda untuk menghibur perasaan vani.
"hem" vani malas menanggapinya.
"hehe bener kan? aku emang adek yang paling pengertian ke kamu" nyengir yuli.
vani hanya tersenyum tipis lalu kembali bersandar di tempat tidur.
"oh ya kak, kemaren apa aja yang udah terjadi. apa bang raka sempet ngelakuin itu ke kamu?"
yuli bertanya serius karena merasa penasaran.
"em, aku juga enggak tau yul" vani menggeleng.
"hah! kamu enggak tau, kok bisa sih? emangnya kamu sepolos itu ya kak"
yuli bingung dengan jawaban polos dari vani.
"udah deh bisa enggak sih kamu jangan bahas itu terus. aku lagi enggak pengen bahas soal itu sekarang jadi jangan ngerusak mood aku dong"
"iya iya deh maaf" yuli pun akhirnya diam.
ceklek! pintu ruangan vani terbuka
dika melangkah masuk dengan senyuman manis di bibir yang membuat wajahnya terlihat semakin tampan setelah selesai mandi. apalagi ia juga menggunakan harum parfum yang menjadi kesukaan vani selama ini.
persis seperti yang di katakan yuli sebelumnya jika dika akan terlihat semakin tampan setelah selesai mandi.
"Assalamualaikum"
dika masuk sambil membawa makanan yang sudah mereka tunggu.
"Walaikumsalam"
kakak adik itu tertegun menatap wajah dika saat masuk.
"yul, ini aku bawain makanan buat kalian ya"
dika tersenyum sambil meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja dekat sofa.
ia menyadari jika saat ini kedua gadis di dalam ruangan itu hanya diam sambil memandang ke arahnya.
"kalian ini kenapa sih?"
ucapan dika membuat kedua gadis itu kembali tersadar dari lamunannya.
vani dan yuli langsung mengalihkan pandangan secara bersamaan ke arah yang berbeda dengan canggung.
"bang dika udah nyampe ya. hem dimana makanannya?
yuli merasa gugup karena bisa bisanya ia juga sempat terpesona dengan ketampanan pria di hadapannya itu.
"tuh kamu enggak liat"
dika menunjuk makanan yang sudah berada di atas meja.
"hehehe, makasih ya bang dika"
yuli beranjak segera menuju meja untuk sarapan.
"vani kamu laper kan? ayo makan dulu ya"
dika beralih duduk di samping vani.
"em" vani mengangguk
"aku suapi ya"
saat ini dika sedang menyuapi vani dengan sangat lembut dan penuh perhatian.
melihat kemesraan dari sepasang manusia di hadapannya yuli tersenyum canggung.
"em, aku udah selesai nih"
yuli minum dan langsung beranjak dari duduknya.
vani dan dika menoleh secara bersamaan saat mendengar ucapan yuli itu.
"sekarang aku berangkat kerja dulu ya kak, kamu cepat sembuh ya" emuach!! yuli mengecup pipi kakaknya.
"iya kamu juga hati hati ya"
"oke deh"
"pasti kamu bakal cepat sembuh kan kalo perawatnya cowok ganteng" bisik yuli menggoda kakaknya.
"ih! udah deh sana pergi"
vani menepuk pelan lengan adiknya yang nakal itu sambil mengusirnya pergi.
__ADS_1
"haha"
yuli keluar dari dalam ruangan itu dengan tawa renyah.
setelah selesai sarapan dokter pun datang memeriksa keadaan vani yang sudah semakin membaik lalu memberi suntikan obat dan vitamin agar kondisinya cepat pulih.
"gimana keadaannya dok?" tanya dika.
"kondisi pasien saat ini sudah lebih baik pak"
"syukurlah, terima kasih dok"
"sama sama. kalau begitu saya permisi ya pak"
dika mengangguk lalu dokter pun melangkah keluar dari dalam ruangan vani.
setelah dokter keluar dari dalam ruangan itu tak lama pintu pun terbuka memperlihatkan wajah rangga yang datang bersama istri dan anaknya untuk menjenguk vani.
ceklek!
"Assalamualaikum" salam ketiganya masuk
vani terkejut dengan kehadiran mantan bos bersama keluarganya itu. ia merasa malu jika mereka akan melihat keadaan dirinya yang seperti ini.
"Walaikumsalam"
dika langsung menarik selimut untuk menutupi bagian tubuh vani.
"hai tante cantik"
rara menyapa saat mereka masuk kedalam ruangan.
"hai sayang, rara udah gede ya sekarang makin cantik deh"
vani tersenyum memuji rara.
"makasih tante"
"gimana keadaan kamu vani?"
mbak ranty tersenyum sambil mendekati bankar vani.
"Alhamdulillah. udah lebih baik mbak" vani tersenyum.
"ya ampun muka kamu sama tangan kamu kenapa bisa sampe kaya gini vani, sebenarnya apa yang terjadi?"
ranty prihatin melihat keadaan vani.
"iya dika sebenarnya vani sakit apa sih kemarin kan lo cuma bilang kalo vani lagi sakit doang"
rangga juga bertanya kepada adiknya.
"em..."
dika melangkah untuk menjauh dari bankar lalu ia duduk di sofa dalam ruangan itu. rangga pun mengikuti langkah adiknya dan duduk di sofa.
setelah mereka duduk, dika pun menceritakan tentang keadaan vani yang sebenarnya kepada rangga dengan suara pelan agar vani dan rara tidak mendengarnya.
"ya gitulah lah bang. vani ngalamin tindak kekerasan dari calon suaminya"
dika menceritakan singkat kejadian tentang vani kepada abangnya.
"ya ampun kok bisa sih terus gimana sama pelakunya apa udah di amankan?" tanya rangga.
"udah bang, ray udah berhasil nemuin pelakunya. tapi..."
"tapi apa?" tanya rangga penasaran.
"vani minta pelakunya jangan di masukin ke tahanan"
"loh kenapa, bukannya dia udah nyakitin vani?"
rangga tak habis pikir dengan keputusan vani itu.
"karena vani ngerasa bersalah bang sama calon suaminya. udahlah lain kali gue ceritain lagi ya. sekarang gue enggak mau vani sedih lagi kalo dengar tentang mantannya"
"oke"
"kenapa?"
"em gue lagi mikir kayanya kalian emang jodoh deh soalnya kan sama sama batal nikah terus sekarang kalian ketemu lagi" bisik rangga menggoda adiknya.
dika menatap vani seolah ingin mengatakan jika itu memang benar.
vani yang berada di atas bankar hanya tersenyum saat berbincang dengan ranty lalu ia menoleh dan melihat dika yang sedang menatap ke arahnya.
vani pun langsung mengalihkan pandangannya kepada ranty yang berada dekat dengannya.
dika yang menyadari jika vani merasa tidak nyaman di tatap seperti itu pun kembali beralih menatap rangga.
"lo enggak ngantor juga bang?" tanya dika.
"enggak, mungkin nanti siangan deh itu juga kalo lagi mood" rangga menyandarkan tubuhnya.
"jadi lo biarin ray sendiri ngerjain semuanya?" dika tersenyum miring.
"hhh! dia udah biasa kali. ray kan si otak genius jadi gampang lah buat dia"
rangga memuji kecerdasan sekretarisnya itu.
"hem, iya kalian berdua tuh bos yang enggak ada akhlak kayanya deh. kasian ray selalu ngerjain semuanya sendiri. dia kan juga butuh waktu buat dirinya sendiri liat tuh dia jomblo terus sampe sekarang"
ranty yang mendengar ucapan suaminya pun menggeleng melihat kelakuan suami dan adik iparnya itu.
"kamu jangan salah faham sayang walaupun keliatan jomblo tapi banyak yang ngantri tuh"
"haha bener tuh mbak"
dika pun membela abangnya karena dirinya juga seperti itu seenaknya memerintahkan ray untuk mengerjakan tugas.
"kalian sama aja"
"lagian bukan cuma ray kali, aku yang enggak sibuk juga masih jomblo mbak" gumam dika.
__ADS_1