Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Honeymoon


__ADS_3

rara baru saja datang dari luar dan berlari ke arah vani yang masih duduk di tepi ranjangnya itu.


rara tetap masuk meskipun dika sudah melarangnya.


"tante cantik...!" rara berteriak senang memanggilnya.


"rara sayang"


vani pun tersenyum menyambut rara yang sedang berlari ke arahnya hendak memeluk dirinya itu.


"tante, rara boleh ya bobok disini soalnya besok tante sama om kan mau pergi jadi rara mau bobok disini sama tante sama om juga" rara meminta dengan mata yang berbinar.


"iya boleh dong sayang"


vani tersenyum senang sambil memeluk rara.


"yeii makasih tante cantik"


"enggak boleh!! rara kan udah gede terus rara juga udah punya kamar sendiri sayang jadi sekarang rara tidur di kamar rara aja ya"


dika baru kembali masuk kedalam kamarnya menyusul rara lalu menolak permintaan keponakan kesayangannya itu padahal selama ini ia tidak pernah menolak satu pun keinginan dari tuan putri kecilnya itu.


"enggak mau, pokoknya rara mau bobok disini malam ini. lagian tempat tidur om kan gede banget cukup buat kita bertiga" rara berbaring sambil memeluk vani lalu menutup matanya untuk segera tidur.


"tapi rara,,," ucapan dika terputus.


"mas udah dong, biarin aja rara tidur disini malam ini lagian rara bener besok kan kita mau pergi" ucap vani.


"tapi nanggung sayang..."


dika memelas karena hasratnya harus ia tahan malam ini.


vani hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala lalu ikut berbaring dan menutup matanya sambil memeluk rara.


"huh! emang dasar buah jatuh enggak jauh dari pohonnya. nih anak sama bapaknya sama aja kerjaannya suka banget gangguin orang"


dika mengomel sambil ikut merebahkan diri di samping rara lalu memeluk dua perempuan yang disayanginya itu.


di dalam kamar rangga sedang membuka laptop hendak mengecek cctv di dalam rumahnya untuk memastikan jika rara baik baik saja agar istrinya tidak terus khawatir.


"tuh liat deh sayang rara baik baik aja kan dia lagi sama om nya tuh"


rangga melihat rara berjalan menuju ke arah kamar adiknya.


"iya tapi kenapa rara malah masuk kesana sih mas terus enggak keluar keluar lagi dari dalam kamar dika?"


"ya palingan dia mau tidur disana"


rangga hanya cuek lalu mematikan laptopnya hendak kembali tidur.


"ya udah deh kalo gitu biar aku jemput rara aja ya mas" ranty hendak melangkah pergi.


"eh, enggak usah sayang biarin aja. rara tau kalo besok mereka mau pergi. kamu tau kan rara pasti bakalan tidur di kamar dika setiap omnya itu mau pergi ke luar kota" rangga mencegah ranty.


"iya tapi itu kan dulu mas sebelum dika nikah, sekarang ya beda dong. gimana kalo rara malah ganggu waktu dika sama vani di dalam, lagian aku enggak mau rara terus terusan kebiasaan kaya gitu dia udah gede tau"


"iya iya, udah deh sayang kamu jangan terlalu khawatir kaya gitu nanti makin dewasa rara pasti akan ngerti kok. kita bilangin pelan pelan aja ya"


"tapi..."


"udah sini tidur"


rangga menarik lengan istrinya membuat ranty jatuh kedalam pelukannya lalu ia menutupi seluruh tubuh mereka dengan selimut agar istrinya itu tidur di dalam pelukannya.


keesokan harinya setelah sarapan bersama vani dan dika pun akhirnya berpamitan kepada kedua orang tuanya juga kepada abang dan kakak iparnya karena mereka akan segera pergi honeymoon ke luar negara.


"ma, pa kami pamit ya" ucap dika dan vani salim.


"kalian hati hati ya sayang. jaga kesehatan dan jangan sampai sakit, apalagi kita kan enggak tau cuaca disana kaya gimana"


mama ratih memeluk anak dan menantu bungsunya itu.


"iya ma pasti, mama sama papa juga jaga kesehatan ya di sana. nanti kalo bisa kita juga bakal mampir ke london"

__ADS_1


dika mengecup punggung tangan mama dan papanya begitu juga dengan vani.


"dika, ingat ya kamu harus jagain istri kamu terus disana. apalagi ini kan pengalaman pertama vani akan berlibur ke negara asing. jangan sampai kamu ninggalin dia disana"


"iya pa, dika enggak akan pernah lepasin vani kalo lagi di luar kok. dika bakal borgol tangannya di tangan dika terus kaya gini nih" dika tersenyum sambil bercanda.


"haha. ada ada aja deh kamu dik"


ranty pun tertawa lalu memeluk kedua adik iparnya itu begitu juga dengan rangga. sedangkan rara masih terus menangis karena dirinya akan di tinggal pergi oleh om dan tante kesayangannya itu.


"hiks! hikss! hem..." rara terus saja menangis.


"sayang rara jangan nangis lagi dong. om sama tante kan cuma sebentar perginya"


vani menghapus air mata rara yang berada di dalam gendongan dika itu.


"kalo rara nangis terus om jadi sedih nih" dika membujuk keponakannya.


"ya udah deh rara enggak nangis lagi kok tapi om sama tante janji jangan lupa ya bawain rara oleh oleh" rara menghapus air matanya.


"nah gitu dong, emangnya rara mau oleh oleh apa sayang? om pasti beliin buat rara" dika tersenyum


"em, apa ya om?" rara pun kembali berpikir ingin di belikan buah tangan apa dari omnya itu.


"bukan di beliin tapi di buatin dong dik, rara kan minta oleh olehnya pengen punya adek buat temen main katanya" rangga kembali menggoda adiknya.


"ya buat sendiri lah bang, udah gede juga lo bisa mandiri kan?" dika menatap rangga.


"ya kan beda" rangga ngeles.


"apa sih mas" ranty kembali melotot ke arah suaminya itu sambil geleng geleng kepala.


"oke oke deh siap sayang. entar om beliin adek buat rara ya" ucapan dika yang tidak di mengerti oleh rara.


"emangnya boleh minta di bawain adek ya ma?" tanya rara polos kepada mamanya.


"kamu enggak usah dengerin, papa kamu cuma bercanda sayang" ranty mengambil alih gendongan rara.


"papa!" rara pun menatap kesal kearah papanya karena papanya selalu saja bercanda menggodanya.


-


saat ini dika dan vani sudah berada di dalam pesawat, mereka hendak menuju ke negara pertama yang akan mereka kunjungi yaitu kota romantis paris, perancis.


vani fokus menatap kearah luar jendela melihat awan dan pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya dari atas ketinggian semua terlihat sangat indah.


sebenarnya vani sangat takut pada ketinggian itu namun ia tetap memandangnya dengan takjub.


di sampingnya ada dika yang selalu setia menggenggam tangan istrinya itu membuat vani tetap merasa tenang.


karena sudah cukup lama duduk diam hanya memandang keluar jendela membuat vani merasa lelah dan bosan. ia pun mengalihkan pandangannya untuk melihat dika yang sedang duduk bersandar sambil memejamkan matanya.


"mas aku capek deh, sakit banget nih pinggangnya duduk terus" keluh vani.


dengan manja ia menyandarkan kepala di pundak suaminya lalu tangannya bergerak mengelus elus dada dika dengan lembut.


"sayang jangan mulai deh, kamu mau aku makan disini"


dika yang merasa sentuhan lembut dari tangan istrinya itu bisa membuat darahnya berdesir.


vani langsung menarik tangannya berhenti mengganggu dika karena tidak ingin suaminya itu nekat pikirnya.


di hari yang berbeda dika dan vani akhirnya sampai di kota yang mereka tuju.


supir yang sudah di tugaskan oleh ray untuk menjemput mereka menunggu kedatangan bosnya itu di bandara.


dika dan vani segera masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka menuju apartemen yang sudah di siap kan oleh sekretaris ray agar keduanya merasa nyaman beristirahat selama tinggal disana.


di dalam mobil vani hanya diam menyandarkan kepala di pundak suaminya karena sudah merasa lelah.


saat ini vani dan dika pun sudah sampai di dalam kamar apartemen mereka.


"sayang dingin banget deh di luar"

__ADS_1


vani mengatupkan kedua telapak tangannya karena merasa udara disana sangat dingin.


"iya sayang kebetulan ini kan emang lagi musim dingin"


dika mengatur kembali suhu penghangat ruangannya menjadi lebih hangat agar istrinya tidak kedinginan.


"baru kali ini aku ngerasain musim dingin kaya gini mas" vani terus menggosok kedua tangannya.


"gimana sayang, udah hangat belum?"


dika pun memastikan setelah mengatur suhu penghangat ruangannya.


"masih dingin..." ujar vani sambil membuka jaket tebalnya.


"oh ya? kalo gini masih dingin juga enggak sayang?"


dika mendekat dan langsung memeluk tubuh istrinya.


"hem, kalo gini jadi anget banget" vani membalas pelukan suaminya.


"huh, kamu tuh ya bisa aja deh. bilang aja kalo kamu pengen di peluk" dika menoel hidung vani.


"iya, tapi kamu juga seneng kan peluk peluk aku?"


"iya dong sayang. hehe"


"yahh tapi kok malah musim dingin sih mas itu berarti kita enggak bisa keluar buat jalan jalan dong" vani manyun.


"hem, malah bagus dong sayang kalo musim dingin jadi makin enak deh. iya kan" dika menggoda istrinya.


"ih, kamu mesum mulu deh mas aku enggak nyangka ternyata selama ini suami aku itu cowok mesum"


"hehe. enggak papa dong sayang kan mesumnya juga sama istri sendiri bukan sama istri orang"


dika pun merebahkan diri di atas ranjang yang empuk.


"em, jalan jalannya besok aja ya sayang aku capek banget nih mau istirahat dulu. biar nanti malam bisa semangat begadangnya" ujar dika memejamkan matanya.


"mas laper" vani memegang perutnya yang keroncongan.


dika membuka matanya lalu kembali duduk setelah sadar kalau mereka belum makan siang.


"oh iya. kita pesan aja ya sayang, mas masih capek"


dika pun memesan makanan untuk mereka.


"iya mas terserah kamu deh" vani pasrah.


di negara yang berbeda rangga masih berada di kantor sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya.


ia juga di dampingi oleh sekretaris ray padahal disana jam sudah menunjukkan pukul 19.30 malam. rangga dan ray memutuskan untuk lembur karena pekerjaan yang banyak.


"huh! kenapa enggak selesai selesai sih ray"


rangga mengeluh pada sekretarisnya itu.


"sabar bos sebentar lagi selesai" ray masih fokus pada laptopnya.


"eh, gimana perjalanan dika sama vani apa semua lancar?"


rangga memastikan kalau adik adiknya baik baik saja.


"tenang bos semuanya berjalan lancar mereka sudah sampai di apartemen dan mungkin sekarang sedang beristirahat" jawab ray


"baguslah kalo gitu, ayo cepat selesaikan pekerjaan kita. gue juga mau pulang terus istirahat bareng istri gue"


rangga melirik ray sambil tersenyum miring.


"em, iya deh yang punya istri" ray merasa tersindir.


"haha. iya dong punya istri itu enak ray makanya lo cepetan nikah" rangga tertawa.


"iya ini juga lagi berusaha buat nyari cewe yang mampu nerima gue apa adanya dengan semua kesibukan yang gue punya bos karena sangking sibuknya sampe gue enggak punya waktu buat diri gue sendiri" ray melirik.

__ADS_1


"baper amat hidup lo ray" rangga hanya tersenyum.


__ADS_2