Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Pilih kamu atau dia?


__ADS_3

sesampainya di depan rumah vani raka pun langsung mengetuk daun pintu rumah itu.


"tok!!! tok!!! tok!!


ceklek! vani membuka pintu rumahnya.


"mas udah sampe ayo silahkan duduk mas" vani tersenyum menatap kedatangan raka.


"iya sayang, nih aku beliin buah buat kamu"


raka berjalan masuk ke dalam rumah setelah vani membukakan pintu dan mempersilahkan duduk di sofa ruang tamu.


"makasih ya mas" vani menerima buah yang raka berikan.


"sayang, kamu udah siap kan kita ke dokter sekarang ya?"


"enggak usah mas aku udah ke dokter kok terus aku juga udah minum obat. jadi kamu enggak usah khawatir banget kaya gini ya"


vani dan raka duduk bersebelahan di sofa ruang tamu itu.


"gimana aku enggak khawatir sih sayang, calon istri aku lagi sakit loh" ujar raka tersenyum mengusap pipi vani.


"makasih ya mas kamu udah perhatian banget sama aku" vani menunduk sambil tersenyum malu.


"sayang, kok kamu ngomongnya gitu sih pasti dong aku khawatir kalo kamu sakit. aku kan pengen jadi calon suami yang baik buat kamu"


"hehe iya" vani tersenyum karena mendapat perhatian dari raka.


"ya udah kalo gitu kamu istirahat aja ya sayang"


"em iya tapi kalo kamu masih disini gimana aku bisa istirahat mas"


"ya aku mau temenin kamu disini sayang"


"jangan dong mas entar kalo ada yang liat kita cuma berduaan di dalam rumah kaya gini bisa timbul fitnah lagi"


"oh iya, ya udah deh kalo gitu aku pulang ya. em, tapi kamu udah makan kan sayang?"


"udah mas, aku udah makan tadi"


"ya udah kalo gitu nanti pulang dari resto aku kesini lagi ya bawain makanan kesukaan kamu"


"iya makasih ya mas"


"ya udah sayang jaga diri kamu ya" cup!


raka mengecup kening vani.


"iya mas kamu hati hati ya"


"iya sayang"


raka berjalan keluar dari dalam rumah vani dan kembali untuk bekerja.


sore harinya, seperti janjinya pagi tadi raka kembali datang mengunjungi rumah vani dengan membawa bingkisan buah dan makanan kesukaan vani.


"wah! banyak banget buahnya makasih ya mas, kamu udah bawain buah kesukaan aku"


vani tersenyum senang mendapat begitu banyak cinta dan perhatian dari raka.


"iya sayang, kalo gitu kamu makan dulu ya?"


"em, iya deh" vani mengangguk.


"ayo buka mulutnya dong, aaaaa"


raka hendak menyuapi lalu vani pun membuka mulutnya menerima suapan dari raka. dengan penuh perhatian raka menyuapi kekasihnya itu sampai makanannya habis.


"em, enak banget mas kamu emang jago banget deh masaknya" puji vani setelah selesai makan.


"iya dong sayang kan masaknya pake hati sama bumbu cinta" raka menghibur vani.


"hehe iya deh"


"nah! sekarang kamu minum obat dulu ya"


raka memberikan obat yang sebenarnya hanya sebuah vitamin itu kepada vani.


karena sebenarnya vani tidaklah sakit jadi ia mengatakan kepada raka kalau itu adalah obatnya.


"makasih ya mas kamu pasti capek habis pulang kerja harus kesini buat perhatiin aku" ucap vani tak enak.


"enggak kok sayang aku enggak capek sama sekali nih. apalagi kalo liat senyum manis kamu capeknya langsung hilang hehe"

__ADS_1


raka tersenyum menatap vani yang juga menatapnya.


"kamu bisa aja deh"


raka mendekatkan wajahnya hendak mengecup bibir vani membuat gadis itu memejamkan mata secara perlahan raka semakin mendekat untuk merasakannya.


saat raka sudah semakin mendekat hendak mengecup bibir vani tiba tiba saja rencananya harus gagal karena kepulangan yuli.


"Assalamualaikum..."


yuli yang baru saja pulang bekerja langsung masuk ke dalam rumah membuat keduanya kembali menarik diri masing masing dengan gugup karena kaget.


"Walaikumsalam. eh yuli kamu udah pulang" vani gugup.


"oh ada bang raka disini?" yuli tersenyum.


"em, iya nih yul lagi jenguk kakak kamu yang sakit" hehe


"oh gitu. oh ya kak nih aku bawain kamu cemilan biar enggak bosen di rumah terus"


yuli menyerahkan bungkusan yang ia bawa.


"makasih ya yul kamu baik banget deh"


vani tersenyum menerima bungkusan itu.


"iya iya. ya udah aku mau mandi dulu ya"


yuli pun melangkah masuk ke dalam kamarnya.


"iya iya. kamu bau tuh sana mandi" vani bercanda.


"ck! enak aja lo" kesal yuli.


"haha" vani dan raka pun tertawa karena yuli kesal.


"sayang lanjut dong"


raka kembali mendekat saat melihat yuli sudah masuk ke dalam kamarnya.


"jangan deh mas kamu taukan yuli sering muncul tiba tiba"


"iya kaya hantu ya" hehe


"kamu nih enggak sabar banget deh bentar lagi kan kita mau nikah jadi kamu bakalan bebas lakuin apa aja"


"dasar mesum banget sih" vani tersenyum.


*


beberapa hari kemudian vani sudah kembali bekerja. saat ini ia sedang berada di dalam ruangan bersama raka.


vani sedang duduk di sebuah sofa dalam ruangan itu sambil melamun seperti sedang memikirkan sesuatu hingga ia tidak fokus mendengarkan ucapan raka yang berbicara padanya.


melihat vani yang hanya melamun raka pun mendekat dan duduk di sampingnya.


"sayang, kamu kenapa kok ngelamun?"


"eh, aku enggak papa kok mas" vani tersenyum.


"kamu yakin?"


"em" vani mengangguk.


raka memegang kedua pundak vani lalu mendekatkan wajahnya hendak mengecup lembut bibir mungil itu.


namun vani langsung mengalihkan pandangannya untuk menghindar dari raka. meskipun ia sudah menjadi calon istri raka namun rasanya sulit sekali untuk bisa menerima kehadiran raka yang tulus mencintainya itu.


raka harus menelan kekecewaan karena usahanya untuk meluluhkan hati vani masih belum terwujud. sebenarnya raka bisa merasakan jika vani memang tidak mencintainya seperti dirinya yang sangat mencintai vani namun ego menahannya untuk tetap ingin memiliki wanita yang dicintainya itu dengan cara apapun.


"ya udah, mulai sekarang kita bakal mulai semua persiapan buat pernikahan kita ya"


raka berdiri dari duduknya lalu kembali berjalan menuju meja kerjanya.


vani hanya diam kembali memikirkan keputusannya untuk menikah dengan raka.


'em, gimana aku bisa jadi istri yang baik buat mas raka nantinya ya kalo aku kaya gini terus, aku enggak mau kalo dia nyentuh aku?' batin vani.


'apa nanti seiring berjalannya waktu aku pasti bisa nerima kehadiran mas raka sebagai suami ku?' batinnya masih bertanya tanya sambil melirik ke arah raka yang sedang memeriksa pekerjaannya di meja.


waktu terus berjalan, hari pernikahan vani sudah semakin dekat namun ia semakin ragu dengan keputusannya sendiri untuk menikahi raka.


hari ini lagi lagi vani tidak masuk kerja untuk menghindar dari raka dan segala persiapan pernikahan mereka.

__ADS_1


"aku harus bisa ngambil keputusan yang tepat sebelum semuanya terlambat tapi aku bakal nyakitin hati cowok baik yang udah tulus cinta sama aku selama ini"


"kayanya aku harus ketemu deh sama mas dika buat mastiin kalo perasaan ku ke dia udah hilang. aku harus yakin kalo aku emang udah enggak cinta lagi sama dia"


"iya aku harus ketemu sama mas dika buat yang terakhir kalinya. aku harus bilang secara langsung kalo aku udah enggak cinta lagi sama dia biar perasaan ku lebih tenang"


vani berpikir sambil berjalan mondar mandir di dalam ruang tamu rumahnya.


"mungkin dengan cara itu aku bisa ngerasa lebih baik"


vani pun bergegas pergi keluar rumah dan memesan taksi untuk mengantarnya.


ia mengirim sebuah pesan kepada dika dan memintanya untuk menemui dirinya di sebuah restoran yang tidak jauh dari gedung kantor wijaya.


ting..!!!


melihat ada pesan masuk di ponselnya dari gadis yang selalu ada di dalam pikirannya selama ini dika pun langsung membacanya.


"mas tolong temuin aku di resto xx ya sekarang!" tulis vani dalam pesannya.


"vani pengen ketemu, ada apa ya?"


dika pun segera beranjak dari duduknya hendak pergi untuk menemui gadis itu


pekerjaannya di kantor memang masih banyak saat ini sehingga dika memutuskan untuk menunda kepulangannya ke london dalam waktu dekat.


dika pun bergegas menuju mobil dan melajukan mobilnya dengan cepat menuju resto itu untuk menemui vani di tempat yang sudah ia kirim sebelumnya.


sesampainya di restoran yang vani katakan dika pun langsung melangkah masuk menuju salah satu private room yang berada di restoran itu.


dika masuk ke dalam ruangan itu dan melihat vani yang sudah menunggunya di dalam sana.


"vani?" dika berjalan mendekat.


"mas dika" vani menatap dika yang sudah datang.


"ada apa kamu mau ketemu?"


dika bertanya dengan suara lembut lalu duduk di sofa yang berada di samping vani.


vani hanya diam menatap sosok pria yang dicintainya itu, entah lah ia bingung dengan perasaannya sendiri.


"vani ada apa, kenapa kamu diam aja?"


dika yang penasaran pun bertanya karena khawatir pada gadis itu yang tiba tiba saja menghubunginya padahal sebelumnya vani sendiri yang sudah meminta untuk tidak usah bertemu lagi.


vani bingung harus mengatakan apa kepada dika hingga akhirnya ia menangis karena tidak tau harus bagaimana cara mengucapkannya. bibirnya ingin mengatakan jika ia sudah tidak mencintai dika lagi namun hatinya justru berkata lain.


"aku... aku..." vani tercekat.


dika menatap lekat wajah vani yang berusaha untuk mengatakan sesuatu sambil sesegukan menahan tangis dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya.


dika sungguh tidak tega melihat wanita yang dicintainya itu menangis di hadapannya.


"tolong jangan nangis lagi ya"


dika menghapus air mata di pipi vani dengan lembut seperti biasanya.


"hiks!!! hiks!!! hiks!!" vani semakin menangis.


"kamu kenapa? siapa yang udah nyakitin kamu kaya gini. ayo bilang sama aku"


dika memeluk vani yang masih menangis.


"aku cuma mau bilang,, kalo aku... udah enggak cinta lagi sama kamu...." hiks!! hiks!!


vani memeluk tubuh dika namun air matanya semakin deras membasahi pipi.


"iya aku ngerti" dika mengusap punggung vani.


"sebentar lagi aku mau nikah jadi aku mau yakinin hati kalo cuma suamiku yang aku cintain sekarang"


vani menghapus air matanya lalu melepaskan pelukannya dari tubuh dika.


"oke kalo itu emang udah jadi keputusan kamu aku enggak bakal ganggu kamu lagi tapi aku harap nanti kita enggak akan pernah ketemu lagi ya karena aku enggak bisa liat kamu sama cowok itu"


dika menghapus sisa air mata di pipi gadis itu.


vani menatap dengan wajah yang sangat sedih karena dirinya sudah mengucapkan hal itu kepada dika.


"kalau gitu selamat tinggal vani..."


dika berdiri dari duduknya lalu berjalan keluar dari private room itu.

__ADS_1


"maafin aku mas.."


vani semakin menangis karena dika pergi begitu saja. ia benar benar tidak berdaya dengan perasaannya sendiri.


__ADS_2