Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 84


__ADS_3

di suatu sore yang dingin hujan deras turun membasahi bumi. arin sedang berjalan menuju kamarnya namun tak sengaja ia melihat pintu kamar vani terbuka.


karena merasa penasaran seperti apa kamar utama yang berada di rumah itu arin pun masuk untuk melihatnya.


ceklekk!


pintu terbuka namun tidak ada siapapun di dalamnya.


"wah! bagus banget kamarnya luas dan nyaman"


arin mengagumi kamar itu lalu melangkah masuk dan berkeliling untuk melihat lihat isi ruangan serta barang mewah yang ada di dalamnya.


"wahh! ini keren banget"


arin tersenyum sambil memejamkan matanya.


ceklekk!!


tak berselang lama dika yang baru saja pulang bekerja langsung masuk kedalam kamarnya lalu menutup pintu karena hendak mandi.


dika tidak menyadari keberadaan arin di dalam kamarnya sejak tadi.


arin melihat dika masuk dan meletakkan tas kerjanya di tepi ranjang. ia terus memperhatikan dika yang sedang membuka satu persatu kancing kemeja lalu melepaskan dari tubuhnya.


"mas dika" gumam arin pelan. ia pun mendekat hendak menghampiri dika.


karena merasa ada seseorang yang sedang berdiri di belakangnya dika pun langsung berbalik badan dan melihat arin di sana.


"arin, kamu ngapain disini?" tanya dika bingung.


"em,,, aku,,, itu. tadi aku mau nyari vani tapi ternyata dia enggak ada" arin beralasan dengan sedikit gugup.


"oh ya, emangnya dimana dia?"


"em aku enggak tau, kalo aku tau ada dimana juga enggak mungkin aku nyariin dia" arin semakin gugup.


"hem, kalo gitu kenapa kamu masih disini? terus dari tadi kamu juga cuma diam aja ngelihat aku ngelepasin kemeja di depan kamu?" dika menatap curiga.


"eh, itu karena aku kaget" arin semakin canggung.


"kaget, atau kamu terpesona ya?"


dika tersenyum miring karena mengetahui isi hati arin yang sesungguhnya.


"em, aku..."


ucapan arin terputus melihat dika mendekat.


"dengar arin, sebenarnya aku enggak mau ngomong kasar sama kamu tapi aku mau ini jadi peringatan yang pertama dan terakhir buat kamu ya"


arin terdiam menatap wajah serius dika.


"tolong jangan pernah berani masuk ke dalam kamar ku lagi karena aku enggak suka ada orang lain di dalam kamar ku kamu ngerti?"


dika bersikap dingin dan mendapat tatapan sedih dari arin.


arin tidak menyangka dika tega marah kepadanya hanya karena ia melihat isi kamarnya saja.


sejak dulu dika memang tidak suka jika ada orang lain yang lancang memasuki kamarnya. bukan ingin marah, hanya saja ia memang tidak suka karena baginya kamar merupakan tempat pribadi apalagi sepertinya arin menikmati pemandangan di hadapannya.


ceklek!


pintu kembali terbuka, vani masuk dan melihat suaminya sedang bersama dengan arin di dalam kamar mereka.


"mas dika. kamu ngapain sama arin di dalam kamar kita?"


vani bingung sekaligus cemburu pastinya namun ia berusaha tidak memperlihatkan rasa kesalnya itu.


vani berjalan mendekati suaminya lalu menatap dika yang bahkan sedang tidak memakai pakaian bagian atasnya.


"eh, sayang. em enggak ada apa apa kok tadi aku baru pulang kerja terus enggak liat ternyata ada arin di dalam kamar kita. katanya dia lagi nyariin kamu" jelas dika


"oh ya? bukannya tadi kita udah ketemu di dapur ya"


vani menatap arin dengan serius membuat arin bingung harus menjawab apa.


"em, itu,,,"


dika pun menatap tajam ke arah arin karena ternyata mencari vani hanyalah sebuah alasan yang di katakan olehnya.


"em, iya aku pikir kamu udah balik ke kamar tadi. ya udah kalo gitu aku mau ke kamar ku dulu ya"


arin menunduk lalu melangkah keluar dari dalam kamar dika dan vani.


vani dan dika menatap kepergian arin dengan diam sambil bertanya tanya dalam pikiran mereka masing masing.


melihat dika yang terus menatap kearah pintu kamarnya vani pun langsung menarik telinga suaminya itu.


"ih, mas dikaaa! berani ya kamu genit genit sama arin di dalam kamar lagi. mau ngapain?" tanya vani curiga.


"aduh, sayang ampun. lagian siapa yang genit genit sih? kan tadi aku udah bilang kalo arin yang masuk ke dalam kamar kita pake alasan lagi nyariin kamu"


dika membela diri karena tidak menerima tuduhan dari istrinya.

__ADS_1


"terus ini apa namanya, kamu buka buka baju di depan dia hah!"


vani semakin kesal dan mencubit dada suaminya itu.


"sayang, aku juga udah bilang kalo aku enggak tau ada arin di dalam kamar kita. ya aku mau mandilah"


dika kembali membela diri.


"alesan aja kamu, bilang aja mau tebar pesona"


vani kesal dengan mood yang berantakan.


"ck! terserah kamu deh kalo enggak percaya, aku capek"


tidak berusaha untuk membujuk istrinya dika pun langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


"ih mas dika! buat kesel aja deh"


vani duduk di tepi ranjangnya dengan kesal.


malam harinya mereka makan malam dengan suasana hati yang berbeda beda.


arin merasa canggung atas apa yang sudah terjadi tadi sore di dalam kamar vani. sedangkan vani sendiri masih merasa kesal entah sebab apa namun ia tetap kesal jika mengingatnya.


namun dika hanya cuek saja karena dirinya juga sudah merasa pusing dengan urusan pekerjaan di kantor. ia pun bermaksud mengabaikan saja masalah yang menurutnya sepele itu.


tidak seperti biasanya setelah selesai makan malam vani langsung beranjak kembali menuju kamar dengan menaiki tangga padahal biasanya dika selalu meminta istrinya itu untuk naik dan turun ke lantai atas menggunakan lift dan menjauhi tangga karena usia kandungan vani yang sudah membesar membuatnya sulit berjalan.


namun malam ini vani tidak mau menurutu karena masih merasa kesal di hatinya. melihat itu dika pun langsung mengejar istrinya yang sedang ngambek karena takut terjadi sesuatu kepada vani.


arin hanya menatap kepergian pasangan suami istri itu dari hadapannya.


"sayang! kan aku udah bilang kamu jauhi tangga nanti kamu kecapekan"


ucapan dika hanya dicuekin oleh istrinya.


vani terus berjalan menaiki satu persatu anak tangga itu tanpa berniat untuk melihat dika yang sedang mengikuti langkahnya.


"sayang kamu kenapa sih. emang aku salah apa sampe kamu ngambek kaya gini?"


dika bingung namun vani terus saja berjalan menuju kamar dan tidak menghiraukannya.


sesampainya di dalam kamar vani duduk di tepi ranjang dengan diam sambil tertunduk.


"sayang kamu dengar aku enggak sih, aku lagi ngomong sama kamu loh dari tadi"


dika mengikuti langkah istrinya masuk ke dalam kamar.


"iya kamu kesel sama aku karena apa?"


"iya kamu pikir dong sendiri"


"maksudnya?"


"iya aku enggak tau pokoknya aku kesel, aku kesel kamu deket deket sama arin"


vani akhirnya mengaku kalau sebenarnya ia sedang cemburu.


"oh, kamu cemburu ya?"


dika tersenyum dengan menggoda istrinya.


"iya aku cemburu. emangnya kenapa kalo aku cemburu?"


"iya enggak papa sih aku tau kok, baguslah itu berarti kamu cinta sama aku tapi sayang kamu tuh enggak boleh kesel liat arin. kamu ingatkan karena dia kita bisa bareng lagi sekarang" dika memegang kedua bahu vani.


"terus maksud kamu karena dia yang udah nolongin kamu jadi dia boleh deket deket sama suami orang gitu?"


vani tidak suka lalu menepis tangan suaminya.


"kan cuma temenan sayang, enggak ada hubungan apa apa. lagian aku tuh cintanya cuma sama kamu doang"


"kamu pikir aku percaya?"


"ya kamu harus percaya dong. kan aku enggak bohong"


"ck! tau ah!"


vani mengalihkan pandangannya dengan cuek.


dika pun berlutut di hadapan vani yang sedang duduk di tepi ranjang itu lalu menatap wajah istrinya yang sedang menunduk dari arah bawah.


"sayang udah dong kamu jangan kaya gini ya. liat nih baby pasti enggak mau denger kita berdebat terus"


dika mengusap perut istrinya lalu mengecupnya sambil memeluk pinggang vani.


"kaya gini gimana sih mas, kamu maunya aku diem aja gitu liat kamu sama arin deket deket"


"sayang, kamu berlebihan deh aku tau kamu sayang sama aku tapi kamu juga harus ingat aku sama arin itu cuma teman dan enggak ada hubungan apa apa beneran"


"iya sekarang memang masih temenan dulu kita juga cuma temen"


"hhh! kamu masih enggak percaya?"

__ADS_1


dika menghembuskan nafas beratnya.


vani tidak kuasa menahan air matanya entah mengapa saat ini ia sangat ingin menangis.


"sayang tolong percaya sama aku ya, ngapain juga aku nikahin kamu kalo aku cuma pengen senang senang sama cewek lain. aku bisa lakuin itu dari dulu kalo aku mau"


dika memegang kedua pundak vani untuk meyakinkannya.


"iya mungkin sekarang kamu nyesel nikahin aku"


vani dengan air mata di pipi memalingkan wajahnya.


"kamu bilang aku nyesel? enggak sayang sama sekali enggak. harus gimana sih aku jelasin ke kamu kalo aku cuma punya kamu sayang"


dika berdiri lalu mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir manis istrinya.


cup!


dika melumvt lembut bibir istrinya vani pun membalasnya.


"beneran janji ya" vani mengulurkan jari kelingkingnya.


"janji sayang. udah dong kamu jangan nangis lagi ya entar cantiknya luntur lagi"


dika menghapus air mata di pipi vani.


"tapi sekarang masih cantik kan?"


vani tersenyum menatap suaminya.


"iya, cantik banget istri aku"


dika memuji istrinya agar vani tidak sedih lagi.


"makasih sayang"


vani memeluk pinggang suaminya yang sedang berdiri di hadapannya itu.


"ya udah aku ngerjain ini dulu ya"


dika pun duduk bersandar di tempat tidur lalu membuka laptopnya.


"kamu lagi sibuk ya mas?"


vani mendekat lalu memeluk lengan dika dari samping.


"iya lumayan kamu istirahat aja duluan ya"


dika mengusap pipi istrinya.


seperti biasanya vani akan kembali tersenyum setelah mendengar pujian manis dari suaminya itu.


"enggak mau, pengennya sama kamu"


cicit vani ragu dengan suara pelan mengatakannya.


"hem, pengen apa sayang?"


dika pura pura tidak mendengarnya dan tetap fokus pada laptopnya padahal ia bisa mendengar jelas.


"em, pengen tidur"


vani langsung berbaring tidak mengatakan keinginan yang sebenarnya karena terlalu gengsi untuk mengakuinya.


"pengen tidur atau pengen di tidurin sih sayang?"


dika tersenyum lalu ikut berbaring memeluk tubuh istrinya dari belakang.


merasakan pelukan itu vani pun tersenyum karena dika selalu mengerti keinginannya meskipun ia tidak mengatakannya secara langsung.


vani berbalik badan menghadap suaminya lalu dika pun langsung melahap bibir mungil istrinya yang akhir akhir ini selalu saja cerewet dan suka ngambek itu.


vani pun dengan sangat antusias membalas setiap lumvtan dari bibir suaminya.


permainan mereka terus berlanjut hingga membuat hasrat keduanya semakin menuntut.


di dalam kamarnya arin sedang gelisah memikirkan apakah saat ini vani dan dika sedang bertengkar karena dirinya atau tidak.


"em, apa mereka lagi bertengkar ya makanya tadi vani enggak mau dengerin omongannya mas dika?"


"apa mereka bertengkar karena aku?"


arin bertanya tanya sambil menggigit bagian ujung jarinya karena merasa tidak enak.


"hem, ini salahku. seharusnya tadi aku enggak masuk ke dalam kamar mereka" arin menyesali perbuatannya.


"tapi kenapa sih sama perasaanku"


arin memegangi bagian dadanya.


"ah, udahlah aku yakin mereka pasti bakal baik baik aja besok"


tak mau pusing memikirkannya arin pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang segera tidur.

__ADS_1


__ADS_2