
rangga ikut berjalan sambil memegangi kedua pundak adiknya dari samping karena melihat dika yang berjalan dengan sempoyongan.
"semangat dong dika! selamat ya sekarang lo udah resmi jadi seorang ayah, liat anak lo udah lahir pasti lo seneng kan? percaya deh bayi lo bakal bertahan buat kalian"
rangga menyemangati adiknya sambil merangkulnya berjalan.
"iya bang makasih ya lo selalu ada buat suport gue disini"
"sama sama dika kita kan saudara ya pasti harus selalu saling suport satu sama lain dong"
"gue bersyukur banget akhirnya gue beneran jadi seorang ayah sekarang. bayi gue emang hebat dia bisa bertahan"
dika masih terharu sambil terus berjalan.
"lo bener, baby kalian itu emang jagoan karena dia tetap bertahan dalam keadaan apapun" rangga tersenyum.
"gue juga percaya dia pasti masih bisa bertahan buat kita sekarang"
"pasti. eh, btw baby lo cewek atau cowok ya dik?"
"em, gue juga belum tau bang ayo kita liat bareng"
dika berjalan memasuki ruangan bayinya yang di ikuti oleh rangga juga.
"silahkan pak dika, adzanin bayinya melalui lubang yang berada di samping box ini saja ya karena bayi belum bisa di gendong keluar dari dalam box ini"
suster menunjuk lubang di dinding kaca lalu menggeser posisi bayi agar telinganya dekat pada lubang itu.
lubang yang berada di samping box itu digunakan untuk memasukkan tangan saat dokter memeriksa kondisi bayi di dalamnya.
"baik suster terima kasih"
dika mendekatkan wajah pada dinding kaca box lalu mengadzani bayinya dengan perasaan haru bahkan sampai meneteskan air mata bahagia menatap bayi mungil yang masih memejamkan mata di dalam box itu.
setelah dika selesai mengadzani bayinya suster kembali memperbaiki letak posisi tidur bayi agar lebih nyaman lalu menutup kaca agar suhu di dalam box itu tetap hangat.
"baiklah pak dika, kalau begitu saya permisi"
suster berjalan hendak keluar dari dalam ruangan namun rangga kembali bertanya membuat suster menoleh dan menghentikan langkahnya.
"maaf suster, saya mau nanya kalo boleh tau bayi adik saya ini cowok atau cewek ya?" tanya rangga penasaran.
"oh bayi ini laki laki pak, liat wajahnya sangat tampan mirip dengan ayahnya"
suster itu tersenyum malu saat menatap ke arah dika lalu melangkah keluar dari dalam ruangan itu.
rangga menatap bingung pada suster yang tersenyum malu itu
"aneh banget deh, heran gue liat suster pada kenapa ya kok senyum senyum salting gitu setiap liat muka lo. udah jelas jelas mereka tau kalo elo udah punya anak masih aja malu malu gitu ngeliatnya"
rangga menatap adiknya sambil menggelengkan kepala.
"hh! biarin ajalah bang, gue juga enggak terlalu peduli sama tatapan suster disini"
dika kembali mengalihkan pandangannya menatap bayi mungil yang berada di dalam box kaca itu.
"iya untung aja vani enggak liat"
rangga sengaja menggoda adiknya karena dika hanya tersenyum menanggapinya.
dika menatap lekat bayi mungilnya sambil tersenyum dan memperhatikan setiap inchi wajah putranya yang memang terlihat mirip dengan dirinya terutama di bagian mata dan hidung sedangkan bibirnya mungil seperti ibunya namun bentuk wajahnya kecil mirip seperti rangga yang berwajah imut karena memiliki bentuk pipi yang tirus dan chuby.
"sayang, makasih ya kamu udah lahir dengan selamat. papa bersyukur banget kamu masih bertahan buat mama sama papa disini. papa harap kondisi kesehatan kamu cepat membaik karena papa pengen banget bisa gendong dan cium pipi kamu. papa sayang banget sama kamu"
__ADS_1
dika tak mau mengalihkan pandangan dari bayi mungilnya itu sedangkan rangga tersenyum melihat adiknya yang sedang bercerita.
"maafin papa ya sayang karena enggak bisa jagain kamu dengan baik sampe kamu harus ngerasain sakit kaya gini"
dika menunduk sedih ia tidak tega melihat kondisi bayinya yang sangat lemah dan harus menggunakan alat medis di tubuh mungilnya untuk bernafas serta mendeteksi detak jantung yang juga lemah.
"kamu pasti kuat sayang jagoan papa harus sehat ya. papa janji bakal jagain kamu sama mama lebih baik lagi nanti"
rasanya dika sangat ingin menggendong dan memeluk bayinya itu namun tidak bisa ia lakukan sekarang.
"sabar ya dika, jagoan pasti kuat dan sehat lagi"
rangga mengusap pelan pundak adiknya untuk memberi semangat.
"iya bang"
dika mengangguk sambil menghapus air mata di pipinya.
rangga mendekati box bayi dan menatap tubuh mungil keponakan pertamanya itu.
"hai sayang, ini uncle kamu yang paling ganteng loh"
rangga dengan kepedean tingkat tingginya pun menyapa keponakannya yang bahkan belum bisa melihat itu.
"hem" dika hanya diam mendengarkan ucapan abangnya.
"liat deh, mukanya kok ganteng banget mirip gue ya dik?"
rangga memperhatikan wajah bayi sambil memegang dagunya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"enak aja lo gue yang capek buatnya masa mirip sama elo sih. ya mirip sama gue lah lo enggak liat tuh hidung sama matanya mirip gue banget"
dika tidak terima dengan ucapan abangnya itu.
"iya tapikan gue pamannya. lagian lo capek buatnya dari mana coba yang ada lo tuh keenakan. ckckck!"
"ppfftt!! iya juga sih. gue juga lebih sering keringetan kalo malem dari pada siang" ckckck! rangga tersenyum jahil.
"ssttt! diem lo! berisik tau enggak. ganggu anak gue aja"
"hem lo yang mulai"
"lo juga yang nyambung"
"udah deh gue capek debat sama lo"
"gue juga"
"oh ya mama sama yang lain juga pengen liat bayi lo tuh dik kita gantian jagain vani di sana yuk emang elo enggak mau liat keadaan vani?"
rangga mengajak adiknya keluar dari dalam ruangan bayi.
"iya ayo, gue juga pengen liat keadaan istri gue bang" dika pun beranjak dari duduknya.
"sayang papa mau liat keadaan mama dulu ya, nanti papa pasti bakal kesini lagi buat nemenin kamu" dika mengelus pipi lembut bayinya.
"dah sayangnya uncle"
rangga melambaikan tangannya kepada bayi yang sedang tertidur itu.
setelah keluar dika dan rangga berjalan menuju ruangan vani dengan langkah cepat sedangkan mama dan papanya bergantian masuk ke dalam ruang perawatan bayi untuk melihat keadaan cucu mereka yang masih dalam keadaan mengkhawatirkan itu.
sesampainya di dalam ruangan bayi mama ratih dan papa hardi menatap sendu tubuh mungil cucu mereka yang berada di dalam box kaca itu.
__ADS_1
"pa liat deh cucu kita baru lahir tapi harus ngerasain sakit kaya gini. mama enggak tega liat tubuh mungilnya di pasang alat medis kaya gitu"
mama ratih tak kuasa menahan tangis saat menatap cucunya yang tidak berdaya.
"sabar ya ma, cucu kita kan jagoan pasti dia kuat dan mampu bertahan kita harus terus doain supaya kondisinya lekas membaik. nanti kalo dia udah sehat kita bakal bisa main bareng"
papa hardi mengusap punggung istrinya menguatkan padahal dirinya sendiri juga tidak tega melihat keadaan cucunya itu.
"liat deh pa mukanya mirip banget sama dika waktu masih bayi ya"
mama ratih tersenyum sambil menghapus air matanya.
"pasti dong ma, mukanya juga mirip sama ibunya jadi perpaduan wajah yang sempurna"
"iya mirip dika sama vani banget manis pa"
sesampainya di depan ruangan istrinya dika dan rangga langsung masuk ke dalam.
di sana vani masih di jaga oleh ranty dan yuli bersama arin yang juga ikut dengan mereka sedangkan ray masih setia menunggu di luar ruangan sambil menghubungi beberapa anak buahnya agar tetap mengusut dalang penculikan vani hingga tuntas.
ray berkata jika mereka harus segera menemukan siapa dalang di balik penculikan vani karena merasa sangat penasaran apa motif di baliknya sekaligus untuk memberi efek jera kepada pelakunya.
"lakukan yang terbaik dan jangan biarkan mereka lolos lagi" ucap ray dalam telponnya.
setelah masuk ke dalam ruangan istrinya dika langsung melangkah mendekati bankar vani dengan mata berkaca kaca menatap sendu tubuh istrinya yang masih terbaring lemah belum sadarkan diri itu.
dika berdiri di samping bankar vani lalu mendekatkan wajahnya dan mengecup kening istrinya dengan lembut.
"makasih sayang kamu udah ngelahirin anak kita. selamat ya sekarang kamu udah jadi ibu kamu harus cepat sembuh soalnya anak kita butuh kamu begitu juga aku" bisik dika di dekat telinga vani sambil mengusap lembut kening istrinya menatap wajah vani yang terlihat masih pucat.
hal itu tidak luput terdengar dan dilihat oleh pandangan mata semua orang yang berada disana termasuk arin yang menatapnya dengan rasa cemburu.
"i love you" bisik dika juga dengan suara pelan yang hanya samar terdengar oleh rangga dan yang lainnya.
dika duduk di kursi yang berada di samping bankar vani sambil terus menggenggam tangan istrinya.
setelah melihat dika sudah berada disana untuk menemani dan menjaga vani. ranty dan yuli pun memutuskan keluar dari dalam ruangan karena hendak melihat kondisi keponakan mereka yang belum sempat mereka lihat sebelumnya.
"dika, mbak sama yuli mau liat keponakan kita dulu ya sebentar" ucap mbak ranty kepada dika.
"iya mbak" dika mengangguk.
"sekalian kami bakal pulang bentar ya dik, mau mandi sama bawain pakaian ganti buat lo juga"
rangga pamit kepada dika karena setelah itu mereka akan pulang ke rumah.
"iya bang, sekalian ajak mama sama papa pulang juga ya biar bisa istirahat di rumah aja soalnya aku enggak mau mereka sampe sakit karena kecapekan dan kurang tidur" pinta dika.
"oke nanti gue sampein, kalo gitu kami keluar dulu ya. ayo sayang"
rangga mengajak istrinya, dika hanya mengangguk setuju.
"aku juga mau pulang bentar buat nemuin hana ya bang dika" pamit yuli juga.
"oh oke yul makasih ya" dika menganggukkan kepalanya.
yuli dan ranty langsung berjalan keluar dari dalam ruangan tanpa mengajak arin karena mereka hanya menganggap semu keberadaannya disana.
rangga yang melihat arin hanya diam saja sejak tadi pun mengajaknya untuk pulang karena bagaimanapun arin sedang hamil dan pasti lelah berada di sana pikirnya.
"ayo arin kamu juga harus istirahat" rangga mengajak arin.
"iya" arin mengangguk dan mengikuti.
__ADS_1
dika hanya melihat sekilas kearah arin lalu langsung mengalihkan pandangan kembali fokus menatap istrinya.
arin yang melihat dika malas menatapnya pun hanya terdiam dan pergi dari sana.