
setelah dika menekan tombol hijau di layar ponselnya telpon pun sudah terhubung dengan istrinya.
"iya halo sayang, ada apa? kamu baik baik aja kan?"
dika banyak bertanya karena merasa khawatir jika sampai terjadi sesuatu kepada istrinya di rumah apalagi saat ini vani sedang hamil.
"mas aku baik baik aja kok jangan khawatir ya"
"oh! oke deh istriku yang cantik ada apa sayang?"
"mas, apa kamu masih sibuk di kantor?"
"em, iya dikit sayang emangnya kenapa?"
dika menatap ray yang sedang fokus dengan layar.
"enggak papa sih mas aku cuma kangen aja jadi kamu bisa pulang cepat kan sore ini?" vani penuh harap.
"emangnya ada apa sih sayang?"
dika semakin penasaran karena ia yakin istrinya itu pasti sedang menginginkan sesuatu.
"em, itu spaghetti mas tiba tiba aku pengen banget makan spaghetti buatan kamu kaya dulu tapi kalo kamu masih sibuk enggak papa kok, lain kali aja mas" vani tidak ingin memaksa.
"oh gitu, oke sayang aku bakal cepat pulang"
dika yang tidak pernah menolak atau menunda keinginan dari istrinya itu pun tertidur seperti biasanya.
"oke deh makasih ya suamiku yang ganteng kebangetan. emuach"
vani memberikan kiss jarak jauh karena sepertinya ia sedang dalam mood yang bagus hari ini.
"iya sayang" dika tersenyum.
saat ini hatinya benar benar di penuhi dengan bunga yang indah karena dika berhasil mendapat pujian dari istrinya.
"kok cuma jawab iya doang sih?!!!" protes vani karena dika tidak membalas kiss darinya.
"em, nanti aja ya kalo aku udah sampe di rumah sayang" dika sedikit berbisik.
"ih! kenapa emangnya kalo sekarang. hem kamu lagi sama siapa sih mas?" vani curiga.
"em, bukan gitu sayang kalo di rumah kan kiss nya bisa beneran sayang hehe" dika menggoda namun membuat istrinya kesal.
"ih! ngeselin"
tut! tut! vani pun langsung mematikan telponnya sepihak.
"heh! apa apaan sih ini. jangan bilang istri gue udah kena sindrom bang rangga lagi suka matiin telpon tiba tiba secara sepihak gitu"
omel dika kesal lalu ia mengemas berkas yang akan dibutuhkannya di rumah nanti.
ray yang melihat dika sedang berkemas itu pun tidak tinggal diam karena yakin dika akan meninggalkan dirinya sendirian seperti biasanya disana.
"heh! mau kemana lo?"
ray menatap dika yang masih sibuk mengemas barang barangnya.
"mau pulang" jawab dika singkat.
"eh, enak aja lo mau pulang enggak liat nih belum selesai?" protes ray melarangnya.
"heh! lo enggak denger apa, ibu negara gue udah nelpon nih jadi gue harus pulang sekarang" dika terus saja mengemas berkas ke dalam tas kerjanya.
"alasan aja lo palingan juga vani enggak maksa lo buat pulang bilang aja elo sendiri yang berniat pulang cepat"
__ADS_1
ray sudah dapat menebak sesuatu yang ada di dalam pikiran sahabatnya itu.
"hhh! lo emang pinter ray tu lo udah tau kan, ya udah ya bye...!!!" dika hendak keluar.
"dika!!"
"eh satu lagi besok gue enggak ngantor karena harus nemenin vani ke dokter jadi lo enggak usah jemput gue selesaiin aja kerjaan lo dengan baik ya"
"enak aja lo, maksudnya gue harus ngurus dua perusahaan sendirian?" protes ray tidak terima.
"em, kayanya lo butuh asisten pribadi deh ray biar kerjaan lo berkurang dikit"
"iya kayanya lo emang harus nyari tiga asisten pribadi baru" ujar ray membuat dika menghentikan langkahnya.
"lah! banyak banget tiga orang buat apa aja? gue lagi enggak mau ngoleksi sekretaris buat jadi pajangan" dika memikirkan.
"iya buat lo satu terus buat gue satu dan buat pak rangga juga" jawab ray
"bang rangga kan udah punya naya?"
"naya udah jadi punya gue"
"hah! maksud lo?" dika tak mengerti.
"em, maksud gue. naya,,, naya udah resain dari kantor" ray merasa gugup.
"sejak kapan, kok gue enggak tau ya" dika mencoba untuk mengingat.
"ya karena lo terlalu sibuk oh ya lagian kita emang harus nambah karyawan deh terutama yang bakal jadi sekretaris lo. soalnya gue enggak bakal bisa bantu lo sana dan sini. lo juga pasti bingungkan kalo harus ngurus dua kantor sekaligus"
"em, iya sih tapi kan ada elo sama bang rangga yang bakal bantuin gue"
"gue enggak bisa dika, lo tau kan setelah om sama tante pulang nanti gue sama bos rangga bakal lebih sering ke london" ucap ray.
"em, oke lo atur semuanya deh terserah lo mau rekrut berapa asisten gue mau pulang dulu byee...!!"
"eh emang dasar ya lo, hati hati lo di jalan" teriak ray yang masih di dengar oleh dika.
"ya" dika tidak menoleh dan melanjutkan langkah kakinya keluar saat mendengarnya.
"aarrgghh!! pinter juga dia! kacau semuanya, dasar dika bisa bisanya dia bilang kalo ini orang belum jago nyerang"
ray kesal karena kewalahan menangani serangan dari para hacker yang menyerang di dalam komputernya.
sesampainya di rumah dika langsung memeluk istrinya.
"sayang!!!"
"ih mas kamu itu bau banget tau sana gih mandi dulu, hoeek! aku mual nih" vani melepaskan pelukan suaminya.
"masa sih, aku masih wangi kok sayang" dika mencium aroma tubuhnya sendiri.
"oh ya, masa sih hem iya deh wangi banget suami aku emuach!" kecup vani pada pipi suaminya.
"kok kamu jadi lebay gini sih sayang, kecentilan banget tau enggak sih. dimana istriku yang dulu polosnya kebangetan hem?" dika kembali memeluk istrinya.
"em, enggak tau tuh kemana soalnya sekarang tinggal ada istri kamj yang centil dan lebay. lagian kepolosan aku juga udah hilang karena bersuamikan kamu yang selalu mesum itu kan mas" vani memutar bola matanya.
"kenapa aku yang salah lagi sih sayang?" dika memelas.
"iya emang kan" vani tersenyum.
"em, yaudah deh aku langsung masak aja kalo gitu buat kalian ya" dika mengusap perut istrinya lalu melangkah menuju dapur.
"eh mas! kamu harus mandi dulu, baby enggak mau makannya kalo kamu bau" vani mengehentikan langkah suaminya.
__ADS_1
"tadi katanya masih wangi, ribet banget sih bumil satu ini"
"itu kata baby bukan kata aku" vani tersenyum miring.
"hem alesan"
dika pun pasrah menuruti keinginan istrinya lalu berjalan menuju kamar hendak segera mandi..
di kantor ray semakin merasa frustasi karena ia tidak dapat mengalahkan serangan di dalam komputernya padahal biasanya hal itu adalah keahliannya.
"arrghh!! brengsek!!"
ray menyambar cepat ponselnya untuk menghubungi dika.
di rumahnya setelah selesai membersihkan diri sesuai keinginan istrinya itu dika pun berjalan menuju dapur.
drt! drt! drt!
ponsel dika berdering tanda ada panggilan masuk ia pun langsung menyambar ponsel di atas meja lalu menjawab telpon itu.
"ya halo" dika sambil berjalan menuju dapur.
"dika, lo dimana sekarang??" tanya ray dari seberang sana.
"iya di rumah lah, emangnya ada apa?"
"kita kalah, virus yang masuk terlalu banyak, komputer lo juga sampai rusak nih" ray berkeluh kesah.
"apa! kok bisa sampe kalah sih ray lo bercanda kan?" dika tak percaya karena sebelumnya ini tidak pernah terjadi.
"gue enggak lagi bercanda dika, gue serius! semua data penting di dalam juga pasti hilang. cepetan lo cek ya yang masih bisa di selametin" ucap ray pasrah.
"wah! gila lo ray, gimana bisa lo kalah saing sama hacker bocah kaya yang tadi" dika tak habis pikir.
sekarang dika merasa semakin yakin jika saat ini keadaan sahabatnya itu sedang tidak baik baik saja jika ray bisa sampai seceroboh itu pastilah karena ia tidak fokus dalam mengerjakannya.
"sorry dika, lo boleh marah deh tapi gue butuh waktu buat nenangin diri sekarang jadi gue mau ambil cuti tiga hari tolong lo setujui ya. makasih" tut..!!! tut..!!
ray langsung mematikan sambungan telponnya tanpa mendengarkan jawaban dari dika terlebih dahulu.
"heh! bener bener ya nih anak minta di pecat kayanya, bisa bisanya dia minta cuti di saat keadaan kantor lagi down kaya gini. udah ngerusak komputer gue yang mahal, data di dalamnya juga hilang semua sekarang dia ikutan mau ngilang dari kantor apa sih maunya nih anak"
omelan dika yang sejak tadi ternyata di perhatikan oleh vani dari belakang.
"mas, kamu kenapa sih kok ngomel sendiri kaya gitu?" vani mengusap pundak dika dengan lembut.
"ini sayang, ray makin aneh aja akhir akhir ini" keluh dika pada istrinya dan menceritakan semua yang ray katakan.
"ya udahlah mas biarin aja dulu mas ray cuti, selama ini kamu terlalu ngandalin dia kan mungkin dia capek. lebih baik kamu sama mas rangga dulu aja ya yang nyelesaiin semuanya sekarang atau mau aku bantu?" vani memainkan alis matanya.
"em, enggak usah makasih sayang aku enggak mau kamu kecapekan lagian aku juga bisa kok selesaiin semuanya sendiri"
"gitu dong suami aku kan jago banget. iya udah kalo enggak mau aku bantuin"
dika sedang larut dalam pikirannya sendiri saat ini ia masih memikirkan tentang sahabatnya itu.
"mas" vani memanggil namun dika tak mendengarkannya.
"mas dika!!" teriak vani sambil mengguncang lengan suaminya yang sedang melamun itu.
"eh! iya sayang?" dika pun tersadar dari lamunannya.
"mas kapan kamu mulai masaknya?"
"oh iya! ya udah sayang kamu tunggu di sini ya biar aku masak buat kamu" dika mengusap lembut pipi istrinya.
__ADS_1
"iya mas" vani tersenyum senang.