Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 217


__ADS_3

di kantor siang ini vani datang dengan membawa sebuah rantang berisi makanan di tangannya yang sudah ia masak dari rumah khusus untuk suaminya.


vani mengetuk pintu ruangan suaminya itu lalu langsung masuk ke dalamnya.


"mas" vani berjalan mendekati meja kerja suaminya.


"hai sayang kamu udah sampe?" dika menatap kedatangan istrinya.


"iya mas kamu lagi sibuk ya?" vani melihat suaminya terus menatap layar di hadapannya.


"em sedikit sayang" dika mengalihkan pandangannya.


"aku tau mas, kamu pasti lagi sibuk banget sekarang tapi jangan sampe lupa makan ya, nanti kamu bisa sakit kalo telat makan ayo kita makan dulu"


vani membuka rantang yang ia bawa di hadapan suaminya.


"em, enak banget sih kayanya makasih ya sayang" dika menatap makanan di hadapannya.


"iya ini enak banget tau makanya ayo kita makan sama sama mas kamu jangan sibuk terus sampe telat makan ya"


"siap tuan putri ku lagian aku enggak sibuk kok ini dikit lagi juga selesai" dika masih menatap layar di depannya.


"ya udah sini aku suapin aja ya masnsoalnya kamu kalo lagi kerja itu emang suka lupa waktu katanya bentar lagi selesai tapi enggak selesai tuh sampai sekarang" vani tidak sabar menunggu.


"em iya iya makasih ya sayang"


"ayo buka mulutnya aaa...." vani pun menyuapi suaminya makan siang di sana.


"em, enak banget sayang ini pasti masakan kamu iyakan?" dika menghentikan pekerjaan agar bisa fokus dengan makanannya.


"iya dong mas sengaja aku masakin spesial buat kamu sayang"


"uuh!! so sweet banget sih istriku ini" dika mencubit gemas pipi istrinya.


"ih! sakit tau mas" vani mengusap usap pipinya yang memerah.


"maaf ya sayang habisnya kamu gemesin hehe" nyengir dika karena terlalu semangat mencubit pipi istrinya.


"oh iya mas gimana tentang perkembangan masalah yang terjadi di kantor kamu bilang kemarin"


vani penasaran karena akhir akhir ini suaminya sering lembur bekerja.


"enggak papa kok semua baik baik aja. aku sibuk bukan karena masalah di kantor tapi karena aku lagi ngerjain proyek baru kita sayang"


"proyek baru apa mas?"


"pembangunan hotel di kota B kemungkinan juga aku bakal ninjau langsung proyek itu sayang"


"hah! mau ninjau langsung? em jangan ya mas jangan pergi kamu enggak perlu ninjau langsung kok aku enggak mau kamu kenapa kenapa lagi"


vani mengehentikan suapan dan langsung memeluk suaminya dengan duduk di atas pangkuan dika.


"sayang, kamu kok ngomongnya gitu sih aku bakal baik baik aja kok" dika mengusap lembut pipi istrinya


"enggak, pokoknya kamu enggak boleh pergi mas. aku takut" hiks! hiks! vani memeluknya erat.


ternyata rasa trauma vani ketika suaminya kecelakaan saat pergi keluar kota masih ia rasakan hingga detik ini meskipun kecelakaan itu sudah terjadi lebih dari lima tahun yang lalu.


"iya iya sayang aku enggak bakal pergi, kamu jangan nangis lagi ya kasian baby kita di dalam kalo mamanya nangis nanti dia juga ikutan sedih" bujuk dika menghapus air mata di pipi istrinya.


"baby pengen di ajak jalan jalan sama papanya" ucap vani tiba tiba dengan manja.


"em, tapi papa masih harus kerja sayang ok deh gimana kalo weekend nanti kita pergi ya" dika mengelus perut buncit istrinya.


"enggak mau pa maunya sekarang. ayo kita beli es krim terus duduk di taman sambil liatin bunga bunga" vani berdiri lalu menarik tangan suaminya"


"tapi sayang, ini makanannya belum selesai juga" dika masih merasa lapar.


"ya udah kalo gitu cepetan kamu seleseiin sekarang makannya mas"


vani menyuapi makanan dengan cepat ke dalam mulut suaminya.


"iya iya" dika pasrah dan dengan cepat mengabiskan makanan di atas mejanya.

__ADS_1


dika tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti keinginan istrinya itu. setelah ia selesai menghabiskan makanannya mereka pun pergi menuju tempat yang vani inginkan.


sesampainya di sebuah taman bunga vani berjalan cepat sedikit berlari sambil menarik tangan suaminya hendak mendekati rumpunan bunga bunga di sana.


"ayo cepat mas" vani menarik lengan suaminya.


"pelan pelan jalannya sayang" dika khawatir dengan kehamilan istrinya.


"wah! cantik banget"


vani tersenyum menatap bunga di hadapannya. ia sangat bahagia karena suaminya bisa meluangkan waktu jalan bersama dengannya di tengah jadwal sibuk dika akhir akhir ini di kantor.


"iya tapi lebih cantik lagi kalo bunganya ada di sini sayang" dika menyelipkan sekuntum bunga di daun telinga istrinya.


"cantik!" dika menatap wajah istrinya dengan bunga di sampingnya.


"em bisa aja kamu mas oh ya kita beli ice crem yuk sayang" vani menunjuk penjual ice crem di sana.


"ayo" dika berjalan bersama istrinya yang selalu memeluk lengannya itu.


sesampainya di kantor ray langsung mengajak naya untuk masuk ke dalam ruangan rangga.


tok!! tok!! tok!!


"permisi pak"


ray mengetuk pintu ruangan rangga dan langsung masuk ke dalam bahkan sebelum rangga menjawabnya.


"iya ray"


rangga masih fokus bekerja sedangkan ray sudah berdiri di hadapannya.


"ini pak saya sudah bawakan sekretaris bapak yang suka kabur saat kantor sedang berada di masa masa sulitnya"


ujar ray kepada rangga dengan pandangannya yang terus menatap ke arah naya.


"em, bagus kalo gitu kamu bisa ngajak naya buat bantu kerjaan kamu hari ini" rangga melihat ke arah naya.


"iya memangnya kenapa ray? naya itu kan sekretaris saya yang sangat cerdas sama seperti kamu jadi kalian pasti akan lebih mudah untuk menyelesaikan masalah kalau bekerja sama kan"


"tapi pak" ucapan ray menggantung.


"ya sudah enggak ada tapi tapian lagi ray ajak naya kemana pun kamu pergi "


rangga menggerakkan tangannya meminta kedua sekretarisnya itu pergi.


"kami permisi pak" ray dan naya segera keluar dari dalam ruangan rangga.


naya terus saja mengikuti langkah kaki ray hingga mereka sampai di meja kerja ray.


"bapak bisa liat kan kalo sebenarnya saya enggak terlalu di butuhkan di sini" naya menatap ray setelah mereka berdiri tepat di samping meja kerjanya.


"kamu kok ngomongnya kaya gitu sih, kan kamu dengar tadi kalo pak rangga bilang kamu akan jadi partner saya dalam menyelesaikan masalah di kantor. itu artinya saya sangat membutuhkan kamu di sini naya" ray memegang kedua pundak naya


"em terserah pak" naya hanya pasrah.


"baiklah sekarang kita mulai pendataan yang sudah saya siapkan sebelumnya gimana pendapat kamu tentang ini?" ray menunjukkan beberapa berkas di tangannya namun naya tidak fokus kepadanya.


naya hanya diam saja karena merasa pusing di kepalanya.


"sshh! aw!" naya meringis sambil memegangi kepalanya.


"naya, kamu kenapa?" ray merasa khawatir.


"em, saya enggak papa kok pak. kan saya udah bilang tadi kalo saya lagi sakit"


"ya udah kalo gitu kamu istirahat aja dulu" ray meminta naya untuk duduk.


"baik terima kasih pak"


naya berjalan menuju kursi di dekatnya namun ia tidak dapat menahan rasa pusing di kepalanya lagi hingga akhirnya naya pun hampir jatuh pingsan.


"naya kamu enggak papa kan?" ray memegangi kedua pundak naya dari belakang.

__ADS_1


naya masih memiliki sedikit kesadaran dengan wajah yang terlihat pucat.


"saya pusing banget pak"


melihat keadaan naya yang semakin lemah ray membantu naya untuk berjalan keluar dari dalam gedung kantor.


setelah sampai di parkiran ray meminta naya masuk ke dalam mobilnya dan akan membawa gadis itu menuju rumah sakit terdekat.


"kamu tahan ya sebentar lagi kita sampai" ray terus melihat ke arah naya sambil menyetir mobilnya.


sesampainya di rumah sakit ray langsung menggendong tubuh naya dan meletakkannya di atas bankar yang di bawa oleh perawat.


"naya bangun nay"


ray merasa khawatir karena naya sudah benar benar pingsan saat berada di dalam mobil. ia pun duduk menunggu di depan ruang icu dengan gelisah hingga dokter yang memeriksa keadaan naya keluar dari dalam ruangan itu.


melihat dokter keluar dari dalam ruang icu ray langsung berdiri dari duduknya dan bertanya dengan cepat.


"dokter, bagaimana dengan keadaan naya?"


"tenang pak saat ini pasien masih butuh banyak istirahat, dia tidak boleh kecapekan dan tolong jangan biarkan sampai mengalami stres yang berlebihan karena kehamilannya masih sangat muda jadi kondisi janin di dalam kandungannya masih sangat sensitif"


"apa! hamil dokter?" kaget ray tidak percaya.


"iya pak selamat ya istri bapak sedang hamil tapi saya harap bapak dapat menjaga keadaannya lebih baik lagi. kalo begitu saya permisi dulu"


dokter tersenyum melihat wajah syok ray yang terlihat lucu baginya.


"terima kasih dok"


"hamil! naya hamil? akhh! kenapa semua jadi makin rumit" gumam ray kembali terduduk di atas kursi tunggu sambil meremas rambutnya frustasi.


ray sangat bingung apa yang harus ia lakukan sekarang. dirinya sering kali membantu menyelesaikan masalah orang lain dengan kecerdasan otak geniusnya namun saat masalah datang menghampirinya. ia mendadak jadi bodoh dan tidak tau harus berbuat apa.


setelah naya kembali sadar ia langsung terduduk di atas bankarnya.


ray masuk ke dalam ruangan naya dan melihat gadis itu sedang duduk melamun di atas bankar sambil menghapus air matanya.


"naya, kamu udah sadar" ray berjalan mendekat.


"saya mau pulang pak"


"baik saya akan antar kamu ya" ray mengangguk.


ray dengan hati hati mengantar naya kembali pulang ke rumahnya.


saat mereka berada di dalam mobil suasana hening pun tercipta karena keduanya hanya membisu tanpa bicara hingga suara ray mulai terdengar bertanya.


"kenapa kamu diam aja dan enggak ngasih tau tentang hal ini sama saya?" tanya ray smabil fokus menyetir.


"terus saya harus gimana menurut bapak, apa saya harus datang ke rumah bapak sambil nangis untuk bilang hal ini"


"bukan gitu tapi bukannya itu anak saya juga"


"justru itu, saya tidak akan merasa sebingung ini kalo aja ini memang bukan anak bapak" naya menatap ke depan.


"kenapa?"


"iya karena saya pasti bisa aja langsung minta cowok itu buat tanggung jawab tapi bapak? gimana caranya saya minta pertanggung jawaban sama suami orang"


ray hanya terdiam, memang benar apa yang naya katakan namun ia juga tidak tega melihat keadaan naya.


"saya enggak mau menghancurkan pernikahan bapak yang udah bahagia apalagi sampe menyakiti hati istri bapak"


"tapi naya,,"


"udahlah pak, anggap aja kejadian itu sebuah kesalahan yang enggak bisa kita perbaiki jadi tolong lupain semuanya saya akan menjaga anak ini dengan baik. satu permintaan saya tolong biarin saya untuk resain dari kantor"


naya langsung turun dari dalam mobil setelah mobil ray berhenti di halaman rumahnya.


"naya tunggu!!"


ray juga ikut turun dari dalam mobilnya hendak mengejar naya.

__ADS_1


__ADS_2