
sore harinya mama ratih dan mbak ranty kembali pulang ke rumah karena vani belum di perbolehkan pulang hari ini.
setelah mama ratih dan ranty pulang vani merasa dirinya ingin buang air kecil, ia pun bergerak perlahan untuk turun dari atas bankar lalu berusaha berjalan menuju kamar mandi seorang diri.
dika yang melihat vani ingin beranjak dari tempat tidurnya itu pun bertanya kepada istrinya.
"sayang, kamu mau kemana?" dika mendekati vani.
"aku mau ke kamar mandi"
vani terus berjalan menuju kamar mandi dengan perlahan.
"aku temenin ya"
dika memegang tangan istrinya namun dengan cepat vani menarik tangannya.
entah mengapa, namun bayangan saat melihat dika tidur bersama arin di dalam kamar hotel itu selalu terlintas di dalam pikirannya membuat vani kesal pada suaminya.
"enggak perlu! aku bisa sendiri kok"
vani menjawab ketus dan terus berjalan dengan hati hati.
"sayang hati hati, aku cuma enggak mau kalo kamu sampe jatuh aku temenin ya aku janji enggak bakal sentuh kamu"
dika khawatir saat melihat vani yang masih berjalan dengan sempoyongan.
vani terdiam lalu menerima bantuan dari dika karena ia juga tidak yakin jika dirinya bisa berjalan sendirian tanpa terjatuh.
vani hanya tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu lagi kepada calon bayinya akibat egonya yang terlalu tinggi.
"pelan pelan ya sayang"
dika berjalan sambil berjaga dari arah belakang tubuh istrinya.
setelah selesai dari dalam kamar mandi dika membantu vani untuk kembali merebahkan diri di atas bankarnya.
"aku bisa sendiri" vani pun merebahkan tubuhnya.
"oke" dika mengangguk lalu menjauh.
vani pun kembali tidur karena sangat mengantuk.
tidak lama rangga dan ray kembali datang ke rumah sakit untuk menemui dika.
"gimana keadaan vani?"
rangga menatap dika yang sedang terlihat murung duduk sendirian di atas sofa dalam ruangan itu.
"keadaannya udah makin baik tapi dokter belum ngizinin buat pulang seenggaknya sampe besok" dika menatap rangga dengan sendu.
"kenapa, kok muka lo sedih gitu sih harusnya lo seneng dong kalo vani udah boleh pulang besok" rangga duduk di samping dika.
"enggak papa kok mungkin gue cuma kurang tidur aja"
dika menatap ray yang ikut duduk di samping mereka.
"em, lebih baik sekarang lo istirahat aja dulu kami bakal jagain kalian di sini. gue enggak mau kalo lo sampe sakit karena kurang istirahat" rangga perhatian pada adiknya.
"gue enggak papa kok, oh iya gimana apa kalian udah nemuin sesuatu?"
"gue belum nemuin sesuatu apa pun" jawab ray.
"hhh!"
hal itu membuat dika menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil memijat pelipisnya.
"lo tenang aja ya dik kita bakalan terus berusaha kok buat nyari tau kebenarannya"
"hem" dika mengangguk.
"oh ya apa vani masih marah sama lo?"
rangga melihat pagi tadi vani tidak mau berbicara kepada dika.
"hem" dika mengangguk pelan tidak bersemangat.
__ADS_1
"em, sabar ya dika mungkin itu karena vani masih kesel aja sama elo nanti juga dia bakal bersikap baik lagi kaya biasanya ke lo" rangga menyemangati adiknya.
dika menatap rangga dengan tidak yakin karena ia sudah membuat istrinya itu merasa sangat kecewa kepada dirinya. saat ini vani bukan marah kepada suaminya melainkan rasa kecewa yang sedang ia rasakan.
"kenapa, lo enggak percaya? dika percaya deh vani itu cinta sama lo jadi dia enggak mungkin bisa benci sama orang yang dia cintai"
rangga menatap dengan ragu ia hanya mencoba menghibur dika agar adiknya tetap bersemangat dalam menjalani hari harinya.
sebenarnya rangga juga tidak yakin kalo vani akan bisa memaafkan kesalahan adiknya itu.
bagaimana pun rangga pasti tau satu hal, wanita memang akan selalu memaafkan kesalahan dari pasangannya kecuali satu yaitu sebuah pengkhianatan.
ray yang melihat drama abang beradik itu pun akhirnya jengah lalu memutuskan untuk fokus pada ponselnya saja.
keesokkan harinya menjelang siang hari vani sudah di perbolehkan oleh dokter untuk pulang ke rumah.
sebenarnya karena vani terus meminta untuk pulang agar bisa beristirahat di rumah saja. akhirnya dokter terpaksa mengizinkannya dengan syarat vani benar benar harus beristirahat dengan baik di rumahnya.
"pokoknya aku mau pulang"
vani dengan wajah murungnya.
"iya sayang dokter udah izinin sekarang kita pulang ya"
mama ratih dan ranty ikut menjemput kepulangan vani.
sesampainya mereka di rumah dika langsung mengajak vani untuk beristirahat di dalam kamar mereka saja.
saat berjalan menuju kamar mereka berpapasan dengan arin yang bertanya kepada vani tentang keadaannya.
"hai vani gimana keadaan kamu?" arin menyapa.
"aku baik baik aja"
vani hanya cuek sambil menggandeng lengan suaminya. ia ingin menunjukkan pada arin bahwa dika adalah miliknya.
"oh syukurlah kalo gitu"
arin menatap tangan pasangan yang sedang bergandengan itu.
"kalo gitu kami ke kamar dulu ya. ayo mas"
arin mengangguk sambil terus menatap kepergian vani dan dika hingga mereka masuk ke dalam lift.
sesampainya di dalam lift vani langsung melepaskan pelukannya dari tangan dika dan kembali mengomel.
"hhh! ngapain sih dia sok perhatian kaya gitu, padahal dia enggak datang sama sekali buat jenguk aku di rumah sakit dari kemaren"
dika hanya diam saja mendengarkan omelan istrinya itu sambil menahan senyumannya. jujur ia lebih senang saat melihat istrinya itu mengomel dari pada harus diam saja seperti tadi saat mereka berada di rumah sakit pikirnya.
sesampainya di dalam kamar, vani langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang sedangkan dika karena merasa tubuhnya terasa lengket bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk segera membersihkan diri
malam hari vani tidak mau ikut makan malam bersama di meja makan karena ia sangat malas bertemu dengan arin apalagi harus membahas tentang suaminya bersama wanita itu.
"sayang ayo kita makan malam bareng mama sama papa di bawah" dika mengajak istrinya.
"enggak mau. aku enggak mau makan satu meja sama dia" ucapan vani yang tertuju kepada arin.
"ya udah sayang kalo gitu nanti aku bawain makanan kamu ke dalam kamar aja ya"
dika pun berjalan keluar dari dalam kamarnya seorang diri.
sesampainya di meja makan kedua orangtuanya dan arin sudah menunggu kedatangan dika dan vani untuk makan malam bersama.
"dika kok kamu sendiri, dimana vani?" tanya mama ratih yang tidak melihat menantunya itu ikut turun.
"em, vani biarin makan malam di dalam kamar aja ya ma soalnya kasian kalo harus jalan naik turun terus nanti dia kecapekan kan dokter bilang vani harus banyak istirahat" jawab dika kepada mamanya.
"oh iya udah deh bener itu vani harus banyak istirahat dulu" mama ratih dan papa hardi mengangguk.
akhirnya mereka pun mulai makan malam bersama tanpa ada vani di meja makan seperti biasanya.
di sela sela makan mereka arin terus saja menatap dika yang sedang fokus pada makanannya.
dika yang melihat arin terus saja menatap dirinya pun membalas tatapan itu cukup lama.
__ADS_1
papa hardi yang melihat dika dan arin saling bertatapan itu pun langsung berdehem untuk mengingatkan keduanya.
"ehem"
dehemam itu seketika membuat dika dan arin langsung mengalihkan pandangan masing masing ke arah yang berbeda lalu kembali fokus pada makanan di dalam piring.
setelah selesai makan malam akhirnya dika kembali masuk ke dalam kamar sambil membawa makan malam untuk istrinya.
sesampainya di dalam kamar dika pun memberikan makanan itu kepada vani agar istrinya makan sendiri karena vani tetap menolak untuk di suapi oleh dika.
"ini makanannya sayang, mau aku suapin gak?"
"enggak usah makasih" vani pun makan sendiri.
setelah selesai dengan makan malamnya vani pun beranjak naik ke atas ranjang karena akan segera tidur.
"di minum dulu susunya ya sayang"
dika memberikan segelas susu hangat untuk vani seperti biasanya.
"makasih"
mau tak mau vani tetap harus meminum susu yang dika buatkan demi kesehatan bayinya. lagi pula hanya susu buatan dika yang akan terasa enak menurutnya maka vani tidak meminta asisten yang membuatkan susu untuknya.
setelah itu dika pun naik ke atas ranjang hendak segera tidur karena beberapa hari ini dirinya kurang istirahat saat menjaga istrinya di rumah sakit.
vani menatap dika dengan lekat karena melihat suaminya itu akan tidur di sampingnya.
sepertinya vani sedang tidak ingin dika tidur di sampingnya malam ini karena vani masih terus mengingat video yang dilihatnya waktu itu.
dika yang menyadari tatapan istrinya itu pun membalas tatapan vani karena mengerti maksud dari tatapan itu.
"kenapa, kamu enggak mau kalo aku tidur disini?"
ujar dika namun vani hanya diam saja tidak menjawab.
"ya udah, kalo gitu aku tidur di kamar yang lain aja"
dika beranjak lalu melangkahkan kaki menuju pintu kamarnya hendak segera keluar.
"keluar aja sana, kamu pasti lebih seneng kan kalo tidur di kamar yang lain"
vani menyindir suaminya membuat dika menghentikan langkah lalu berbalik menghadap vani.
"terus kamu maunya aku gimana? kamu enggak mau tidur bareng aku sekarang tapi kamu juga enggak izinin aku buat tidur di kamar lain. kamu itu maunya apa sih?"
dika mulai kesal menghadapi keinginan istrinya itu.
"ya udah sana kamu pergi aja lagian aku enggak ada larang kamu kok"
vani langsung merebahkan tubuhnya membelakangi suaminya lalu tak lama dika pun mendengar suara isak tangis vani yang sedang tidur membelakanginya itu.
dika bingung harus berbuat apa jika mendekat ia takut vani akan semakin marah namun jika pergi vani juga pasti akan marah pikirnya.
dika melangkah mendekati sisi ranjang dan menatap istrinya yang sedang terisak di balik selimut itu.
"maafin aku ya sayang"
ucapan dika tidak mendapat jawaban apapun dari istrinya.
akhirnya dika berjalan ke arah sofa yang berada di dalam kamarnya lalu merebahkan diri di sana. ia memutuskan untuk tidur di atas sofa saja sambil menemani istrinya tidur disana.
setelah tangisnya reda vani bangun dan menatap dika yang sedang tidur di atas sofa.
vani berusaha untuk mengabaikannya dan kembali berbaring hendak segera tidur di atas ranjangnya.
sudah lama menahan kantuknya namun vani merasa sangat gelisah dan tidak dapat memejamkan matanya untuk tidur dengan nyenyak.
vani merasa bingung mengapa ia tidak bisa tertidur padahal sudah sangat mengantuk.
akhirnya vani berdiri lalu melangkah mendekati sofa dimana suaminya sedang tidur. ia menatap dika yang sudah terlelap di atas sofa itu.
vani yang melihat sepertinya dika sedang kedinginan pun kemudian berjalan menuju lemari dan mengambil selimut untuk di pakaikan kepada dika.
vani membawa selimut itu lalu menyelimuti tubuh suaminya yang sudah tidur di atas sofa.
__ADS_1
setelah selesai meletakkan selimut di atas tubuh dika, vani kembali ke atas ranjang dan langsung berbaring disana.
vani berusaha untuk memejamkan mata namun pikirannya masih saja memikirkan tentang hubungan suaminya dengan arin hingga ia lelah dan benar benar terlelap.