Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 74


__ADS_3

rangga dan kedua orang tuanya bergegas menuju rumah sakit yang sudah di beri tahu oleh ray tanpa mengajak vani yang kondisi kandungannya sedang lemah saat itu.


ranty setia di rumah untuk menjaga vani yang tidak mau makan dan sering menangis membuat kondisinya lemah


sesampainya di rumah sakit keluarga wijaya segera menuju ruang rawat dika dengan tidak sabar.


dengan mata berkaca kaca mama ratih terus berjalan menuju ruangan putranya.


sangat bersyukur mereka masih di beri kesempatan untuk kembali berkumpul dengan dika putra bungsunya yang masih hidup dan selamat dari kecelakaan.


ceklek!!


rangga dan kedua orang tuanya masuk ke dalam ruang rawat yang sudah mereka ketahui sebelumnya dan melihat dika sedang duduk di atas bankarnya dengan ray yang juga berada di sana.


mama ratih dan papa hardi sangat bahagia melihat dika selamat dan langsung memeluk tubuh putra bungsu yang sangat mereka sayangi itu begitu juga dengan rangga yang memeluk adik kesayangannya.


"dika sayang"


"mama papa"


dika tersenyum melihat kedatangan keluarganya itu.


"Alhamdulilah kamu baik baik aja sayang mama kangen banget sayang"


mama ratih memeluk dan mengecupi wajah anak kesayangannya.


"gimana kondisi kamu nak?"


papa hardi juga memeluk putra kesayangannya itu.


"Alhamdulilah ma pa dika udah baik baik aja sekarang, ini semua juga berkat pertolongan dari arin. dia yang udah nolongin sama ngerawat dika selama ini ma"


dika memperkenalkan arin pada keluarganya.


"ya ampun terima kasih banyak ya nak arin karena kamu udah menolong dika" mama ratih memeluk arin.


"iya sama sama tante" arin pun mengangguk canggung.


"rese lo dik udah buat gue nangis selama tiga bulan ini"


rangga kembali memeluk adik kesayangannya sambil menepuk punggung dika.


"sorry ya bang kalian semua pasti khawatir ya"


"bukan cuma khawatir dika, gue hampir enggak mau makan cuma buat mikirin lo" canda rangga.


"hhh! masih hampir doang tapi lo masih makan kan bang"


"iya masih lah kalo enggak makan tiga bulan gue pasti udah mati"


"jangan dong bang. soalnya cuma elo abang yang gue punya kalo masih ada yang lain iya enggak papa sih" jawab dika dengan candaan juga.


"brengsek! gue kira lo udah berubah"


"mana mungkin bos dika berubah secepat itu bos" ray menimpali.


"hem, udah udah anak anak mama jangan berdebat terus dong. mama bahagia banget kita bisa kumpul lagi sayang"


"iya ma. udah dong mama jangan nangis lagi maafin dika ya ma pa karena udah buat mama sama papa jadi sedih"


"enggak sayang. kamu enggak salah, makasih ya kamu udah bertahan untuk kembali pulang"


"iya ma, dika pasti pulang"


"arin terima kasih banyak ya nak"


papa hardi pun kembali berterima kasih kepada arin karena merasa sangat bersyukur.


"iya om sama sama" arin hanya tersenyum canggung.


tidak lupa rangga dan ray pun berterima kasih kepada gadis yang baik hati itu.


"oh ya ma, dimana vani?"


dika bertanya dengan antusias karena tidak melihat kedatangan istrinya yang sudah sangat di rindukannya itu.


mama ratih dan papa hardi pun terdiam mereka saling menatap satu sama lain.


"em, vani lagi ada di rumah soalnya dia lagi enggak enak badan jadi kita sengaja enggak ngajakin vani"


rangga yang menjawab pertanyaan adiknya itu.


"oh ya udah kalo gitu ayo kita pulang sekarang aja ya ma, dika udah kangen banget sama vani"


dika yang ingin segera bertemu dengan pujaan hatinya itu.


"em, apa dokter udah ngizinin kamu pulang sayang, lebih baik kamu dirawat sampe benar benar sembuh dulu kan"


mama ratih masih khawatir dengan kondisi dika yang belum pulih.

__ADS_1


"dika udah baik baik aja kok ma nanti kalo ketemu vani dika pasti langsung sembuh" nyengir dika.


"modus banget lo dik"


rangga langsung menjawab ucapan adiknya.


"ppffttt, bos dika bos dika"


ray menggelengkan kepalanya sambil menahan tawa.


"syirik aja deh lo bang"


"hhh! emang bener bener dia dika" bisik rangga kepada ray.


"iya pasti dong bos" hhh!


"ma dokter juga udah ngizinin dika pulang kok dari kemaren cuma,,,"


dika menatap arin begitu juga sebaliknya namun arin langsung mengalihkan pandangannya.


"cuma apa dika?" tanya papa hardi


"cuma sekarang arin udah enggak punya tempat tinggal lagi pa terus dia juga enggak punya keluarga lagi di sini soalnya arin udah jual tanah peninggalan keluarganya demi pengobatan dika selama ini ma pa"


dika menjelaskan sambil menatap arin yang menunduk.


"ya ampun, mulia banget hati kamu nak"


mama ratih terharu mendengar cerita dari putranya.


"ya udah lo tenang aja dika, ray pasti bakalan ngurus semuanya. kita bakal ngasih apa pun yang arin minta sebagai rasa syukur dan terima kasih kepada arin. kita juga akan terus menjamin kehidupan layak untuk arin kedepannya" ucap rangga kepada dika.


"baik pak. saya akan mengurus semuanya" ray pun mengangguk.


"enggak usah, gimana kalo arin tinggal sama kita aja pa?" ucap mama ratih.


"maksud mama?"


papa hardi dan rangga mengernyitkan dahi.


"iya arin tinggal bareng kita jadi bagian dari keluarga kita, lagian arin kan udah enggak punya siapa siapa lagi disini. mama khawatir kalo nanti ada yang berniat jahat sama arin gimana"


"em mama yakin?"


"iya papa setuju kan kalo mama mau arin jadi putri kita"


"jadi mulai sekarang kamu akan tinggal di rumah kami arin kamu mau kan nak?"


mama ratih mengelus lembut rambut arin.


"em, makasih tante tapi enggak usah sepertinya ini terlalu berlebihan saya ikhlas kok menolong mas dika selama ini karena itu udah menjadi kewajiban kita sebagai sesama manusia untuk saling tolong menolong kan"


arin pun menolak dengan halus.


"tolong kamu jangan nolak ya arin, tante sangat berharap kamu mau ikut dan tinggal bersama kami"


mama ratih kembali membujuk dengan harap.


"tapi tante"


arin kembali melirik dika untuk meminta pendapatnya.


"bener ma, vani juga pasti bakalan senang bisa ketemu sama kamu arin" dika yang mengerti akan tatapan arin.


"saya enggak mau merepotkan mas"


arin masih merasa tidak enak.


"kalo kamu mau, kamu bisa bekerja disana arin jadi kamu enggak perlu merasa enggak enak"


rangga akhirnya juga setuju dengan keinginan mamanya sebagai bentuk rasa syukur mereka.


"papa setuju kan. kalau arin tinggal di rumah kita? dia gadis yang sangat baik pa kita akan jadiin arin putri kita"


mama ratih sekali lagi ingin meyakinkan suaminya.


"iya ma, papa enggak keberatan kok karena gimana pun kita kan bisa ketemu lagi sama dika sekarang itu berkat bantuan dari arin juga karena arin yang udah nyelamatin nyawa dika dengan tulus dan mau merawat dika sampe sembuh juga" papa hardi pun akhirnya benar benar setuju.


"liat kan semuanya juga udah setuju kalo kamu tinggal sama kami arin. tante khawatir kalo kamu harus tinggal sendirian dan enggak ada siapa siapa yang jagain kamu disini, kami akan sangat merasa bersalah kalo sampai terjadi sesuatu sama kamu disini nak"


mama ratih terus meyakinkan arin agar menerima tawarannya.


"em, baiklah tante makasih atas kebaikan hati semuanya tapi saya berharap bisa mendapat pekerjaan disana"


arin pun akhirnya setuju untuk ikut dengan mereka pindah ke kota lain.


"iya arin nanti kamu boleh kerja dimana pun yang kamu mau. terima kasih ya" mama ratih memeluk arin.


"ya udah ray tolong kamu urus semuanya. kita akan pulang sore ini juga" ucap rangga.

__ADS_1


"baik pak" ray pun mengangguk.


hari itu juga keluarga wijaya langsung kembali pulang ke kota mereka karena dika sudah tidak sabar ingin segera pulang untuk bertemu dengan istrinya tercinta.


dokter sudah mengizinkan dika untuk pulang karena kondisinya sudah cukup pulih hanya perlu kontrol rutin saja hingga keadaan dika benar benar pulih total dan itu bisa dilakukannya di rumah.


menjelang sore hari mereka pun sudah sampai di rumah mewah milik keluarga wijaya itu .


setelah keluar dari dalam mobil arin di buat kagum saat melihat bangunan rumah yang megah dan mewah itu.


dari bagian luarnya saja sudah terlihat sangat indah menurutnya. ada taman yang juga luas berada di halaman rumah itu.


'wah, bagus banget rumahnya. kayanya beneran deh kalo mas dika itu bukan orang biasa. liat aja istana megah kaya gini yang dia sebut sebagai rumah' batin arin menatap sekelilingnya.


"assalamualaikum"


mereka serentak salam sambil masuk ke dalam rumah.


"waalaikumsalam"


ranty dan rara sudah menunggu kepulangan mereka di ruang tamu.


"om dika! rara kangen"


rara langsung berlari ke dalam pelukan om kesayangannya yang sudah kembali itu.


"rara, om juga kangen banget sama kamu sayang" dika menyambut pelukan rara.


"dika Alhamdulillah kamu pulang mbak seneng banget liat kamu udah pulang. gimana keadaan kamu?" ranty pun memeluk adik iparnya.


"iya Alhamdulillah mbak dika baik. makasih ya mbak"


"Alhamdulilah om udah pulang. tante cantik pasti seneng deh iyakan ma" ucap rara antusias.


"iya sayang"


"oh ya tante cantik rara ada dimana?" tanya dika karena belum juga melihat istrinya disana.


"tante cantik lagi bobok om, tante juga kangen banget sama om katanya"


rara setengah berbisik sambil cekikikan.


"oh ya, kalau gitu om mau nemuin tante dulu ya sayang"


dika tersenyum sambil mengacak rambut rara.


"oke deh om tapi jangan di kagetin ya om. soalnya tante cantik lagi sakit" rara murung sedih.


"oh ya? tante kamu sakit apa sayang?" tanya dika


"sakit karena kangen sama om" hehe


rara tertawa bercanda membuat dika tersenyum.


"hem, om juga kangen banget sama tante"


"om pengen peluk tante juga ya?" tanya rara centil.


"huh! kamu bisa aja deh ra. tau apa kamu soal kangen?"


rangga menimpali ucapan putrinya yang penasaran itu.


"ih, papa ikutan mulu deh enggak di ajak juga"


rara manyun kesal melihat papanya.


"udah sayang, biarin om dika istirahat dulu ya di kamar soalnya om dika kan masih sakit"


ranty membujuk putrinya.


"iya ma. ya udah deh om dika bobok juga ya bareng tante cantik biar cepat sembuh" ucap rara polos.


"iya sayang kalo gitu om bobok dulu ya. dah! sayang"


"dah! om"


rara melambaikan tangan pada om nya yang melangkah pergi dengan papanya.


"kamu tuh ya ra"


rangga kembali menarik gemas hidung putrinya lalu pergi menyusul adiknya.


"ih papa!!" kesal rara karena kejahilan papanya.


"udah sayang. biarin papa mau nemenin om dulu" ranty memeluk putrinya.


"jahat banget deh papa"


rara masih saja kesal sambil mengusap usap hidungnya.

__ADS_1


__ADS_2