Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 146


__ADS_3

Menjelang siang dokter radit baru sampai di rumah utama keluarga wijaya untuk melihat keadaan arin. ia langsung masuk ke dalam rumah mewah itu hendak memeriksa keadaan arin yang berada di dalam kamarnya.


"om, tante maaf saya terlambat" ucap dokter radit kepada papa hardi dan mama ratih yang sedang berada di ruang tamu sudah menunggu kedatangan dokter radit sejak tadi.


"enggak papa dokter radit, kami ngerti dokter pasti sangat sibuk di rumah sakit. kalo gitu ayo kita langsung nemuin arin di dalam kamarnya dok mari saya antar kan" mama ratih berjalan hendak mengantar dokter radit menuju kamar arin.


"baik tante" dokter radit pun mengikuti langkah mama ratih yang berjalan di depannya.


ceklek!!


mereka masuk ke dalam kamar arin dan melihat gadis itu hanya duduk terdiam sambil melamun di atas ranjangnya. air mata terus mengalir namun tatapan matanya terlihat kosong.


dokter radit mendekat lalu duduk di tepi ranjang, berusaha untuk kembali menghibur arin yang merasa kesepian dan terlihat menyedihkan itu.


"hai, aku datang lagi buat nemenin kamu. apa hari ini kamu udah makan?" tanya dokter radit dengan suara lembutnya namun arin hanya menggelengkan kepala.


"kenapa kamu belum makan, apa makanannya enggak enak atau kamu mau nunggu aku datang buat nemenin kamu makan lagi?"


arin menggeleng lalu menganggukkan kepalanya untuk menjawab.


"baiklah, ini aku udah datang buat nemenin kamu makan sekarang kamu mau makan kan?"


"em" arin kembali mengangguk.


"ayo buka mulutnya kamu makan sekarang ya" dokter radit menyuapi arin dengan lembut.


arin merasa sangat nyaman saat doker radit memberikan perhatian tulus kepadanya. ia merasa tenang karena ada seseorang yang memperhatikannya dengan setulus ini.


iya, sama seperti apa yang pernah dirasakan dulu kepada dika arin hanya ingin ada seseorang yang benar benar tulus menyayangi dirinya karena selama ini arin hanya di temani oleh kesepian yang membuatnya haus akan kasih sayang dan perhatian dari orang lain.


mungkin saja arin memang salah jika mengharapkan kasih sayang dari dika seorang pria yang sudah menikah namun apalah daya arin tidak bisa menepis perasaan yang datang begitu saja di dalam hatinya.


-


hari demi hari pun berlalu sekarang keadaan arin semakin membaik. arin sudah mulai menyadari semua kesalahan yang terjadi pada dirinya.


saat ini arin pun sudah merasa lebih tenang karena selama dokter radit menemaninya arin selalu bercerita tentang tekanan yang di rasakannya kepada dokter radit.


dokter radit dengan setia dan sabar selalu mendengarkan keluh kesah dari pasiennya yang sedang mengalami depresi itu.


arin juga menceritakan tentang perasaannya yang pernah tumbuh kepada pria yang tidak seharusnya ia cintai karena pria itu sudah menikah dan memiliki keluarga kecil yang bahagia.


arin memang tidak menyebutkan nama dari pria itu namun dokter radit sudah tau siapa pria yang di maksud oleh arin karena ia juga sudah mengetahui tentang gosip yang pernah beredar sebelumnya.


arin pun menceritakan tentang penjebakan dirinya yang dilakukan oleh orang orang tidak bertanggung jawab hingga membuatnya hamil di luar nikah dan sekarang arin juga harus kehilangan calon bayinya itu.

__ADS_1


arin sangat menyesal bercerita sambil terus meneteskan air mata di hadapan dokter radit namun hal itu membuat hatinya merasa lebih tenang dari pada sebelumnya.


sekarang dokter radit pun mengerti tentang perasaan yang membuat arin merasa tertekan selama ini. sebenarnya yang arin rasakan adalah sebuah penyesalan serta rasa bersalah kepada orang orang di sekitarnya namun ada suatu hal yang membuat arin tidak ikhlas menerimanya yaitu sebuah penjebakan yang sudah menghancurkan hidup dan masa depannya.


pada saat itu arin merasa sangat kacau, karena berpikir hidupnya sudah hancur. ia tidak memiliki keluarga, tidak pula memiliki harta bahkan sekarang juga sudah tidak memiliki kehormatan yang bisa membuatnya bertahan. arin benar benar merasa frustasi hingga ingin menyerah.


arin seakan lupa jika saat ini ia sudah menjadi bagian dari keluarga wijaya yang berarti dirinya juga memiliki sebuah keluarga. bahkan keluarga yang ia miliki itu bukanlah dari keluarga biasa melainkan keluarga yang terpandang sehingga otomatis dirinya juga memiliki akses di segala tempat yang diinginkannya.


sejak adanya pernyataan bahwa mama ratih dan papa hardi sudah menganggap arin sebagai putri wijaya maka otomatis arin memiliki tiga orang kakak laki laki sekaligus yang selalu siap untuk menjaganya.


sebenarnya hidup arin sudah berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya karena sekarang ia bisa tinggal di rumah utama keluarga wijaya yang sangat megah dengan segala fasilitas mewahnya.


jika ingin keluar dari rumah arin tidak perlu lagi merasa khawatir akan kehujanan atau kepanasan karena ada mobil beserta supir yang selalu siap sedia mengantarnya kemanapun. arin bahkan bisa menikmati kehidupan mewah tanpa harus merasakan sulitnya bekerja.


bahkan jika arin berfoya foya menggunakan kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki oleh keluarga itu pun tidak akan ada yang melarangnya namun arin yang polos tidak pernah berpikir egois apalagi untuk memanfaatkan posisinya itu.


padahal jika arin benar benar memahaminya keluarga wijaya sangat menghargai kebaikan besar yang arin berikan kepada mereka dengan menyelamatkan nyawa putra bungsu wijaya. hingga keluarga itu sepakat untuk mengangkat arin menjadi seorang putri wijaya.


meskipun merasa sangat kecewa atas perbuat arin yang sudah menuduh dika sebagai pria jahat namun keluarga wijaya tetap tidak akan mempermasalahkan tentang kebohongan itu.


padahal jelas jelas hal itu sudah sangat mencoreng nama baik keluarga serta mempermalukan dika di depan publik hingga membuat banyak kerugian besar yang di alami oleh perusahaan wijaya pada saat itu.


bersyukur saat ini arin sudah mulai mengerti tentang kesalahannya, kehidupan masa depan arin belum berakhir hanya sampai disini.


"sebaiknya kamu meminta maaf secara langsung kepada orang orang di sekitar kamu yang mungkin sudah kamu sakiti dan saran saya kamu juga harus ikhlaskan tentang orang orang yang tidak bertanggung jawab itu. biarlah tuhan yang akan memberikan hukuman kepada mereka. jangan mengotori hati tulus kamu dengan sebuah rasa benci kepada mereka arin" ujar dokter radit.


"iya saya sudah mengikhlaskannya dok, lagi pula saya dengar dari mas rangga katanya pria jahat itu sudah meninggal"


"oh ya? baguslah kalo kamu sudah mengikhlaskannya. saya harap kedepannya kamu bisa menjalani hidup lebih baik lagi. ingat! kamu harus lebih teliti dalam menentukan pilihan hati, jangan sampai masa lau terulang kembali"


"baik dokter"


"sudah kamu jangan ingat masa lalu yang menyedihkan terus karena kebahagiaan masih menunggu kamu di masa depan. percaya deh semua pasti ada hikmahnya"


"terima kasih dokter karena kebaikan dan kesabaran dokter merawat saya selama ini sekarang saya sudah sembuh dan juga menyadari kesalahan yang saya lakukan"


arin tersenyum dan merasa bersyukur karena sekarang ia sudah kembali pada dirinya yang dulu yaitu arin si wanita sederhana dan baik hati.


"sama sama" dokter radit juga tersenyum.


suatu malam di kediaman dika dan vani keduanya masih sibuk menikmati peran menjadi orang tua baru bagi putra pertama mereka.


setiap kali raffa menangis dika selalu mencoba untuk menenangkan buah hatinya agar berhenti menangis. dika merasa kasihan melihat istrinya yang sudah kelelahan menjaga bayi mereka dari pagi hingga malam hari.


"cup cup cup anak papa jangan nangis dong. raffa kan anak baik, anak pinter dan sholeh jangan nangis lagi ya sayang" dika membujuk sambil menggendong putranya itu agar tidak menangis lagi.

__ADS_1


"mas, sini raffa biar aku aja yang gendong, kamu kan baru pulang kerja pasti masih capek. kamu tidur aja ya sayang" ujar vani.


"enggak papa kok sayang biar aku aja yang gendong, kita berdua kan orang tua raffa jadi kita harus ngerawat anak kita barengan. kita gantian ya jagain raffa, kamu kan juga capek seharian udah jagain anak kita" dika masih saja berusaha untuk menenangkan bayinya.


"iya tapi mas,,," ucapan vani ditimpali.


"udah sayang kamu istirahat aja ya biar aku yang jagain anak kita. cup,,,cup,,,cup,,, anak papa enggak boleh nakal ya sayang. sekarang kita main bareng ya"


dika terus membuat banyak bentuk wajahnya menjadi lucu dan aneh agar putranya itu tersenyum namun bukannya berhenti menangis raffa semakin menangis melihatnya.


"oeekk...oeekk"


"cup sayang"


vani tersenyum sambil terus memperhatikan suaminya yang kewalahan dalam menggendong putra mereka.


"mas, raffa itu lagi haus jadi dia mau nyusu. emangnya kamu bisa kasih susu kamu buat dia?" ujar vani akhirnya membuat dika mau tak mau harus menyerahkan raffa ke dalam gendongan istrinya itu.


"oh, iya enggak bisa dong sayang. ya udah deh nih" dika menyerahkan bayinya ke dalam pelukan istrinya.


vani menggelengkan kepalanya sambil menggendong raffa dalam pelukannya.


setelah kenyang menyusu akhirnya raffa tertidur di dalam pelukan ibunya. vani segera menidurkan bayinya ke dalam box agar ia juga bisa beristirahat.


vani merebahkan tubuhnya di atas ranjang hendak segera beristirahat namun dika selalu saja mengganggu tidurnya.


"sayang, aku udah boleh buka puasanya kan sekarang?" dika memainkan rambut istrinya sambil bersikap manja. ternyata ada maunya.


vani yang awalnya sudah memejamkan mata pun kembali membuka matanya saat mendengar pertanyaan dari suaminya itu.


"em, udah sih mas tapi..." vani ragu untuk mengatakannya.


"tapi apa sayang, ayo dong please..." dika dengan mata berbinar sambil tersenyum memainkan alisnya.


"aku capek banget hari ini mas. besok aja ya, udah ngantuk banget nih" vani pun kembali menutup matanya.


"sayang kok gitu, tega banget sih,,,," dika terus membujuk istrinya.


"mas please besok aja ya"


vani tetap memejamkan mata agar dika berhenti mengganggu tidurnya karena saat ini mata vani seakan sangat enggan untuk kembali terbuka.


"hhhh!!! iya deh"


dika menghembuskan nafasnya pasrah, akhirnya ia pun tidur sambil memeluk tubuh vani saja karena tidak ingin memaksa istrinya yang sudah terlihat kelelahan itu.

__ADS_1


__ADS_2