Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 196


__ADS_3

sesampainya di rumah pun dika masih merasa kesal ia kembali menarik lengan vani hingga masuk ke dalam kamar mereka.


"ayo masuk"


"mas! pelan pelan dong, sakit!"


vani yang merasa kesakitan itu tetap mengikuti langkah cepat suaminya berjalan.


"sini kamu!"


dika mendudukkan vani dengan kasar di atas ranjang membuatnya kembali meringis.


"aw! lepasin" vani mengusap lengannya yang memerah akibat perbuatan suaminya itu.


"vani jawab apa kurangnya aku buat kamu hah! apa kamu enggak puas sama aku sampe kamu nyari laki laki lain di luar sana. iya!!!?"


dengan wajah marah dika menatap vani namun matanya sudah berkaca kaca menahan air mata.


"itu enggak bener mas, aku enggak ada hubungan apapun sama mas diki dan aku juga enggak pernah selingkuh dari kamu" vani membela dirinya.


"bohong!! terus kenapa kalian sering ketemuan, kalian juga selalu chattingan mesra. barusan apa yang aku liat vani kamu malah ciuman sama cowok itu di depan umum?"


"enggak mas, aku enggak pernah khianatin kamu yang tadi kamu liat itu cuma salah faham. mas diki cuma bantuin aku karena tadi aku bener bener pusing" vani menjelaskan dengan air mata di pipinya.


"alasan"


"itu kenyataannya mas"


"kalo gitu, apa kamu bisa jelasin juga sama aku kenapa usia kandungan kamu udah tiga bulan sekarang. padahal harusnya usianya masih belum genap dua bulan karena aku baru sembuh dari amnesia waktu itu?"


dika akhirnya bertanya karena sudah tidak tahan lagi dengan semua pertanyaan di dalam hatinya selama ini.


hal itu seketika membuat vani syok karena suaminya sedang mempertanyakan tentang calon bayi di dalam kandungannya.


"maksud kamu apa mas, kamu enggak percaya kalo ini anak kamu?" vani menatap mata suaminya dengan air mata yang semakin mengalir deras di pipi.


vani benar benar tidak menyangka jika suami yang sangat dicintainya itu tega menuduh dirinya sudah melakukan perbuatan yang menjijikkan itu dengan pria lain.


dika memalingkan wajahnya karena tidak ingin melihat kesedihan di wajah istrinya namun berulang kali dika mencoba untuk mempercayai vani semakin membuatnya merasa tertekan karena apa yang ia pikirkan tidak sejalan dengan kenyataan yang sedang di jalaninya saat ini.


"jangan nangis, aku cuma nanya" dika yang air matanya juga sudah mengalir di pipi tanpa sadar telah menunjukkan sisi lemahnya.


memang kelemahan terbesarnya saat ini adalah istri dan anaknya. dika tidak sanggup jika harus membayangkan dirinya kehilangan keluarga kecilnya yang bahagia itu.


"tapi pertanyaan kamu itu nyakitin banget buat aku mas. tolong kamu percaya sama aku kalo aku enggak pernah sekalipun khianatin kamu. hiks!!! hikss!!!"


tangis vani pecah ia tidak tau harus mengatakan apalagi karena dika tidak mau percaya kepada dirinya.


vani hanya bisa menunduk sambil memeluk bayi di dalam perutnya. ia tidak berdaya karena pertanyaan suaminya itu sudah menghancurkan seluruh rasa kepercayaan dirinya.


rasanya vani tidak punya kehormatan lagi di hadapan pria yang dicintainya itu.


'jadi, itu alasannya kenapa selama ini kamu selalu menjauh dari aku mas. karena kamu enggak percaya kalo anak ini adalah anak kamu' batin vani yang menangis.


tubuhnya terasa lemas namun vani masih berusaha untuk menahan rasa sakitnya.


"udahlah aku masih ada urusan sama laki laki itu, aku bakal habisin dia sekarang juga"


dika hendak melangkah pergi dari dalam kamarnya namun vani mencoba untuk menghalanginya karena tidak mau jika suaminya itu benar benar nekad akan membunvh seseorang.

__ADS_1


"mas jangan, aku mohon" vani memeluk kaki suaminya sambil memohon.


"lepasin vani"


"enggak mas! aku mohon jangan"


"kenapa, sampe segitunya kamu belain dia vani. apa kamu takut kehilangan dia atau memang benar kalo laki laki itu adalah ayah dari bayi kamu" dika semakin marah.


"enggak mas. aku enggak mau kamu nyakitin orang lain karena aku enggak mau kehilangan kamu. aku enggak mau kalo kamu sampe di tahan polisi karena ngebunuh mas diki aku mohon" vani semakin erat memeluk kaki suaminya agar tidak pergi.


"jangan sebut namanya lagi vani!! lepasin!!"


dika sangat tidak suka mendengarnya hingga dengan kuat menarik kakinya dari dalam pelukan istrinya itu agar vani melepaskannya.


"akkhh!!" tubuh vani terlepas hingga membentur lantai.


"aw! shh" vani memegangi perutnya yang terasa semakin sakit akibat benturan itu.


sebenarnya vani sudah merasakan sakit yang luar biasa di bagian perutnya sejak jatuh tadi namun ia menahannya karena dika sedang marah. kini rasa sakitnya semakin bertambah sehingga vani tidak dapat menahannya lagi.


"sshhh!!! akkhh!!!! sakit mas, aduh!! perut aku sakit banget. tolong mas" vani terus mengeluh kesakitan membuat dika khawatir.


"vani kamu kenapa"


"sakit" hiks! hiks!


"kita ke rumah sakit ya"


dika membantu vani untuk berdiri namun saat vani berdiri dari duduknya justru darah mengalir dari pangkal pahanya hingga terlihat di bagian bawah kakinya membuat dika membelalakkan mata melihat darah segar itu mengalir di kaki istrinya.


"shhh! sakitt!!" ringis vani dengan wajah pucat.


"darah!!! kamu pendarahan sayang" dika sangat khawatir sekaligus panik.


vani menangis mengkhawatirkan calon bayinya ketika melihat darah yang mengalir di kakinya itu.


"kamu tenang ya, kita ke rumah sakit sekarang"


dika langsung menggendong tubuh vani dan berjalan menuju mobil hendak segera ke rumah sakit.


hana yang baru saja pulang dari sekolah bersama raffa melihat keadaan vani yang mengalami pendarahan saat dika hendak membawanya ke rumah sakit.


hana mendekat mengikuti langkah cepat dika yang sedang menggendong kakaknya itu.


"bang dika, kak vani kenapa?" tanya hana.


"kakak kamu pendarahan hana, tolong kamu jagain raffa dulu ya di rumah. kami mau ke rumah sakit"


"iya bang, kalian hati hati ya"


hana ingin ikut namun saat ini raffa sudah tidur, tidak mungkin ia meninggalkan keponakannya itu sendirian meskipun sebenarnya ada asisten yang akan menjaga raffa di rumah.


sesampainya di mobil dika langsung meminta supir agar mengantar mereka menuju rumah sakit terdekat.


"sshh! akhh aku enggak kuat lagi"


"sayang kamu tahan ya, maafin aku" dika memeluk sambil mengecup wajah istrinya dengan penuh penyesalan.


"sakit mas" ringis vani melemah dan sudah semakin pucat.

__ADS_1


"sakit ya, sebentar lagi kita sampe kok sabar ya sayang"


"aku enggak kuat"


"kamu harus kuat sayang"


"tolong lebih cepat jalannya pak!"


dika meminta supir untuk melajukan mobilnya lebih cepat namun vani sudah tidak dapat menahan rasa sakitnya lagi hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri.


"sayang bangun sayang!" dika semakin cemas melihat vani pingsan dengan wajah yang sudah pucat.


sesampainya di rumah sakit vani langsung di bawa ke ruang ICU untuk mendapat penanganan pertama.


dika dengan cemas menunggu istrinya di depan ruang pemeriksaan itu. ia merasa sangat bersalah namun penyesalannya sama sekali tidak berguna lagi sekarang.


cukup lama dika menunggu hingga akhirnya dokter pun keluar dari dalam ruang icu setelah memeriksa keadaan vani. ia melihat perawat sedang mendorong bankar vani untuk memindahkan istrinya ke dalam ruang perawatan.


saat ini vani sudah di pindahkan ke dalam ruang rawat VIP.


dika masuk ke dalam ruangan istrinya lalu duduk di samping tempat tidur vani menatap wajah pucat itu dengan sendu.


"maafin aku ya, aku udah jahat sama kamu" dika menggenggam tangan vani lalu mengecup kedua punggung tangan istrinya.


dika meneteskan air mata menatap wajah istrinya yang pucat dan belum sadarkan diri di hadapannya. ia sangat menyesal atas ucapan dan perbuatannya yang telah menyakiti hati istrinya itu.


saat dika masih larut dalam kesedihan pandangannya pun beralih menatap perut istrinya di sana.


"maafin papa ya sayang" dika pun mengecup perut istrinya dengan lembut dan penuh penyesalan.


tidak lama kemudian seorang perawat masuk ke dalam ruangan vani. dika menoleh saat perawat itu datang dan memintanya untuk menemui dokter di dalam ruangannya.


"pak dika, tolong ikut saya keruangan dokter sebentar ya" perawat meminta agar dika mengikutinya.


"baik suster" dika mengangguk lalu beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti langkah perawat itu.


beberapa menit kemudian vani mulai sadar dari pingsan, ia menatap langit langit di dalam ruangan itu dengan sorot mata yang kosong.


vani merasa sangat hampa, air mata kembali mengalir dari sudut matanya.


'maafin mama ya sayang, mama enggak bisa jagain kamu' batin vani menangis hatinya benar benar terluka atas kepergian calon bayinya.


dalam diamnya vani kembali teringat dengan ucapan suaminya yang sangat menyakitkan itu.


vani mulai berpikir mengapa usia kandungannya menjadi pertanyaan bagi suaminya. padahal selama ini dirinya tidak pernah memikirkan tentang hal itu sebelumnya.


kemungkinan saja pemeriksaan dokter bisa salah. terlebih lagi saat itu dika hanya emosi sesaat karena melihat vani bersama dengan pria lain.


di tengah kesedihan vani karena kehilangan calon bayinya, terlihat dika kembali masuk ke dalam ruangan istrinya dan melihat vani yang sudah sadar.


perlahan dika mendekati sisi bankar, menatap istrinya yang hanya berbaring sambil melamun di sana.


"sayang kamu udah sadar?" dika menatap vani


namun vani hanya diam saja tidak berniat untuk menjawab dan memilih untuk mengabaikan suaminya.


"maafin aku ya, aku salah. aku udah jahat sama kamu"


dika hendak memegang tangan istrinya namun vani langsung menyembunyikan tangannya lalu mengalihkan pandangannya dari dika.

__ADS_1


"hiks!! hiks!!" dika mendengar isak tangis pilu dari istrinya. ia tau saat ini vani masih sangat sedih.


dika hanya diam menemani istrinya yang sedang sedih itu hingga tangisannya reda. ia terus menatap vani yang tidak menatap dirinya.


__ADS_2