
Malam ini vani melihat raffa sedang terdiam di dalam kamar mereka. vani mendekat dan duduk di samping putranya yang sedang berbaring di atas ranjang itu.
"affa kenapa sayang, kok dari tadi mama perhatiin kayanya affa diem terus sih enggak mau main bareng mbak rara?"
"afa tangen tama papa ma, tenapa papa ndak pulang pulang cih" raffa tidak bersemangat karena merindukan papanya.
vani yang mendengar ucapan putranya itu pun mencoba untuk menghiburnya
"maafin mama ya sayang, nanti mama coba telpon papa oke"
"cekalang dong ma telpon papanya"
"sekarang enggak bisa sayang soalnya papa masih sibuk kerja"
"tenapa papa kelja telus sih"
akhirnya raffa tertidur karena tidak dapat bertemu dengan papa yang sangat di rindukannya.
sudah lewat tengah malam, vani terbangun dari tidurnya karena merasa haus namun ia melihat putranya sedang tidur dengan tubuh bergetar. ternyata raffa mengalami demam yang cukup tinggi membuat vani merasa panik dan khawatir.
"ya ampun sayang affa demam ya"
setelah vani menyentuh dahi putranya yang panas. ia langsung berjalan menuju dapur hendak mengambil mangkuk berisi air hangat dengan handuk kecil untuk mengompres tubuh putranya.
"minum obat dulu ya sayang" vani pun memberikan obat penurun panas anak untuk di minum oleh raffa.
vani terus terjaga dan tidak tidur sampai pagi datang karena merasa khawatir pada putranya.
pagi harinya vani memutuskan untuk tidak pergi ke kantor demi menemani putranya di rumah. saat ini kondisi raffa sudah membaik namun vani sangat lelah karena tidak tidur semalaman.
rangga berangkat ke kantor sendirian karena vani memilih libur bekerja.
sesampainya di kantor seperti biasanya rangga langsung masuk ke dalam ruangannya dan fokus mengerjakan pekerjaannya.
siang hari di jam istirahat seperti biasanya rangga dan dika lunch bersama di cafe langganan mereka. dika yang sejak pagi tadi tidak melihat vani datang bekerja pun bertanya kepada abangnya.
"oh ya bang kenapa vani enggak kerja hari ini?"
"iya, anaknya lagi sakit jadi dia enggak bisa kerja deh"
"anak! jadi vani udah nikah?" dika kaget karena berpikir selama ini jika vani masih gadis.
"iya udahlah. menurut lo?" rangga menggelengkan kepala.
"gue kira masih single" ujar dika pelan.
"hhhh! ngaco lo dik" rangga tersenyum miring.
"ya mana gue tau bang, keliatannya gitu" dika mengendikkan bahunya.
"hhhh! iya juga sih vani keliatan kaya masih abege ya"
"oh ya bang gimana soal proyek baru di luar kota, lo bakal pergi kan?" dika mengalihkan pembicaraan.
"gue enggak bisa deh kayanya dik, jadi lo aja ya yang mantau secara langsung"
"yahh, terserah lo deh bang" dika hanya pasrah.
keesokan harinya, vani sudah kembali bekerja karena raffa juga sudah sehat.
dika baru saja sampai di depan ruangannya dan melihat vani sudah berada di meja kerjanya.
"selamat pagi pak" vani berdiri dari duduknya untuk menyapa bosnya yang datang.
"pagi. oh ya vani gimana keadaan anak kamu?" tanya dika membuat vani bingung.
"em, anak saya?"
__ADS_1
"iya kemarin kamu enggak ngantor karena anak kamu lagi sakit kan?"
"oh iya pak. alhamdullilah sekarang anak saya sudah sehat" vani mengangguk.
"syukurlah kalo gitu. baik saya masuk dulu ya"
"em baik pak" vani mengangguk.
dika pun berjalan masuk ke dalam ruangannya.
jam istirahat pun tiba, rangga dan dika kembali mengajak vani untuk makan siang bersama di tempat biasa.
saat hendak turun ke lantai dasar vani berpapasan dengan naya di dekat lift. ia pun berniat untuk mengajak naya lunch bersama mereka.
"naya, kamu mau kemana?"
"saya mau makan siang bu vani"
dika yang melihat naya terlalu sopan kepada vani pun merasa bingung. pasalnya posisi mereka di kantor itu terbilang sama jadi tidak seharusnya naya menunduk kepada vani apalagi memanggilnya dengan sebutan ibu begitu pikirnya.
rangga menatap naya dengan lekat, ia berharap naya tidak bersikap seperti itu kepada vani jika di hadapan dika.
"eh! maksudnya, aku mau makan siang nih vani" naya pun meralat ucapannya setelah mengingat pesan dari rangga sebelumnya.
hal itu membuat dika semakin bingung melihat kelakuan naya yang aneh.
"oh ya gimana kalo kita lunch bareng aja yuk" ajak vani menawarkan.
"em mungkin lain kali deh van soalnya hari ini aku udah ada janji sama temen buat makan bareng" naya menolak dengan halus.
"oh gitu, oke deh tapi next time kita makan bareng ya" vani tersenyum.
"oke deh"
setelah sampai lantai dasar mereka pun keluar dari dalam lift dan berjalan ke arah pintu keluar.
di sela sela makan mereka rangga pun bertanya kepada adiknya.
"oh ya, pulang kerja nanti lo ada acara apa dik?" tanya rangga menatap dika.
"enggak ada sih bang, emangnya kenapa?"
"lo main ke rumah gue ya, soalnya rara kangen sama lo"
rangga mengajak dika untuk ke rumahnya agar raffa bisa bertemu dengan papanya.
"rara, maksud lo?"
"rara itu keponakan lo, anak gue. sebelumnya kalian deket banget jadi sekarang dia pengen ketemu sama omnya"
mendengar penjelasan dari rangga dika pun memegangi kepalanya yang kembali terasa sakit karena ia mencoba untuk mengingat keponakannya yang bernama rara itu.
"sshh!"
dika berpikir apakah mungkin rara adalah anak kecil yang selalu muncul dalam bayangannya selama ini? namun dika sendiri tidak yakin karena anak kecil yang sering terlintas dalam ingatannya itu adalah seorang anak laki laki.
"ck! akhh kepala gue sakit bang, gue enggak bisa ingat semuanya. maaf ya gue enggak ingat sama keponakan gue sendiri" ujar dika menahan rasa sakit di kepalanya.
"lo enggak perlu ingat semuanya sekarang dik, tapi gue yakin sebentar lagi lo bakal ingat semuanya kok. jangan di paksa ya" rangga merasa khawatir dengan keadaan dika.
'ya ampun mas dika kasian banget kamu, selalu ngerasa sakit kaya gitu setiap berusaha ingat sesuatu. aku rela kok kamu enggak ingat sama aku asalkan kamu enggak kesakitan kaya gitu mas' batin vani sedih melihat dika yang menahan rasa sakitnya.
vani benar benar tidak tega saat melihat suami yang dicintainya itu merasa kesakitan.
"pak dika, apa sakit banget? sebaiknya bapak pulang untuk istirahat aja ya" vani memegang tangan dika dengan khawatir.
"enggak, saya enggak papa" dika menarik tangannya dari genggaman vani.
__ADS_1
hati vani merasa sedih karena sekarang suaminya bahkan tidak ingin di sentuh olehnya sedikitpun.
sore harinya dika ikut pulang bersama rangga dan vani ke rumah rangga karena ingin bertemu dengan keponakannya itu. dika merasa bersalah sudah melupakan orang orang terdekatnya.
sesampainya di rumah rangga, ranty berserta anak anak langsung menyambut kepulangan mereka dengan pelukan.
"om dika! uhh! rara kangen banget sama om" rara pun langsung memeluk om kesayangannya itu.
saat ini rara mulai mengerti dengan keadaan di sekitarnya karena usianya sudah menginjak remaja.
ranty pernah menjelaskan kepada putrinya jika dika sedang sakit dan rara tidak boleh bertanya terlalu banyak kepada omnya itu.
"kamu udah sebesar ini sayang?" dika tidak menyangka saat melihat rara.
"iya dong om"
dika berpikir pasti banyak sekali kenangan dan momen berharga dalam hidupnya yang sudah ia lupakan. bahkan dirinya juga tidak ingat tentang apa saja yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir dalam hidupnya.
"papa!! afa tangen tama papa" raffa datang lalu memeluk tubuh dika, papa yang sangat ia rindukan itu.
mendengar panggilan papa dari raffa membuat dika semakin bingung. ia hanya diam saat raffa memeluknya, tidak berniat untuk membalas pelukan dari putranya itu.
"papa?" tanya dika bingung dan kembali merasakan sakit di kepalanya.
panggilan itu terdengar familiar di telinganya namun dika tidak dapat mengingat apapun karena yang terlihat hanya sebuah bayangan gelap saja.
"aarrgghh' teriak dika menahan rasa sakit di kepalanya membuat raffa yang sedang berada dalam pelukannya itu pun kaget saat mendengar teriakkan papanya.
"papa tenapa?" tanya raffa polos dengan tatapan sedih.
"sayang, affa main sama mbak dulu ya di dalam kamar" vani menatap ranty seakan memintanya agar membawa anak anak bermain di dalam kamar saja.
"iya ayo anak anak kita main di kamar aja ya. mama punya sesuatu buat kalian" ranty mengajak anak anaknya pergi dari sana sambil menggendong raffa yang terlihat sedih karena papa yang sangat ia rindukan itu tidak membalas pelukannya dan tidak menggendong dirinya seperti biasa.
"pak dika enggak papa?" vani menatap cemas keadaan suaminya.
vani merasa bersalah karena seharusnya mereka tidak mempertemukan raffa dengan dika sekarang.
namun karena raffa selalu bertanya kapan papanya akan pulang membuat rangga tidak tega melihat kesedihan di wajah keponakannya itu terlebih lagi raffa sampai jatuh sakit karena merindukan papanya.
"dika lo enggak papa kan?"
rangga membatu dika untuk berdiri lalu membawa adiknya itu masuk ke dalam kamar tamu terdekat.
"vani! tolong kamu telpon dokter radit sekarang ya"
"iya mas" vani pun mengangguk dan langsung bergegas untuk menelpon dokter.
setelah dokter memeriksa keadaannya, sekarang dika pun tertidur karena sudah di beri obat penenang.
"dokter, gimana keadaan mas dika?" tanya vani khawatir.
"enggak papa, dika cuma ngerasa tertekan aja karena berusaha buat ingat sesuatu. dia akan merasakan hal kaya gini sampe nanti dia benar benar ingat semuanya karena memang harus bertahap"
"itu berarti dika bakal baik baik aja kalo dia bisa ngontrol ingatannya kan dok?" tanya rangga.
"iya benar pak rangga semua akan baik baik aja kalo dika tidak memaksakan diri untuk mengingat semuanya"
"baiklah terima kasih ya dokter"
"kalo gitu saya permisi dulu ya pak rangga vani" pamit dokter radit.
"baik dokter mari saya antar" rangga mempersilahkan radit untuk keluar dari dalam kamar itu.
setelah dokter pergi, vani pun kembali ke kamarnya hendak membersihkan diri terlebih dahulu. setelah itu vani segera kembali menuju kamar dika untuk menemani suaminya.
"mas dika, kamu yang kuat ya. aku enggak tega liat kamu kesakitan kaya gini" vani meneteskan air matanya saat melihat keadaan suaminya.
__ADS_1