Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 125


__ADS_3

sesampainya di taman itu mereka pun berpencar untuk mencari keberadaan vani di setiap sudut taman namun tidak menemukan vani di sana. hingga akhirnya mereka kembali berkumpul di tempat yang sama saat mereka berpisah sebelumnya.


"vani dimana? dia enggak ada di sini" ucap rangga.


"iya enggak ada kak vani di taman ini"


yuli pun menatap dika yang terlihat semakin khawatir.


"ray, tolong suruh anak buah lo buat nyelidikin tempat ini dan liat cctv sebelum vani hilang. kalo dapat kabar langsung kasih tau gue ya, sekarang gue sama bang rangga mau pulang sebentar siapa tau vani ada di rumah mama" ucap dika kepada ray.


"oke"


ray mengangguk lalu mereka kembali melajukan mobil ke arah yang berbeda.


sesampainya di rumah utama dika dan rangga bergegas turun dari dalam mobil lalu masuk ke dalam hendak menemui mama dan papanya.


mereka melihat kedua orang tuanya sedang duduk di ruang keluarga bersama arin juga.


mama ratih yang melihat kedua putranya datang secara bersamaan itu pun bertanya karena tidak biasanya mereka datang di jam kantor.


"dika, rangga ada apa nak kok kalian berdua kaya buru buru gitu?"


mama ratih menatap kedua putranya yang masuk dengan langkah cepat.


"ma pa apa tadi vani ada pulang ke rumah ini?" tanya dika.


"vani? enggak ada sayang emangnya vani dimana?"


"vani hilang ma" ucapan rangga membuat mamanya syok.


"apa!! vani hilang?"


mama ratih merasa khawatir dengan keadaan menantu bungsunya itu.


"iya ma, vani enggak ada di rumah maupun di butik terakhir dia pamit mau ke taman terus kami udah nyari di taman tapi dia enggak ada disana handphonenya juga enggak aktif" rangga menjelaskan.


"apa kalian udah lapor polisi?" tanya papa hardi.


"belum bisa pa, vani hilangnya baru tadi siang"


"dika kamu harus cari istri kamu sekarang mama khawatir sama keadaan vani apalagi dia lagi hamil"


"iya ma ini dika mau langsung nyari vani mama tenang ya, kalo gitu kami pamit dulu ya ma pa" pamit dika.


'hem, vani hilang? apa mungkin ini perbuatan mereka juga' batin arin berpikir jika hilangnya vani ada hubungannya dengan raka dan karin.


dika hanya melirik sekilas pada wajah arin yang terlihat melamun seperti sedang memikirkan sesuatu disana sebelum ia berbalik badan dan melangkah menuju pintu keluar dari rumah.


dika dan rangga kembali masuk kedalam mobil dan melajukannya hendak menemui ray.


sesampainya di tempat yang mereka tuju ray langsung meminta dika untuk mengikuti mobilnya menuju tempat yang sudah ia lacak bersama temannya yang lain tentang dimana keberadaan vani sekarang.


setelah mereka memeriksa beberapa cctv di pinggir jalan yang berada di dekat taman itu.


"dika lo ikutin mobil gue aja ya, anak buah gue yang lain udah pergi kesana duluan buat mantau keadaan disana"


ucapan ray langsung diangguki oleh dika dan rangga.


keduanya langsung melajukan mobil menuju tempat yang sudah mereka ketahui jika vani berada di sana.


di dalam rumah itu vani sedang berusaha untuk kabur melalui sebuah jendela yang hanya terkunci dari dalam kamar saja.


ceklek!


vani membuka jendela itu lalu keluar secara perlahan dari dalam sana karena perut buncitnya membuat vani harus sangat berhati hati beruntung jendela tidak terlalu tinggi.


"huh, kayanya aman nih"


setelah berhasil keluar dari dalam kamar itu vani melihat suasana di luar yang sepi dari penjagaan. ia segera berjalan cepat menuju pintu keluar dari belakang rumah.


"aduh lewat mana ya?"


vani bingung namun matanya berbinar saat melihat pintu pagar disana ia langsung membuka kunci pagar belakang rumah itu karena beruntung kuncinya juga berada disana.


"hei siapa itu!!"


penjaga yang berlalu lalang memantau keadaan disana pun melihat pintu pagar terbuka.


setelah membuka pintu pagar, vani segera berjalan cepat untuk menjauh dari rumah itu.


"enggak ada siapa siapa"


para penjaga kembali menutup pagar dan pergi dari sana.

__ADS_1


setelah lelah berjalan menjauh ternyata rumah itu berada di tengah hutan yang sunyi dan menakutkan namun vani tidak punya pilihan lain karena ia merasa jika rumah itu jauh lebih menyeramkan dari pada hutan yang sedang ia jalani saat ini.


tidak lama raka dan karin kembali masuk ke dalam kamar vani namun mereka tidak menemukan keberadaannya lagi di dalam sana.


"kurang ajar, vani pasti kabur dari jendela"


karin melihat jendela kamar itu terbuka.


"dia pasti kabur lewat pintu pagar belakang rumah"


raka juga mendekati jendela kamar itu.


"ayo kita cari pasti vani belum pergi jauh dari sini karena dia lagi hamil jadi enggak mungkin dia lari jauh dari sini"


karin mengajak raka untuk pergi mencari vani.


"iya ayo"


raka pun mengangguk setuju mereka pergi untuk mengejar vani dan masuk ke dalam hutan.


di dalam hutan itu vani masih terus berjalan karena merasa takut jika raka akan kembali menemukannya.


"aduh aku capek banget deh tapi kok enggak nyampe nyampe di pinggir jalan ya"


vani sudah merasa lelah namun tetap berjalan padahal sebenarnya ia memasuki hutan lebih dalam dan semakin menjauh dari jalan raya.


setelah lama berjalan menyusuri hutan vani merasa semakin kelelahan dan perutnya juga terasa sakit.


"huh!! perut aku sakit banget aw, sshh! sayang kamu bertahan ya kita harus pergi dari tempat ini"


vani mengelus perutnya berbicara kepada bayinya agar tetap bertahan.


raka dan karin berjalan menyusuri jalanan yang mungkin pasti di lewati oleh vani saat kabur dari belakang rumah dengan mengajak beberapa anak buah mereka juga untuk ikut mencari keberadaan vani di dalam hutan.


"dimana dia, ayo kita berpencar di sekitar sini" karin menatap raka.


"hem iya"


raka pun mengangguk dan mereka pergi berlawanan arah dengan masing masing membawa anak buahnya.


"vani!" srek! srek! suara langkah kaki raka.


vani yang sedang berjalan tertatih itu mendengar suara raka dari kejauhan. ia langsung bersembunyi di balik pohon besar dan semak semak yang berada disana karena melihat raka berjalan semakin mendekat ke arahnya.


"mas raka!"


raka berteriak memanggil vani karena ia merasa jika tadi melihat vani di sekitar tempat itu.


vani melihat raka dari balik semak semak sedang berjalan sambil mencari cari dirinya.


"ya Allah lindungilah aku dan bayiku dari orang jahat itu"


vani berdoa dengan suara pelan sambil memeluk perutnya.


"ayolah sayang jangan sembunyi lagi, di sini ada binatang buas kalo dia menemukan kamu pasti dia akan langsung memakan mu"


raka mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat.


"sayang kamu bertahan ya shh! kita pasti bisa"


vani kembali mengelus lembut perutnya yang sebenarnya terasa sakit itu.


raka melangkah perlahan menuju semak yang berada di dekat pohon besar itu karena merasa jika ada sesuatu yang bergerak di balik sana.


vani semakin takut karena raka akan berhasil menemukan dirinya di tempat itu, ia hanya memejamkan mata sambil memeluk perutnya.


"aakhh!"


tiba tiba terdengar suara teriakan karin membuat raka urung melihat sesuatu di balik semak itu.


"karin?"


raka pun segera melangkah pergi ke arah yang berbeda untuk melihat keadaan karin.


setelah menemukan keberadaan karin raka pun mendekat.


"sayang, kamu enggak papa?"


"enggak papa aku cuma terkilir dikit"


karin terjatuh membuat kakinya sakit berjalan.


"kita pulang aja ya"

__ADS_1


raka menagajak pulang karena mereka sudah mencari vani cukup jauh namun tetap belum menemukannya.


"enggak! kita harus cari vani dan bawa dia pergi dari sini"


"tapi sayang kaki kamu kan sakit"


"aku enggak papa kok"


"kamu yakin?"


"em" karin mengangguk.


"ya udah kalo gitu kita nyari bareng bareng aja ya"


"hem, dimana dia? enggak mungkin vani bisa pergi jauh dari sini kan" keluh karin.


"iya aku juga enggak berhasil nemuin vani di sebelah sana"


raka menunjuk bagian tempat yang ia datangi tadi.


"atau jangan jangan vani udah di makan sama binatang buas di dalam hutan ini ya"


karin bergidik ia juga merasa takut jika ada binatang buas yang akan memangsa mereka di sana


"sayang kamu jangan ngomong gitu dong. kamu tenang aja ya ada aku di sini yang selalu jagain kamu"


"makasih ya sayang" karin memeluk raka.


"ya udah mendingan kita cari vani lagi yuk"


raka dan karin kembali menyusuri hutan yang luas itu.


di dalam perjalanannya dika yang sedang mengikuti laju mobil ray pun menjadi kesal dan semakin khawatir karena menyadari mobil mereka justru memasuki area hutan.


brak!!


"sial!! kenapa kita malah menuju hutan? siapa yang udah berani ngelakuin ini sama istri ku"


dika emosi hingga memukul setir mobilnya.


"tenang dika, kita bakal kasih pelajaran sama orang orang itu nanti setelah kita berhasil nemuin vani yang penting sekarang kita harus bawa vani pulang dengan selamat"


rangga menenangkan adiknya yang sedang kesal.


"mereka mencoba bermain main dengan ku" geram dika sambil mencengkram kuat stir mobilnya dengan sorot mata yang sangat menakutkan.


di mobil yang berbeda yuli juga merasa bingung kenapa mobil ray malah melaju menuju hutan.


"kenapa kita malah masuk ke hutan, apa mungkin kak vani ada di dalam hutan ini?"


yuli bertanya pada dirinya sendiri namun dapat di dengar oleh ray.


"mereka pasti menculik vani dan membawanya ke suatu tempat di dalam hutan"


ray menjawab sambil fokus menyetir.


"ya ampun gimana keadaan kak vani sekarang ya"


yuli sangat khawatir dengan keadaan vani yang sedang berada di dalam hutan itu. terlebih lagi saat ini kakaknya itu sedang hamil besar.


"halo, bagaimana keadaan disana?"


ray berbicara dengan seorang anak buahnya yang sedang melaporkan keadaan di dalam hutan setelah mereka di tempat tujuan.


"bos, disini ada sebuah rumah yang di jaga ketat dari bagian depan" ucap anak buah ray.


"awasi rumah itu dari segala sudut segera cari celah untuk bisa masuk" perintah ray kepada anak buahnya itu.


"baik bos" jawab anak buahnya.


dari arah samping yuli memperhatikan ray yang sedang berbicara dengan anak buahnya di telpon sedangkan ray hanya menatap fokus ke depan menyetir mobil.


'ya ampun pak ray ganteng banget sih kalo lagi mode serius gini ' batin yuli sambil menatap wajah ray dari samping tidak sadar ia pun tersenyum karena sedang mengagumi wajah tampan di hadapannya.


'ck! apa yang lagi gue pikirin sih? harusnya kan gue lebih mikirin keadaan kak vani sekarang'


yuli pun tersadar dari lamunannya lalu kembali fokus melihat jalanan yang di penuhi dengan pepohonan liar itu dengan wajah cemas.


di dalam hutan vani masih terus berjalan menyusuri jalan hutan yang semakin gelap karena hari sudah menjelang malam.


"huh!! huh!! huh!! aw shh sakit!"


vani memegangi perutnya yang terasa semakin sakit sambil berjalan tertatih dengan satu tangan bertumpu memegang pepohonan di sana.

__ADS_1


"sayang maafin mama ya kayanya mama udah enggak kuat lagi deh sakit banget sshh huh! huh!"


vani merintih kesakitan menahan rasa sakit di perutnya sambil tetap mengatur nafas.


__ADS_2