Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 176


__ADS_3

malam harinya setelah selesai makan malam bersama dengan rangga beserta anak anak seperti biasanya. vani pun berjalan hendak menemui rangga dan ranty yang sedang duduk santai di dalam ruang keluarga.


di dalam ruangan itu rangga dan ranty sedang duduk berdua sambil berbincang santai.


"sayang anak anak udah tidur?" tanya rangga kepada istrinya.


"udah mas, baru aja. kayanya mereka kecapekan deh karena seharian main di taman" jawab ranty tersenyum.


"oh ya udah kalo gitu" rangga mengangguk.


vani datang menghampiri rangga dan ranty di sana karena hendak membicarakan sesuatu.


"mas rangga, mbak ranty. aku mau ngomong sesuatu boleh enggak?" vani sudah berdiri di samping sofa.


"vani, kamu itu lucu banget deh masa mau ngomong aja harus nanya dulu boleh atau enggak. iya pasti boleh dong sayang sini duduk"


ranty menepuk sofa di dekatnya agar vani juga ikut duduk disampingnya.


"makasih mbak"


"emangnya kamu mau ngomong apa sih?" tanya ranty setelah vani duduk di sampingnya.


"iya nih emangnya ada apa kayanya serius banget deh"


rangga pun menatap adik iparnya itu karena merasa penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh vani.


"em, jadi gini mas mbak. sebelumnya aku mau ngucapin makasih banyak ke mbak sama mas juga karena udah jagain aku sama raffa selama ini, udah bolehin kami buat tinggal disini juga" vani memulai pembicaraannya.


"maksud kamu apa dek kok ngomongnya kaya gitu sih pasti dong kami semuanya senang banget kamu sama raffa mau tinggal disini jadi kamu enggak usah bilang makasih segala kaya gitu ya" ranty mengusap lembut rambut vani.


"iya mbak aku tau kok. tapi,,, em... maafin aku ya mbak mas. tapi mulai besok aku sama raffa mau pulang ke kampung aja ya. aku enggak mau ngerepotin mas sama mbak terus disini"


"kamu kok ngomong kaya gitu sih vani, mas sama mbak kamu enggak pernah merasa repot kok. emang siapa yang bilang kaya gitu?" tanya rangga sedangkan ranty hanya terdiam mendengarkannya.


ranty bingung kenapa tiba tiba saja vani memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya.


"enggak ada yang bilang kok mas aku tau mas sama mbak baik banget selama ini tapi mulai besok aku udah enggak kerja di kantor lagi mas, jadi aku mau fokus jagain raffa aja" ujar vani dengan mata yang kembali berkaca kaca.


"maksudnya gimana, apa kamu mau pergi ninggalin dika?" tanya ranty yang matanya juga sudah mulai berkaca kaca mendengar ucapan adik iparnya itu.


bagaimana pun selama ini ranty tau apa saja yang sudah vani rasakan sejak tinggal di rumahnya. rangga selalu menceritakan semua hal apapun yang ia ketahui tentang vani dan dika kepada istrinya itu. termasuk tentang kedekatan dika dengan rissa teman lamanya.


"maafin aku ya mbak, tapi aku udah gagal buat mas dika jatuh cinta lagi kaya dulu. aku enggak bisa ngambil hatinya lagi sekarang" vani menunduk dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.


"tapi vani..." ucapan ranty terputus saat rangga angkat bicara.


"ya udah vani, kalo itu memang udah jadi keputusan kamu. mas sama mbak cuma bisa mendukungnya. kami juga enggak mau kamu ngerasa tertekan kalo harus tetap memaksakan diri untuk bertahan. tapi ingat, sampai kapan pun kamu akan tetap jadi adik kami. mas harap kamu enggak akan keberatan untuk tetap nganggep kami ini sebagai keluarga kamu" ujar rangga.


vani menatap rangga dan ranty dengan air mata yang masih menetes di pipinya.

__ADS_1


sungguh vani tidak ingin meninggalkan keluarga yang sudah dimilikinya selama lima tahun terakhir ini namun vani tidak bisa memaksakan diri untuk tetap tinggal di sana jika suaminya sudah tidak mencintai dirinya dan tidak lagi berada disampingnya.


"pasti mas, sampai kapan pun aku enggak akan pernah bisa mutusin hubungan darah antara raffa dengan keluarga ini" ujar vani.


"ini bukan cuma tentang raffa, tapi juga tentang kamu vani. kami benar benar udah nganggep kamu kaya adek sendiri jadi kamu jangan pernah sungkan buat ngasih tau ke kami tentang apapun masalah yang kamu hadapin kedepannya nanti ya"


"iya mas. makasih ya kalo gitu aku balik ke kamar dulu ya mbak mas" pamit vani hendak beranjak namun ranty langsung memeluk tubuhnya sambil menangis.


"kami pasti bakal kangen banget sama kalian" ranty menangis sambil memeluk adik iparnya itu.


"kami juga bakal kangen sama semuanya mbak" vani juga menangis di dalam pelukan kakak iparnya.


"ya udah, kamu jangan nangis lagi ya vani. memang ada baiknya sementara waktu kamu pergi jauh dari sini buat nenangin diri dulu. lagian klo di sana kamu pasti bakal ngerasa lebih baik kalo nanti kamu kangen sama kami kalian bisa langsung datang kesini aja ya. engga bakal ada yang ngelarang"


"iya mas. makasih ya mas sama mbak udah baik banget selama ini selalu jagain dan sayang sama kami"


"iya sama sama. udah kamu jangan nangis terus kasian raffa bakal sedih juga kalo liat mamanya nangis. ingat besok besok kalo udah di sana jangan nangis lagi ya. jangan lupa kabarin kami juga" rangga menenangkan adik iparnya yang cengeng itu.


"em" vani mengangguk.


"bener yang di bilang mas rangga vani. besok besok jangan nangis lagi ya di sana janji"


ranty menawarkan jari kelingkingnya seperti yang sering dilakukan oleh anak anak mereka jika berjanji membuat vani pun tersenyum menatapnya.


"iya mbak pasti" vani membalasnya.


rangga melerai acara tangis tangisan dari dua wanita di hadapannya itu.


"ih mas rangga. biarin dong kamu juga tadi nangis tuh jangan pura pura strong deh" ujar ranty pada suaminya membuat mereka tersenyum saat menghapus air mata.


setelah pembicaraan itu selesai vani pun kembali masuk ke dalam kamarnya begitu juga dengan rangga dan ranty yang kembali ke dalam kamar mereka untuk beristirahat.


setelah berbaring di atas ranjang, ranty kembali bertanya kepada suaminya tentang ucapan rangga saat berada di dalam ruang keluarga tadi.


"em, oh iya mas. kenapa tadi kamu bilang kaya gitu sih sama vani?"


"ngomong yang mana ya sayang?" rangga bingung.


"iya semuanya mas yang tentang keluarga, bukannya vani pulang ke kampung itu cuma buat nenangin hati aja ya bukan mau pisah dari dika kan?"


"em enggak tau juga sayang, hati vani gimana kita bisa tahu coba mungkin aja dia lagi capek sekarang. kamu tau kan udah lama vani bertahan dalam keadaan kaya gini. mas kasian liat dia hampir satu tahun tapi dika masih aja betah ngelupain dia. ya gimana pun juga vani kan masih butuh kasih sayang dan cinta dari seseorang di hidupnya. kalo dika kaya gini terus dan enggak bisa ingat sama vani lagi mau sampai kapan vani harus tetap menunggu?"


"kamu benar sih mas, tapi kan...." ucapan ranty kembali terpotong karena rangga menimpali.


"udahlah sayang kamu jangan terlalu mikirin sesuatu yang belum pasti. lebih baik kita doain aja yang terbaik buat mereka kedepannya sekarang kita istirahat aja ya" rangga mengajak istrinya untuk segera tidur.


"em, iya mas" akhirnya mereka pun terlelap dengan saling berpelukan hangat.


keesokan harinya setelah selesai berpamitan kepada rangga dan ranty dirumahnya vani pun pergi menuju rumah mertuanya untuk berpamitan juga.

__ADS_1


sesampainya di rumah utama keluarga wijaya itu. vani langsung berpamitan dengan memeluk ayah dan ibu mertuanya serta salim mengecup punggung tangan keduanya juga.


"vani pamit ya ma pa, mama sama papa jaga kesehatan terus ya jangan sampe sakit. harus tetap bahagia dan enggak boleh stress biar tetap sehat" ujar vani dengan mata berkaca kaca.


vani mengatakan kepada kedua mertuanya jika mereka hanya pulang sebentar saja karena rindu dengan keluarganya di kampung.


"iya sayang, kalian juga hati hati ya di jalan. oh ya cepat pulang juga ya nanti mama pasti kangen banget deh sama putri mama yang satu ini"


mama ratih kembali memeluk menantunya yang sudah seperti putri baginya itu.


"iya ma pasti. mama jangan khawatir ya"


meskipun sedikit ragu dengan ucapan menantu bungsunya itu namun mama ratih dan papa hardi tetap mengizinkan.


"cucu oma, jangan nakal ya disana sayang jangan lupa cepat pulang juga ya. oma sama opa pasti bakal kangen banget sama affa nanti. emuachhh"


mama ratih mengecup kedua pipi raffa lalu memeluk dengan erat tubuh cucu kesayangannya itu dengan haru sampai meneteskan air matanya.


sebenarnya mereka sangat menyayangi ketiga cucunya dengan kasih sayang yang sama, hanya saja saat ini raffa adalah cucu laki laki satu satunya yang mereka miliki.


"iya oma, afa pasti cepat pulang kok afa enggak lama pulangnya. affa janji deh"


raffa mengulurkan jari kelingkingnya di hadapan omanya, mama ratih pun membalasnya dengan mengangkat jari kelingking juga sambil tersenyum kepada cucunya itu.


"bener ya sayang, opa sama oma tunggu affa pulang nih"


papa hardi juga mendekat lalu menggendong serta memeluk raffa sambil mengecup pipi cucunya.


"iya opa, afa janji" raffa kembali mengulurkan jari kelingkingnya yang juga langsung di balas oleh sang kakek.


"oke deh sayang" emuach!


"kalian hati hati ya sayang, oh iya kalian di antar supir kan?" tanya mama ratih kepada vani.


"iya ma, tadi mas rangga udah siapin supir buat jagain vani sama raffa selama dalam perjalanan" vani tersenyum.


"kenapa bukan rangga aja sih yang langsung ngantar kalian pulang?"


"mas rangga masih sibuk ma pa soalnya lagi banyak kerjaan di kantor"


"apa kerjaannya itu lebih penting dari pada kalian?"


mama ratih sedikit kesal pada putra sulungnya karena membiarkan vani dan raffa pergi berdua saja.


"enggak papa kok ma, vani sama raffa pulangnya di anterin sama supir aja. lagian vani yang minta kok ma" ujar vani agar mama mertuanya tenang.


"ya udah deh. kalo gitu yang penting kalian kalo ada apa apa langsung kabarin mama ya"


"pasti ma" vani mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2