
sesampainya di depan rumah itu dika langsung berjalan masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
saat ini terlihat vani sedang duduk sambil bersenda gurau bersama kedua adiknya di dalam ruang keluarga.
"haha kamu ada ada aja deh han"
terdengar suara vani tertawa karena candaan dari adiknya.
yuli dan hana yang lebih dulu sudah melihat kedatangan dika pun langsung terdiam. mereka takut dika akan marah kepada vani karena pergi tanpa pamit dari rumah.
vani juga menghentikan tawanya saat melihat kedatangan dika yang sudah berdiri di dalam ruangan itu.
namun vani tidak kaget melihat kedatangan suaminya karena ia tau dika pasti akan langsung mencari dirinya yang sedang tidak berada di rumah.
benar saja dengan cepat dika pasti akan menemukan keberadaan dirinya begitu pikir vani.
vani berdiri lalu berjalan mendekati suaminya yang masih diam di sana.
"mas dika kamu udah sampe?"
vani tersenyum seperti tidak terjadi apapun di antara mereka.
"ayo kita pulang sayang"
dika menggenggam tangan vani hendak mengajaknya untuk pulang.
"enggak mas, emang mau pulang kemana lagi? bukannya kamu yang bilang kalo rumah ini rumah aku ya jadi mulai sekarang aku mau tinggal disini aja sampe anak ku lahir"
vani menolak pulang dan melepaskan genggaman tangan suaminya.
"tapi kamu kan juga udah punya rumah disana sayang" dika kembali menggenggam tangan istrinya.
"aku mau disini mas rumah yang kamu bilang itu nanti bakal jadi hak istri kamu kan"
vani pun kembali menarik tangannya dari dalam genggaman dika.
"iya tapi istriku itu kan kamu vani"
dika akhirnya memegang kedua sisi wajah vani karena istrinya itu selalu melepaskan genggaman tangannya.
"udahlah mas aku enggak mau debat lagi sama kamu. aku capek setiap hari harus bahas tentang dia, bisa enggak sih satu hari aja kamu jangan bahas soal dia"
"hei siapa yang bahas sih sayang. aku cuma mau ngajak kamu pulang sama aku"
"aku enggak mau pulang sama kamu"
vani melepaskan genggaman tangan dika dari wajahnya lalu berbalik badan hendak kembali duduk di sofa.
sedangkan yuli dan hana hanya menatap perdebatan sepasang suami istri itu dengan terdiam.
"ya udah, kalo kamu memang mau tinggal disini aku juga bakalan tinggal disini"
dika mengikuti langkah istrinya yang kembali duduk.
"enggak boleh! aku mau nenangin diri disini jadi aku mau sendirian"
"aku juga enggak bakalan pergi dari sini" kekeh dika.
"terserah kamu!! aku cuma enggak mau kalo nanti calon istri kamu itu nyariin kamu sampe kesini"
vani tidak mau menatap dika.
"dia enggak bakal berani ngelakuin hal itu sayang"
dika ikut duduk di samping istrinya.
"terserah kamu deh!" vani pun terdiam.
"plis kamu izinin aku buat tinggal di sini juga ya bareng sama kamu sayang"
dika memohon sambil menggenggam tangan istrinya.
"iya terserah kamu deh mas"
"maaf nyonya makan malamnya sudah siap"
asisten datang menemui vani dan yuli agar mereka segera makan malam.
"oh iya. ya udah makasih ya bik" yuli mengangguk.
"iya nona saya permisi" asisten itu pun kembali ke dapur.
"udah debatnya, mendingan sekarang kita makan malam dulu ayo"
__ADS_1
yuli mengajak kakak dan abang iparnya itu untuk makan malam.
"ya udah mas, ayo kita makan malam dulu"
vani pun mengajak suaminya.
"iya sayang"
dika pun menurut dan mengikuti langkah istrinya.
setelah selesai makan malam bersama dengan kakak dan abang iparnya yuli dan hana langsung masuk ke dalam kamar mereka berdua untuk beristirahat.
"kak kami udah selesai nih, kami mau ke kamar duluan ya soalnya udah ngantuk"
yuli dan hana beralasan karena sebenarnya mereka sengaja ingin meninggalkan pasangan suami istri itu berdua saja agar menyelesaikan permasalahannya.
melihat yuli dan hana pergi vani pun hendak ikut menyusul masuk ke dalam kamar kedua adiknya itu.
"eh, sayang kamu mau kemana?"
dika menahan tangan istrinya yang hendak pergi itu.
"aku mau tidur mas"
"iya kamu mau tidur dimana?"
"iya mau tidur bareng yuli sama hana dong mas"
"terus, aku gimana dong sayang?"
"iya kamu kan bisa tidur dimana pun yang kamu mau mas, masih ada kamar tamu sama kamar utama juga kosong"
"iya aku tau sayang tapi maksudnya aku tidur bareng siapa"
"iya sendirilah mas, emangnya kamu mau tidur bareng kita bertiga kan enggak muat dong tempat tidurnya"
"maksud aku, kamu tidurnya bareng aku dong sayang"
dika juga berdiri di hadapan istrinya.
"enggak mau, aku pengen tidur bareng yuli sama hana aja"
vani berbalik badan lalu melangkah menuju pintu kamar adiknya hendak meraih handle pintu kamar itu.
"enggak boleh dong sayang, kamu harus temenin aku tidur"
"ih mas dika turunin aku dong, entar kalo yuli sama hana liat gimana?" vani memukul mukul pelan dada suaminya.
"biarin aja sayang. biar mereka pengen terus mereka nikah deh" dika tersenyum dan terus berjalan.
"ih kamu tuh ya mas"
vani pun diam tidak lagi memberontak karena percuma saja pikirnya.
di rumahnya rangga dan ranty terlihat sedang menemani rara hingga tidur di dalam kamar.
keduanya duduk bersandar di sisi putrinya yang sudah tertidur itu sambil berbincang.
"mas gimana ya kalo nanti vani sama dika beneran sampe pisah?" tanya ranty kepada suaminya.
"iya mau gimana lagi sayang, ini kan juga kesalahan dika sendiri. kita enggak berhak mencampuri keputusan dalam rumah tangga mereka kan"
"iya kamu bener sih mas tapi kalo mereka sampe beneran pisah itu berarti vani bakal pergi dari sini dong jadi kita enggak bisa ketemu lagi sama dia"
ranty menunduk sedih karena masalah yang terjadi di dalam rumah tangga adik iparnya itu. bagaimanapun juga selama ini ia sudah menganggap vani seperti adiknya sendiri.
"udah jangan sedih, kita doain aja yang terbaik buat mereka ya sayang" rangga merangkul pundak istrinya.
"iya mas"
ranty mengangguk dan menyandarkan kepala di pelukan suaminya.
"oh iya gimana soal program hamil yang udah kita jalanin apa udah berhasil sayang?" tanya rangga penuh harap.
"em, belum tau sih mas kita liat bulan depan aja ya" ranty pun tersenyum.
"ya udah deh semoga cepat berhasil ya. kalo belum berarti kita harus usaha lebih sering lagi nih sayang"
rangga pun tersenyum memainkan alisnya.
"em, iya deh mas aku sih setuju aja"
"hehe bagus ya udah kalo gitu ayo kita istirahat sayang"
__ADS_1
"iya"
akhirnya mereka tidur di samping rara yang sudah terlelap sejak tadi.
di tempat yang berbeda, tepatnya di dalam apartemen raka karin sedang tersenyum bahagia.
raka yang melihat karin senyum senyum sendiri merasa bingung apa yang sudah terjadi kepada karin.
"sayang kamu kenapa senyum senyum sendiri hem" raka mendekati karin.
"hh! sayang, aku lagi bahagia banget sekarang" karin pun memeluk tubuh raka.
"apa yang udah buat kamu bahagia sayang?"
raka membelai wajah karin dengan lembut.
"hem, iya karena sebentar lagi rencana kita akan berhasil"
karin merangkul pundak raka dengan kedua lengannya.
"maksud kamu?" raka bingung.
"iya kamu tau karena apa sayang? karena arin lagi hamil sekarang jadi dika harus tanggung jawab atas kehamilan gadis kampung itu" haha
karin tertawa bahagia sambil memeluk tubuh raka.
"apa! dia hamil?" raka membelalakkan matanya kaget.
"iya jadi aku yakin sebentar lagi vani sama dika pasti bakal beneran pisah, ya seenggaknya sekarang mereka berdua juga enggak bisa bahagia di atas sakit hati dan rasa malu yang aku rasain selama ini"
karin terus memeluk raka dengan erat namun raka hanya diam saja.
"apa kamu juga bahagia sayang karena sebentar lagi rasa sakit hati kamu akan terbalaskan"
karin menatap raka yang terlihat seperti sedang berpikir itu.
"kalau wanita itu hamil itu artinya...." raka berpikir.
"apa kamu mau bilang kalo itu adalah anak kamu" karin menatap wajah raka.
"em"
raka menatap karin sambil menganggukkan kepalanya.
"hh! apakah anak itu penting untuk kamu sayang?"
karin tidak suka mendengarnya.
"hem, bukan gitu sayang cuma aku enggak mau aja anak ku lahir dari wanita kampung itu"
"udahlah raka sekarang kamu lupain tentang anak itu ya, gimana pun juga nanti anak itu akan lahir sebagai salah satu pewaris di keluarga wijaya jadi kamu enggak perlu cemas tentang kehidupannya kelak karena dia akan hidup dengan bergelimang harta dan kemewahan disana"
karin tersenyum miring lalu berjalan menuju meja yang terdapat sebuah botol minuman dengan gelasnya disana.
"hem, kamu benar sayang anak itu enggak akan kekurangan satu apapun di sana"
raka tersenyum semirk menatap karin yang kembali berjalan ke arahnya sambil membawa dua gelas minuman kesukaan mereka.
"ayo kita bersulang untuk merayakan kebahagian ini"
karin memberikan satu gelas di tangannya kepada raka.
"em ayo kita bersenang senang sayang"
raka menyambut gelas itu lalu merangkul pinggang karin dan cheers minum bersama merayakan kemenangan atas sandiwara yang telah mereka ciptakan.
"minuman ini membuat tubuh ku terasa panas"
karin menatap gelas di tangannya dengan tersenyum sambil merasakan pusing di kepalanya.
"bukan sayang tapi kamu yang udah buat tubuh ku terasa panas sekarang" cup!
raka menyatukan bibir mereka kemudian menjatuhkan tubuh karin yang sudah merasa pusing itu di atas ranjang lalu ia naik di atasnya.
karin pun tersenyum merangkul kedua pundak raka yang sedang mengecupi bagian leher dan dadanya.
"emh!"
karin melenguh menikmati sensasi luar biasa dalam tubuhnya karena sentuhan lembut yang raka berikan.
raka yang sudah di penuhi hasrat itu pun sangat menikmati tubuh indah karin hingga akhirnya ia menyatukan tubuh mereka dan mengulang malam indah seperti sebelumnya.
sejak bersama karin raka mulai kembali bersikap lembut saat menyentuh pasangannya.
__ADS_1
"shh! akhh!"
karin tak kuasa menahan lenguhan menikmati setiap hentakan dari kekasihnya itu.