
malam harinya di dalam ruang keluarga dika dan vani sedang duduk berdua menonton tv sambil berpelukan mesra. bukan menonton bersama karena lebih tepatnya dika hanya menemani istrinya yang menonton drama kesukaannya.
saat ini dika sedang asik mengganggu vani seperti biasa dengan terus mengecupi pundak istrinya itu namun tiba tiba saja vani kembali teringat dengan sesuatu yang ingin ia katakan sebelumnya.
vani hendak bercerita tentang kedua adiknya kepada suaminya itu.
"mas, kamu tau enggak"
ucapan vani membuat dika menghentikan aksinya yang nakal itu.
"enggak"
dika menjawab santai lalu merebahkan tubuhnya dengan meletakkan kepala di atas pangkuan istrinya itu sambil terus mengecupi bagian perut vani.
"ih, mas aku serius" vani manyun.
"hehe, ya udah kamu cerita aja sayang"
dika akhirnya mencoba serius untuk mendengarkannya.
drt! drt! namun dika justru mengambil ponselnya di atas meja karena mendengar suara notifikasi email masuk.
"yuli udah berhenti kerja mas terus sekarang dia lagi nyari kerjaan yang baru"
vani sambil mengusap lembut rambut dika yang sedang berbaring di atas pangkuannya itu.
"oh ya? bagus dong" dika masih tetap fokus menatap ponsel di tangannya.
"kok bagus sih mas sekarang adek aku jadi pengangguran. kenapa kamu malah bilang bagus dari mana bagusnya coba?" omel vani pada suaminya.
"iya kan bagus sayang. itu artinya kamu bisa sekalian buat usaha bareng yuli sama hana juga, aku udah bilang sama ray buat ngurus semua persiapan buat usaha baru kamu"
"iya juga sih mas. makasih ya sayang"
vani tersenyum sambil menunduk menatap suaminya lalu dika menarik wajah vani mengecup bibir manis istrinya itu.
cup!
"sama sama sayang" dika tersenyum setelahnya.
"ih! mesum deh"
vani mengecup kening suaminya karena merasa bahagia atas dukungan dika untuk membuat usaha barunya itu.
"em, lagian heran deh kenapa sih yuli tuh mau banget kerja capek di perusahaan orang lain mana setiap hari harus lembur sampe hari libur juga tetep harus kerja"
"iya, namanya juga enggak ada kerjaan lain mas kan dia waktu itu milih enggak lanjut kuliah terus langsung kerja juga karena enggak ada biaya. emangnya kamu yang bisa kuliah di luar negeri plus udah punya segalanya dari lahir"
"iya bukan gitu maksudnya sayang kamu jangan ngomong kaya gitu dong. maksudnya aku kan bisa kasih kerjaan yang lebih baik buat dia terus gaji yang lebih besar juga"
"hem tapi kan dia enggak kuliah mas. gimana mau kerja di kantor kamu sedangkan yang masuk ke sana harus lulusan semuanya aku aja enggak tau kenapa beruntung banget bisa masuk di kantor kamu waktu itu malah langsung jadi sekretaris bos lagi"
"bukan keberuntungan sayang tapi itu karena kita emang jodoh jadi ada jalan ketemu buat kita"
dika kembali memeluk pinggang istrinya itu.
"em iya juga sih mas"
"em, oh ya sayang emangnya kenapa yuli berhenti kerja?"
"itu dia mas yuli kan satu kerjaan bareng pacarnya terus katanya sekarang mereka udah putus karena pacarnya itu selingkuh jadi dia milih buat resain demi menghindar dari pacarnya itu udah males katanya"
"kenapa alasannya sama kaya kamu dulu ya"
"maksudnya?"
"iya kamu resain dari kantor waktu itu karena marah sama aku kan?"
"iya sih, kayanya emang semua cowok itu sama aja deh"
"loh kok semuanya sama sih, aku kan enggak pernah selingkuhin kamu sayang"
dika kembali memiringkan kepalanya menghadap ke arah perut istrinya lalu membenamkan wajahnya disana.
"iya, kamu emang enggak selingkuhin aku mas tapi aku yang jadi selingkuhan kamu iya kan?"
"enak aja, ya bukan lah aku kan emang enggak punya pacar waktu itu cuma temen doang sayang"
dika membela diri sambil mengecupi perut istrinya.
"terserah kamu deh mas"
vani yang tidak ingin mengingat masa lalunya lagi.
__ADS_1
sebenarnya vani merasa geli dengan perbuatan suaminya yang membenamkan wajah di perutnya itu namun vani membiarkan saja sikap manja suaminya karena merasa jika dika nyaman dengannya.
setelah beberapa menit saling terdiam dika pun bangkit dari pangkuan vani lalu duduk di samping istrinya.
dika memegang kedua sisi pundak vani serta menatapnya dengan serius.
"oh ya sayang besok aku harus berangkat ke luar kota cuma sehari kok malamnya aku usahain udah pulang"
"kemana, kenapa tiba tiba sayang?"
"iya aku,,," ucapan dika menggantung.
"kemarin kamu engga ada bilang mau pergi"
vani menunduk sedih.
"maaf ya sayang. ini emang mendadak karena lagi ada masalah di kantor cabang jadi aku harus berangkat besok"
dika menegakkan pandangan istrinya yang menunduk.
"kamu perginya sama mas ray kan?"
mata vani sudah berkaca kaca.
"enggak sayang. aku sama supir aja soalnya ray harus tetap di sini buat handle semua kerjaan yang ada di sini"
dika mengusap lembut pundak istrinya
"tapi kenapa bukan mas ray aja yang pergi, kenapa harus kamu. dia kan bisa handle kerjaan kamu yang disana"
"enggak bisa sayang. aku belum pernah ke sana, selama ini bang rangga yang selalu pergi jadi kali ini papa minta aku yang pergi kesana buat mantau secara langsung. lagian aku enggak nginap kok, aku pasti langsung pulang setelah semuanya selesai"
"kalo gitu aku mau ikut"
vani memeluk tubuh suaminya karena tidak ingin di tinggal pergi.
"jangan sayang nanti kamu capek"
dika membelai rambut lembut istrinya namun vani malah menangis di dalam pelukannya.
hiks!!! hiks!! hiks!!
"sayang jangan nangis ya aku janji. aku pasti langsung pulang kalo semua kerjaannya udah selesai. oke"
"kamu kaya rara aja deh mas. aku makin kangen sama dia"
vani tersenyum karena tingkah suaminya lalu membalas jari kelingking juga dan kembali menyandarkan tubuhnya di dada bidang suaminya itu.
"gitu dong sayang jangan sedih lagi ya, anggap aja aku cuma kerja kaya biasanya terus harus lembur jadi pulangnya malam"
"kamu harus cepat pulang"
vani masih terus memeluk suaminya.
"iya sayang, nanti waktu kamu buka mata bangun dari tidur kamu pasti aku udah ada di samping kamu"
dika tersenyum sambil membalas pelukan istrinya.
"iya sayang, em tapi aku boleh ajak yuli sama hana nginep di sini kan mas buat nemenin aku sampe malam biar enggak bosen" vani meminta izin.
"iya boleh dong sayang" dika pun mengizinkannya.
"makasih sayang" vani tersenyum.
pagi datang dengan cerahnya sinar mentari menerangi bumi namun dika masih berada di balik selimutnya.
setelah selesai sholat subuh ia pun memutuskan untuk kembali masuk ke dalam selimut yang hangat. sebenarnya ia tidak tidur hanya merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan sangat malas untuk bersiap siap.
"mas kamu kok tidur lagi sih katanya mau berangkat pagi ini. udah siang tau"
vani membangunkan suaminya seperti biasa dengan mengusap lembut rambut dika.
"hem, selamat pagi istriku" emuach!
dika bangun lalu mengecup singkat bibir mungil istrinya.
"selamat pagi juga suamiku"
"ciumnya mana?" minta dika menunjuk bibirnya agar mendapat balasan kecupan dari istrinya.
vani pun melakukan permintaan suaminya yang manja itu dengan membalas kecupan dika pada bibirnya.
cup! namun kecupan yang seharusnya singkat menjadi panjang saat dika menahan tengkuk vani lalu melahap bibir mungil itu dan memperdalam ciumannya.
__ADS_1
vani pun membalasnya dengan senang hati karena dirinya juga menginginkan hal yang sama.
saat sedang asik menikmati ciuman hangatnya tiba tiba saja ponsel dika berdering tanda panggilan masuk. vani langsung menarik diri dari ciuman suaminya dan meminta dika untuk segera bersiap siap.
drt! drt!
"mas kamu cepetan siap siap ya"
vani pun beranjak dari atas ranjang.
"ck! siapa sih ganggu aja"
dika menjawab telpon yang ternyata dari sekretarisnya ray.
"sudah ku duga" decak dika menatap ponselnya.
saat telpon tersambung ray pun langsung menyapa.
Ray: halo bos.
Dika: hem. jawab dika malas.
Ray: jam berapa bos akan berangkat bos yakin saya tidak harus ikut?
Dika: kalo lo ikut siapa yang bakal disini. kalo bisa sih lo aja yang pergi gue males capek.
Ray: baik, apa saya bicarakan saja hal ini dengan pak hardi agar saya saja yang pergi?
Dika : enggak usah gue udah mau berangkat nih.
Ray: baik bos
Dika: oh ya ray kalo gue enggak bisa pulang malam ini tolong lo pastiin vani baik baik aja di sini ya sampe gue balik.
Ray: siap bos pasti saya akan menjaga nyonya.
Dika : formal banget sih lo.
tut! tut! tut! dika mematikan telponnya secara sepihak.
"ganggu aja nih orang, yang di tanya juga enggak penting" ucap dika setelah mematikan telponnya itu.
tepat pukul 07.00 pagi dika pun hendak pergi setelah puas memeluk erat tubuh vani dan mengecup seluruh bagian wajah istrinya sampai tidak ada yang terlewatkan lagi.
"emuach! emuach emuachhh"
"ih mas, udah dong kaya mau pergi kemana aja deh. nanti malam juga kamu udah pulang kita bisa ketemu lagi kan"
vani menahan tubuh suaminya agar tidak terus menciumnya.
"iya, biar enggak terlalu cepat kangennya sayang" dika tersenyum kembali memeluk istrinya.
"kamu ingat sama janji kamu tadi malam kan mas?" vani mengingatkan
"janji sayang" dika menggenggam wajah istrinya.
"apa janjinya?"
vani kembali mengulurkan jari kelingkingnya.
"aku janji waktu kamu bangun buka mata dari tidur kamu besok pagi aku pasti udah ada di samping kamu sayang"
dika menyatukan jari kelingking serta kening mereka sambil tersenyum.
vani pun tersenyum lalu mengecup kedua pipi dika dan juga punggung tangan suaminya itu.
"kamu harus pulang sayang"
vani kembali memeluk tubuh suaminya.
"kalo gitu aku pergi sekarang ya sayang"
dika harus melepaskan pelukan istrinya itu.
"iya sayang hati hati ya"
" i love you"
"love you too"
"dah!! istriku sayang" dika melambaikan tangannya.
"dah suamiku"
__ADS_1
vani membalasnya dengan melambaikan tangannya juga.