
di dalam kamar itu terlihat dika sedang asik mencumbui leher mulus rissa dengan hasrat yang menggebu.
dika tidak dapat menahan diri lagi saat melihat indahnya lekuk tubuh rissa tepat di hadapannya. reaksi obat itu benar benar sudah membuat kesadaran dika hilang sepenuhnya.
"sabar sayang" rissa tersenyum saat berada di dalam pelukan dika.
merasa tidak sabar lagi dika langsung menjatuhkan tubuh mereka di atas ranjang dan mengungkung tubuh rissa di bawah tubuhnya. mereka saling menikmati ciuman hangat di malam yang dingin. dengan senang hati rissa memeluk tubuh dika dan membalas hasrat yang sama dengannya.
Flashback
ternyata di dalam cafe itu teman rissa sedang melakukan pesta minuman keras.
cafe itu sudah berubah menjadi sebuah club malam dengan musik yang memekakkan telinga di dalamnya.
rissa sengaja mencekoki dika dengan lebih banyak minum minuman beralkohol hingga membuatnya mabuk berat. bahkan rissa pun meminta seorang temannya untuk memberi obat perangsang di dalam minuman dika agar rencananya untuk memiliki pria tampan itu seutuhnya berjalan dengan mulus.
dika sudah tidak dapat mengendalikan hasratnya sejak masih berada di dalam cafe itu. tubuhnya terasa panas karena minuman, semakin panas di tambah dengan reaksi obat perangsang. ia tidak dapat mengendalikan dirinya lagi meski di hadapan banyak orang. padahal dengan sekuat tenaga sudah mencoba untuk menahan diri.
Flashback on
karena merasa kesal vani pun mengetuk pintu kamar itu dengan sangat keras, ia tidak akan berhenti mengetuk pintu hingga rissa keluar dari dalam kamarnya.
tokk...!! tokk..!!! tokk...!!!!
vani terus mengetuk pintu namun di dalam kamar itu rissa sedang terbuai akan sentuhan lembut yang dika berikan sehingga ia hanya mengabaikan saja suara ketukan pintu.
rissa seolah tidak mendengarnya karena saat ini dirinya sedang menikmati sentuhan di bagian dada membuat tubuhnya terasa melayang.
dika yang sudah berhasil membuka pakaian bagian atas rissa langsung menikmati keindahan di dalamnya tanpa perduli dengan hal lain lagi.
tubuh dika sudah di kuasai oleh hasrat yang tidak tertahankan. sehingga ia tidak bisa memikirkan hal lain lagi selain hanya untuk menuntaskan hasratnya itu.
di luar kamar vani tidak mau berhenti mengetuk pintu kamar itu sambil terus mengumpat rissa di dalam hatinya.
"dasar rissa enggak ada akhlak!" umpatnya di dalam hati sambil terus mengetuk pintu.
tokk...!! tokk...!! tokk..!!!
karena terus menerus mendengar suara ketukan pintu yang tiada henti rissa pun akhirnya kesal dan merasa sangat terganggu dengan suara ketukan pintu kamar itu.
"ck! siapa sih berisik!" kesal rissa.
rissa berpikir jika ada pelayan hotel tidak di undang yang datang untuk menawarkan sesuatu dengan cara tidak sopan maka ia pun berniat untuk menegurnya agar tidak menggangu malam indahnya lagi bersama pria yang dicintainya.
"sebentar ya sayang" emuach!
dengan sekuat tenaga rissa mendorong tubuh dika hingga menjauh darinya.
"aaakhh"
dika yang mendapat penolakan itu pun kembali merasa pusing di bagian kepala membuat dirinya hanya bisa memejamkan mata dan berbaring di atas ranjang.
rissa kembali merapikan pakaiannya sejenak lalu beranjak dari atas ranjang dan berjalan menuju pintu.
ceklek..!!! rissa membuka pintu kamarnya dan bersiap akan memarahi orang yang sudah mengganggu malam indahnya itu.
"siapa sih, ganggu aja...." rissa merasa kaget saat melihat ternyata vani yang berada di sana.
rissa keluar dari dalam kamar dan langsung menutup pintunya karena takut dika akan keluar mengikuti dirinya.
"vani! ngapain kamu disini?" tanya rissa pura pura polos.
plakk.....!!!!
__ADS_1
vani langsung menampar wajah rissa dengan keras. ia sangat kesal karena sudah mengetahui rencana busuk rissa terhadap suaminya
"akh" ringis rissa kesakitan karena mendapat tamparan secara tiba tiba.
"kamu yang ngapain disini, dimana suamiku rissa?" tanya vani dengan marah.
"maksud kamu apa?" rissa masih pura pura polos.
"jangan pura pura lagi ya rissa aku udah tau semuanya"
"apaan sih kamu, aku sendirian di sini"
"bohong! kamu benar benar wanita licik ya. kamu sengaja kan mau jebak suamiku disini?" vani menunjuk wajah rissa dengan sangat kesal.
"hhh! baguslah kalo kamu udah tau semuanya tapi sayang aku enggak pernah maksa dika buat nemenin aku. malah suami kamu sendiri yang mau aku melayani dia karena kamu enggak pernah melakukan kewajiban sebagai istrinya selama ini" rissa tersenyum miring.
"kamu kan tau kalo suamiku lagi amnesia dan kamu juga udah tau tentang masalah rumah tangga kami jadi kamu salah kalo bilang aku enggak melakuakan kewajiban sebagai istri mas dika"
"ya terserah! lagian kami juga udah sering ngelakuin hal ini jadi kamu siap siap aja ya karena sebentar lagi kamu bakal benar benar pergi dari hidup dika untuk selamanya" rissa tersenyum jahat.
"bohong! kalo kalian emang udah sering ngelakuinnya enggak mungkin kamu jebak suamiku hari ini. aku enggak bakal biarin kamu ngambil suamiku rissa"
"ya udah lah terserah!! kalo kamu enggak percaya bukan urusan aku juga tuh. kamu jangan salahin aku ya kalo dika lebih milih aku dari pada kamu karena kamu terlalu bodoh buat jadi istri seorang radika"
"kenapa kamu tega banget ngerusak rumah tangga aku sih rissa padahal masih banyak cowok single di luar sana yang bisa kamu rayu"
"hhh!!! aku enggak tertarik tuh sama cowok single. karena suami kamu itu jauh lebih menggoda! udahlah aku enggak punya banyak waktu buat bicara sama kamu sekarang karena dika udah gak sabar nunggu aku di dalam"
rissa berbalik badan membuka pintu dan hendak kembali masuk ke dalam kamarnya namun dengan cepat vani menarik tangan rissa hingga ia terjatuh ke lantai.
"tunggu!"
bruk!!
"ih! vani!!"
vani mengambil kartu kunci dari tangan rissa dan langsung berlari masuk ke dalam kamarnya dengan otomatis pintu pun langsung terkunci.
"huh!! huh!!" vani menghembuskan nafasnya lega.
tok!! tok!!! tok!!! rissa mengetuk pintu dengan keras karena merasa kesal.
"vani!!! kurang ajar kamu ya, cepat buka pintunya!!!" teriak rissa dari luar sambil menggedor-gedor pintu namun vani hanya mengabaikannya.
dengan sangat kesal akhirnya rissa pun pergi dari sana karena percuma saja ia berteriak seperti orang gila vani tidak akan membuka pintu pikirnya.
"rese banget lo vani! liat aja pembalasan gue" umpat rissa sambil berjalan pergi.
sepertinya rissa harus segera mencari solusi untuk menuntaskan hasratnya yang sudah terlanjur bergairah karena sentuhan dari dika sebelumnya.
di dalam kamar itu vani melihat dika yang sedang berteriak kesakitan di atas ranjang.
"mas dika" gumam vani.
dika merasa kesakitan menahan sesuatu hingga membuat vani tidak tega melihatnya.
vani berjalan perlahan mendekati sisi ranjang bermaksud akan menyadarkan dika agar memudahkan dirinya untuk membawa suaminya itu pulang bersamanya.
"akh sakit! panas! sshh...!!! " suara dika lemah dengan mata yang masih terpejam.
"mas dika, kamu baik baik aja kan?" vani duduk di tepi ranjang.
tangan vani bergerak hendak menyentuh lengan suaminya namun tiba tiba saja dika langsung menarik tubuh vani hingga terjatuh di dalam pelukannya.
__ADS_1
dengan gerakan cepat dika langsung mengungkung tubuh vani di bawah tubuhnya.
hasrat dika semakin menggebu saat menatap lekuk tubuh indah seorang wanita di depan matanya.
"jangan pergi lagi" bisik dika.
terlihat sangat menakutkan seperti seekor harimau yang hendak menerkam mangsanya karena vani sudah membuatnya merasa kesal dan harus menunggu lama sejak tadi padahal wanita sebelumnya itu adalah rissa.
"akh!! kamu mau ngapain mas?"
vani panik dan berusaha mendorong tubuh dika namun percuma saja karena dika sudah mengunci kuat tubuh vani di bawahnya agar tidak memberontak lagi.
"sssttt! diam sayang"
"jangan mas, lepasin aku"
dika langsung melahap bibir mungil istrinya itu dengan buas lalu beralih turun ke leher hingga bagian dada vani juga di lahapnya habis.
"sshh!! lepasin mas" tubuh vani bereaksi karena sentuhan itu namun ia masih berusaha untuk menghindar.
setelah berhasil melepaskan pakaian yang masih mereka pakai, dika pun semakin ganas melakukan aksinya.
vani merasa kesakitan karena dika bermain dengan kasar bahkan dika juga menggigit beberapa bagian tubuhnya hingga membekas dan membiru di sana namun sepertinya dika sangat menikmati setiap teriakan yang keluar dari mulut vani.
saat ini vani merasa takut karena seperti tidak mengenali suaminya. biasanya dika selalu bersikap lembut kepada dirinya namun kali ini suaminya itu malah melakukannya dengan kasar membuat vani kesakitan.
vani masih berusaha untuk memberontak namun tetap tidak bisa melepaskan diri karena dika lebih kuat darinya. dalam sekejap dika benar benar mampu membuat tubuh vani melemah tidak berdaya dengan sentuhannya.
"aakhh!!! sakit mas hiks..!! hiks...!!"
tangis vani saat dika mencoba untuk memaksa masuk namun gagal karena vani terus menahannya.
semakin lama hasratnya semakin menuntut dika berusaha untuk segera menyalurkan keinginannya itu namun vani terus saja memberontak dan berusaha menolaknya.
"please..!!!"
dika memohon dengan suara berat dan tatapan yang sangat sendu. ia sudah benar benar tidak sanggup lagi untuk menahan rasa panas di dalam tubuhnya.
vani tidak tega melihat tatapan memohon yang terpancar dari mata sendu suaminya itu.
'ya allah bukannya hal ini enggak salah kalo kami lakuin?' batin vani memejamkan matanya.
meskipun saat ini dika tidak mengingat dirinya namun bukankah mereka masih sah sebagai suami istri yang boleh melakukan hal itu pikirnya.
akhirnya vani pun diam dan pasrah menerima semua yang akan dika lakukan kepadanya.
merasakan tubuh vani sudah berhenti memberontak dika pun dengan tidak sabar langsung mengarahkan miliknya pada jalan yang akan ia masuki itu.
hanya dengan satu kali hentakan dika memasuki tubuh istrinya membuat vani meringis merasakannya.
"akhh!!"
vani menggigit bibir bagian bawahnya agar tidak kembali berteriak karena hentakan kasar dari suaminya yang terus menerus menghujam tubuhnya.
dengan berlinang air mata vani berusaha menahan rasa perih dan sakit dari perbuatan suaminya itu namun dika tidak menghiraukannya karena sedang asik menikmati permainannya.
"sshh!! aahh!!" lenguhan terus keluar dari mulut dika. sepertinya ia sangat menikmati pergerakan yang sedang dilakukannya itu.
sudah cukup lama dika menahan diri dan tidak melakukan hal seperti itu membuat dirinya kalap dan tidak ingin mengakhiri permainan dengan cepat.
hasratnya memuncak akibat obat perangsang yang rissa berikan menambah keindahan malam itu karena ia dapat melampiaskannya bersama vani.
tidak, sebenarnya dika tidak menyadari siapa wanita yang sedang bersamanya saat ini karena sedang mabuk di tambah reaksi dari obat itu membuatnya semakin mabuk kepayang.
__ADS_1
hanya saja merasa jika saat ini dirinya sedang bersama orang yang tepat untuknya. harum tubuh vani tidak dapat ia tolak lagi hingga tanpa ragu melakukannya.