
di kediaman mewah milik keluarga wijaya tepatnya di dalam ruang kerja rangga. dika sedang duduk saling berhadapan dengan abangnya itu.
rangga sengaja meminta adiknya untuk bertemu karena mereka akan membahas sesuatu tentang pekerjaan.
"ada apa sih?" tanya dika menatap rangga.
"dika, besok gue ada kerjaan di luar kota jadi gue bakal bawa ray buat ikut bareng gue"
rangga memulai maksud pembicaraan mereka.
"loh, kenapa harus ray sih. dia kan sekretaris gue lagian elo kan udah punya sekretaris baru"
dika bingung dengan maksud rangga yang akan mengajak ray pergi besok.
"iya tapi kan nanti di sana gue bakal butuh sekretaris buat nemenin gue kemana mana, terus pasti kerjaan di lapangan itu lebih berat dan capek jadi gue enggak mungkin bawa vani kesana" rangga memberi alasan.
"emangnya kenapa sih, namanya kerja enggak ada yang enak ya pasti capek lah" dika menolak alasan dari rangga.
"selain karena kerjanya lebih capek, gue sama vani kan enggak mungkin pergi berdua karena kami bukan muhrim. jadi gue bakal bawa ray aja buat pergi besok seenggaknya kalo gue capek dia bisa gantiin gue di sana"
rangga menjelaskan maksud keinginan yang sebenarnya.
"terus maksud lo gue sama vani itu muhrim gitu makanya lo mau ninggalin dia bareng gue disini" dika tetap menolak.
"iya terserah lo lah dika, kalo mau jadiin dia muhrim buat lo juga enggak papa. enggak bakal ada juga yang ngelarang kan kalian masih sama sama single"
rangga menggoda dika namun ia tidak mau mencampuri urusan pribadi adiknya itu terlebih lagi tentang perasaan.
rangga juga tidak akan berkomentar apapun tentang wanita pilihan adiknya itu jika dika tidak meminta pendapat darinya.
"apaan sih lo bang" dika melengos.
"iya emang bener kan elo belum punya ikatan sama siapa pun, jadi lo masih bebas milih pasangan hidup yang bisa buat lo nyaman dika"
"iya tapi lo kan tau kalo gue udah punya karin"
dika merasa masih yakin dengan hubungannya.
"emangnya elo bahagia sama dia?"
dika hanya terdiam tak menjawabnya.
"apa lo bisa ngerasa nyaman bareng dia?"
pertanyaan rangga membuat dika merasa bingung dengan perasaannya.
dika mencoba untuk mengingat pernahkah ia merasa benar benar bahagia dan nyaman saat bersama karin atau tidak karena belakangan ini dika selalu di abaikan oleh karin yang hanya memikirkan kesenangan dirinya sendiri.
"entahlah gue enggak tau, yang jelas mama minta gue buat nikah secepatnya" jawab dika.
"sorry ya dik, gue enggak ada maksud buat ikut campur soal perasaan lo tapi gue cuma pengen adek gue dapet pasangan yang dia suka"
__ADS_1
rangga merasa bersalah karena sudah membahas tentang perasaan adik semata wayangnya itu.
"ck! taulah, gue capek mau istirahat"
dika bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar dari dalam ruangan rangga.
sebagai seorang abang yang menyayangi adiknya rangga hanya ingin dika menikah dengan wanita pilihannya sendiri bukan karena keinginan orang lain meskipun itu adalah permintaan dari ibu mereka, sebab merekalah yang akan menjalani kehidupan kedepannya.
rangga mengerti jika selama ini memang sulit bagi dika untuk membuka hati kepada seorang gadis namun bukan berarti dika hanya pasrah menerima wanita pilihan dari mamanya.
rangga juga ingin dika menikah dengan wanita yang benar benar ia cintai sama seperti dirinya yang kini sudah menikah dan hidup bahagia bersama gadis pujaan hatinya dan tentunya mereka saling mencintai satu sama lain.
entah mengapa sulit bagi dika untuk membuka hatinya kepada seorang gadis, mungkin karena selama ini ia merasa kebanyakan wanita yang datang hanya memandang fisik dan kekayaan saja bukan karena tulus mencintainya sebagai seorang pria biasa.
dika pernah berusaha membuka hatinya untuk karin yang selama ini sudah memberikan cinta tulus kepadanya namun ternyata sampai detik ini perasaan itu masih sama saja.
apalagi sekarang karin pergi meninggalkannya tanpa kabar membuat dika berpikir jika karin hanya ingin mempermainkan perasaannya saja.
rangga tau meskipun selama ini di hadapan kedua orang tuanya dika terlihat bahagia dan saling mencintai dengan karin namun nyatanya dika tidak bisa membohongi abang yang selalu bersamanya sejak kecil serta mengerti tentang perasaan adiknya itu.
*
hari ini ketiga pria tampan itu kembali bekerja seperti biasa, terlihat mobil rangga dan dika sudah sampai di depan gedung kantor wijaya bersama dengan ray yang menyetir mobilnya.
disaat yang bersamaan ketiga pria itu turun dari dalam mobil, ternyata vani juga baru saja sampai dengan menaiki sebuah taksi online.
ray tersenyum melihat vani yang juga hendak masuk ke dalam gedung kantor bersamaan dengan mereka lalu ia menyapa gadis di hadapannya itu.
"hai vani, kamu juga baru sampai ya?" sapa ray.
vani tersenyum sambil mengangguk. tidak lupa ia juga tersenyum kepada dua bosnya yang berada di samping ray itu.
rangga langsung membalas senyuman saat vani menatap ke arahnya namun dika hanya menunjukkan ekspresi datar seperti sedang tidak melihat siapapun di dekatnya.
vani merasa aneh melihat sikap bosnya yang satu itu, terkadang dika terlihat begitu baik dan ramah namun di waktu yang berbeda bisa pula terlihat seperti orang asing dengan sikap yang dingin meski begitu vani hanya cuek saja, lagi pula tidak ada untung atau rugi untuk dirinya bagaimana pun mood bosnya itu pikirnya.
ketiga pria tampan itu melangkah bersamaan memasuki gedung kantor, di ikuti oleh langkah kecil vani yang juga hendak masuk bersama ketiga atasannya dari arah belakang.
saat berjalan di lobby kantor, ketiga putra wijaya itu mendapat banyak tatapan kagum dari para karyawan wanita disana.
banyak karyawan wanita yang tersipu ketika melihat bos tampannya lewat, padahal sangat jarang sekali mereka akan mendapat balasan senyum dari ketiga pria itu terlebih lagi saat mood ketiganya sedang tidak baik.
"wah! pak dika keliatannya makin gagah dan ganteng aja ya, mana masih singel lagi. uh..."
salah satu karyawan wanita sangat terpesona dengan ketampanan bosnya itu.
"iya, pak dika emang ganteng banget tapi pak rangga makin nambah umur malah makin mempesona" karyawan saling menimpali.
"pak ray juga dong, enggak kalah ganteng dan gagah loh" sambung yang lainnya juga.
"iya bener, mereka bertiga selalu keliatan ganteng dimana pun dan kapan pun juga ya"
__ADS_1
"sstt!!! kalian ini gosip mulu deh"
jay yang kebetulan lewat mendengar ucapan para karyawan wanita disana.
"eh, pak jay juga makin ganteng banget deh hehe" nyengir ketiganya melihat jay datang.
saat yang lain sedang mengagumi ketampanan dari ketiga putra wijaya itu, ada pula beberapa komentar negatif tentang vani si karyawan baru yang sangat beruntung karena bisa menjadi sekretaris ceo dan punya kesempatan selalu berdekatan dengan bos tampan mereka.
"eh, liat deh si vani karyawan baru itu. dia sok kecantikan banget sih! apalagi suka deket deket gitu sama pak dika sama pak ray"
salah satu karyawan wanita merasa iri melihat vani si karyawan baru yang sangat beruntung.
"iya tuh, padahal kan pak dika udah punya mbak karin yang cantik dan juga baik" timpal yang lain juga menanggapi.
"iya, kecentilan banget ya dia"
"heh! kalian ngomong apa sih, kan vani emang cantik dan baik juga"
ada juga yang membela vani karena ia terlihat baik dan sopan.
"duh! beruntung banget ya dia bisa jadi sekretaris pak rangga"
"iya, bisa deket deket terus sama bos ganteng"
"liat aja, setelah mbak karin balik nanti dia juga pasti bakal langsung di tendang dari posisinya sekarang. haha"
masih banyak tanggapan lainnya tentang vani si karyawan baru namun sudah memiliki posisi terbaik di kantor mereka.
ada yang suka dan ada pula yang tidak suka melihatnya.
memang begitulah kehidupan namun vani tidak terlalu menanggapi komentar buruk tentang dirinya meskipun ia tau banyak para karyawan senior yang tidak menyukai dirinya saat ini.
vani hanya berusaha memberikan kemampuan terbaiknya dalam pekerjaan saja.
saat hendak masuk ke dalam lift khusus vani segera menepi agar ketiga pria itu masuk lebih dulu lalu dirinya akan menyusul menggunakan lift karyawan pikirnya.
namun ray langsung menggenggam tangan vani agar ikut masuk ke dalam lift bersamaan dengan mereka.
vani merasa sangat canggung ketika ray menggenggam tangannya sambil berjalan hingga mereka masuk ke dalam lift bersama.
dika yang melihat ray menggenggam tangan vani pun terus menatap kedua tangan yang saling bergenggaman itu.
menyadari tatapan bosnya sedang menatap ke arah tangan mereka, vani langsung menarik tangannya agar terlepas dari genggaman ray.
ia merasa sangat gugup saat ini namun apa boleh buat, memang seharusnya vani sampai lebih awal di kantor agar dirinya tidak perlu berada dalam keadaan yang secanggung ini.
hari ini vani memang sedikit lebih terlambat dari biasanya, meskipun sebenarnya ia tidak datang terlambat ke kantor namun biasanya gadis itu selalu sampai lebih dulu sebelum kedua bosnya sampai di kantor.
berada dalam satu lift yang sama dengan ketiga bosnya membuat vani merasa sulit bernafas hingga ia hanya mampu terdiam seperti patung disana, apalagi menyadari jika dirinya hanya sendirian seorang wanita yang berada diantara tiga pria di dalam lift itu.
vani memberanikan diri untuk menatap satu persatu wajah ketiga pria yang datar itu karena sejak tadi mereka hanya diam saja. ia berpikir apakah mereka tidak pernah saling mengobrol satu sama lain jika tidak ada pekerjaan yang harus di bahas.
__ADS_1
'sebenarnya gue kerja di perusahaan robot atau gimana sih' batin vani bingung menatapnya.
saat vani masih fokus mengamati wajah tiga bosnya yang terlihat datar itu, tiba tiba saja dika menoleh ke arahnya membuat pandangan mereka bertemu lalu buru buru vani langsung mengalihkan pandangan dari bos tampannya itu karena merasa kaget dan takut menatapnya.