Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Bab 85


__ADS_3

keesokan harinya di dalam kamar pasangan suami istri itu.


terlihat dika saling berhadapan dengan istrinya karena vani sedang membantu suaminya itu untuk memakaikan dasi di kerah bajunya.


dika menatap wajah vani sambil tersenyum dengan kedua tangan yang sedang memeluk pinggang istrinya itu.


"sayang nanti kamu ke kantor ya, anterin aku makan siang" minta dika penuh harap.


"tumben mas"


"iya sayang soalnya aku lagi pengen makan siang bareng kamu nanti"


"iya sayang nanti aku anterin ya"


"makasih yang sayang ku. baik banget deh jadi makin cinta" gemas dika menoel hidung istrinya.


"em, oh ya emangnya nanti kamu mau di masakin apa mas. biar aku engga bingung buat milih menunya"


"apa aja deh sayang, semua masakan kamu kan aku suka. tapi kalo misalnya kamu capek nanti minta asisten aja yang masakin ya"


dika tidak pernah ingin istrinya kelelahan atau merasa terpaksa melakukan sesuatu yang sedang tidak ingin vani lakukan.


"enggak papa kok mas, aku enggak capek nanti aku yang masakin makanannya ya"


"makasih yang sayang"


"iya sama sama. nah udah selesai nih mas dasinya udah rapi kita sarapan sekarang ya. entar kamu telat lagi"


dika tersenyum menatap pakaiannya yang sudah rapi dari atas hingga ke bawah karena vani selalu membantunya untuk merapikan pakaian dan sepatu kerja setiap hari.


"iya makasih sayang, ya udah ayo kita turun sekarang"


dika memeluk pinggang istrinya sambil berjalan keluar dari dalam kamar.


di meja makan arin sudah mulai sarapan lebih dulu karena melihat dika dan vani belum keluar dari dalam kamar.


arin masih memikirkan tentang pasangan yang terlihat tidak baik baik saja kemarin malam itu.


sepertiya arin masih merasa bersalah karena kejadian kemarin sore di dalam kamar vani.


"apa mungkin mereka masih bertengkar?"


"masa sih?"


"tapi,,,"


saat arin masih berpikir sambil memakan sarapannya ia pun melihat dika dan vani datang dengan bergandengan mesra dan senyuman manis menghiasi bibir keduanya.


dika dan vani berjalan mendekati meja makan dan melihat arin yang sedang memakan sarapannya di sana.


"pagi arin" dika menyapa lebih dulu sambil tersenyum.


sedangkan vani hanya diam saja tidak seperti biasanya akan langsung menyapa arin saat mereka bertemu.


"pagi juga mas"


arin tersenyum canggung lalu menatap vani yang langsung duduk di kursinya tanpa menoleh.


dika dan vani pun duduk di kursi saling berdampingan.


"sayang, ayo minum susunya dulu"


dika menyodorkan segelas susu hangat kepada istrinya.


"makasih ya mas"


vani pun tersenyum lalu meminumnya sampai habis.


melihat kemesraan pasangan suami istri di hadapannya itu arin pun dengan cepat menyelesaikan sarapannya.


setelah selesai sarapan arin hendak meminta maaf kepada dika atas apa yang sudah terjadi sebelumnya.


"Alhamdulilah. udah selesai"


dika dan vani pun menyelesaikan sarapan dengan cepat.


"mas dika" panggil arin.


"ya arin ada apa?"


"em, aku mau minta maaf ya karena kemarin udah lancang....."


"oh, iya enggak papa kok arin. aku juga minta maaf ya karena aku ngomongnya terlalu kasar ke kamu"


dika tersenyum menatap arin.


"em, iya enggak papa kok mas"


arin pun tersenyum karena dika sudah tidak marah kepadanya lagi.


anehnya arin hanya meminta maaf kepada dika saja dan mengabaikan vani yang berada di sana.


vani hanya diam menatap datar kedua orang yang saling berbalas senyum di hadapannya itu.


'ngapain sih mas dika senyum senyum terus ke dia' batin vani malas.


"oh iya kalo gitu aku berangkat kerja duluan ya mas" pamit arin hendak pergi.


"em, oh ya udah gimana kalo kita berangkat bareng aja ya" tawar dika.

__ADS_1


'ih! genit banget sih mas dika. pake nawarin pergi bareng lagi' batin vani semakin menggerutu.


"em, apa enggak ngerepotin mas?"


arin tersenyum sambil melirik ke arah vani yang hanya diam saja sejak tadi.


"ya enggak dong, lagian kita kan searah perginya"


"em, iya udah deh kalo gitu" arin pun mengangguk setuju.


'ck! nih lagi cewek satu ganjen banget deh pake mau di ajakin lagi sama suami aku. kenapa enggak nolak aja coba' gerutu vani di dalam hatinya.


"sayang, aku pergi dulu ya. emuach!"


dika mengecup kening vani untuk pamit.


"hem" respon vani singkat.


"oh iya jangan lupa nanti siang ya sayang"


dika mengingatkan makan siangnya .


"hem" jawab vani lebih malas.


"papa pergi dulu ya sayang, jangan nakal ya anak papa"


dika mengelus perut buncit istrinya


"dah!! sayang"


"yaa"...


dika pun pergi dengan mengendarai mobil yang sama dengan arin karena mereka akan pergi bersama membuat mood vani kembali berantakan pagi ini.


menjelang siang hari setelah vani selesai memasak makanan kesukaan suaminya dan makanan lain sebagai pelengkap.


vani pun pergi menuju kantor suaminya dengan di antar oleh supir pribadi untuk membawakan makanan siang sesuai permintaan dika pagi tadi.


vani membawa cukup banyak makanan karena akan membaginya juga dengan rangga dan ray di kantor.


sesampainya di depan gedung kantor wijaya itu, vani pun keluar dari dalam mobil dan langsung melangkah masuk ke dalam sambil membawa rantang makanan di tangannya.


vani berjalan memasuki lobby kantor hendak menuju lift khusus karena akan naik ke lantai tertinggi gedung yaitu ruangan suaminya.


kedatangan nyonya muda wijaya itu pun tak luput dari pandangan para karyawan kantor disana.


sudah cukup lama vani tidak berkunjung ke kantor suaminya itu karena belakangan ini vani selalu sibuk di butik.


vani berjalan sambil tersenyum manis untuk membalas sapaan dari para karyawan yang kebetulan berpapasan lewat di sampingnya.


"bu vani"


"iya"


"siang juga"


ada beberapa karyawan baru yang belum mengenal vani merasa penasaran dengan wanita hamil yang sedang berjalan di lobby itu.


"mbak siapa dia, keliatan cantik dan anggun banget ya?"


nia yang merupakan seorang karyawan baru bertanya kepada karyawan senior di sampingnya.


"itu bu vani, istri pak dika pemilik perusahaan ini. dulu dia juga pernah kerja di sini loh orangnya emang cantik dan baik banget sekarang dia udah jadi bu bos deh" jawab maya karyawan senior.


"wah! beruntung banget ya bu vani bisa nikah sama pak dika pemilik perusahaan sebesar ini" kagum nia.


"iya padahal dulu mereka sempat putus dan saling berpisah jauh loh tapi akhirnya mereka ketemu dan bersatu lagi sampe nikah" timpal karyawan lain mendengarnya.


"itu namanya jodoh"


rachel yang baru datang pun ikut menimpali.


"iya bener, sejauh dan selama apapun mereka terpisah akan tetap bersatu juga ya"


"iya bener"


"eh, liat deh bu vani makin cantik aja ya. pantesan pak dika betah banget di rumah terus orang punya istri udah kaya bidadari begitu"


reno yang sedang terpesona menatap istri dari bosnya itu sambil tersenyum.


"hei! hati hati bicara mu kalo sampe pak dika denger, bisa bisa di gantung kamu sama pak dika emang enggak takut" haha herman menertawakan temannya.


"aduh, gue jangan kan di gantung di pecat aja sama pak dika takut"


"tapi iya sih, apalagi perut buncit kaya gitu jadi makin nambah seksi dan gemesin ya bu vani"


doni juga ikut mematung menatap vani yang sedang berjalan di hadapan mereka.


"kalo kamu di cekik sama pak dika itu baru gemesin" haha


"jangan sampe dong aduh serem banget" doni bergidik.


"makanya jangan macam macam kalian sama bu bos"


"kan cuma menganggumi doang enggak salah bro"


"kalian ini ada ada aja deh"


para karyawan wanita menggelengkan kepalanya melihat kelakuan para rekan pria mereka itu

__ADS_1


vani pun akhirnya masuk ke dalam lift khusus itu dan pintu lift pun langsung tertutup.


"ada apa ini?"


jay datang menghampiri para rekan yang sedang berkumpul di lobby itu.


"eh pak jay, lagi ada tugas kelompok bareng nih pak" hehe doni dan reno hanya bisa nyengir kuda.


"oh begitu ya"


jay yang tidak mungkin percaya dengan ucapan temannya.


"oh ya pak jay tau enggak tadi ada bu vani datang loh. cantik pol deh pak" reno mengacungkan dua jempolnya.


"ya saya tau"


"makin cakep maksimal pak" doni ikut menggoda jay.


"itu sudah pasti, ya wajarlah" jawab jay berlalu pergi.


"iya bener pak"


"eh, kayanya ada yang belum move on nih"


herman dan teman temannya terus saja menggoda jay namun ia tetap berjalan dan mengabaikan ucapan teman temannya.


"iya, kasian ya pak jay kalah saing sama pak dika"


"iya masih kalah jauh"


"heh! jangan gitu dong. itu kan abang gue" rachel pun membela.


"eh iya rachel maaf ya. hehe"


"dasar cowok!"


rachel pun pergi dan semua karyawan yang berkumpul kembali bubar.


sesampainya di depan ruangan dika vani langsung masuk tanpa mengetuk pintu ke dalam ruangan suaminya itu.


ceklekk!


"assalamualaikum mas"


vani melangkah masuk dan menatap sekelilingnya, namun dika sedang tidak berada di dalam ruangannya.


"mungkin belum selesai kali ya"


vani mengira dika pasti masih berada di dalam ruang meeting karena ia datang lebih awal sebelum jam istirahat tiba pikirnya.


vani meletakkan rantang yang ia bawa di atas meja, lalu duduk di atas sofa dalam ruangan itu.


vani pun mengambil ponsel karena hendak mengirim pesan kepada suaminya.


"mas aku udah sampe ya, jangan lupa ajak mas rangga sama mas ray juga buat makan bareng kita" send.


setelah pesan terkirim kepada suaminya, vani pun berjalan untuk melihat lihat di sekeliling dalam ruangan itu.


terlihat beberapa desain dalam ruangan berubah dan juga barang barang baru di dalam ruangan suaminya itu.


sepertinya sejak pulih pasca kecelakaan beberapa bulan yang lalu dika memang sengaja ingin mengubah suasana di dalam ruangannya menjadi lebih cerah dan ceria.


pasalnya selama ini dika hanya menyukai warna dan barang barang manly saja namun belakangan ini ia sedikit mengubahnya menjadi terlihat lebih cerah dan fresh.


di dalam ruangan yang berbeda akhirnya meeting yang dipimpin langsung oleh rangga itu pun selesai.


dika yang merasa ponsel di dalam sakunya bergetar saat masih meeting tadi pun langsung mengeceknya.


dengan tersenyum dika membaca pesan dari istrinya yang mengatakan dirinya sudah sampai di kantor.


"hah! akhirnya selesai juga gue enggak nyangka semua berjalan mulus kaya tadi setelah kesalahpahaman yang pernah terjadi sebelumnya" rangga tersenyum lega.


"hem, iya bos kayanya dewi keberuntungan lagi berpihak sama kita hari ini" ray menanggapinya.


"bener, dewi keberuntungan emang udah sampai di kantor ini" dika tersenyum membayangkan wajah cantik istrinya.


"maksud lo?"


rangga dan ray menoleh bersamaan menatap kearah dika.


"em, gue mau ngajak lo berdua makan siang bareng di ruangan gue kalo lo berdua mau" tawar dika.


"emangnya lo udah pesen makanan ya?" tanya rangga.


"enggak, tapi vani datang bawa makan siang buat kita"


"oh kenapa lo enggak bilang dari tadi sih. ayolah kita gas sekarang gue juga udah laper banget nih plus udah kangen banget makan masakan adek ipar kesayangan"


rangga pun langsung beranjak dari duduknya.


"serius nih bos kita boleh ikut makan siang bareng?"


dengan tersenyum ray memastikan.


"iya serius. lo mau enggak"


"ya mau banget lah bos. lagian ya gue juga lagi bosen nih makan makanan di resto terus tiap hari"


"hhh! makanya cepetan nikah lo biar ada yang masakin makanan tiap hari" ejek dika juga ikut melangkah.

__ADS_1


"iya iya bos. nanti aja deh kayanya jodoh gue masih otw" ray pun ikut melangkah menuju ruangan dika.


ketiga pria tampan itu pun berjalan menuju ruangan dika secara bersamaan.


__ADS_2