
vani merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan melupakan niat awalnya mengajak dika untuk sarapan bersama.
"gitu dong sayang langsung pasrah" dika tersenyum smirk.
"oh iya mas, apa ingatan kamu bener bener udah balik lagi sekarang terus kapan kamu mulai ingat lagi?"
"aku enggak tau sih sayang tapi yang jelas aku langsung datang kesini waktu aku sadar kamu enggak ada disana"
"berarti sekarang ingatan kamu udah balik semuanya lagi dong mas?"
"hem, kayanya belum semua deh sayang tapi seenggaknya sekarang aku udah ingat lagi sama anak dan istri aku"
"alhamdulillah, aku seneng banget kamu udah ingat sama kami lagi sekarang. makasih ya mas"
vani memeluk dika dengan tersenyum namun air matanya tetap menetes.
"maafin aku ya sayang karena belum bisa ingat semuanya lagi kaya dulu"
"enggak papa mas, semua kenangan bisa kita ulang lagi kalo kita barengan terus" hiks!
dika merasakan tubuh vani bergetar karena menahan tangis di dalam pelukannya lalu ia melepaskan pelukan mereka dan menghapus air mata di wajah istrinya itu.
dika menggenggam wajah vani dengan kedua tangannya.
"sayang, kamu jangan nangis lagi ya harusnya aku yang minta maaf dan bilang makasih sama kamu"
vani masih sesenggukan menahan tangisannya mengingat kesendiriannya selama ini namun ia bahagia karena sekarang dika sudah kembali bersamanya.
hikss!! hikss!!! hikss!!!
"maafin aku ya karena selama ini udah ngelupain kamu sama anak kita, maaf juga karena aku udah buat kamu nangis terus aku mau bilang makasih sayang karena kamu masih bertahan dan mau nerima aku lagi"
"kamu enggak salah kok mas, aku yang udah bersikap berlebihan selama ini ke kamu"
"enggak sayang, aku seneng kok kalo kamu cemburu itu berarti kamu cinta sama aku. plis tetap cintain aku ya"
"em" vani mengangguk dalam pelukan suaminya.
cup! dika mengecup kening vani dan hendak beralih ke bibir mungil istrinya.
keduanya memejamkan mata hendak menyatukan bibir namun tiba tiba saja.
"mama!!! papa !!!! ayo dong kita sarapan bareng affa udah laper banget nih"
raffa berteriak memanggil mama papanya lalu masuk ke dalam kamar hendak melihat kedua orang tuanya yang sejak tadi tidak muncul di meja makan.
vani menarik diri saat mendengar suara putranya yang akan masuk ke dalam kamar. ia menahan tawa melihat wajah dika mematung sambil memejamkan mata disana.
dika membuka matanya dan melihat vani tersenyum geli lalu beralih menatap putranya yang sudah berdiri tepat di ambang pintu sambil melipat tangan di dada.
"papa mama"
"hehe! iya sayang ini papa sama mama baru aja mau keluar iya kan ma?" kilah dika.
"iya sayang" vani juga tersenyum pada putranya.
"hemm"
raffa kembali keluar dari dalam kamar meninggalkan vani dan dika yang masih berada di sana.
"ayo mas" ajak vani menggandeng tangan suaminya namun dika masih tidak mau bergerak.
"mas, ayo dong" ulang vani menariknya namun dika tetap menggelengkan kepalanya.
"huh! oke deh" emuach! vani mengecup bibir suaminya yang manja itu.
"nah gitu dong" dika tersenyum senang barulah mereka melangkah keluar secara bersamaan.
di sela sela makan kak aida menatap vani dan dika secara bergantian. ia bingung dengan perubahan sikap adik dan adik iparnya itu yang terlihat sangat mesra pagi ini.
setelah selesai sarapan mereka kembali melakukan aktivitas masing-masing.
kak aida melihat vani yang sedang duduk di ruang keluarga sambil memakan ice cream, ia pun langsung mendekati adiknya yang asik menonton televisi itu.
"vani!" panggil kak aida, vani pun menoleh dan menatap kakaknya yang menghampiri.
"iya kak?"
__ADS_1
"kamu sama dika udah baikan ya?" kak aida duduk di samping adiknya.
"hem, emangnya kapan kami berantem kak?"
"em, maksud kakak apa dika beneran udah ingat sama kalian lagi soalnya tadi kakak liat kalian mesra banget?"
"iya" vani mengangguk.
"wah!!! serius dek, sejak kapan?"
"iya serius kak sejak kemaren"
"masa sih?"
"aku juga enggak tau sih kak gimana ceritanya mas dika udah ingat lagi tadi dia bilang kalo ingatannya itu belum pulih sepenuhnya jadi masih ada banyak kenangan yang belum dia ingat"
"terus kalian udah cek ke dokter?"
"belum sih kak, rencananya kami bakal pulang siang ini buat periksa keadaan mas dika di rumah sakit"
"hem, syukurlah yang penting sekarang kalian bisa kumpul lagi kaya dulu jadi kamu jangan ngambek terus ya adik ku"
kak aida mencubit gemas pipi adik kesayangannya itu.
"aw sakit!!! iya iya kak" vani mengusap pipinya yang memerah.
di kota saat ini rangga sedang bingung dengan keadaan adiknya yang pergi sejak kemarin dan belum kembali itu.
ray masuk ke dalam ruangan rangga atas permintaan dari bosnya itu.
"iya bos. ada apa bos manggil saya?" ray masuk dan menatap rangga yang sedang duduk.
"duduklah ray" rangga mempersilahkan ray untuk duduk.
"terima kasih bos"
"em, gimana? apa lo udah tau dimana dika sekarang"
"udah bos. pak dika sekarang lagi ada di kampung halaman vani"
"hah!!! kok bisa? bukannya dia enggak ingat"
"lo serius?"
"iya bos"
"huh, baguslah kalo gitu"
akhirnya rangga bisa tenang setelah mendapatkan informasi dari ray.
menjelang sore hari vani kembali menemui kedua adiknya di rumah yuli, ia menceritakan tentang keadaan suaminya yang sudah kembali mengingat dirinya dan raffa.
"ya gitulah yul, aku seneng banget sih akhirnya sekarang mas dika udah ingat sama kami lagi"
"syukurlah kalo gitu kak, tadi aku juga udah cerita sama kak aida"
"selamat ya kak vani akhirnya kakak aku enggak bakal galau lagi nih" ujar hana.
"kami ikut bahagia kalo kamu juga bahagia kak" ucap yuli.
"iya, makasih ya adek adek ku yang cantik" vani memeluk kedua adiknya itu.
"hehe iya pasti cantik dong"
"oh ya hana kamu mau enggak ikut kakak balik ke kota lagi? kakak kesepian kalo enggak ada kalian"
vani membujuk adiknya dengan wajah murung agar hana setuju untuk ikut.
"iya hana, kamu balik aja ke kota biar nanti kita bisa kerja bareng lagi di butik kaya dulu"
yuli membujuk hana karena bagaimana pun setelah lahiran nanti dirinya pasti akan kembali ke kota untuk ikut tinggal bersama dengan suaminya.
"em, gimana ya kak. entar aku tinggalnya dimana dong?" hana bingung karena merasa ragu.
"ya ampun hana kamu kan bisa tinggal bareng kakak lagi kaya dulu sekalian kamu juga bisa main bareng raffa terus" bujuk vani.
"em! ya udah deh kalo gitu aku mau kak" hana menerima permintaan kakaknya itu.
__ADS_1
"yeii makasih ya hana. kakak seneng banget loh kamu mau tinggal bareng kakak lagi" vani memeluk hana.
sebenarnya hana merasa ragu ia sengaja memilih untuk kembali ke kampung halaman sejak yuli menikah karena merasa canggung jika harus tinggal sendirian di rumah kakak dan abang iparnya itu.
selama ini hana setuju tinggal karena ada yuli yang selalu bersamanya namun sekarang sudah tidak karena yuli sudah menikah dan tinggal bersama suaminya.
sore harinya vani dan dika memutuskan untuk pulang ke rumah mereka yang ada di kota. hana ikut pulang sesuai permintaan vani sebelumnya.
sesampainya di dalam rumah vani meminta hana untuk segera beristirahat saja di dalam kamarnya.
"hana, kamu bisa langsung istirahat ya kalo capek"
"iya kak makasih. oh ya kak, boleh enggak kalo aku tidurnya di kamar affa aja soalnya aku enggak berani tidur sendirian hehe" hana tersenyum nyengir.
"oh boleh kok. bagus dong kalo afa ada yang nemenin, jadi afa bisa bobok di dalam kamar sendiri. iya kan sayang"
"iya ma" raffa tersenyum menatap mamanya sambil mengangguk.
"makasih ya kak" hana tersenyum senang.
"oh ya, afa boleh kan bibi boboknya di kamar afa aja?" tanya hana kepada keponakannya itu.
"boleh dong, ayo kita bobok sekarang aja bik" ajak raffa menarik tangan bibinya.
"oke deh sayang" hana dan raffa pun berjalan menuju kamar mereka.
vani dan dika tersenyum menatap kepergian mereka menuju kamar.
"sayang ayo kita bobok juga" dika tersenyum jahil menggoda istrinya.
"hem aku beneran mau istirahat ya mas jangan di ganggu!" vani sangat mengantuk dan berjalan menuju kamarnya.
"yahh! kok beneran sih sayang" dika mengikuti langkah istrinya masuk ke dalam kamar.
"em, mas besok kita ke rumah sakit ya buat chek keadaan kamu" ujar vani setelah duduk di atas ranjang.
"enggak usah deh sayang kemaren kan aku udah ke rumah sakit"
"loh kapan, terus dokter bilang apa mas?" vani menatap suaminya.
"aku enggak tau sayang soalnya kemaren aku nabrak pohon di pinggir jalan jadi masuk rumah sakit deh. terus pas aku sadar langsung nyariin kamu tapi kamunya malah enggak ada. aku langsung ke kampung buat jemput kalian"
"hah!! nabrak pohon? terus apanya yang sakit mas, kamu baik baik aja kan?"
vani melihat tubuh suaminya dari depan dan belakang untuk memastikan keadaan dika baik baik saja.
"iya aku enggak papa kok sayang. udah enggak ada yang sakit lagi. kan tadi malam udah di obatin sama kamu" hehe dika tersenyum jahil sambil menoel hidung istrinya.
"ish! serius tau" vani tersenyum malu.
"iya serius sayang" dika memeluk istrinya.
"tapi aku masih khawatir sama keadaan kamu mas, pokoknya besok kita harus ke rumah sakit"
"tapi besok aku ada meeting penting sayang jadi harus ke kantor"
"mas dika kesehatan kamu itu jauh lebih penting buat aku dari pada meeting" vani tetap pada pendiriannya.
"hem iya deh sayang ku, besok kita ke rumah sakit tapi selesai meeting ya" dika masih saja bernegosiasi.
"ck! terserah kamu deh mas" vani memutar bola matanya mendengar jawaban dari suaminya itu.
"yuk bobok sayang"
"jangan ganggu aku mas"
"sebentar aja"
"males"
"nolak suami dosa loh sayang"
"makanya kamu jangan buat aku berdosa dong mas"
"hem, iya udah deh. selamat bobok istri ku" emuch!
"makasih suamiku"
__ADS_1
vani tersenyum lalu memejamkan matanya untuk beristirahat.