
rangga dan ray yang sedang berdiri di tengah ruangan itu pun menatap tajam kepada semua anak buah mereka yang sedang berbaris mengelilingi ruangan itu.
setelah mendapat telpon dari adiknya, rangga hendak segera pergi menuju rumah sakit untuk menemui dika.
"ray tolong lo urus semuanya" ucap rangga kepada ray sebelum ia pergi.
"baik bos" ray mengangguk.
rangga berjalan keluar dari dalam ruangan meninggalkan ray dan anak buahnya.
setelah kepergian rangga dari sana, ray menatap lebih tajam pada salah satu anak buahnya yang merupakan ketua diantara yang lainnya.
"kamu maju!" perintah ray.
mendengar perintah dari bosnya pria berbadan tinggi besar itu pun melangkah maju mendekat hingga berdiri tepat di hadapan ray.
bughhh.....!!!
ray yang juga memiliki postur tubuh sama, meninju wajah anak buahnya itu dengan hantaman yang sangat keras hingga tubuhnya terhuyung ke belakang akibat menerima pukulan. darah keluar dari hidung dan bibirnya namun yang lain hanya diam sambil tertunduk melihat kemarahan bos mereka.
"itu tidak seberapa di bandingkan dengan pekerjaan bodoh kalian" ray menunjuk wajah anak buahnya yang sudah berdarah namun pria itu hanya diam saja menerimanya.
"baiklah sekarang cepat kalian urus jasad raka dengan baik, makamkan dia di pemakaman umum dengan layak" perintah ray kepada anak buahnya.
"maaf bos, apa kita tidak kirim saja jasad pak raka kepada keluarganya?"seorang anak buah yang lain memberi saran.
"apa dia masih punya keluarga?" ray berpikir.
"tentu saja bos" mereka mengangguk.
"em, kalau begitu kirim saja agar keluarganya juga dapat melihat jasad raka untuk yang terakhir kalinya" ray pun menyetujuinya.
"baik bos" mereka mengangguk bersamaan.
"obati luka mu terlebih dahulu" ray melihat darah di wajah anak buah yang telah dipukulnya itu.
"baik bos"
ray berbalik badan menghadap pintu keluar dan langsung melangkah hendak pergi dari sana.
"tapi bos, bagaimana kalau keluarganya akan menuntut dan mengusut kasus ini?" tanya pria itu membuat ray kembali menghentikan langkahnya.
"dasar bodoh, apa kalian lupa sedang bekerja dengan siapa? kalian semua berada di bawah naungan keluarga wijaya. selama bukan sebuah pengkhianatan yang kalian lakukan maka semua kesalahan kalian akan tertutup di mata hukum. jadi lakukan pekerjaan kalian dengan baik sesuai perintah"
ray melanjutkan langkahnya keluar dari dalam ruangan itu dan melajukan mobil menuju rumah sakit.
di rumah sakit dika dan rangga sedang berbicara dengan dokter yang baru saja keluar dari dalam ruang ICU.
dokter mengatakan jika kondisi arin masih sangat kritis saat ini dan arin juga mengalami keguguran membuat dirinya harus kehilangan calon bayi yang selama ini selalu ia jaga karena pendarahan dan benturan hebat saat kecelakaan itu membuat janinnya tidak dapat bertahan.
mendengar kabar itu dika dan rangga pun syok merasa prihatin dengan keadaan arin.
setelah dokter pergi dika dan rangga bergegas masuk kedalam ruangan untuk melihat kondisi arin. mereka menatap sendu tubuh arin yang terbaring lemah di atas bankar dengan banyak balutan perban di bagian tubuhnya.
ada rasa penyesalan di hati keduanya terutama dika yang selama ini selalu mengabaikan arin dan bayinya. meskipun dika merasa yakin jika bayi itu bukanlah anaknya namun tidak seharusnya ia mengabaikan bayi tidak berdosa itu.
kini bayi yang tidak berdosa itu sudah pergi untuk selamanya.
arin adalah wanita yang pernah menyelamatkan nyawa dika hal itu selalu membuat dika menyesal karena sudah menyakiti arin selama ini namun ia tidak punya pilihan lain karena dirinya juga ingin menyelamatkan keutuhan rumah tangganya dengan wanita yang dicintainya.
apa hendak di kata semuanya sudah terjadi, cinta arin kepada dika tidaklah salah karena memang seorang pria berwajah tampan dan baik hati itu juga banyak wanita yang ingin memilikinya namun kesalahan arin adalah ia sangat terobsesi pada keinginannya untuk memiliki dika.
seorang pria yang sudah menikah dan menjadi milik orang lain. tidak seharusnya arin memaksakan cintanya kepada pria yang sudah beristri itu sehingga membuat hidupnya terpuruk dalam keinginannya sendiri.
sebenarnya arin adalah wanita yang baik namun sayang obsesi dan cinta butanya menyesatkan jalan pikiran sendiri hingga rela berbohong demi mendapatkan apa yang diinginkan.
__ADS_1
rangga keluar dari dalam ruangan itu hendak menelpon kedua orang tuanya memberi kabar tentang arin yang mengalami kecelakaan dan sekarang sedang berada di rumah sakit.
mama dan papa hardi yang mendapat kabar juga sangat syok mendengarnya. mereka segera bergegas menuju rumah sakit hendak melihat kondisi arin.
tidak lama ray pun datang dan mendekati rangga yang baru saja selesai menelpon papanya.
"bos gimana keadaan arin?" tanya ray kepada rangga.
"kondisinya masih kritis, dika juga masih ada di dalam buat jagain" rangga menatap ray yang mendekatinya.
"oh gitu bos. kasian arin"
"hem, gimana dengan jasad raka?" tanya rangga dengan suara pelan di samping ray.
"kita mau nyerahin jasad raka ke rumah keluarganya aja bos, ya gimana pun keluarganya kan yang berhak atas pemakaman terakhir buat raka"
"hem,,, benar. tapi pastikan semua aman" rangga menepuk pelan bahu ray.
"pasti bos, semua masih terkendali" ray mengangguk.
di dalam ruangan arin terlihat dika sedang meneteskan air matanya sambil menggenggam dan mengecup punggung tangan arin.
"maafin aku ya arin aku enggak bisa jagain kamu sama bayi kamu dengan baik. maaf" dika menunduk sedih.
sebenarnya selama ini dika sengaja memberi perhatian lebih kepada arin agar dirinya bisa membujuk arin untuk melakukan tes DNA pada janin yang berada di dalam kandungan namun belum sempat hal itu dilakukan bayi malang tidak berdosa itu sudah pergi untuk selamanya. mungkin bayi tahu jika kehadirannya tidak pernah di inginkan oleh orang orang di sekitarnya.
-
tidak lama kemudian mama ratih dan papa hardi pun sampai di rumah sakit. mereka melihat rangga bersama ray sedang berdiri di depan ruang ICU.
"rangga, gimana kondisi arin nak?" mama ratih mendekat.
"arin masih kritis ma, tapi...." rangga menggantung ucapannya.
"tapi apa rangga...?" tanya mama dan papanya bersamaan.
"apa!!! ya ampun arin" mama ratih dan papa hardi kaget bersamaan.
"cucu kita pa" mama ratih syok saat mendengarnya.
"tenang ma, ayo kita liat keadaan arin sekarang" ajak papa hardi kepada istrinya.
mama ratih dan papa hardi pun masuk ke dalam ruangan arin dan melihat dika yang sedang menemani arin disana.
"dika, kamu disini nak?"
"iya pa, ma" dika menoleh saat melihat kedua orangtuanya datang.
"gimana keadaan arin nak?" mama ratih mendekati putranya.
"arin belum sadar ma. kondisinya juga masih kritis"
"apa benar arin mengalami keguguran?"
"iya ma. ini semua salah dika ma" dika kembali meneteskan air matanya lalu memeluk mama ratih.
"sabar dika, kamu jangan nyalahin diri kamu sendiri ya" papa hardi mengusap pundak putra bungsunya itu.
"enggak sayang. ini bukan salah kamu tapi ini takdir yang sabar ya" mama ratih menghapus air mata putranya.
"ma, tolong mama sama papa jagain arin dulu ya. dika sama bang rangga mau pulang sebentar buat ngabarin vani dan mbak ranty"
"iya sayang hati hati ya"
dika berjalan hendak menemui rangga dan ray yang sedang berdiri di luar ruangan sambil menunggu.
__ADS_1
ceklek! pintu terbuka dika pun keluar.
"apa yang lo berdua sembunyiin dari gue?" tanya dika tiba tiba dengan sorot mata tajam pada kedua pria itu yang tidak lain adalah rangga dan ray.
"maksud lo apa sih dik?" heran rangga.
"enggak usah pura pura bego ya kalian, ngapain tadi lo berdua ada di gudang tengah hutan?" tanya dika menunjuk wajah dua pria di hadapannya itu.
"em,,,, itu, gue sama ray. kita..." rangga tergagap bingung membuat dika tidak sabar lalu ia beralih menatap ray.
"em gini bos, jadi waktu itu kami kan udah nyari pelaku penculikan vani dan beberapa waktu yang lalu akhirnya kami berhasil menangkap mereka terus kami menahan mereka di gudang tengah hutan"
"kenapa kalian enggak ngasih tau gue sih soal itu? kalo gitu gue mau hajar orangnya sekarang" dengan kesal dika hendak pergi namun tangannya langsung di tahan oleh rangga.
"eh, siapa yang mau lo hajar sekarang. orangnya juga udah mati" ucapan rangga membuat dika membelalakkan mata dan menghentikan langkahnya.
"maksud lo! elo berdua udah bunuh dia! kenapa lo berdua yang bunuh sih harusnya kan gue yang bunuh dia?" ujar dika tidak terima.
"heh!! lo kalo lagi sadar gini, jangankan bunuh orang dika bunuh lalat aja enggak bakal tega. beda cerita kalo emang lagi emosi kaya waktu itu. mungkin aja dia bakal beneran mati di tangan lo makanya gue enggak mau cerita sama lo tentang dia tapi mungkin emang udah takdirnya gitu jadi tanpa lo bunuh pun dia udah meninggal sekarang" ujar rangga.
"maksud lo, apa bukan kalian yang bunuh dia?"
"ya enggak lah, buat apa juga kami bunuh dia sedangkan gue aja berusaha banget buat ngehalangin biar elo enggak bunuh dia"
"terus siapa?" tanya dika.
"anak buah ray" jawab rangga singkat.
"sama aja itu namanya bego, elo yang nyuruh kan?" dika tidak habis pikir.
"heh!! bukan, mereka cuma salah sasaran karena waktu itu raka kabur jadi mereka mau nembak kakinya tapi malah kena bagian punggungnya"
"apa?!!! lo bilang siapa tadi? raka" kaget dika.
"iya raka, mantannya bini lo dulu yang juga pernah lo hajar itu ingatkan?"
"jadi dia udah meninggal?"
"iya, emang kenapa lo mau takziah kerumahnya? buruan deh sana entar keburu di kubur" ckckck! rangga menggoda adiknya.
"oh ya saran gue lo ajakin vani sekalian deh mana tau dia mau liat mantan pacarnya dulu untuk yang terakhir kalinya" lanjut rangga bercanda.
"ck! rese deh lo bang. iya kali gue ngajak bini gue buat nemuin mantannya" gerutu dika kesal.
"iya siapa tau vani kangen sama mantannya dika" rangga membuat dika semakin kesal.
"hem, terserah lo deh bang. oh iya tapi itu anak buah lo kayanya minta di pecat deh ray masa mereka mau nembak kaki meleset sampe ke badan" dika beralih pada ray.
"iya, gue juga udah kasi pelajaran buat mereka kok bos"
"hem, baguslah kalo gitu"
"oh ya kenapa kalian malah cerita tentang hal itu disini sih bos bukannya ada banyak cctv di setiap sudut ruangan di sini ya. gimana kalo ada yang dengar?"
"hhhh iya gue sampe lupa, ini semua salah dika yang mulai duluan" rangga menyalahkan adiknya.
"terserah deh elo selalu benar bang, besok lo tutup aja rumah sakit ini biar enggak ada yang dengar ucapan kita"
"huh!!! kayanya tugas lo nambah dikit deh ray"
"oke siap bos besok rumah sakit ini akan saya tutup" jawab ray cepat.
"heh,,,, gila ya lo. rumah sakit udah segede ini mau lo tutup rugi dong gue mahal mahal bayar pajak. maksud gue lo kerjain cctv pinter banget sih lo" omel rangga tidak habis pikir terkadang ia ragu akan kegeniusan otak ray.
"oh gitu bos. oke kalo gitu"
__ADS_1
"aneh!!!" rangga pergi meninggalkan keduanya
setelah pembicaraan tiga pria itu selesai dika dan rangga pun memutuskan untuk pulang ke rumah mereka masing masing.