Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 179


__ADS_3

akhirnya ray pun memutuskan akan memberitahu tentang yang sebenarnya kepada dika.


"dika apa lo benar benar pengen tau tentang foto itu?" tanya ray sebagai sahabat.


"iya" dika mengangguk.


"oke, gue bakal jelasin tentang foto itu tapi lo harus janji dulu kalo lo beneran udah siap buat denger kebenarannya" ray menatap dika.


"hhh!! gue serius ray" ujar dika serius karena mengira jika ray hanya sedang bercanda.


"iya kan gue juga enggak lagi bercanda dik" ray juga serius.


"okay, kalo gitu sekarang lo jelasin semuanya" dika sudah tidak sabar ingin mendengarnya.


"lo tau kan, sejak kecelakaan hampir setahun yang lalu itu ingatan lo terganggu" ray menatap dika dengan harap harap cemas.


"em" dika mengangguk ingin tetap mendengarkannya.


"terus lo juga tau kan kalo ingatan lo itu hilang lebih dari sepuluh tahun terakhir di dalam hidup lo dik" lanjut ray.


"hem" dika kembali mengangguk dengan sabar.


"jadi dalam sepuluh tahun terakhir hidup lo itu. udah banyak banget kenangan indah yang terjadi tapi karena mengalami amnesia lo lupain semuanya dik" ray masih bercerita.


"ray sebenarnya lo mau jawab atau enggak sih. kalo tentang itu gue juga udah tau. kenapa lo jadi ngomongin sesuatu yang gue sendiri masih ingat. harusnya lo kasih tau gue sesuatu yang gue belum tau" dika sedikit kesal karena ucapan ray yang berputar putar disana.


"oh okay. jadi foto itu adalah foto pernikahan lo berdua" jawab ray setelahnya dengan santai dan singkat.


"hah!!! maksud lo?"


"iya, vani adalah wanita yang udah lo nikahin lima tahun yang lalu tapi karena kecelakaan itu lo lupain dia gitu aja padahal lo cinta banget sama dia dika" akhirnya ray memberitahu yang sebenarnya.


"maksud lo vani istri gue?" dika menunjuk dirinya sendiri.


"bukan, mungkin istri tetangga gue kali" ray masih saja bercanda.


"hhh! iya enggak mungkinlah ray"


"kenapa?"


"masa gue nikah sama istri orang sih?"


"heh! lo bego ya. ya elo orangnya dika, gimana sih"


sebenarnya ray merasa kesal karena ia yakin jika sahabatnya itu tidak selemah yang mereka pikirkan selama ini. ray juga yakin jika hanya untuk mengingat masa lalunya dika pasti bisa namun semua orang terlalu takut untuk memaksakan dika agar mengingatnya.


seharusnya dika sudah bisa mulai belajar mengingat semuanya sejak lama namun hingga ray kembali dari london pun dika masih saja hilang ingatan.


"apa lo serius?" tanya dika masih tidak percaya karena selama ini mereka sering bercanda.


"iya serius lah, malah lo itu bucin akut tingkat tinggi sama dia sampe sampe lo hampir stress dulu waktu vani ninggalin elo tau gak" ray menahan tawa mengingatnya.


"enggak. lo pasti bohong kan, gue enggak mungkin jatuh cinta sama cewek aneh"


"elo yang aneh, udah mantap mantapan selama lima tahun baru sadar sekarang lo" gumam ray kesal.


"akhh"


dika memegangi kepalanya yang sakit karena mencoba untuk mengingat masa lalunya


dika merasakan sakit di kepalanya saat bayangan hitam seorang wanita dan seorang anak kecil yang selalu hadir dalam ingatannya itu kembali muncul.


"lo bercanda kan ray, lo pasti bohong" dika beranjak dari duduknya hendak berjalan keluar namun kepalanya sangat sakit sehingga dika terus meringis.


dika kembali berpikir mungkinkah bayangan gelap yang selama ini terlintas di benaknya itu adalah anak dan istrinya yang selama ini sudah ia lupakan.


"dika lo tenang dulu ya, gue enggak minta lo buat ingat semua secara langsung sekarang. lo bisa ingat semuanya dengan perlahan aja yang penting sekarang lo percaya sama gue dan percaya sama apa yang gue udah ucapin tadi, gue yakin lo pasti bisa dika"


ray merasa khawatir dengan keadaan dika yang terlihat menahan rasa sakit di kepalanya namun ia memang harus menjelaskan kebenarannya agar dika bisa kembali mengingat masa lalunya secara perlahan.


"kenapa lo baru bilang sekarang? kenapa enggak dari dulu ray! gue udah nyakitin hati vani selama ini sshh!!!! arghh!!"


teriak dika kepada ray karena kepalanya terasa semakin sakit mengingat kesedihan di wajah vani.


"makanya lo tenang dulu dika, waktu itu lo masih dalam proses pemulihan jadi dokter nyaranin buat kami enggak maksain ingatan lo dulu kembali secara cepat tapi ternyata sampe sekarang pun elo masih aja enggak bisa ingat semuanya"

__ADS_1


"kalo gitu gue mau ketemu sama vani sekarang" dika masih menahan rasa sakitnya.


"vani udah pergi, lebih baik sekarang lo istirahat dulu ya lo tenangin pikiran lo dulu. oke" ray menahan tubuh dika.


"gue enggak bisa tenang sebelum gue ketemu sama vani sekarang ray, gue udah nyakitin dia ngerti gak sih lo"


dika bersi keras hendak pergi namun karena rasa sakit di kepalanya semakin bertambah dika tidak bisa berjalan dengan baik.


"dika! tunggu"


dika terus berjalan keluar dari dalam ruangannya dengan sempoyongan namun tetap berusaha menahan rasa sakit di kepalanya itu.


"dika lo bisa temui vani nanti aja. lebih baik sekarang lo istirahat dulu" ray masih mengejar langkah dika.


"ck! minggir lo" dika tidak mendengarkan ucapan ray ia terus berjalan dan masuk ke dalam lift meninggalkan ray.


setelah sampai di lobby dika pun melangkah keluar dari dalam gedung kantor lalu masuk ke dalam mobilnya.


ray yang masih mengejar dari belakang pun tidak berhasil menahan dika yang hendak pergi.


"dika lo mau kemana!!!!" teriak ray melihat mobil dika sudah pergi.


rangga yang baru saja datang dan melihat sekretaris dari adiknya itu terlihat panik pun mendekat.


"ray, ada apa?" tanya rangga kepada ray.


"pak dika, bos. pak dika pergi" ujar ray dengan nafas yang terengah engah.


"emang kenapa kalo dika pergi?" tanya rangga yang merasa jika hal itu tidak aneh.


"pak nanti saja saya jelasin ya. sekarang ayo kita kejar mobilnya" ray berlari menuju mobilnya lalu rangga pun ikut masuk dan duduk di samping ray yang akan menyetir.


"ray emangnya ada apa sih!" tanya rangga masih belum mengerti kenapa ray terlihat sangat panik.


"tadi saya udah kasih tau pak dika kalo vani itu istrinya bos" ujar ray masih dengan nafas memburu.


"hah!!! lo gila ya terus gimana?" tanya rangga kaget.


"dia enggak percaya terus katanya mau ketemu sama vani"


"saya juga enggak tau pak"


ray sedang fokus menyetir sambil mencari dimana mobil dika begitu juga dengan rangga yang melirik sana sini.


dika melajukan mobilnya tanpa tau harus pergi kemana mencari vani namun saat dalam perjalanan bayangan bayangan masa lalunya terus muncul berputar dalam pikirannya satu persatu hingga membuat dirinya hilang konsentrasi.


"aakkhh! vani kamu dimana?"


"aku harus ketemu sama kamu sekarang, kamu harus jelasin ini semua"


"aarrgghh" dika masih terus memegangi kepalanya yang sakit.


bayangan hitam terus berputar dalam ingatan dika membuat pikirannya kacau.


tin!!!!! ciitt!!!!


bruk!!


mobil dika hilang kendali dan menabrak pohon besar di pinggir jalan, membuat dika tidak sadarkan diri.


di dalam mobil ray dan rangga masih terus mencari keberadaan dika di sepanjang jalan.


tidak lama ray dan rangga pun melihat kerumunan orang di pinggir jalan. setelah memperhatikan lebih dekat ternyata yang mereka lihat adalah mobil dika yang berada di pinggir jalan karena menabrak pohon.


"ray itu mobil dika kan?" tanya rangga menepuk pundak ray agar menghentikan mobilnya.


"iya pak" ray langsung menghentikan mobilnya.


ray dan rangga pun keluar dari dalam mobil lalu mendekat kearah mobil dika yang sudah ada beberapa orang di sana melihat dan mengelilingi mobil yang baru saja mengalami kecelakaan tunggal itu.


"dika buka pintunya!" ucapan rangga membuat banyak orang bingung.


pasalnya di dalam mobil dika sudah tidak sadarkan diri bagaimana bisa membuka pintu mobil.


"ck! bercanda mulu lo bos" ray pun menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"maksud gue cepat lo buka pintunya ray" ralat rangga lalu ia segera menelpon ambulan.


kccrrkk!!!


ray langsung merusak pintu mobil dika dengan membuka secara paksa bagian pintunya menggunakan kunci besi dari dalam mobilnya.


"gampang banget, udah berpengalaman jadi maling ya lo?"


ujar rangga saat melihat ray dengan mudah membuka pintu mobil itu.


"ini salah satu keahlian gue bos"


"hhh! pantesan"


rangga pun langsung memeriksa keadaan adiknya setelah pintu mobil itu terbuka.


"dika! bangun dik"


wiu! wiu! wiu!


setelah ambulan datang dika pun segera di bawa ke rumah sakit terdekat.


saat ini rangga dan ray sedang duduk di dalam ruang rawat sambil menunggu dika tersadar.


dokter mengatakan jika kondisi dika baik baik saja hanya sedikit memar di keningnya akibat terbentur stir mobil.


melihat dari kerusakan mobil yang tidak begitu parah rangga dan ray merasa lebih tenang karena kondisi dika baik baik saja.


kerusakan mobil memang hanya sedikit namun ray yang membuat kerusakannya menjadi parah.


di tempat berbeda terlihat vani dan yuli sedang asik jalan jalan santai di sekitar kampung. hana mengajak raffa serta beberapa keponakannya yang lain untuk ikut.


mereka mengelilingi kampung karena ingin menemani yuli. dokter memintanya untuk melakukan aktivitas agar peredaran darahnya tetap lancar sampai hari persalinan nanti namun dokter juga memintanya untuk beristirahat yang banyak dan jangan sampai kelelahan. akhirnya yuli pun memutuskan untuk jalan jalan saja.


di kampung udaranya masih sejuk dan bebas dari asap kendaraan yang banyak. tidak seperti saat mereka di kota yang ramai dan padat penduduk.


akhirnya mereka sampai di sebuah lapangan di tengah kampung. biasanya akan banyak anak anak bermain bola dan berkumpul di lapangan itu pada sore hari. bahkan ada beberapa penjual aneka jajanan juga di sana. vani dan yuli membeli banyak jajanan serta kue tradisional yang sudah jarang mereka temui apalagi di kota.


"huh! banyak banget makanan yang kita beli emangnya bakal habis ya kalo di makan sendiri?" yuli menatap beberapa bungkusan di tangannya.


"em, aku punya ide" vani tersenyum.


"hah! ide apa kak?"


hana bingung menatap vani yang kembali berjalan mendekati para penjual makanan di sana.


"pak buk em gimana kalo saya beli semuanya jajanan ini terus nanti di bagiin ke anak anak yang main di sini aja ya"


pinta vani kepada semua penjual makanan yang ia temui di sana.


"wah! serius ini neng?" tanya para penjual


"iya pak, buk. boleh kan?" vani tersenyum.


"Alhamdullilah. tentu boleh dong neng cantik"


ibu dan bapak penjual pun senang karena semua jualan mereka di borong habis.


"oke deh"


vani meminta semuanya untuk membagikan aneka jajan dan makanan kepada seluruh anak anak maupun orang dewasa yang sedang berkumpul di sana.


"wah! pinter kamu kak. kalo gini kan pasti semuanya bisa ikutan makan" yuli mendekat pada kakaknya.


"iya dong" vani tersenyum.


"ayo adek adek, kakak kakak, abang abang semuanya! boleh ambil semua jajanan yang ada di sini ya. semuanya gratisss!!!" hana dan yuli mengumumkan pada anak anak yang ada di sana.


"wah! serius nih kak!" tanya mereka antusias.


"iya serius dong. ayo cepatan di habisin ya soalnya bapak dan ibu yang jualan mau pulang biar bisa istirahat nih" hana dan yuli tersenyum senang.


"yeyy!!!! asik jajan gratis" sorak bahagia anak anak menerimanya.


"sabar ya jangan rebutan ya adek adek manis"

__ADS_1


mereka menghabiskan hari itu dengan hati yang gembira. setelah selesai bermain vani dan yuli pun mengajak adik dan keponakannya kembali pulang ke rumah sebelum matahari terbenam.


__ADS_2