
setelah selesai mandi yuli duduk di sofa dalam ruangan itu. dika memberikan kamar dengan kelas terbaik di rumah sakit itu untuk perawatan vani.
"oh ya pak dika, apa kasus kak vani ini udah di tangani oleh pihak yang berwajib?" tanya yuli.
"udah tadi saya juga udah minta sekretaris saya buat langsung ngurus kasus ini dan ngelaporin ke kantor polisi terdekat"
"bagus deh semoga pelakunya cepat ketemu"
"iya amin"
krukk! krukk! krukk!
bunyi perut yuli yang sudah sangat lapar tidak bisa di tahan lagi.
"aduh! laper banget lagi"
yuli memegangi perutnya yang berbunyi karena lapar.
mendengar keluhan lapar dari gadis cerewet di itu dika pun berniat akan pergi keluar membeli makanan untuk mereka berdua karena ia juga sudah merasa lapar.
"kalo gitu kamu tunggu disini ya tolong jagain vani dulu. biar saya yang beliin makanan buat kita"
dika berdiri dari duduknya sambil menatap kearah yuli.
"oh serius, uhh! bener bener calon abang ipar idaman banget"
yuli tersenyum senang hingga tidak sadar dengan ucapannya sendiri.
dika hanya tersenyum tipis saat mendengar ucapan yuli itu lalu ia melangkah keluar dari dalam ruangan.
setelah dika keluar dari dalam ruangan yuli pun kembali tersadar mengingat ucapannya yang baru saja ia katakan itu ternyata salah.
"eh tadi gue ngomong apa sih. calon abang ipar idaman? dia kan suami orang, ya kali gue mau kakak gue yang cantik dan imut ini jadi madu dari wanita lain sih. ih amit amit deh gue tarik deh kata kata gue..."
yuli menepuk nepuk pelan mulutnya karena ia baru ingat dengan status dika yang sudah menikah.
setelah menarik kembali kata katanya yuli pun menatap vani yang masih terbaring di atas bankarnya.
"kak cepet sembuh ya kok bisa sampe kaya gini sih? siapa yang udah ngelakuin ini sama kamu" yuli menatap vani.
"tapi kok bisa ya secara kebetulan gitu bang dika yang dateng nolongin kamu terus bang raka kemana? kok dia enggak jagain kamu sih. dia juga enggak datang kesini buat jengukin kamu tadi aku coba telpon handphonenya juga tapi enggak aktif" yuli semakin bingung.
terlihat dika kembali dengan membawa beberapa bungkusan makanan di tangannya.
drt!! drtt!!!
saat hendak masuk kedalam ruangan vani tiba tiba saja ponsel dika berdering tanda ada panggilan masuk yang ternyata panggilan itu dari rangga.
dika pun segera menjawab telpon itu.
Dika: ya halo, ada apa bang?
Rangga: halo dik, lo lagi dimana kok belum pulang sih?
Dika: gue lagi di rumah sakit nih bang.
Rangga: apa! lo sakit...???
Dika : bukan gue yang sakit tapi vani.
Rangga: vani...?
Dika: oh iya bang gue bakal nginep disini jadi gue enggak pulang ya. mungkin juga besok gue enggak ngantor.
Rangga: loh vani yang sakit tapi kenapa lo yang enggak ngantor besok.
Dika: ya pokonya gue enggak ngantor besok.
Rangga: kayak suami siaga yang lagi jagain istri aja deh lo.
Dika: iya gue emang calon suami yang siaga jagain calon istri yang lagi sakit bang.
Rangga: hh! sejak kapan vani mau jadi calon istri lo.
Dika: sejak sekarang.
__ADS_1
Rangga: emang udah sakit ya lo dika sampe ngarep segitunya sama vani, lagian bukannya lo bilang waktu itu kalo dia udah punya calon suami terus dia mau nikah ya?
Dika: iya sih bang tapi sekarang gue enggak peduli lagi soal itu. gue mau ngejar cinta gue yang pernah gue lepas dulu soalnya gue nyesel banget udah pernah ngelepasin dia dulu.
Rangga: hem, iya iya bagus lah kalo adek gue mau memperjuangkan cintanya. ya udah gue sama mbak lo besok kesana ya jengukkin calon adik ipar haha.
Dika: ok terse... tut! tut! tut!
"hah! belum juga di jawab udah mati telponnya kebiasaan banget deh, untung lo abang gue"
ceklekk!!!
dika membuka pintu lalu masuk ke dalam ruangan vani. ia melihat yuli yang sudah cukup lama menunggunya.
dengan tersenyum dika langsung memberikan makanan itu kepada yuli dengan meletakkan bungkusan yang ia bawa di atas meja.
"nih makanannya yul"
dika meletakkan makanan di hadapan yuli.
"makasih ya pak dika, tapi kok bapak lama banget sih. hampir pingsan nih nunggunya" omel yuli yang langsung membuka bungkus makanan di hadapannya.
"iya maaf tadi saya habis angkat telpon"
dika hanya memaklumi omelan dari singa betina yang sedang kelaparan itu pikirnya.
malam sudah larut yuli pun sudah tertidur di atas sofa yang berada di dalam ruangan itu sedangkan dika tertidur dengan posisi duduk di samping bankar karena ia ingin menjaga vani.
saat kedua orang di sana sudah tertidur lelap akhirnya vani pun sadar dari pingsannya.
vani membuka matanya secara perlahan lalu menatap di sekelilingnya. melihat dinding ruangan itu serba putih dan bau obat obatan yang menyengat vani menyakini jika saat ini ia sedang berada di rumah sakit.
vani menoleh ke arah sofa melihat adiknya yang sedang tertidur kemudian pandangannya pun beralih ke arah samping.
sangat dekat di sampingnya ada seseorang yang sedang tertidur dengan posisi duduk sambil meletakkan kepalanya di atas bankar.
melihat dari rambutnya vani meyakini jika seseorang yang berada di sampingnya itu adalah seorang pria.
vani hanya bisa melihat bagian rambut dengan kepala yang tertunduk karena pria itu sedang tidur namun vani sangat mengenali pria yang berada di sampingnya itu dari bau parfumnya yang sudah familiar dalam penciumannya.
tidak ingin membangunkan orang lain vani hanya diam sambil menatap langit langit di dalam ruangan itu dengan mata yang berkaca kaca. ia kembali mengingat kejadian yang baru saja di alaminya membuat dirinya sangat takut akibat perlakuan kasar yang raka berikan kepadanya.
raka tidak perduli dengan jeritan kesakitan yang dirasakannya saat itu memang sangat berbeda sekali dengan pria yang berada di sampingnya ini. karena memang dika selalu menyayangi dan memperlakukannya dengan lembut sedangkan raka tidak seperti itu. namun vani salah menilai ternyata tidak semua cinta dari pria itu setulus cinta yang dika berikan untuknya selama ini.
vani meneteskan air matanya saat mengingat hari dimana ia harus pergi dari hidup dika waktu itu.
sebenarnya vani menyesal karena harus merelakan pria yang sangat dicintainya itu menikah dengan wanita lain namun ia tidak bisa berbuat apa apa ditambah perasaan kecewa atas perlakuan kasar dari mantan calon suaminya itu.
saat mendengar suara tangisan yang tertahan berada di dekatnya membuat dika terbangun dari tidurnya ia pun membuka mata lalu melihat vani yang sudah sadar.
"sayang kamu udah sadar?"
dika mengusap lembut kening vani yang hanya diam saja.
"aku panggil dokter dulu ya"
dika memencet tombol untuk memanggil dokter.
tidak lama dokter pun datang lalu memeriksa kondisi vani. setelah selesai memeriksa dokter mengatakan jika kondisi vani sudah membaik dan mulai stabil.
"syukurlah kondisi pasien sudah mulai stabil pak" ucap dokter.
"Alhamdulillah, terima kasih dok" dika pun tersenyum.
"baiklah kalau begitu saya permisi dulu ya pak"
setelah itu dokter pun kembali melangkah keluar.
"syukurlah kamu baik baik aja"
dika tersenyum menatap vani namun gadis itu hanya diam saja tidak membalasnya.
melihat vani yang sepertinya tidak ingin di ganggu akhirnya dika diam dan memilih untuk kembali duduk di kursinya.
"mas,,,"
__ADS_1
vani akhirnya memanggil setelah beberapa saat hanya diam saja.
"iya sayang. em, maksud aku vani?" jawab dika canggung.
"aku haus"
"kamu haus ya udah aku ambilin minum sebentar ya"
dika beranjak dari duduknya lalu berjalan mengambil gelas di atas meja dan menuangkan air putih untuk vani.
"ini kamu minum dulu"
dika membantu vani untuk duduk bersandar di tempat tidurnya lalu memegangi gelas agar vani bisa minum.
glek! glek!
"udah?"
vani menghabiskan satu gelas air putih di dalam gelas itu.
sangat menyegarkan karena tenggorokannya terasa sangat kering akibat berteriak tadi.
"udah makasi ya mas"
vani menganggukkan dengan suara yang pelan.
"iya sama sama. kamu bilang aja ya kalo butuh sesuatu" dika tersenyum menatap vani.
"em" vani hanya mengangguk.
"kamu masih mau duduk atau mau tidur lagi?"
"aku mau tiduran aja mas badan aku sakit semua"
"ayo aku bantu, pelan pelan"
dika pun membantu vani untuk kembali berbaring.
"makasih"
"oh ya, kamu tadi kenapa kok nangis. apa ada yang sakit, di bagian mana yang masih sakit?"
dika merasa khawatir karena tadi melihat vani menangis.
vani hanya diam sambil menatap ke khawatiran di wajah dika yang selalu mencemaskan dirinya itu.
"apa ini masih sakit?"
dika mengangkat lengan vani yang terdapat memar disana lalu ia mengusap lembut dan meniup niup bagian lengan itu berharap bisa mengurangi rasa sakitnya.
"enggak kok mas, bukan itu yang sakit karena itu enggak sebanding sama rasa sakit di bagian yang lain"
vani tertunduk sedih membuat dika bingung.
dika pun berfikir mungkin saat ini di bagian sensitive itulah yang masih terasa sakit hingga membuat vani menangis karena pria itu sudah berhasil melakukan hal itu kepada vani begitu pikirnya.
"apa itu sakit banget?" tanya dika khawatir
"em" vani mengangguk pelan.
"enggak papa nanti juga pasti sembuh ya"
dika menyemangati vani dan merasa iba namun semua sudah terjadi pikirnya.
"hem" vani kembali murung.
'vani andai kamu tau kalo hal itu enggak akan merubah perasaan ku ke kamu. aku enggak peduli walaupun sekarang kamu bukan lagi seorang gadis yang masih perawan, aku akan tetap menerima dan mencintai kamu dengan tulus' batin dika menatap wajah sedih vani.
'seandainya kamu tau mas di bagian hati ku yang sakit banget rasanya ngeliat kamu baik selama ini tapi aku enggak bisa milikin kamu. itu yang buat aku sakit mas' batin vani dengan air mata yang mengalir di sudut matanya.
"udah kamu jangan nangis lagi ya pasti besok rasa sakitnya udah berkurang"
dika menghapus air mata di pipi vani dengan lembut.
"em iya" vani mengangguk.
__ADS_1
"ya udah sekarang kamu istirahat lagi ya biar cepat sembuh"
dika menarik selimut vani untuk menutupi tubuh gadis itu