
sesampainya di atas gedung dika menurunkan tubuh vani dari gendongannya.
vani membuka mata dan melihat sekelilingnya.
saat ia berdiri gaun dan rambutnya terangkat melambai lambai tertiup angin yang berhembus kencang karena mereka sedang berada di atas ketinggian.
vani sibuk memegangi gaunnya agar tidak terangkat sambil merapikan rambut yang juga berantakan. ia merasa kesal kepada bosnya itu karena dika malah mengajak dirinya naik ke atap gedung dengan angin berhembus sangat dingin menyentuh kulitnya.
"kita mau ngapain kesini pak?"
tanya vani bingung namun saat mengalihkan pandangan ia tertegun melihat sebuah tulisan dengan lampu indah di ujung atap gedung itu.
❤️ I LOVE YOU ❤️
"itu maksudnya...?"
dengan bingung vani menoleh kearah dika dan melihat pria itu sedang berlutut di hadapannya.
"vani, saya sayang sama kamu. apa kamu mau jadi pacar saya?"
ujar dika mengutarakan perasaannya sambil memegang sebuah kotak cincin di tangannya.
vani merasa terharu karena ternyata dika juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
meskipun sadar mereka memiliki perbedaan yang sangat jauh dalam segala hal namun ia tidak bisa mengkhianati perasaan yang ada di dalam hatinya.
"iya aku mau"
vani mengangguk, ia berpikir mungkin dirinya hanya harus siap menerima konsekuensi apa pun yang akan terjadi kelak.
dika tersenyum mendengar jawaban vani, ia pun langsung memakaikan cincin di jari manis gadis itu lalu memeluk kekasihnya dengan erat.
"makasih ya"
mereka saling berpelukan hangat di tengah dinginnya angin malam yang berhembus.
vani menatap dika seakan sedang bermimpi jika saat ini pria yang dicintainya itu sudah menjadi kekasihnya.
"ada apa, hem?"
dika memegang kedua sisi wajah vani sambil menatapnya.
"apa saya lagi mimpi pak?" tanya vani polos membuat dika tersenyum lucu melihatnya.
"kamu enggak lagi mimpi vani, ini nyata. saya cinta sama kamu"
cup!
dika mengecup kening vani dengan lembut lalu kembali memeluknya.
vani tersenyum sambil memejamkan mata menerima pelukan hangat itu, ia belum pernah merasakan perasaan yang sebahagia ini sebelumnya.
ternyata jatuh cinta itu sangat indah, apalagi saat seseorang yang kita cintai juga mencintai kita begitu pikirnya.
"ayo,,,"
dika menggenggam tangan vani lalu berjalan menuju sebuah meja yang indah di ujung sana.
mereka akan makan malam di atas gedung sambil menikmati dinginnya angin malam.
dika merasa senang karena sudah berhasil mengungkapkan perasaannya kepada gadis yang dicintainya itu.
setelah selesai makan malam romantis vani merasa sangat canggung dengan keadaannya.
masih seperti mimpi baginya saat ini mereka sudah saling mengutarakan perasaan masing masing.
hanya hening yang tercipta di antara keduanya karena merasa bingung bagaimana memulai percakapan baru di antara mereka sekarang.
melihat vani yang sejak tadi hanya diam saja dika pun berusaha mencair suasana hening itu dengan bertanya.
"em, kamu kok diem aja sih. apa karena kamu udah kekenyangan ya?"
dika tersenyum mengingat gadis itu pernah diam saja setelah selesai makan karena ia merasa kekenyangan.
vani tertunduk malu mengingat perkataannya, padahal waktu itu ia hanya asal jawab karena sedang memikirkan tentang adiknya.
"em, apa bapak yang nyiapin semua ini?"
vani menatap dekorasi di sekelilingnya yang di hias indah dengan bunga bunga kesukaannya.
"iya"
dika mengangguk, vani pun tersenyum malu.
"iya enggak mungkinlah maksudnya" hehe
sambung dika tertawa melihat senyuman vani memudar seketika saat mendengar ucapannya.
"ck, pak dika. kirain beneran romantis"
ekspresi vani yang lucu membuat dika gemas melihatnya.
"iya, ini semua emang ide aku tapi orang lain yang nyiapin sayang"
vani tersenyum malu hingga pipinya memerah.
'aduh jantung ku' batin vani senang saat mendengar panggilan sayang dari dika.
"lagian aku kan kerja dari pagi sampe sore jadi mana sempat buat nyiapin ini sendirian"
"oh gitu, iya juga sih" vani mengangguk mengerti.
__ADS_1
"kamu suka enggak?"
"em, iya suka sih pak. eh, maksudnya suka banget. ternyata bapak romantis juga ya"
"iya dong buat kamu apa sih yang enggak"
dika pun tersenyum merasa aneh sendiri dengan ucapannya.
sebenarnya ia bukanlah tipe pria yang begitu romantis namun saat bersama vani membuat ide romantis muncul sendiri di pikirannya.
"oh iya, tadi siang bapak juga yang udah beliin baju sama sepatu ini buat saya kan?" tanya vani memastikan.
"em, iya. kamu suka enggak?"
dika senang ternyata pilihannya sangat cocok untuk vani.
"suka banget pak, ini tuh gaun paling bagus yang pernah saya pake" jawab vani polos.
"bagus deh kalo kamu suka, oh ya gimana kalo kita selfie dulu yuk. mumpung gaunnya bagus"
ujar dika beralasan agar bisa berfoto dengan kekasihnya itu.
"ayo pak" vani pun setuju.
mereka selfie bersama lalu dika juga memotret vani yang sedang duduk tersenyum sangat anggun dengan gaunnya.
setelah selesai berfoto vani antusias melihat hasil fotonya di dalam ponsel dika.
"em, tapi bapak kok bisa milih baju sama sepatu yang ukurannya cocok buat saya?" tanya vani penasaran.
"em, aku juga bingung sih kenapa bisa cocok" hehe
sebenarnya ia pun merasa bingung mengapa baju dan sepatu pilihannya bisa sesuai dengan ukuran tubuh vani padahal awalnya dika hanya mengira ngira saja.
"ohh gitu. hhh!"
vani tersenyum aneh mendengar alasan dika yang juga tidak tau.
"oh ya, gimana makanannya kamu suka juga enggak sama menu pilihan aku?" tanya dika
"em, iya saya juga suka kok pak. makanannya enak semua apalagi gratis hehe" vani nyengir.
"haha, iya juga sih namanya makan gratis siapa yang nolak ya"
"iya dong pak" vani jadi malu dengan jawaban absrudnya.
"em, oh iya kamu jangan panggil aku bapak lagi dong. kan sekarang kamu pacar aku"
pinta dika karena vani masih saja memanggil dirinya dengan sangat formal.
"iya tapi kan bapak masih bos saya jadi saya harus tetap menghargai bapak dong"
"iya tapi jangan panggil bapak juga dong kalo kita lagi berdua, emangnya aku ini keliatan kaya bapak bapak banget ya?"
vani tertawa dengan gombalannya sendiri.
"hem, kamu udah jago gombal ya sekarang"
dika mencubit gemas hidung kekasihnya itu.
"hehe, bercanda pak"
vani mengusap hidungnya canggung merasa aneh dengan ucapannya sendiri.
"tuh kan, bapak lagi" dika memelas.
"oh iya, terus aku harus panggil kamu apa dong? dika gitu?" vani tersenyum jahil.
"oke deh dika"
vani senang dengan panggilan barunya itu.
"vani, umur aku kan lebih tua dari pada kamu"
"iya terus, aku harus manggil kamu abang?" ppfftt,,, vani menahan tawanya.
"ya enggak gitu juga dong"
"iya terus gimana dong?"
"em, gimana kalo panggil honey aja sayang?"
dika tersenyum memainkan alisnya membuat vani membelalakkan mata saat mendengar ide gila itu.
"hah!! hani? ih gak mau ah, alay banget deh"
vani menolak mentah mentah keinginan dika. membuatnya menghembuskan nafas kasar.
"huh!"
"em, gimana kalo baby"
saran dika itu sama sekali tidak menggugah selera vani.
"ih, makin alay deh"
vani tetap menolak dengan menggelengkan kepalanya.
"kenapa sih! itukan panggilan sayang, emang kamu enggak sayang sama aku ya?" wajah dika semakin memelas.
"iya aku sayang sih sama kamu, tapikan itu kesannya kaya anak ABG yang baru pacaran pak dika"
__ADS_1
"ck! iya jadi kamu mau tetap manggil aku bapak gitu? terus, entar orang bakal ngiranya kamu pacaran sama bapak bapak dong"
"ya enggak dong, itu kalo aku panggil kamu om baru deh orang bakal ngira aku pacaran sama bapak bapak hehe"
"ck! masa om sih"
"em, gimana kalo aku panggil kamu mas dika aja ya. tapi di kantor aku bakal tetap panggil bapak"
vani akhirnya memberi keputusan setelah menimbangnya.
"hem, udah mikirnya lama tapi panggilannya standard banget. ya terserah kamu aja deh sayang" akhirnya dika pasrah saja.
"oke mas dika sayang"
vani mengelus pipi dika sambil tersenyum membujuk agar ia mau menerima panggilan baru darinya itu.
"hem"
setelah mendengar panggilan sayang dika tak bisa marah pada kekasihnya itu.
cup! ia mengecup kedua punggung tangan vani dengan mesra lalu menatapnya dengan lekat.
vani yang di tatap seperti itu merasa canggung.
"mas dika!"
"mas"
vani menyentuh lengan dika agar tersadar dari lamunannya.
"eh, iya sayang ada apa?"
"kamu kenapa sih, kok liatin aku gitu banget"
"hem, enggak papa karena kamu cantik banget" gombal dika beralasan sambil tersenyum.
"ck, gombal deh" vani kembali tersenyum malu.
"serius sayang" dika mengelus rambut vani yang lembut.
"pak, dingin nih" vani mengusap usap kedua lengannya.
"pak?" dika mengulangi panggilannya.
"eh, maksudnya dingin nih mas hehe" vani pun nyengir sambil meralat ucapannya.
"em, ya udah kalo gitu kita pulang aja yuk kayanya disini makin dingin deh nanti kamu bisa sakit"
akhirnya dika mengajak vani untuk pulang sambil memberikan jas yang sedang ia pakai kepada gadis itu agar tidak kedinginan.
"makasih ya mas kamu pengertian banget deh, aku emang udah kedinginan"
vani menerima jas yang dika pakaikan.
"iya dong sayang"
dika tersenyum sambil terus merangkul vani berjalan.
keduanya turun dari atas gedung dan berjalan menuju parkiran lalu masuk kedalam mobil.
dika langsung melajukan mobilnya menuju rumah vani untuk mengantar kekasihnya itu pulang.
di dalam perjalanan pulang mereka hanya diam, suasana hening kembali tercipta hingga mobil dika berhenti tepat di depan rumah vani.
"sudah sampai" dika menoleh ke samping.
"makasih ya pak" vani keceplosan.
"hem?"
dika menaikkan kedua alisnya saat mendengar panggilan dari vani.
"eh, em makasih ya mas" vani kembali meralat ucapannya.
"hem iya sayang, aku langsung pulang ya udah malam soalnya"
ujar dika langsung berpamitan hendak segera pulang tanpa turun dari dalam mobilnya
"oh iya, kamu hati hati ya mas"
"em" dika mengangguk.
vani hendak keluar dari dalam mobil.
"sayang?" panggil dika.
"iya mas" vani kembali menoleh.
"em,,,,"
"ada apa?"
dika memegang kedua pipi vani lalu mengecup kening kekasihnya membuat gadis itu reflek memejamkan mata.
cup!
"good night" dika tersenyum.
"hem"
vani tersenyum malu lalu keluar dari dalam mobil tanpa membalas ucapan dika karena terlalu malu hingga pipinya memerah.
__ADS_1
dengan perlahan vani berjalan masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu setelah masuk.
dika pun melajukan mobilnya kembali pulang setelah memastikan vani masuk ke dalam rumahnya.