
setelah cukup lama menangis vani pun menghapus air matanya lalu duduk bersandar di atas bankar. ia kembali menatap kearah suaminya.
vani menatap dika dengan penuh haru meskipun ada rasa kecewa yang besar di dalamnya.
"mas dika, hiks!! hiks!!"
vani sudah berusaha untuk menahan tangisannya namun tidak bisa ia lakukan karena air matanya langsung tumpah begitu melihat suaminya.
sekuat apapun vani menahannya tidak bisa di pungkiri jika saat ini ia butuh pundak dika sebagai sandaran.
"jangan nangis sayang" dika mengecup lembut kening istrinya yang sedang menangis lalu memeluk tubuh vani.
"kamu jahat mas, kamu jahat! hiks! karena kamu aku udah kehilangan anakku. kamu harus tanggung jawab, aku mau anakku kembali"
vani memukuli dada suaminya yang sedang berusaha untuk menenangkan dirinya itu.
"sayang maafin aku ya" dika memegangi kedua tangan istrinya yang tidak berhenti memukuli dirinya.
"enggak! aku enggak mau maafin kamu sebelum anak aku kembali lagi" vani berhenti memukul tubuh suaminya lalu memalingkan muka.
"iya udah nanti kita buat lagi ya sayang" ujar dika santai.
"enggak mau" kesal vani.
"iya kalo kamu enggak mau gimana caranya kita buat bayi lagi dong"
dika menahan tawa karena melihat wajah istrinya yang sudah kesal.
"ih kamu jahat banget sih!" vani kembali memukul lengan suaminya kali ini lebih keras karena ia benar benar kesal.
"iya ampun sayang, makanya kamu dengerin aku dulu" dika memegang kedua pundak istrinya.
"enggak! aku enggak mau dengerin kamu mas" vani langsung menepis tangan dika.
"jangan banyak gerak dulu sayang"
"biarin"
"jangan teriak vani!" dika berbicara tegas karena istrinya itu tidak mau mendengarkan ucapannya.
"biarin aja emangnya kenapa kalo aku kaya gini, pokoknya balikin anakku sekarang mas. aku mau anakku" hiks! hiks! vani terbaring di atas ranjangnya karena masih lemah.
"kamu harus cepat sembuh, kita bakal pulang dan kamu bisa ketemu sama anak kita" bisik dika di telinga istrinya.
"raffa, di mana anakku raffa mas?"
"afa lagi bobok di rumah sayang"
"kalo gitu ayo kita pulang" vani ingin segera memeluk putranya.
"enggak bisa sekarang karena kondisi kamu belum stabil"
"tapi aku mau peluk afa sekarang mas" hiks!
"nanti aja, sekarang kondisi kamu masih lemah. aku enggak mau sampe terjadi sesuatu lagi sama kalian"
"kalian, maksud kamu siapa mas?"
"kamu sama calon bayi kita dong sayang"
"em tapi bukannya aku.." vani berpikir jika dirinya sudah kehilangan calon bayinya.
"ssstttt!!! jangan ngucapin hal yang buruk karena dia baik baik aja di dalam sini. cuma kondisinya memang masih lemah jadi kamu harus istirahat total dan enggak boleh banyak gerak dulu" dika mengusap perut istrinya sambil menjelaskan keadaannya.
"anakku" vani meraba perutnya sambil tersenyum.
"kamu serius, dia enggak pergi mas?"
"serius sayang, dia enggak bakal pergi kemana pun karena Allah masih ngizinin kita buat jaga dia"
"Alhamdulillah" vani memejamkan matanya bersyukur.
"iya udah sekarang kamu istirahat ya" dika menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya.
"mas, aku mau bicara sesuatu tentang calon bayi kita. aku juga mau jelasin kenapa usianya bisa melebihi perkiraan yang kamu pikirin" vani menahan tangan suaminya.
"sstt!! jangan sekarang ya sayang, kamu harus banyak istirahat dulu. lagian aku udah enggak masalah tentang hal itu. aku yakin dia anakku maafin aku ya"
"tapi, aku harus jelasin ini sama kamu mas"
"iya iya udah nanti aja ya sayang. sekarang kamu tidur"
__ADS_1
akhirnya vani memejamkan matanya untuk beristirahat lagi pula hari sudah larut malam membuat mereka lelah
keesokan harinya dika sedang membujuk istrinya yang tidak mau makan.
"sayang ayo dong kamu makan ya" dika menyodorkan suapan untuk istrinya.
"enggak mau mas, kamu aja deh yang makan. kamu kan sering mual mual jadi harus banyak makan"
vani menolak suapan dari suaminya itu karena tidak berselera untuk makan.
"apa hubungannya sih sayang" dika tidak mau menerima alasan yang vani berikan.
"iya ada deh pokoknya" vani menutupi mulutnya.
"ayo buka mulutnya aaa.." dika menarik tangan vani yang sengaja menutup mulutnya.
"emh" vani tetap menutup rapat mulutnya.
"kalo kamu enggak makan dia juga enggak bisa makan di dalam sini sayang. kamu mau dia sakit lagi?"
"kalo gitu pindahin aja dia ke sini ke perut kamu mas" vani menunjuk perut suaminya.
"mana bisa sayang, masa aku yang hamil" dika bingung mendengar ucapan aneh istrinya.
"iya gantian dong mas biar kamu juga ngerasain apa yang aku rasain" vani memanyunkan bibirnya.
"emangnya kamu pikir selama ini aku enggak bisa ngerasain apa yang kamu rasain?"
"iya enggaklah"
"bisa tau, kamu aja yang enggak tau kalo selama ini aku juga selalu ngerasain sakit yang kamu rasain"
"oh ya? bohong!!" vani tak percaya.
"serius sayang, aku juga bisa rasain semuanya tau. aku ngerasain sakit waktu kamu ngelahirin afa dulu terus sekarang aku juga yang rasain ngidam mual mual. kurang apa lagi coba, kamu sih yang enggak peka"
"em, masa sih?"
"hem"
vani terdiam menatap lekat wajah suaminya.
"kenapa sayang kok kamu liatin aku kaya gitu?"
"hem, kamu bilang apa aku udah tua?" dika melotot kearah istrinya.
"iya, emang bener kan" vani tersenyum polos.
"hem iya sih tapi tetap gantengkan sayang?"
"em, iya sih soalnya kalo kamu jelek ya aku buang lah" vani membuat senyum dika memudar.
"jadi kamu cuma mau sama aku kalo aku ganteng doang?"
"iya dong ganteng dan kaya raya hahaha! kalo enggak mana mungkin aku mau sama kamu mas" vani tertawa jahat untuk menggoda suaminya.
"oh gitu, ya udah kalo gitu aku bakal selalu jadi ganteng dan kaya raya buat kamu biar kamu cinta terus sama aku"
"em, kalo kamu udah tua terus kriput gimana?"
"iya aku kan kaya raya jadi aku bisa operasi plastik biar awet muda"
"hehe ide kamu bagus juga mas"
"ya udah sekarang kamu habisin makannya ya" dika tersenyum karena berhasil menghibur istrinya.
"em" vani mengangguk dan mau memakan makanannya
setelah selesai dengan drama sarapan di dalam ruangan itu tidak lama pintu ruangan vani terbuka memperlihatkan wajah tampan anak lelaki yang imut masuk kedalam dan langsung memeluk ibu serta ayahnya.
"mama papa!"
raffa datang bersama hana untuk melihat keadaan vani karena sejak kemarin raffa terus merengek ingin bertemu dengan mamanya.
"afa sini sayang" vani mengulurkan tangannya hendak memeluk putranya.
"mama, afa kangen banget mama kok enggak ada di rumah sih dari semalam?"
"maaf ya sayang, mama juga kangen banget sama afa soalnya dari kemaren mama enggak liat anak mama yang ganteng ini" vani mengecup pipi raffa.
"mama lagi sakit sayang afa enggak nangis kan tadi malam bobok di rumah?"
__ADS_1
dika mengusap rambut anaknya yang sedang berada dalam pelukan ibunya.
"enggak dong pa, afa kan anak yang kuat dan berani"
"hem, gaya banget deh jagoan papa ini. padahal karena ada bibi hana di samping afa kan makanya enggak nangis"
dika menoel hidung raffa untuk menggoda anaknya.
"hehe" nyengir rafa.
"mama sakit apa?" raffa menatap mamanya.
"enggak papa kok sayang, adeknya afa nih yang lagi sakit di dalam sini makanya mama harus kerumah sakit"
"adek jangan sakit lagi ya, abang janji bakal jagain adek terus disini" raffa mengusap lembut perut ibunya.
"iya sayang, afa emang harus jadi abang yang selalu jagain adeknya"
"nanti afa boleh ajakin adek main bola sama naik sepeda kan pa ma?"
"boleh dong sayang tapi nanti kalo adek afa udah lahir terus bisa lari kaya abang afa ya"
"okay ma" raffa mengacungkan jempolnya.
"em, emangnya afa mau adek cowok atau adek cewek sayang?" tanya hana pada keponakannya itu.
"afa sayang dua duanya kok bik, tapi afa pengen punya adek laki laki kaya afa biar bisa main bola"
"em, pinter banget sih anak mama" vani tersenyum.
raffa tersenyum menatap papanya tanpa berkedip karena menginginkan sesuatu. menyadari tatapan lekat putranya dika pun bertanya mengapa raffa menatap seperti itu.
"ada apa sayang hem?"
"papa afa mau jajan" minta raffa pada papanya.
"jajan? katanya afa udah gede mau jadi abang, kok masih minta jajan sih sayang"
dika mengacak rambut raffa sambil menggendong putranya itu.
"iya enggak papa dong pa nanti kan afa bisa makan jajannya bareng adek"
"ya udah ayo kita keluar beli jajan tapi jangan banyak banyak ya sayang nanti kalo uang papa habis mama kamu bisa pergi ninggalin papa lagi"
dika melirik vani yang tersenyum mendengar ucapannya itu. hana hanya menggelengkan kepala melihatnya.
"emangnya uang papa bisa habis ya kalo afa jajanin?"
"bisa dong sayang kalo afa jajannya banyak banget"
"ya udah deh afa enggak jajan banyak kok pa"
"okay deh"
dika berjalan keluar dari dalam ruangan vani dengan menggendong putranya itu.
"ada ada aja deh itu suami kamu kak" haha
hana tertawa setelah kepergian dua lelaki itu dari dalam ruangan.
"biarin aja deh han enggak usah di dengerin" vani hanya tersenyum menanggapinya.
"oh ya kak, gimana keadaan kakak?"
"alhamdullilah kakak baik han"
"alhamdulillah kalo gitu kak"
"iya makasih ya han kamu udah jagain affa"
"iya kak sama sama"
"oh ya kak kayanya minggu depan kak yuli bakal lahiran deh, kita jadi pulang ke kampung buat liat baby enggak?"
"pasti dong han, kakak juga udah kangen banget sama dia tapi dokter bilang kakak harus istirahat total selama dua minggu" vani menunduk sedih.
"ya udah kak kalo enggak bisa jangan di paksain. kita kan bisa datang setelah bayinya lahir nanti, yang pasti setelah kondisi kakak juga sehat"
"enggak hana, kakak mau kamu yang pulang duluan ya buat nemenin yuli. tolong sampein maaf kakak ke dia karena kondisi kakak kaya gini jadi belum bisa datang minggu depan"
"iya kak, kakak tenang aja ya aku yakin kak yuli juga pasti bakal ngerti kok"
__ADS_1
hana tersenyum menatap kakaknya.